"Tahu dari mana semalam gue gak inget apapun?" Seru Bianca dengan keras usai Alden berjalan menjauh darinya. Alden menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap ke arah Bianca dengan ekspresi wajah datar dan dingin.
"Jadi, kamu ingat semuanya?" Tanya Alden dengan santai sembari memasukkan ke dua tangannya ke dalam saku celana bahan yang ia kenakan. "Ceritakan, apa yang kamu ingat." Titahnya dengan tegas.
Bianca mulai kelabakan, bagaimana ini? Ia masuk dalam jebakan.
"Lo tahu semalam gue ke club?" Tanya Bianca yang di bahas Alden hanya dengan satu kedipan mata, tanda bahwa ia mengetahuinya. "Gue mabuk Lo tahu juga?" Kali ini Alden mengangguk pelan. "Tahu dari mana?"
"Saya lihat sendiri." Jawab Alden pada akhirnya.
"Lo di sana semalam?" Alden kembali berkedip sebagai jawabannya. "Ngapain? Gak mungkin orang kayak Lo ke sana buat mabuk 'kan?" Cerocos Bianca tak mau berhenti bicara. Ia akan menanyakan apa saja yang ingin ia tahu, entah itu nanti di respon atau tidak, ia tidak peduli, yang jelas ia akan berusaha terlebih dahulu.
"Menurutmu?"
"Lo ke sana buat cari cewek!" Seru Bianca sembari menatap Alden dengan tajam, tanda bahwa ia marah dan cemburu. Tidak di pungkiri, sejak pertama kali bertemu, Bianca sudah jatuh hati pada sosok itu, walaupun berstatus duda, tetap saja Alden memiliki kharisma yang cukup kuat, tampan dan juga gagah. Apalagi sikapnya yang dingin dan cuek, membuatnya semakin tertantang untuk mendekat. Hanya saja, ia cukup lemah jika berhubungan dengan perasaan, sikap Alden yang begitu sangat keterlaluan membuatnya muak dan lelah untuk mengejar.
Alden mengerutkan keningnya tak suka, itu adalah sebuah penuduhan tanpa bukti yang menjengkelkan.
"Lo main cewek di sana! Lo sewa lc, Lo check in sama cewek tiap malem. Sebab itu, Lo gak pernah sentuh gue, bener 'kan?" Tuding Bianca makin menjadi-jadi. Ke dua matanya bahkan sudah mulai berkaca-kaca menahan rasa sakit yang saat ini mulai ia rasa.
Alden berjalan mendekat, jaraknya dengan Bianca hanya terpaut satu langkah, salah satu tangannya terulur, menarik kerah dress yang di kenakan Bianca untuk menutupi lehernya yang terdapat bekas merah kecupan.
"Apaan sih Lo!" Dengan cepat Bianca menepis kasar tangan kekar itu, dengan tergesa ia kembali menarik kerah tersebut hingga menutupi lehernya. Ia sudah memberikan concealer pada bekasnya, semoga saja hal itu benar-benar cukup membantu untuk menutupinya.
"Nyentuh istri sendiri masa gak boleh?"
"Istri? Sejak kapan Lo anggep gue istri?" Sinis Bianca dengan penuh emosi.
Alden menatap Bianca dengan dalam, membuat Bianca ketakutan namun sebisa mungkin ia bersikap biasa saja.
"Lupain, sekarang jawab pertanyaan gue. Sampai batas mana Lo tahu tentang gue semalam?"
"Sampai kamu sadar." Jawab Alden lalu pergi begitu saja, meninggalkan Bianca yang masih mematung di tempat dengan isi otaknya yang bekerja keras mencerna semuanya.
"Maksudnya sampai sadar? Sampai tadi pagi? Gue sadar tadi pagi. Maksudnya gimana, sih? Greget banget gue."
"Apa jangan-jangan---," kalimat Bianca menggantung, salah satu tangannya menyentuh lehernya mengingat tanda merah itu. Apa mungkin, Alden yang melakukannya?
-
Malam harinya Bianca mulai menguap lebar usai membaca buku novel koleksinya, belum selesai seluruh buku yang ia baca, rasa kantuknya sudah semakin parah. Alhasil, ia ketiduran dengan wajahnya yang tertutup buku terbaring di atas ranjang.
Pintu kamar terbuka pelan, Alden masuk kesana lalu duduk di tepi ranjang. Ia ikut berbaring tepat di sebelah Bianca sembari menatap ke arah langit kamar. Ini adalah pertama kalinya ia masuk ke dalam kamar Bianca setelah dua tahun usia pernikahan ke duanya. Aneh? Iya, Alden akui dirinya terlalu kejam pada Bianca. Tapi mau bagaimana lagi, ia tidak terlalu percaya diri untuk mendekati wanita yang tengah terlelap di sampingnya. Bahkan, sikapnya sekarang ini masih di tahap berusaha untuk percaya diri.
"Hua....," tubuh Bianca mengeliat perlahan, mengambil buku yang menutupi wajahnya lalu membuangnya dengan asal hingga mengenai kening Alden.
"Ash," rintih Alden dengan pelan namun bisa di dengar dengan jelas oleh Bianca, Bianca langsung membuka matanya dengan lebar dan menoleh ke samping. Alangkah terkejutnya ia saat mendapati Alden tengah terbaring di sana. Apa, ia tidak salah lihat?
"Lo ngapain di sini?" Tanya Bianca dengan terkejut. Alden mengambil buku tebal tersebut lalu menaruhnya di meja samping ranjang, tak lupa ia juga meteriksa keadaan kening yang cukup sakit akibat terkena pinggiran buku novel yang cukup tebal.
"Jangan baca buku sambil tiduran, gak baik buat kesehatan mata." Tegur Alden sok cuek.
"Gue tanya sekali lagi, ngapain Lo di sini?" Tanya Bianca kembali usai belum mendapatkan jawaban apapun dari sang suami.
"Emang aneh kalau seorang suami masuk ke dalam kamar istri?"
"Aneh kalau itu Elo!" Balas Bianca tak habis pikir. Kenapa hari ini Alden berbeda sekali, tidak seperti biasanya.
"Kenapa saya?"
Ke duanya saling menatap satu sama lain cukup lama, hingga pada akhirnya Alden beranjak semakin mendekat. Alden mendorong tubuh Bianca hingga terbaring, lalu menindih tubuhnya dengan sangat mesra.
Bianca membelalakkan matanya tak percaya, apa-apaan ini?
Alden menyentuh rahang Bianca lalu di toleh kan ke samping, di sini ia bisa melihat dengan jelas bagaimana kissmark tersebut tercetak jelas di leher indah sang istri.
Bianca akhirnya langsung sadar, bahwa Alden melakukan ini hanya untuk melihat tanda merah di lehernya, dengan cepat ia menutupinya dengan tangan.
"Kenapa di tutup?" Tanya Alden dengan dingin, bahkan Bianca saja tak berani menatap matanya, menyeramkan sekali. Apa yang akan Alden lakukan jika dia tahu semalam ia tidur dengan pria lain dan kehilangan keperawanan? Matilah ia....
"Gak perlu di tutup, saya bahkan bisa melihat tanda yang sama di tempat yang berbeda."
"Huh?" Beo Bianca tak mengerti.
Tangan Alden kembali aktif, menarik baju bagian atasnya ke bawah hingga menampilkan bekas kecupan yang sama di dadanya, dan itu semakin membuat Bianca gelisah bukan main.
"Ada satu tempat lagi," Alden menatap Bianca lebih dalam lagi dan bersiap untuk menyibak celana pendek yang ia kenakan untuk melihat tanda kecupan tersebut di bagian paha. Namun dengan cepat Bianca langsung menahan lengannya agar tak melakukannya. Bianca terdesak, ia kalah, tidak ada yang bisa ia lakukan lagi. Ia harus jujur.
"Gue semalem tidur sama cowok, gue gak sadar. Dan Lo bener, gue gak inget apapun. Gue kehilangan keperawanan gue semalam, sama cowok yang gue gak tahu sama sekali. Gue berkata jujur, seriusan. Gak bohong sama sekali."
Alden diam cukup lama, membuat Bianca makin ketar-ketir.
Di detik berikutnya, Alden tersenyum kecil, senyuman yang baru pertama kali Bianca lihat seumur hidupnya. Senyuman kecil namun terlihat sangat manis dan mengagumkan.
"Itu saya." Ucap Alden dengan singkat.
"Apa?"
"Yang nidurin kamu semalam, itu saya."
"What?!" Pekik Bianca dengan sangat syok. "Jadi selama ini Lo punya club malam?!"
Damn.