“Semalaman aku sudah merenung dan mikirin soal semuanya, Mas.” Lidahku terasa begitu kelu mengucapkan kalimat itu. Ya, aku memang sudah memikirkan semuanya. Dan apa yang kulihat kemarin sudah cukup menjadi alasan bahwa aku memang aku lah yang harus mengalah. Tak ada tempat untuk orang ketiga yang mengharapkan lebih dari sebuah hubungan yang dimulai dari sebuah kesepakatan. “Apa yang kamu pikirin?” sahut Athaya. Dia segera merubah posisi duduknya menjadi jauh lebih lurus dari sebelumnya. Pandangannya menjurus menatap ke arahku. “Semalam aku iseng baca ulang surat kesepakatan kita. Aku baca ulang dan ulang. Setelah baca surat itu berulang kali, aku memutuskan untuk tetap menjalankan apa yang ditulis di sana.” Aku menutup kalimatku dengan degup jantung yang bergemuruh. “Maksud kamu?” sah

