Malam-malamku dan Athaya berlalu seperti malam-malam sebelumnya. Desahan, lenguhan dan erangan menjadi saksi bisu penyatuan kami berdua setiap malamnya. Aku semakin dibuat mabuk akan setiap perlakuan yang diberikannya. Aku sudah benar-benar jatuh cinta padanya. Belaiannya di sekujur tubuhku menjadi satu hal yang selalu kuinginkan. Sapuan lidahnya di bagian intiku pun turut menjadi bagian favoritku. Beberapa menit sebelum adzan subuh berkumandang adalah saatnya bagi kami berdua untuk menyudahi ikatan dan kembali ke kamar masing-masing. Aku sibuk meraih pakaianku yang tercecer di lantai dan langsung memakainya, sementara Athaya masih lelap dalam tidurnya. Sebelum meninggalkan kamarnya, kupastikan Athaya sudah benar-benar bangun dan memintanya untuk segera membersihkan diri. “Mas, bangun. U

