Pasangan yang baru saja menikah itu sedang dalam perjalanan menuju rumah orang tua Aliza. Arham dengan santainya mengajak sang istri pergi ke sana. Sedangkan Aliza merasa was-was dengan keselamatan suaminya. Dia takut jika kedua orangtuanya akan melakukan sesuatu kepada pria itu.
Sesekali Aliza memandang sang suami yang sedang fokus menyetir mobil. Dia masih belum menyangka jika jodohnya adalah saudara almarhum calon suaminya dulu.
"Kenapa lihatin Mas?" tanya Arham.
"Mas yakin mau ketemu sama Papa?"
"Yakin sayang. Lagian nggak baik juga kita belum bilang sama mereka kalau kita berdua udah nikah."
Ponsel Aliza berdering di tengah-tengah ia dan suaminya sedang mengobrol. "Bentar ya, Mas. Liza angkat telpon dulu."
"Iya sayang."
Aliza melihat layar ponsel yang bertuliskan Mama. Dia sangat senang karena dihubungi oleh orangtuanya.
"Assalamualaikum, Ma."
"Waalaikumsalam, sayang. Pulang Liza, Mama mau ngobrol sama kamu," ucap seseorang dari seberang sana. "Mama kangen."
"Sebentar lagi Liza sampai rumah."
"Serius sayang?" tanya wanita itu. "Mama udah nggak sabar ketemu sama kamu. Mama beneran kangen."
"Iya, Ma. Liza juga kangen sama Mama."
"Kamu hati-hati di jalan ya sayang. Mama tunggu di rumah."
"Iya, Ma."
Setelah itu Aliza menutup ponselnya dan memasukkan benda pipih itu ke dalam tasnya.
"Siapa yang nelpon?" tanya Arham.
"Mama minta Liza cepat pulang, kayaknya dia nggak marah lagi deh."
"Syukurlah kalau gitu. Semoga Mama bisa terima Mas ya."
Aliza menggenggam lengan suaminya. "Aamiin ... Semoga Papa juga bisa terima Mas sebagai menantunya."
Arham melemparkan senyuman kecil kepada istrinya. Saat ini keduanya memiliki harapan yang sama, yaitu mendapatkan restu dari orang tua.
Perjalanan mereka terus berlanjut, tidak lupa juga Arham membelikan makanan untuk kedua mertuanya nanti. Setidaknya supaya kedua orang tua Aliza bisa melihat sisi baik dari dirinya.
[] [] []
Aliza dan Arham menyusuri jalanan menuju rumah orang tua wanita itu. Ada rasa was-was dalam diri Aliza Aurelia. Dia takut jika orangtuanya belum menerima pernikahan mereka.
Menit demi menit sudah berlalu, pasangan suami istri yang baru saja menikah itu telah sampai di rumah tempat tujuan mereka.
Sesaat mereka setelah turun dari dalam mobil. Aliza melihat keringat dingin tepat di dahi pria itu.
"Mas."
"Hmmm ..."
Hanya sekilas Arham menoleh kearah istrinya, setelah itu ia kembali menatap pagar rumah.
"Kalau belum siap nggak apa-apa, kita pulang aja."
"Jangan dong, kita 'kan udah sampai di sini."
"Beneran?" tanya Aliza meyakinkan suaminya.
"Iya sayang."
Ting! Tong!
Arham memencet bel rumah yang ada di sudut pagar.
"Assalamualaikum ..."
"Waalaikumsalam ..."
Bukan hanya Arham, Aliza juga deg-degan saat ini. Dia takut orangtuanya akan memberikan luka fisik lagi kepada laki-laki yang sekarang bersamanya.
Terlihat pintu rumah terbuka memperlihatkan seorang wanita paruh baya sedang berdiri menghadap kearah keduanya. Ajeng tersenyum gembira saat ia melihat putrinya sudah berada di rumah mereka.
"Mas! Mas!" panggilnya.
Setelah itu ia berlari kearah luar menghampiri anak dan menantunya. Dengan penuh semangat wanita itu membukakan pintu pagar rumah.
"Sayang."
"Mama," ucap Aliza.
Mereka berdua saling berpelukan, Arham tersenyum menatap kedua perempuan itu.
"Mama apa kabar?"
"Alhamdulillah, baik sayang."
Ajeng memandang sinis kearah Arham. Dia berharap jika Aliza akan pulang sendiri tanpa laki-laki itu. "Kamu ngapain datang ke rumah saya?" tanyanya dengan nada bentakan.
Aliza dan Arham saling memandang, beberapa detik kemudian ia menatap ibunya.
"Kenalin, Ma. Sekarang Mas Arham suami, Liza."
"Suami."
Ajeng kaget mendengar pengakuan dari anaknya itu. Niatnya menyuruh Aliza untuk pulang ingin membicarakan pernikahan Aliza dengan seseorang namun ternyata anaknya sudah menikah lebih dulu.
"Siapa yang datang, Ma?" ucap seorang pria yang ikut menghampiri mereka di depan. "Aliza."
"Papa."
"Aliza! Papa sama Mama udah memutuskan kalau kamu akan kami nikahkan. Urusan laki-laki ini sudah menyentuh kamu, itu tidak jadi masalah buat calon suami kamu." Ungkap Hardi.
"Mereka berdua udah nikah, Mas. Aliza sendiri yang bilang sama aku."
"Nikah!"
"Kemaren Arham menepati janjinya untuk menikahi Aliza, Pa," lirihnya.
"Aliza! Kamu tau 'kan keputusan kamu ini membuat permasalahan dulu tambah parah."
"Aliza minta maaf Pa, Ma. Tapi Aliza berhak memilih jalan Aliza sendiri." Aliza merangkul lengan suaminya.
"Aliza masuk!" Pinta Hardi. "Dan kamu, Arham. Angkat kaki dari rumah saya."
"Arham nggak mau, Pa. Arham mau sama Aliza."
"Saya bukan Adhar. Kamu nggak perlu memanggil saya dengan sebutan itu."
Ajeng menarik lengan anaknya. "Masuk sayang, jangan sama dia ya."
"Mas Arham suami, Liza. Nggak mungkin Liza ninggalin dia."
Rangkulan di lengan Arham pindah kearah pinggangnya. Dia menatap sang istri terlihat tulus mencintainya.
"Kamu pikir setelah kamu tidur dengan anak saya, kami akan merestui kalian. Jangan harap Arham! Kamu tidak seberuntung itu!"
"Kalian harus tau Arham benar-benar sayang sama anak kalian. Arham akan melakukan berbagai cara supaya anak kalian bahagia." Ucapnya penuh dengan keberanian.
"Sayang kamu bilang?" Hardi mendekat kearah pria itu.
Plak!
Satu tamparan mendarat tepat di wajah tampan Arham.
"Papa!" Ucap Aliza.
"Setelah kamu macam-macam sama anak kami. Kamu bilang sayang sama dia?"
"Dengerin Arham." Ucapnya memberi jeda pada perkataannya. "Arham sama Aliza nggak pernah tidur berdua. Aliza cuma bohong sama kalian karena dia berharap hubungan kami akan direstui."
"Aliza," lirih Ajeng.
"Lihat! Gara-gara kamu anak kami sudah berani berbohong," ucap Hardi. "Sekarang kamu pulang, jangan temui anak saya. Ceraikan Aliza."
"Nggak bisa, Pa. Aliza istri Arham, Arham nggak mungkin tinggalin Aliza."
Hardi menarik paksa lengan anak perempuannya. Dia mendorong tubuh Aliza agar masuk ke dalam rumah mereka.
"Masuk Aliza!"
"Aw!"
"Pa. Arham mohon jangan sakiti istri Arham."
"Istri." Ajeng menampilkan senyuman miring pada pria itu. "Sampai kapanpun kami tidak akan merestui kalian."
"Jangan paksa Aliza, Ma."
Wanita berhijab itu sedang mencoba untuk melepaskan diri dari genggaman ibunya. Air matanya menetes melihat suaminya diperlukan tidak baik oleh orangtuanya.
"Mas, Arham."
Arham didorong paksa oleh pria gempal itu. Bukannya tidak ingin melawan namun Arham tidak mau sikapnya akan membuat dia semakin jauh dari istrinya.
"Aliza!!!" teriak Arham. "Jangan khawatir, Mas akan di sini nungguin kamu."
"Jangan ganggu anak saya lagi. Aliza akan saya nikahkan dengan orang lain. Lebih baik kamu ceraikan dia sekarang juga."
Arham kembali berdiri menghadap kearah mertua laki-lakinya. "Nggak! Arham nggak akan melakukan itu."
"Apa yang kamu harapkan dari pernikahan kalian Arham?" tanya Hardi. "Restu?"
"Jangan harap!!!"
Hardi masuk ke dalam rumah menyusul anak dan istrinya. Mereka membiarkan Arham sendirian diluar yang masih meneriaki nama Aliza Aurelia.