"Apa matamu bermasalah?" tanya Scarlett melihat pria yang menjadi pengawalnya selalu memakai kacamata hitam sejak hari kedua bekerja.
Sudah sebulan Chris bekerja di keluarga Harisson. Sebulan pula hari-harinya menemani Scarlett ke berbagai tempat mewah dan eksklusif di Boston menghadiri berbagai kegiatan bersama para kolega dan teman sosialitanya.
"Tidak, nona... Mataku hanya kelilipan debu dan memerah. Aku tidak mau mengganggu penglihatanmu karena mataku yang bermasalah." jawab Chris dengan nada canggungnya.
Jujur saja, Chris mengakui bahwa kacamata hitam yang dipakainya digunakan untuk menutupi mata yang selalu mengarah ke wajah yang dirindukannya. Wajah yang beberapa tahun ke belakang menemani masa-masa indahnya di peternakan kuda miliknya di Middleburg.
Namun ada hal lain yang disembunyikannya hari ini, mata sembab yang bengkak dan memerah, akibat semalaman menangisi kerinduannya akan mendiang sang istri.
"Sebaiknya periksa ke dokter jika sudah terlalu parah." ujar Scarlett memberi saran yang dibalas anggukkan patuh oleh Chris.
Lama perjalanan akhirnya mereka berhenti di sebuah mansion mewah milik Keluarga Aston. Istrinya, Jennifer Aston tengah mengadakan pesta jamuan untuk para teman sosialitanya. Scarlett yang baru saja merasakan kehidupan barunya di kalangan atas, diundang secara terhormat karena statusnya sebagai putri keluarga Harisson yang terpandang.
Sesampainya disana, Scarlett turun dibantu oleh Chris yang mengulurkan tangannya. Sentuhan yang terjadi membuat Chris terpaku beberapa saat menikmati telapak tangan halus Scarlett dalam genggamannya.
Hingga saat Scarlett melepaskannya, Chris kembali tersadar, menggelengkan kepalanya dan mencoba sadar bahwa sosok di hadapannya adalah atasannya.
Chris berusaha profesional, pikirannya mendoktrin bahwa Scarlett adalah atasannya yang harus dijaga dan dihormati. Bukan Emily istri yang dicintainya.
"Kau tidak perlu mengikutiku sampai ke dalam. Cukup tunggu aku disini." ujar Scarlett kepada Chris sebelum melangkah pergi, melenggang ke dalam mansion yang ramai orang-orang.
Di dalam mansion yang megah, Scarlett digiring oleh seorang pelayan ke bagian samping luar mansion. Di beranda kanan, ruangan terbuka yang luas itu dihiasi dengan berbagai jenis karangan bunga yang indah. Meja dan kursi tersusun rapi menghadap ke sebuah panggung yang diisi oleh pianis dan musisi yang tengah bernyanyi.
Scarlett disambut oleh Jennifer Aston yang kala itu menatap kedatangannya. "Selamat datang di acaraku, Miss Harrison, suatu kehormatan kau datang menghadiri pesta kecil ini di kediamanku."
Scarlett tersenyum ramah melihat Jennifer yang nampak luar biasa dengan penampilannya yang begitu mencolok. Riasan tebal dan gaun maroon yang berkilauan batu permata membuat tuan rumah itu menjadi sorotan utama orang-orang.
"Ya, sebuah kehormatan juga aku turut diundang dan bisa hadir di acara yang luar biasa ini."
"Maafkan ibuku yang tak bisa hadir dalam acara ini, beliau nampaknya sedang sedikit flu hari ini." ucap Scarlett memberitahu ketidak hadiran ibunya yang tengah sakit flu.
Jennifer menatap sayang kepada Scarlett, "Oh sayang, kuharap Maria segera sembuh. Nikmati pestanya, Scarlett. Aku harus menyambut tamu lainnya." ucap perempuan paruh baya itu sebelum pergi melenggang menyambut tamu lainnya.
Scarlett lantas berjalan memasuki tempat acara berlangsung. Disana, terdapat beberapa kumpulan wanita dari kalangan atas yang berpenampilan begitu elegan dan mewah.
Beberapa perempuan nampak memperhatikannya secara terang-terangan. Sebagian mata diam-diam memandang penasaran dan membicarakan putri baru keluarga Harisson itu.
Scarlett menghela nafas, dirinya yang tak terbiasa bergaul dengan orang-orang dari kalangan atas membuatnya kesusahan bergaul dan memiliki teman karena perbedaan yang signifikan. Ia bahkan tidak mengenal baik wajah-wajah yang sempat ayahnya kenalkan saat menghadiri pesta jamuan di keluarga Fernandes, salah satu tokoh politik terkenal di kota beberapa waktu lalu.
Scarlett memilih duduk di meja kosong paling belakang dan sendirian, menikmati berbagai jamuan berkelas yang dibuat oleh tangan chef profesional.
Seorang pelayan menghampiri meja Scarlett dan menawarkan segelas champagne. Scarlett menerimanya dan menaruh gelas itu di atas meja. Mengabaikan gelas itu tanpa berminat untuk meminumnya.
Dalam kesendiriannya, Scarlett menikmati alunan lagu moonlight sonata yang dimainkan seorang pianis di depan sana.
Scarlett nyaman dengan kesendiriannya, ia terlalu enggan untuk berjalan menghampiri para wanita dan berbaur bersama mereka. Ia
Hingga beberapa orang wanita nampak berjalan menghampiri meja Scarlett dengan wajah ramah yang berusaha mereka tampakkan.
"Hai, kita belum berkenalan sebelumnya. Aku Sarah, dia Rachel, dan yang paling kecil adalah Kimberly." ujar seorang gadis bergaun warna baby blue yang cerah sembari menunjuk kedua temannya satu persatu mengenalkan mereka kepada Scarlett.
"Scarlett." balas Scarlett singkat, menatap datar ketiga gadis muda di hadapannya
Mereka saling menatap dalam diam mendapatkan respon Scarlett yang jauh dari sangkaan mereka. Scarlett begitu dingin, dan singkat dalam merespon perkenalan mereka, bahkan terlihat enggan menanggapi sapaan mereka, membuat ketiga perempuan itu meyakini rumor yang beredar bahwa Scarlett Harisson merupakan putri baru yang angkuh dan dingin.
"Kau tidak ingin bergabung bersama kami?" tanya Kimberly menawarkan, melihat Scarlett yang sendirian sejak pertama kali datang ke acara ini. Mereka hanya mencoba bersikap ramah dan mengenal lebih dekat akan sosok pewaris baru Harrison grup itu.
"Tidak, aku suka melihat acaranya disini, sendirian." balas Scarlett penuh penekanan, menolak ajakan perempuan itu.
"Baiklah, sepertinya kehadiran kami disini sedikit mengganggumu." pungkas Sarah seraya mengajak paksa kedua temannya kembali ke meja dengan perasaan sedikit dongkol.
Di kursinya, Scarlett duduk tenang melihat kepergian ketiga perempuan itu. Bibirnya tersungging sedikit melihat wajah penuh kekesalan mereka yang menggerutu membicarakan dirinya.
Scarlett menyesap champagne di tangannya dengan anggun, keningnya berkerut meresapi rasa nyengat yang terasa membakar tenggorokannya.
Ah, ia tidak ingat bahwa ia intoleran terhadap rasa alkohol. Scarlett menyimpan gelasnya kembali tanpa ada minat untuk meminumnya lagi.
****
Beberapa saat kemudian, Scarlett beranjak dari tempat duduknya. Ia berjalan terhuyung dan mengabaikan tatapan orang yang memperhatikannya dengan heran. Namun mereka hanya menatap sebatas penasaran, tanpa mau menghampiri dan membantunya.
Sialan, padahal ia hanya mencicipi minuman itu sedikit, namun kepalanya terasa sangat berputar hingga ia hampir kehilangan keseimbangan.
Si luar, Chris yang melihat kondisi Scarlett tak baik-baik saja segera menghampiri dan merangkul Scarlett yang hampir terjatuh ke lantai.
"Nona, kau baik-baik saja?" tanya Chris sedikit menunjukkan rasa panik.
Scarlett berdehem seraya mengangkat tangannya untuk memijat keningnya yang berdenyut, "Ya... Kepalaku sedikit pusing karena meminum sedikit alkohol tadi."
Chris membawa Scarlett masuk ke dalam mobil dan membawanya pulang. Scarlett membiarkan Chris membopong tubuhnya dan menahan tangan yang hendak menjauh itu agar tetap di dekatnya.
"Duduklah di sampingku, aku ingin kau memijat kepalaku." ucap Scarlett dengan mata terpejam dan kepala terkulai lemas.
Chris yang mendapat sentuhan itu mematung sesaat sebelum berdiri tegak dan menutup pintu.