“Ini buku apa, Mas?” ucapku. Kulihat wajah Athaya yang sudah memucat. Mungkin aku terlalu kejam. Ah, biarlah. Sesekali aku memang perlu bermain-main dengannya. “Kok diem aja? Aku minta kamu jelasin ini buku apa, Mas!” Segera kutarik punggungku yang bersandar di headboard. Kini, aku duduk lurus menatap ke arahnya yang masih terbelalak dengan buku harian yang ada di genggamanku. Kuacung-acungkan buku ini di hadapannya. “Ay ... aku bisa jelasin. Ini sama sekali nggak kayak yang kamu pikirin. Aku bisa jelasin, Ay,” ucapnya terbata. “Yaudah jelasin. Aku mau denger penjelasan dari kamu. Apa maksud semua ini? Tadi emang sengaja aku jawab begitu pas kamu nanya-nanya di telepon. Kamu takut banget aku baca rahasia kamu?” ucapku. Oh, ya ampun. Sulit sekali menahan tawa. Otot-otot rahangku sungguh

