Sembilan

1158 Kata
Perlahan Aliza melangkahkan kakinya menuju dapur. Dia takut jika mertuanya sedang ada di sana. Merasa lega karena Sera tidak ada di dapur, Aliza segera melakukan tugasnya untuk memasak sarapan pagi. Waktu mulai berlalu, beberapa menu makanan sudah selesai ia masak namun wanita itu masih sibuk membereskan barang-barang dapur yang berantakan. Brak! "Astaghfirullah ..." Aliza kaget melihat seseorang masuk ke dalam dapur dan menggebrak meja. Aliza menundukkan pandangannya ketika Sera mendekati dirinya. "Kamu nggak perlu bangun pagi untuk memasak makanan. Aku nggak akan luluh." Aliza terdiam tanpa berkata apa-apa, dalam dirinya ia berdoa supaya sang suami datang menghampirinya. "Kamu jangan senang dulu. Aku akan mencoba memisahkan kamu dari anak ku." Aliza langsung menatap aneh ibu mertuanya. "Kenapa? Kamu nggak senang?" tanya Sera. "Kamu nggak diinginkan di sini. Jadi harusnya kamu nggak kaget kalau aku akan menjodohkan Arham dengan wanita lain." "Mama nggak bisa gitu. Mas, Arham—" "Hei. Aku bukan Ibu mu." Aliza terdiam lagi. "Sesopan apa pun kamu di sini, aku tetap benci sama kamu." "Liza tau karena Liza udah buat Mama kehilangan anak." "Kalau kamu tau kenapa kamu masuk juga di kehidupan kami?" suara Sera mulai terdengar bergema di ruangan dapur. "Mama dengerin dulu penjelasan Liza." "Penjelasan apalagi Aliza?" tanya Sera. "Penjelasan bagaimana cara kamu membunuh anak ku, saudaranya Arham." "Mama—" "Kamu harusnya sadar! Arham nggak mencintai kamu. Mana mungkin dia membiarkan kamu hidup bahagia setelah saudara kembarnya meninggal dunia karena ulah kamu!" "Sera!" Kedua wanita itu menoleh kearah seseorang wanita. "Apa-apaan kamu," ucap Oma Inggit. "Tumben Mama di sini, biasanya tunggu di meja makan." "Karena Mama tau kamu pasti mau buat keributan." Oma Inggit mulai melangkahkan kakinya memasuki dapur. "Dia yang udah bikin aku emosi, Ma." "Sadar Sera. Kalau Arham tau dia bisa marah sama kamu." "Mama harus ingat apa yang dia lakukan sama Irham." Lagi-lagi bayangan itu melintas dipikiran Aliza. Setia kali ada yang menyebut nama Irham, dia sangat merasa bersalah pada keluarga itu. "Sera ... Mama juga nggak terima itu, tapi semua ini takdir. Kita nggak bisa menghindarinya dan kita tidak berhak menyalahkan Aliza. Ini semua tentang hati." Sera berlalu pergi, ia tidak suka ketika ibunya itu membela menantu yang tidak diinginkan tersebut. "Masak apa sayang?" tanya Oma Inggit. "Oma," lirih Aliza. Wanita berkerudung itu memeluk Oma Inggit. Aliza mengakui bahwa ia masih merasa bersalah kepada keluarga Diningrat. "Kenapa sayang?" "Maafin Aliza, Oma. Aliza tau ini semua salah Liza." Oma Inggit melepaskan pelukan tersebut. Dia merasa kasihan melihat Aliza yang sudah berurai air mata. "Jangan nangis lagi sayang. Kamu nggak salah, yang udah terjadi itu bukan kemauan kamu," ucap Oma Inggit. "Tapi, Oma—" "Hei ... Kamu nggak perlu mikirin itu. Lebih baik kamu lanjut masak aja. Kasian mertua kamu mau makan, Oma juga pengen merasakan masakan kamu," ucap wanita tua itu. "Satu lagi, suami kamu. Dia juga pasti mau merasakan masakan istrinya untuk pertama kalinya." Aliza tersenyum simpul, ada benarnya juga perkataan wanita tua itu. Walaupun dia belum di terima di keluarga Diningrat, masih ada Oma Inggit dan suaminya yang menyayangi dirinya. [] [] [] Jam menunjukkan pukul tujuh pagi, Aliza duduk bersampingan dengan suaminya. Di depannya ada kedua mertuanya dan tidak lupa juga ada Oma dan Zaki. Aliza berdiri untuk menyiapkan makanan sang suami. Saat dia hendak mengambilkan nasi kepada Adhar. Laki-laki itu malah menyingkirkan piringnya. "Aku nggak makan," ucapnya dingin. Begitu juga saat dia hendak mengambilkan makanan kepada ibu mertuanya. Sera malah mengambil makanan lainnya. Arham merasakan kesedihan yang dialami oleh istrinya. Kalau saja dia tidak berhadapan dengan orangtuanya, mungkin saja ia akan kehilangan kendali untuk memaki orang-orang tersebut. "Sayang ... Oma mau itu." "Boleh," ucap Aliza. Oma Inggit sengaja melakukan hal tersebut supaya Aliza tidak berkecil hati karena di abaikan oleh beberapa orang. "Arham ... Kamu ke kantor 'kan hari ini?" tanya Zaki. "Enggak ... Aku mau ke rumah mertua ku sebentar." Jawabnya. "Bangga sekali kamu menyebut mereka sebagai mertua mu," sindir Adhar. Arham menghembuskan napasnya dengan perlahan. Dia pun tersenyum kepada kedua orangtuanya. [] [] [] Selesai sarapan pagi, kedua orang tua Arham dan juga saudaranya berlalu pergi. Tinggallah Arham dan istri dengan Oma Inggit di dalam rumah itu. Arham lebih dulu masuk ke dalam kamar. Dia ingin siap-siap untuk mengajak istrinya pergi ke rumah orang tua Aliza. Sedangkan Aliza masih di dapur untuk beres-beres. "Aliza ..." "Iya, Oma ..." Oma Inggit memperhatikan wanita itu sedang melakukan pekerjaan di dapur. "Kapan Arham meresmikan pernikahan kalian?" Sekilas Aliza menoleh kearah Oma Inggit sebelum akhirnya kembali mencuci piring kotor. "Maksud Oma gimana?" "Kalian udah nikah, Oma mau kalian harus buat pesta." "Nggak usah, Oma. Lagian itu semua juga nggak penting buat, Liza." Ucapnya. "Yang penting sekarang, Liza sama Mas Arham udah nikah." "Tapi itu penting sayang supaya orang-orang tau kalau kamu dan Arham udah nikah." "Nggak apa-apa kok Oma. Apalagi Mama Sera, pasti dia nggak setuju. Liza nggak mau mengacaukan keadaan lagi." "Kamu nggak usah pikirin mertua kamu itu. Oma yakin suatu saat dia pasti akan menerima kamu." Aliza hanya tersenyum simpul. "Aamii ..." "Sayang ..." Terdengar suara teriakan seorang pria dari kejauhan. "Sayang ... Istrinya Arham Malik Diningrat. Kamu di mana?" Arham masuk ke dalam dapur. Saat melihat ada Oma Inggit, ia merasa malu karena sudah berteriak di dalam ruangan itu. "Istri kamu nggak kemana-mana. Dia ada di sini, nggak usah teriak-teriak segala." "Siapa yang teriak, Oma salah denger." "Semenjak kapan kamu jadi manja gini?" "Arham manja. Oma kalau ngomong suka bercanda." "Arham, Arham," lirih Oma Inggit. Wanita itu berlalu pergi sedangkan Arham menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Laki-laki itu melangkah mendekati istrinya. "Mas ngapain sih teriak-teriak, udah tau ada Oma di sini." "Bukan teriak sayang. Mas kangen sama kamu." Aliza tersenyum simpul. "Nggak usah aneh-aneh deh." "Eummm ... Kamu siap-siap ya, Mas tunggu di depan." "Kita mau kemana?" tanya Aliza. "Ke rumah Papa." "Mas yakin mau ke sana?" tanya Aliza mulai mengkhawatirkan diri. "Kenapa?" tanya Arham. "Liza takut Mas dipukul lagi." "Itu udah resiko Mas sayang." Aliza menggelengkan kepalanya. "Liza nggak mau. Cukup kemaren aja Mas dipukul, ini juga belum sembuh," ucap Aliza meraba wajah suaminya. "Nggak apa-apa, yakin sama Mas." "Tapi—" "Hei! Nggak boleh menentang perkataan suami." "Liza beneran takut Mas." "Sayang ..." Arham menangkup wajah istrinya. Lama kelamaan ia mendekatkan wajahnya kepada wajah Aliza. Sedangkan wanita itu memundurkan wajahnya agar tidak terlalu dekat dengan Arham. "Kamu cantik." Aliza memejamkan matanya. "Jangan Mas. Liza lagi kerja." Arham semakin mendekat, dia tidak peduli dengan larangan istrinya. Padahal Aliza sudah mencoba mendorong dadanya. Hanya beberapa centimeter saja pertemuan bibir itu akan terjadi namun di gagalkan oleh suara seseorang. "Ekhem ..." Ternyata dari tadi Oma Inggit mendengar percakapan mereka berdua. "Arham jangan aneh-aneh ya, nggak di dapur juga." Barulah Oma Inggit berlalu pergi, ia tersenyum setelah mengatakan hal tersebut. "Iiih," lirih Aliza dan mencubit pinggang suaminya. "Aw! Kok di cubit?" "Malu tau, ada Oma." "Kan udah halal sayang." "Iya ... Tapi Mas harus tau tempat." Arham hanya tersenyum simpul sambil mengusap-usap kepala sang istri dengan penuh cinta. "Sekarang kamu siap-siap ya, Mas tunggu di luar."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN