DITINGGAL

1138 Kata
Mengejar itu bentuk perjuangan bukan murahan. *** Erin hari ini sedang dalam mode ngambek karena kemarin aksinya dalam mencari kesempatan modus digagalkan oleh suara petir yang menggema dan mengagetkan siapapun yang ada. Saat Kenzie mengangkat tubuh Erin kemarin, suara guntur terdengar menggelegar sampai-sampai Erin terjengit dan langsung turun dari gendongan Kenzie. Rasanya benar-benar malu saat Kenzie menangkap basah dirinya tengah berbohong, Kenzie bahkan mengejeknya hingga berakhir menggodanya. Akhirnya Erin memutuskan untuk mengurung diri dikamar, bersembunyi dari Kenzie. Manusia menyebalkan itu! Dan kali ini Erin harus berangkat lebih awal. Jam menunjukkan pukul empat pagi, setelah menunaikan solat subuh, Erin lekas bersiap bahkan ia membawa bekal roti dan meninggalkan notes diatas meja bertuliskan, Bunda, Ayah, Erin berangkat sekolah dulu. Erin ada piket hari ini, piketnya bukan cuman nyapu kelas, tapi nyapuin halaman sekolah hehe. Oiyah! Erin sudah bawa bekal, jadi Bunda nggak perlu nyuruh Ken bawain bekal buat Erin ya, trus kalo Ken mau jemput Erin, bilang aja Erin lagi ngambek dan ggak mau liat mukanya. Erin kalo liat berasa pengen gampol gitu bunda, yaudahlah Erin pamit ya bunda, ayah. Selamat beraktivitas manusia kuatku!!! Erin melajukan skateboardnya terlebih dahulu untuk berjalan-jalan di sekitar kawasan dekat sekolahnya. Erin dengan earphone di telinganya membelah jalanan yang masih nampak remang-remang karena cahaya pada lampu penerangan di jalan beberapa sudah qoit, alias mati. Erin menghirup napas dalam-dalam, menikmati udara pagi yang begitu sejuk dan menyegarkan hingga tak terasa kini ia berada di sebuah trotoar pinggir jalan. Beberapa menit berlalu, Erin yang duduk di tepian trotoar sambil melihat aktivitas pagi hari orang-orang. Mulai dari tukang becak, penjual bubur, ibu-ibu pasar dan beberapa anak kecil dengan sebuah kotak yang mereka modifikasi menjadi sebuah tempat untuk membawa dagangan mereka. Erin tersenyum penuh syukur, Tuhan telah memberikannya limpahan rejeki yang tak terhingga sampai-sampai dia hanya tinggal menikmati saja, tak perlu bekerja keras seperti sekumpulan anak-anak yang sekarang menjajalkan dagangannya. Erin berdiri dan memanggil salah satu anak di seberang jalan sana. Merasa terpanggil anak laki-laki itu menghampiri Erin dengan penuh tanda tanya. "Kenapa, kak?" tanyanya. Erin yang terlihat meneliti dagangan anak laki-laki tersebut langsung beralih menatap pemilik dagangan tersebut, yaitu yaaa... anak kecil di depannya ini. "Dek, itu, apa ya?" tanya Erin sambil menunjuk sebuah makanan terbungkus plastik berwarna hijau. "Oh, ini kak?" Erin mengangguk kala anak laki-laki di depannya itu menunjuk makanan yang Erin maksud. "Ini namanya gethuk. Jajanan khas indonesia jaman dulu, dari singkong." Erin meneguk ludahnya, merasa tergiur. "Wheptt... boleh icipin, nggak?" tanyanya sambil menyempatkan diri menyedot salivanya yang hampir saja keluar dari ujung bbirnya. Anak laki-laki tersebut langsung memberikan Erin makanan yang Erin inginkan. Erin mengigit perlahan dan mengunyah dengan perlahan juga. Enak, rasanya enak sekali. "Dik, berapaan ini?" "Tiga ribu kak satu bijinya." Erin mengangguk dan menghitung jumlah gethuk yang ada. "Kakak beli semuanya ya, sama putu sama donatnya masing-masing lima, oke?" Anak laki-laki itu melongo mendengar permintaan Erin, untuk apa kakak di depannya ini membeli dagangan sebanyak itu? pikirnya. "Kok, banyak... banget, kak?" Sambil sibuk mengunyah dengan tampang polosnya Erin bertanya. "Nggak boleh?" Buru-buru anak laki-laki tersebut menggeleng. "Ehhh... boleh kok, kak!" serunya. "Yaudah, kamu cepet bungkusin buat kakak. Kakak keburu berangkat sekolah, nih." Anak laki-laki itu mengangguk dan membungkus pesanan Erin. Setelah selesai dia memberikannya pada Erin. "Berapa semuanya, dek?" "Tujuh puluh dua, kak." Erin merogoh sakunya. "Emangnya yang kakak makan ini nggak dihitung, kah?" "Nggak kok, kak. Yang satu itu gratis buat kakak cantik, pelanggan pertama Fuazan pagi ini." "Oh, jadi nama kamu Fauzan?" Fauzan menggangguk. "Yaudah, kalo gitu makasih ya, Fauzan. Ini uangnya... Eitsss jangan dibuka dulu." Cegah Erin saat gengaman tangan Fauzan yang Erin berikan uang tadi. "Kakak pamit dulu, Bye!" Erin segera melajukan skateboardnya sambil menenteng kantung plastik berisi belanjaannya barusan. Merasa ada yang aneh, Fauzan lekas membuka genggamannya, takut kakak yang membeli dagangannya itu membayar tak sesuai. Lagipula, Fuzan merasa janggal, kenapa kakak itu hanya memberikan selembar uang kertas saja? Fauzan melongo dan berteriak. "Kak! Kembaliannya, kak!!!" Erin melambaikan tangannya dan menoleh sekilas seraya melepar senyu terbaiknya. "Ambil, aja! Semangat ya, Fauzan!" teriak Erin dan langsung melesat mengggunakan skateboardnya. Fauzan tersenyum lebar, ternyata dugaannya salah. Kakak tadi memberikan uang seratus ribu, bukan seperti dugaannya yang mengira hanya lima puluh atau uang yang tak sesuai dengan harga pembeliannya. Fauzan masih tersenyum dan mengucap syukur, kemudian menatap punggung Erin yang kian menjauh dengan tersenyum manis. Dia berdoa supaya Erin bahagia selalu. Erin harus bersabar karena ia tersesat saat ini. Jarak antara sekolah dan tempatnya jalan-jalan saat ini bisa terbilang sedikit jauh membuat Erin harus bersih keras melajukkan skateboardnya dengan cepat, setengah jam lagi sekolahnya akan ditutup. Dia harus cepat agar tidak terlambat! Erin menghentikan laju skateboardnya saat lampu merah menyala. Dia terpaksa melewati jalan raya karena trotoar yang ramai akan pejalan kaki. Erin merasakan getaran di saku roknya, dengan memperbaiki tata letak kantung plastiknya Erin mengambil ponselnya dan menerima panggilan yang menyebabkan benda pipih itu berdering. "Halo?" "Erin!!! Lo dimana? Kenapa gue telfon lo, ngak bisa? Lo blokir nomor gue ya?!" Erin mengeryit, kenapa suara Syiela mirip suara Kenzie? Erin menjauhkan ponselnya dan melihat nama yang tertera di layar benda pipih yang dia pengang. Nomor Syiela kok. "Halo? Halo? Ini Syiela, kan? Kok suaranya kayak suara Ken?" "Kenzie itu, b**o!" terdengar teriakan Syiela dan Lisa di seberang sana. Erin segera berdeham. "Apa lo telfon gue?" "Yeeee... Jangan dulu geer, sis. Gue disuruh bunda sama ayah buat ngecek lo udah disekolah apa belom. Dan ternyata belum. Pasti lo keluyuran ya? Mau bolos ya? Gu--" Sebelum menyelesaikan acamannya, Erin segera memotong perkataan Kenzie. "Aduin aja, sono. Dasar ember! Mulut baskom! Bye!" Erin mematikan panggilan telepon tersebut secara sepihak dan mensilent ponselnya agar Kenzie tak dapat menyepam-nya. Buru-buru ia putar sebuah lagu dan matanya menatap sebuah layar lampu merah yang menampilkan hitungan angka mundur. Erin menaikkan kakinya pada papan sakteboard dan berancang-ancang melesat. "Lima...Empat...Tiga...Dua...Satu..." Erin segera menganyunkan kakinya agar skateboard yang ia naiki dapat melaju. Untung saja dia melajukan skateboadrnya di pinggir jalan, coba kalau ditengah jalan. Pasti Erin sudah terlindas motor-motor yang mengebut di depannya kini. Diujung sana terlihat bapak satpam andalannya tengah menutup pagar sekolah, Erin langsung mengeluarkan kekuatan kilat pada kakinya dan menggeluarkan jurus teriakan mautnya. "Pak Marto ganteng!!! Tunggu putri jelita ini sebentar!!!" Karena takut tertabrak Erin pak Marto buru-buru menyingkir sambil mendorong pagar hingga terbuka lebar dan Erin berhasil memasuki kawasan sekolahnya. Dengan cengiran tanpa dosanya, Erin berlari kecil kearah pak Marto. Sampai di depan pak Marto, Erin menyondorkan kantung plastik berisikan kue putu dan donat. "Eitssss!!! Ini buat pak Marto." Erin menyondorkan skateboardnya, "Sama ini pak. Nitip, soalnya pos satpam pak Marto itu aman. Hehe.  Bye pak! Erin masuk dulu! Mwah" Erin lekas berlari karena sudah terlambat lima belas menit, ia tidak mau berkahir di toilet karena guru mata pelajaran pagi ini terkenal jahat. Pak Marto menatap skateboard dan kantung plastik yang Erin berikan yang ternyata berisi donat dan kue putu. "Ini saya disogok?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN