Setelah pertengkaran yang terjadi di ruang makan. Arham Malik Diningrat membawa istrinya masuk ke dalam kamar. Laki-laki itu merasa bersalah kepada Aliza saat melihat sang istri ketakutan.
Aliza Aurelia juga merasa bersalah kepada suaminya karena kehadirannya membuat Arham mendapatkan pukulan oleh orangtuanya sendiri.
Aliza dan Arham saling memandang satu sama lain saat mereka duduk ditepi atas ranjang. Tangan wanita itu terulur kearah wajah Arham. Laki-laki itu tersenyum merasakan sentuhan dari wanita yang baru saja menjadi istrinya.
"Gara-gara aku kamu dipukul ... Tadi kamu dipukul sama Papa ku. Sekarang kamu di pukul sama Papa mu."
Arham tersenyum simpul memperlihatkan gigi rapinya. "Enggak apa-apa. Aku sama sekali nggak masalah asalkan jangan kamu yang mendapatkan pukulan dari mereka. Karena itu akan lebih sakit bagiku."
"Pasti sakit 'kan?"
"Enggak ..."
"Kenapa enggak?" tanya Aliza. "Padahal beberapa kali wajah kamu ditampar."
"Iya, aku tau. Tadi emang sakit, tapi setelah kamu sentuh udah enggak."
"Kamu jangan bercanda Arham. Aku nggak suka."
"Tapi kamu suka aku 'kan?" Arham terkekeh geli dengan ucapannya sendiri.
"Arham."
Tatapan Aliza mulai sendu, ada rasa bersalah dalam dirinya kepada laki-laki itu saat melihat kondisi Arham saat ini.
"Aku serius, tapi kamu malah bercanda."
"Aliza ... Lebih baik kamu jangan mikirin itu lagi. Kamu istirahat ya, besok kita ke rumah Mama, Papa."
"Aku enggak mau."
"Kenapa nggak mau?" tanya Arham.
"Aku takut kalau Papa mukul kamu lagi."
"Aku akan meyakinkan orang tua kamu kalau keputusan kita untuk menikah sangatlah tepat."
"Tapi—"
"Ssst ..."
Arham Malik Diningrat menghentikan ucapan istrinya.
"Aku bisa tidur sekarang nggak?" tanya Arham.
"Mandi dulu baru tidur."
"Harus ya?" tanya Arham. "Aku capek banget."
"Harus Mas."
"Apa-apa, kamu manggil aku apa?" tanya Arham.
"Mas ... Laki-laki baik yang sekarang udah membuktikan cintanya dengan menikahi aku."
Arham menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Iiih, salah tingkah?" tanya Aliza.
"Enggak," elak Arham.
"Baru di puji dikit udah salah tingkah. Kalau di rayu bisa aja Mas guling-guling di lantai."
"Kamu nakal ya." Arham beranjak dari tempat duduknya. "Kalau gitu Mas langsung mandi ya."
Arham segera berlalu pergi dari hadapan istrinya. Pria itu belum percaya jika akhirnya berjodoh dengan Aliza Aurelia. Sedangkan diatas ranjang Aliza terkekeh geli melihat Arham salah tingkah karena ulahnya.
[] [] []
Hitungan menit sudah berlalu, Arham sudah selesai mandi. Dia kembali menghampiri sang istri yang tengah duduk di tepi ranjang.
"Sayang ... Kamu nggak mandi?"
"Enggak dulu, Mas. Soalnya 'kan aku nggak bawa apa-apa ke sini."
"Pakai baju Mas aja."
"Emang boleh?" tanya Aliza.
"Boleh sayang."
"Eummm ... Nggak usah deh, Mas. Lagian besok kita pulang 'kan." Ucap wanita itu.
"Besok kalau Papa Mama masih marah, kita pulang ke sini lagi ya."
"Lebih baik sekarang Mas tidur aja. Kan capek."
"Kamu?" tanya Arham.
"Za, belum ngantuk."
"Temenin Mas tidur boleh nggak?" tanya Arham.
"Iya, Mas tidur aja."
Arham dan Aliza memperbaiki posisi mereka. Laki-laki itu berbaring di samping istrinya. Aliza mengulurkan tangannya untuk mengusap-usap kepala laki-laki itu.
"Sayang ... Kamu jangan coba-coba tinggal di sini sendirian ya."
"Kenapa?" tanya Aliza heran.
"Soalnya ada Mama."
"Mas nggak boleh curiga sama Mama. Nggak baik tau."
"Mas takut kamu dipukul Mama."
"Nggak usah takut. Mama pasti nggak akan melukai Za, Oma 'kan juga ada di sini."
"Tapi tenaga Oma nggak terlalu kuat sayang. Mas takut." Ucap Arham penuh kekhawatiran.
"Nggak usah takut. Mama sebenarnya baik, dia cuma kaget aja belum bisa terima, Za."
Arham menghembuskan napasnya dengan perlahan.
Menit demi menit sudah berlalu, Arham tertidur pulas. Telapak tangan Aliza yang tadinya berada di rambut laki-laki itu kini berpindah tempat kearah wajah Arham.
"Maafin aku, Mas. Gara-gara aku kamu dipukulin sama Papa kita."
Aliza mendekatkan wajahnya, ia memberanikan diri untuk mengecup pucuk kepala sang suami. Ada rasa canggung dalam dirinya karena untuk pertama kali ia tidur berdua dengan seorang pria.
[] [] []
Menjelang pagi hari Aliza dan Arham baru saja melaksanakan shalat subuh. Arham terus saja memandangi wanita itu membuat Aliza salah tingkah.
Semakin Aliza salah tingkah semakin membuat Arham tidak berpaling dari wajah istrinya. Aliza tidak berani menatap suaminya karena belum terbiasa dengan Arham.
"Kamu kenapa sayang?"
Aliza menggelengkan kepalanya. "Enggak kenapa-kenapa Mas."
"Terus kenapa nggak mau lihat Mas?" tanya Arham.
"Za, malu tau. Cara Mas lihatin Za aneh banget."
"Aneh gimana?"
"Udah, ah. Za mau keluar dulu."
Saat Aliza hendak beranjak, buru-buru Arham menggenggam telapak tangan istrinya.
"Ngapain keluar, di sini aja temenin Mas."
"Za, mau siapin makanan."
"Mama pasti udah siapin, kamu nggak usah repot-repot lagi."
Tangan Arham terus saja menggenggam tangan Aliza. "Kamu tau. Mas seneng banget akhirnya kita bersama juga."
"Za juga bahagia, Mas."
"Mas mau mau tanya sesuatu sama kamu."
"Mau tanya apa?" tanya Aliza menatap suaminya.
"Kamu udah siap punya anak?"
Aliza terdiam kaku tidak tau apa maksud dari pertanyaan dari Arham. Bisa saja laki-laki itu akan meminta haknya sebagai seorang suami.
"Udah Mas."
"Kalau kita tunda dulu gimana?" tanya Arham.
Aliza mengernyit heran. "Maksud Mas apa?"
"Sayang ... Mas mau kita pacaran dulu. Setelah beberapa tahun kita kembali ketemu, Mas mau mesra-mesraan dulu."
Aliza menampilkan senyuman manisnya. "Za ngikut aja Mas."
"Tapi kamu nggak keberatan 'kan?"
"Enggak kok Mas."
"Yakin?" tanya Arham memastikan ucapan istrinya.
"Yakin Mas."
"Sayangnya mana?"
Aliza menatap Arham begitu lekat. "Yakin Mas ku sayang." Ucapnya dengan sangat lembut.
Lagi-lagi Arham menggaruk kepalanya. Suara lembut dari Aliza membuat jantungnya berdegup kencang.
"Mas salah tingkah lagi ya?" tanya Aliza menahan senyumnya.
Rasanya dia ingin sekali membuat Arham terus-menerus salah tingkah. Karena gerak-gerik laki-laki itu sungguh lucu bagi dirinya.
"Enggak."
"Udah ketauan kok." Aliza beranjak dari tempat duduknya melepaskan mukena yang ia pakai.
"Aliza masak dulu ya. Mas di sini aja."
"Iya, kalau ada Mama kamu masuk kamar ya."
"Mas nggak usah berlebihan gitu deh. Nggak baik curiga sama orang tua sendiri."
Ada rasa khawatir dalam diri Arham ketika Aliza keliar dari dalam kamar. Dia takut Aliza diserang oleh ibunya mengingat Sera masih menaruh dendam terhadap istrinya akibat meninggalnya Irham.
Lain dengan Aliza yang sama sekali tidak takut lagi kepada orang tua Arham. Dalam pikirannya Sera marah besar hanya karena kaget dengan pernikahan antara dirinya dan Arham yang mendadak itu.