ILUSI

1470 Kata
Bunga yang baru tubuh memang terlihat jelek, tapi lihat saat dia mekar. Kamu akan menyukainya, bisakah kamu melihatku seperti bunga yang mekar? *** Kini Erin tengah melajukan skateboardnya menuju sekolah. Erin sudah mendengar bahwa hari ini Kenzie akan mengikuti tes untuk pertukaran pelajar selama tiga bulan di Kanada, maka dari itu Erin menyuruh Kenzie untuk langsung pergi ke sekolah tanpa menjemputnya. Jelas Kenzie menolak dan bersih keras untuk tetap menjemput Erin, namun Kenzie harus mengalah karena ancaman Erin. Cewek itu mengancam Kenzie dengan berkata, “Kalo lo sampe nolak lagi, gue nggak akan ngebolehin lo masuk kawasan rumah gue. SELAMA SEMINGGU! CAMKAN ITU!” Kenzie harus rela menuruti keinginan Erin untuk tidak menjemputnya, karena Kenzie tidak mau seperti dulu, saat Erin benar-benar marah padanya selama satu minggu. Erin memincingkan matanya melihat sosok cowok yang bediri dengan kedua tangan di dalam saku celananya. Cowok itu terlihat menunggu seseorang. Erin menghentikan laju skateboardnya dan menenteng benda tersebut sambil menebak apakah cowok itu Kenzie atau bukan? Tapi bagaimana mungkin jika itu Kenzie? Erin menghentikan langkahnya dan sedikit menyembulkan kepala untuk melihat cowok di depannya ini, ternyata benar Kenzie. "WOI!!!" Kenzie terjengit kaget saat suara Erin membuyarkan lamunannya. Erin memandangi Kenzie yang tengah tersenyum-senyum, ada apa dengan Kenzie pagi ini? Apa cowok ini mendadak sinting? "Lo nggak tes?" Kenzie mengangguk, "Udah kali nyuk." Jawabnya sambil mengacak gemas puncak kepala Erin. Erin menampis tangan Kenzie lalu merapikan anak rambutnya yang berantakan. "Emang tesnya subuh-subuh tadi?" "Nggak, sih. Ternyata, Tesnya diundur nanti siang." “Berarti itu belum tes, nyet!” koreksi Erin. Setelah itu Erin hanya beroh ria saja, mereka berdua berjalan beriringan menuju sekolah yang masih lima puluh meter lagi. Sambil berjalan mereka berdua terlibat perbincangan. "Tumben nggak bawa si Peci?" Kenzie menoleh lalu menyengir. "Pecinya sengaja gue tinggal. Kan mau nunggu lo." Erin tersenyum, merasa bahwa ucapan Kenzie membangunkan kembali perasaan sukanya. Jantung Erin mulai memberikan respon berdebar ketika mendengar perkataan Kenzie.  Kenzie masih tersenyum sambil memandang lurus ke depan dan Erin yang sibuk menatap Kenzie dari samping. Hingga tiba-tiba Kenzie menangkap basah Erin yang tengah menatapnya. Buru-buru Erin membuang muka dan menyibukkan diri dengan meneliti skateboard miliknya. Kenzie terkekeh melihat kelakuan Erin. Tiba-tiba tubuh Erin tertarik dan jatuh dalam pelukan Kenzie karena Kenzie menariknya. Alasan Kenzie menarik Erin karena Erin hampir saja terjatuh ke galian proyek yang ada di trotoar. Dasar Erin ceroboh! Erin melongo dan merasa terbang melayang karena dengan gentle Kenzie menyelamatkannya. Setelah itu, Kenzie berjalan sambil sibuk mendumal Tiba-tiba Kenzie memegang bahunya sehingga Erin ikutan menghentikan langkah dan menatap Kenzie dengan wajah cengo. "Ah ya, Rin." "Ha?" "Gue... Ada yang pengen gue bilang, gue rasa harus hari ini." Erin mengeryitkan dahinya dan memiringkan kepalanya, tanda tidak mengerti maksud Kenzie. "Emangnya apa?" "Bukan sekarang, kayaknya gue harus ngajak lo ke suatu tempat." "Apa?" Detik berikutnya Kenzie memegang kedua bahu Erin dan sedikit membungkuk, wajah Kenzie tinggal beberapa senti saja dari wajah Erin sehingga Erin mampu merasakan hembusan napas hangat dari Kenzie. Kenzie memperdalam tatapannya membuat Erin benar-benar merasa panas, dia sedang berdebar, hatinya sedang badai bunga bukan berbunga-bunga lagi. "Ayo pacaran, Rin." Erin mengangguk tanpa sadar dan mereka diam sejenak. "Hei, lo denger gue kan?" Kenzie menjewer telinga Erin yang sendari tadi melamun saat Kenzie mengajak sahabatnya ini berbicara. Erin mendadak oon dan linglung karena masih terbawa khayalannya. Tanpa bertanya mengapa Erin melamun, langsung saja Kenzie berkata, "Yang jelas, lo harus nganterin gue nanti. No debat!" "Pulang sekolah jangan pulang dulu, tunggu gue." Kenzie memberi jeda dan melangkah dua langkah sambil berpamitan. "Gue masuk duluan ya. Bye." Setelah itu Kenzie berlari dan menyempatkan berbalik dan melambai padanya sambil tersenyum manis. Erin masih dengan linglungnya tak membalas ucapan Kenzie. Jangan pulang dulu? Tunggu gue? Hari ini? Erin langsung mengulum senyum dan memukul udara karena salah tingkah. Dia menatap Kenzie dengan tersenyum malu-malu. Mungkinkah hari ini Kenzie... Erin memasuki kelasnya dengan bersenandung ria, dia sangat gembira saat ini. Lisa yang tengah menaruh sapu di pojok depan kelas langsung menutup mulutnya melihat penampilan Erin yang terbilang berantakan. "Astaga..." Lisa langsung mengikuti Erin yang melangkah untuk duduk di bangkunya. Lisa duduk di bangku Farel yang kebetulan duduk tepat di depan Erin, yaa hanya numpang duduk saja sih. Lisa menghadapkan badannya menatap Erin sedangkan Syiela yang baru ikutan menumpang duduk disebelah Lisa langsung bertumpu dagu. "Kenapa dandanan lo kayak gembel? Baju keluar, rambut berantakan, lo nggak mandi sebelum berangkat, Rin?” Erin malah merespon dengan senyuman oon membuat Syiela dan Lisa saling pandang karena melihat keanehan Erin pagi-pagi seperti ini. "Please ini bukan pertama kali dia gini. Udah biasa kali," celetuk Farel, menunggu Erin menyingkir. Erin masih saja tersenyum dan menguncir rambutnya yang terurai berantakan. Erin rasa tampilannya berubah menjadi berantakan karena tadi sempat berjingkrak-jingkrak di jalan setelah kepergian Kenzie. Lisa menggeleng. "Nggak, kayaknya udah tiga kali, deh. Tapi sekarang lebih parah, jangan-jangan dia tadi ketemu seseorang." Erin tersenyum dan mengangguk. "Gue kayaknyaperlu di touch up deh hari ini," katanya. Lisa dan Syiela sama-sama melongo mendengar permintaan Erin. Hell! Seorang Erin yang masa bodo dengan penampilannya mendadak minta di dandani? Apa Erin salah makan? Atau kepalanya baru saja terbentur benda keras? "Emmmm... kayaknya, gue mau ke---" Erin langsung mencekal lengan Lisa yang tadinya hendak kabur membuat Lisa harus duduk kembali dan menatap Erin yang tengah tersenyum lebar. "Ntar deh, ntar! Gue mau ngomong..." kata Erin sambil mengatakan kalimat terakhir dengan suara yang di imut-imutkan, oh ya! Jangan lupakan senyum lebarnya itu. "Ha? Nembak?" Tanya Syiela sedikit mengejek. Erin menceritakan kembali kejadian tadi pagi membuat Lisa dan Syiela terpaksa mendengarkan dan merepon dengan tertawa kencang. Erin ini kreatif banget kalo cerita, sampai terasa seperti halusinasi.  "Nyuk! Emangnya, Kenzie gila apa? Nembak lo? Hahahaha..." Lisa mengangguk tanda setuju dengan ucapan Syiela. Karena kesal di ejek sendari tadi, Erin berdecih dan menabok Lisa dan Syiela bergantian. Kedua temannya langsung mengajukan protes. "Gue, serius! Tadi pagi dia minta gue, buat ikutan ke tempat istimewa!" PLAKKK Syiela mengembalikan tampolan Erin dengan kuat membuat kepala Erin setengah terkantuk ke belakang.  "Alaaaaaahhh... Paling lo melebih-lebihkan cerita." Erin jelas kesal atas ucapan Syiela, sambil berdiri dari duduknya Erin menatap Syiela garang Sedangkan Syiela menatap Lisa yang sendari tadi menatap dirinya dengan Erin, mungkin Lisa tadi sempat menghayal juga, ah Syiela tak yakin juga, sih. "Heh, udah berapa lama Erin suka Kenzie diem-diem? Berapa tahun? Dia cuman nunggu di tembak, sedangkan dia nggak pernah nyatain perasaannya, bagaimana mungkin?" Kini mereka berada di lapangan karena kelas sedang mengikuti mata pelajaran olahraga. Olahraga yang sedang mereka kerjakan adalah teknik passing di permainan bola basket. Giliran Syiela melempar bola basket ditangannya pada Lisa sambil sibuk berceloteh. Lisa menangkap lemparan Syiela dan memasang wajah agak tidak setuju dengan ucapan Syiela. "Syeil. Kayaknya cerita Erin bener, deh. Lagipula, ngapain sih bahas masa lalu?" Syiela beralih menatap Erin dengan senyum mendukungnya dan melempar bola basket ditangnnya dan berhasil di tangkap Erin. "Rin. Terus apa yang Kenzie bilang ke lo?" tanyanya dengan semangat. "Dia natap gue, pake senyum manis, trus nyuruh gue jangan pulang dulu dan mau ngajak gue ke suatu tempat." Ungkap Erin kembali pada mood riang gembira karena memikirkan kemugkinan Kenzie menembaknya. "Trus, dia bilang... hari ini!!!" Lisa menangkap lemparan Erin dengan tersenyum, ikut senang akan kebahagiaan Erin. Tapi suara Syiela kembali membuat perhatian dua temannya itu tertuju padanya. "Itu mah bukan apa-apa, palingan Kenzie mau ngutang." Lisa merasa kesal akan Syiela yang tidak sedikitpun menunjukkan dukungannya pada kebahagiaan Erin. Kini mereka beralih duduk di kantin, karena olahraga sudah berakhir dan guru pengajarnya meberikan waktu untuk siswa-siswinya beristirahat tiga puluh menit sebelum bel pergantian jam. Erin dengan satu mangkuk baksonya sedang dimasuki beberapa dugaan dari mulut Syiela dan Lisa. Erin bahkan menatap wajah kedua temannya saat salah satu dari mereka berdua bersuara. "Rin, coba deh lo pikir. Kalo dia mau nembak lo, pasti udah dari dulu-dulu." Erin menelan kunyahannya dan menampis ucapan Syiela. "Nggak, kok. Suasana hari ini beda, Ken ke gue itu... kayak ada manis-manisnya." ucapnya. Setelah itu Erin kembali menatap baksonya dan mendengarkan Lisa. "Menurut gue sih, Kenzie beneran mau nembak, Rin!!" Ujarnya sedikit memikik tertahan. Erin menatap senang Lisa yang satu pemikiran dengannya, lalu tersenyum sambil mengendikkan sendok yang dia pegang di depan wajahnya. "Iya, bener kan?!" "Biasanya kan cinta itu tumbuh dari pertemanan dulu," kata Lisa. Erin langsung menunduk dan tersenyum malu, sedangkan Syiela menggeleng sambil mengeryit jijik. Kedua temannya ini memang tidak ada yang beres otaknya, kebanyakan ngayal, kebanyakan berharap! "Girls. Coba bayangin. Kenzie, si anak cerdas dan kapten basket itu suka sama Erin? Kenzie yang tinggi, tampan, badannya bagus, wajah ideal, milih Erin buat jadiin pacaranya? Kenapa harus Erin?" heran Syiela. "Heh, bocah kemplung! Udah deh, emangnya apa ada yang salah sama Erin? Lagipula mereka juga tumbuh bersama. Siapa yang tahu kalo perasaan suka juga ikut tumbuh?" Lelah berdebat membuat Syiela menggeleng pasrah dan memilih menghambiskan minumannya. Jika terus seperti ini, maka tidak akan selesai perdebatan yang terjadi. Jadi, Syiela memutuskan untuk mengalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN