6. Makan Bersama

1116 Kata
Waktu istirahat telah usai, kini Luna harus kembali bekerja, sedangkan Bianca hendak pulang, ia tidak boleh berlama-lama di kantor, atau sifat irinya akan muncul usai melihat orang seusianya tengah asik bekerja sembari mengobrol dengan banyak teman. Sedangkan dirinya hanyalah seorang pengangguran yang hanya memiliki sati orang teman saja, yaitu Luna. Ia hampir setiap hari kesepian. Pernah ia bertanya pada Alden apakah dirinya boleh bekerja atau tidak, Alden tak membalasnya, mengatakan sepatah katapun saja tidak. Ia justru mendapati uang bulanannya naik dua kali lipat dari bulan-bulan sebelumnya. Dan Bi Asih menjelaskan bahwa kemungkinan Alden tersinggung karena dirinya ingin bekerja, mengira bahwa uang bulanan darinya kurang. Padahal bukan itu maksudnya, ia hanya ingin menyibukkan diri hingga lupa bahwa saat ini ia tengah patah hati karena di tolak suami sendiri. Memang kalau sudah berurusan dengan Alden repot. "Astaga!" Pekik Bianca terkejut usai pintu lift terbuka dan menampilkan sosok Alden berada tepat di ambang pintu lift dengan tatapan tajam dan dingin khasnya. Bianca tahu tatapan Alden memang sudah bawaan pabrik, tapi entah kenapa setiap kali melihatnya masih merasa sedikit takut. Alden berjalan mendekat lalu meraih totebag berisi kotak bekal makan siangnya, tak lupa ia juga meraih tangan Bianca untuk ia genggam. Bianca menatap ke arah tangannya cukup lama lalu beralih menatap suaminya. Semua karyawan yang tak sengaja berpapasan dengan mereka menatapnya dengan beragam, ada yang kagum namun juga ada yang menatapnya penuh iri dan dengki. Tentu saja mereka iri, siapa yang tidak iri padanya, memiliki suami tampan dan kaya raya. Tapi sayangnya sifatnya minus total. "Romantis sekali," "Ini pertama kalinya gue lihat istrinya pak Alden Dateng ke kantor." "Entah pelet apa yang di pake sama tuh cewek." "Gue penasaran, dukun mana yang dia datangi." Bianca menatap tajam ke arah dua orang yang membicarakannya dengan kalimat buruk tersebut, dan hal itu sukses membuat mereka berpaling dan kabur. "Dasar, tukang gosip." Gregetnya lalu kembali fokus pada Alden. Alden mengajaknya masuk ke dalam ruang kerjanya, Bianca mengamatinya dengan kagum, ruangannya sangat luas dan nyaman. Ada sofa, lemari buku, televisi, kamar mandi dalam, bahkan ranjang untuk istirahat serta kulkas di dalamnya. Luar biasa, ini benar-benar ruang kerja yang sangat mewah. Pantas saja, dia kan direktur utama, atau yang kerap di panggil CEO kalau di dalam drama-drama China yang biasanya ia tonton. Alden duduk di sofa, membuka bekalnya dan menatapnya dengan malas. Tatapannya kini beralih pada sosok Bianca yang tengah tersenyum hambar padanya. "Kenapa kosong?" Tanya Alden dengan datar. "Udah gue makan, gue laper." "Ini makan siang saya." Tutur Alden dengan tegas. "Tumben banget minta bekal dari rumah, biasanya juga makan di restoran." "Tahu dari mana?" "Biasanya kan lo sering upload story makan siang dan makan malam di resto. Gue tahu dari situ," "Itu kalau ada rapat sama klien." "Ouh, bisa makan di kantin." "Saya pengen masakan rumahan." "Maaf, gue gak tahu." Ucap Bianca tanpa merasa bersalah sama sekali. Sedangkan perut Alden mulai berbunyi, tanda bahwa cacing-cacing yang ada di perutnya mulai meronta kelaparan. "Mau ikut gue gak? Gue tahu masakan rumahan yang paling enak." Ajak Bianca dengan canggung, ia takut di tolak, kalau di tolak tuh rasanya canggung banget, membuat perasaanya tidak nyaman karena kecewa. "Mau, ayo pergi sekarang." Alden langsung bergegas keluar dari ruangan, sedangkan Bianca langsung mengejarnya. "Laper banget, ya?" Tanya Bianca yang tak mendapatkan respon apapun dari Alden. Alden masuk ke dalam mobil, sedangkan Bianca mengecek ponselnya untuk menghubungi supirnya untuk datang menjemput. "Ngapain di situ? Masuk!" Titah Alden pada Bianca. "Gue? Boleh masuk ke mobil Lo? Seriusan?" Tanya Bianca tak percaya. Alden mengangguk perlahan. "Gak perlu, gue takut Lo turunin gue di jalan lagi." Lanjut Bianca menolak. Alden menatapnya dengan dingin, ia masih ingat bagaimana sifatnya yang terlalu kejam pada Bianca. Saat itu adalah hari ulang tahun pernikahan mereka yang ke satu tahun, keluarganya mengadakan acara makan malam. Bianca berangkat di antar supir, sedangkan saat pulang ke dua orang tuanya meminta supir pribadi Bianca untuk pulang agar Bianca dan dirinya bisa pulang bersama. Di tengah perjalanan pulang, saat tengah malam ia dengan tega memberhentikan mobilnya dan meminta Bianca untuk turun. Alhasil, ia pulang sendirian sedangkan Bianca berjalan kaki sembari ketakutan di malam yang gelap. Untung saja, gadis Itu baik-baik saja. Alden membuang nafasnya dengan berat, kalau di ingat lagi, sifatnya benar-benar sangat keterlaluan. Alden kembali keluar dari dalam mobil, berjalan mendekat ke arah Bianca lalu membukakan pintu mobil untuk sang istri. "Masuk, saya tidak akan meninggalkanmu di tengah jalan nanti. Janji." Ucap Alden dengan serius. Bianca menatapnya tak percaya, ternyata hubungan satu malam mereka mampu membuat sifat dingin Alden sedikit mencair. Tapi walaupun begitu, ia tidak ingat semuanya, ia tidak ingat apapun, baik itu rasa ataupun bentuknya. Sayang sekali. Bianca masuk ke dalam mobilnya sembari membalas tatapan sang suami tak kalah tajam. "Awas aja Lo ninggalin gue lagi, gue tuntut Lo." Ancam Bianca yang kembali di acuhkan oleh Alden. - "Tempat apa ini?" Tanya Alden pada Bianca usai ke duanya sampai ke tempat di mana Bianca mengatakan bahwa ada masakan rumahan yang sangat enak. "Warteg. Masa gak tahu?" Balas Bianca dengan santai. "Warung kecil pinggir jalan kayak gini?" "Katanya udah bosen makan di resto." "Tapi tidak di pinggir jalan juga." "Ya Lo maunya warung yang ada di tengah jalan? Di tabrak Kendaraan dong." "Bukan begitu," "Ternyata Lo bisa cerewet juga loh. Cuma males ngomong aja, iya kan?" Sela Bianca dengan cepat. Alden memilih untuk mengalah. "Mau masuk, atau enggak?" Tanya Bianca sok serius. "Kalau enggak, pulang sana!" Sambungnya mengusir. Bianca masuk ke dalam warung makan sederhana tersebut lalu duduk manis di tempat makan. Alden dengan ragu ikut masuk ke dalamnya, ini adalah pertama kalinya ia datang ke warung makan kecil yang sangat sederhana ini. "Mau makan apa?" "Kamu pesenin aja, saya ngikut." "Lo punya alergi jenis makanan apa gitu?" "Tidak ada." "Okey." "Bu! Saya mau pesan nasi 2, pake sayur asem, ikan bandeng, sambel terasi sama gimbal." Seru Bianca pada ibu-ibu penjual. "Ok, di tunggu ya, Neng. Minumnya apa?" "Es teh, 2." Setelah menunggu sekitar 5 menit, akhirnya pesanan mereka sampai. Alden cukup kagum dengan kecepatan mereka, berbeda dengan restoran atau cafe yang perlu menunggu minimal 15 menit sampai makanan di hidangkan, bahkan kadang ada yang menunggu sekitar 30 menitan tergantung jenis makanan apa yang di pesan. "Yuk makan, berdoa dulu." Bianca mulai berdoa lalu menyantap makanannya dengan sangat lahap. Sedangkan Alden awalnya ragu menyantapnya, tapi usai satu kali suapan, ia jadi ketagihan. Ternyata makan-makanan sesederhana ini sangat enak. Bianca menatapnya dengan tersenyum, tak hanya Bianca yang ikut senang karena Alden cocok dengan masakan warung tersebut, pemilik warungnya juga ikut tersenyum bahagia, ini adalah pertama kalinya warung makan sederhananya kedatangan orang kantoran yang kelihatan kaya raya itu, biasanya hanya anak kuliahan dan para pekerja kasar. Tak ia sangka, ternyata masakannya juga cocok di lidah orang kaya. "Bu, Saya mau nambah!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN