Hari ini, aku kembali menemani Tsurayya bertemu Dokter Ratna untuk memantau perkembangan anak kami. Tiga puluh empat minggu. Ya, sebentar lagi kami akan bertemu dengan anak yang selama ini dinantikan. Aku dibuat kagum tiap kali menatap ke layar monitor yang menampilkan penampakkan anakku dan Tsurayya. Dia sudah terbentuk dengan sangat semupurna di dalam rahim Tsurayya. Tsurayya benar. Anakku mirip sekali denganku. “Tuh babynya mukanya jelas banget kelihatan,” ucap Dokter Ratna. Aku dan Tsurayya saling menatap dan tersenyum. Kudaratkan satu kecupan di keningnya. “Panjangnya empat puluh lima setimeter. Beratnya 2,40 kilogram. Babynya sehat. Semuanya normal. Ibunya makannya doyan, ya.” “Iya, Dok,” sahut Tsurayya dengan kedua pipi yang bersemu. “Dok, itu lagi ngemutin jempol, ya?” Dokter R

