5. Kantor

1095 Kata
Bianca tertawa terbahak usai melihat setiap tv favoritnya yang meradegan lucu, sesekali ia menyumpal mulutnya dengan keripik kentang dan meminum jus jeruk favoritnya. Beginilah kehidupan sehari-hari Bianca, tinggal di rumah megah dengan segala macam fasilitas dan bisa berbelanja sesuka hati tanpa harus memikirkan soal harga. Tapi, walaupun begitu tetap saja, ia merasa menjadi istri paling menyedihkan di dunia usai cintanya di tolak oleh Alden sang suami. "Nyonya," Bi Asih memanggil, Bianca dengan cepat menoleh ke arahnya dengan santai. "Sini, Bi. Nonton bareng." Ajaknya dengan ramah lalu menepuk pelan sofa kosong di sampingnya. "Bukan begitu, Pak Alden nyuruh Nyonya membawakan bekal makan siang ke kantor sekarang." Ucap Bi Asih dengan sopan, walaupun dirinya lebih tua, tetap saja ia harus bersikap sopan karena kesenjangan sosial di antara mereka. "Bekal makan siang? Biasanya makan di cafe atau resto. Di kantor juga nyediain kantin. Tumben banget." "Saya kurang faham, tadi pak Alden mintanya gitu." "Kok dia aneh banget sih sejak kemarin? Makan siang di rumah, respon omongan gue---," "Dan masuk ke kamar Nyonya semalam," lanjut Bi Asih menyela. Bianca menatap wanita tua itu kembali. "Itu maksudnya apa?" "Maaf, menyela." "Bukan, maksudnya Alden gimana? Kok berubah?" Bi Asih tersenyum lebar, ikut senang melihat perubahan Alden walaupun baru dua hari. Ia adalah saksi bisu hubungan pernikahan mereka, ia tahu betul bagaimana perjuangan Bianca saat awal menikah demi mendapatkan perhatian dan kasih sayang Alden. Ia juga paham betul bagaimana penolakan seorang Alden terhadap Bianca, serta penderitaan yang di alami Bianca pasca penolakan tersebut. Kini, ia ikut senang karena hubungan ke duanya sudah mulai membaik, Alden sudah mulai menerima Bianca dan membuka hatinya kembali. "Mungkin, beliau sudah mulai menyukai Nyonya. Semalam, kalian tidur berdua 'kan?" Bi Asih tersenyum simpul sembari menatap menggoda ke arah Bianca. Sedangkan Bianca mulai menoleh lagi ke arah tv dan menyumpal mulutnya kembali dengan keripik kentang. Ia tak benar-benar fokus menonton tv seperti beberapa saat yang lalu, tapi ia sedang berpikir keras, apa yang membuat Alden mulai berubah? Malam pertama. Benar, Bianca ingat, semalam Alden mengakui bahwa dialah yang menidurinya di kamar sewaan club malam itu. Dan dia juga yang telah memberinya banyak tanda kecupan. Sebab itu dia mulai berubah. "Dia pikir gue cewek apaan?" Kesal Bianca lalu pergi dari ruang santai. - Tidak ada yang bisa menolak permintaan Alden, siang itu Bianca pergi ke kantor tempat Alden bekerja untuk mengantar makan siang. Bianca berjalan dengan anggun, beberapa karyawan yang sudah mengenalnya sebagai seorang istri bos banyak yang menyapa dengan Ramah dan sopan, dan dirinya hanya tersenyum kecil untuk merespon mereka semuanya. "Hai!" Sapa Bianca dengan ceria sembari tersenyum lebar usai melihat Luna yang tengah berdiri di dalam lift. Bianca ikut masuk ke dalam lift, dan hanya mereka berdua yang menaiki lift. "Lantai 25? Ngapain ke sana? Bukannya di sana itu lantai akhir? Gudang bukan sih?" Cerocos Bianca memulai pembicaraan mereka. "Iya bener." "Ada kerjaan di sana?" "Mau ikut gak?" Tawar Luna dengan ramah. "Boleh." Ke duanya akhirnya sampai ke lantai 25, Luna keluar terlebih dahulu dari lift, di ikuti oleh Bianca di belakangnya. Luna kembali berjalan menaiki tangga, untuk menuju tempat lain. Gedung perusahaan tersebut sebenarnya memiliki lantai 26, tapi lift hanya sampai ke lantai 25, karena lantai 26 adalah rooftop. Bianca tak banyak bicara, ia hanya mengikuti Luna sampai akhirnya ia berada di tempat yang benar-benar memiliki pemandangan kota yang sangat indah. "Wah!" Pekik Bianca dengan takjub usai sampai di pinggiran rooftop. Dari sini, ia tak hanya melihat pemandangan gedung-gedung tinggi yang lain, tapi juga langit yang luas dan cerah, dan juga taman hiburan yang berada tak terlalu jauh dari lokasi kantor. "Keren banget," seru Bianca dengan heboh. "Norak banget Lo," komen Luna usai melihat tingkah sahabatnya yang terkagum-kagum. "Biarin." Sahutnya dengan acuh. Bianca dan Luna duduk bersebelahan, salah satu tangan Luna terulur memberikan satu buah donat yang tadi pagi sempat ia beli di pinggir jalan untuk Bianca. Bianca menerimanya, dan keduanya menikmatinya bersama. "Lo gak makan siang?" Tanya Bianca dengan hati-hati. "Diet?" "Enggak." "Terus kenapa?" "Harus hemat, makannya cuma makan siang pakai roti murah." Jawab Luna dengan santai. "Bukannya di kantor ada kantinnya? Katanya makanan di sana gratis semua." "Iya, benar ada. Tapi---," "Tapi apa?" "Tapi di sana ada Roy," "Roy?" Beo Bianca sembari mengingat nama tersebut. "Siapa Roy?" Luna menatap Bianca cukup lama dan datar, sampai akhirnya Bianca ingat siapa orang yang di maksud. "Roy biadap itu?" Sewot Bianca usai ingat semuanya. Roy adalah mantan kekasih Luna, ke duanya sudah pacaran sejak masa kuliah. Luna yang notabenenya berasal dari keluarga yang gak mampu sejak kuliah sudah mulai bekerja paruh waktu untuk tambahan biaya kuliah agar tak terlalu membebani ke dua orang tuanya. Tapi sayangnya saat itu Luna jatuh cinta pada sosok bernama Roy, pria arogan dengan mulut manis serta gaya rambut mulletnya yang sebenarnya tak cocok untuk tipe wajahnya. Roy selalu meminta uang pada Luna dengan alasan pinjam, tapi tak sepeserpun di bayar pada akhirnya. Dan kejamnya lagi, setelah 3 tahun pacaran dan sering meminta uang pada Luna, pria itu justru berselingkuh dengan wanita lain. Hubungan Luna dan Roy kandas pun tidak dalam situasi yang baik-baik saja, di mana Roy memaki-maki Luna dan banyak memberikannya kalimat yang jahat dan menyakitkan. "Dia kerja di sini?" Tanya Luna mulai emosi. Luna mengangguk pelan. "Sejak kapan?" "Tiga bulan yang lalu," "Dan semenjak itu Lo gak pernah makan siang di kantin lagi?" Luna mengangguk pelan menjawab pertanyaan Bianca barusan. "Pasti Lo mual banget liat mukanya. Bener, kan?" Tebaknya yang sukses membuat Luna tersenyum simpul. "Bukan begitu," "Lalu apa?" "Dia selalu bersikap mesra-mesraan sama pacarnya yang pernah jadi selingkuhannya itu tepat di depan mata gue. Di tambah lagi, saat liat gue dia selalu ceritain hal-hal memalukan yang pernah gue lakuin pas masih kuliah, sampai-sampai gue jadi bahan tertawaan banyak karyawan lain." Cerita Luna dengan panjang lebar. "Emang biadap tuh orang." Maki Bianca pada Roy. "Kenapa jadi Lo yang emosi?" "Ya gimana enggak? Sifatnya aja lebih buruk dari binatang." "Udah-udah, jangan marah-marah Mulu. Tumben banget Lo Dateng ke kantor. Ada apa? Nyariin gue?" Bianca baru ingat tujuannya ke kantor mau ngapain. Bianca mengambil paper bag yang beberapa saat lalu ia taruh di sampingnya. "Ini isinya makanan, yuk makan siang. Lo butuh banyak energi buat kerja supaya lebih fokus." "Buat gue?" Tanya Luna dengan ke dua mata berbinar. Bianca mengangguk antusias. "Mulai besok, gue bakal minta satpam di rumah buat nganterin Lo bekal makan siang." "Gak perlu repot, entar Lo dapet masalah lagi sama pak Alden." "Alden itu emang rada-rada, tapi gak pelit kok. Lo santai aja." "Ngerepotin." "Gak papa, kita kan Bestie." Keduanya akhirnya tertawa bersama lalu menyantap makan siang berdua sembari menatap indahnya pemandangan dan cuaca yang cerah hari ini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN