“Mama ... Papa ....” Aku terkejut melihat Mama Safira yang datang bersama dengan Papa Hardi. Aku tak siap jika harus kembali membuat keributan dengan Papa Hardi. Aku segera mengecup tangan keduanya. Beruntung tak ada penolakan sama sekali dari Papa Hardi. Aku berharap setidaknya hatinya sudah sedikit mencair. “Pa—Papa ... Papa apa kabar? Papa sehat, kan?” “Sehat. Papa sehat. Kamu sehat juga, kan?” “Aku sehat, Pa. Pa, aku minta maaf untuk semuanya. Aku dan Ayya sudah melakukan kesalahan yang sangat besar. Kami sudah menipu semua orang. Tapi, kami sudah membatalkan kesepakatan itu sejak lama, Pa ... Ma. Kami saling mencintai. Demi Tuhan, kami saling mencintai. Tolong Papa dan Mama untuk percaya sama kami berdua.” “Sudah, Athaya. Papa percaya sama kamu. Kalian berdua memang saling mencinta

