Aku terdiam melihat Athaya yang terduduk di aspal setelah mengejar mobil yang kami tumpangi. Athaya babak belur dihajar Mas Gibran. Mama memegangiku dengan sangat kuat. Ya Tuhan, akhirnya saat ini tiba juga. Hal yang paling kutakuti akhirnya terjadi. Aku tak sanggup melihat sorot mata Mas Gibran dari spion depan. Sejak keluar dari rumahku dan Athaya, dia tak berhenti membentak. Papa juga. Papa yang duduk di kursi penumpang depan pun tak berhenti menggerutu. “Mulai hari ini, aku nggak akan izinin amu ketemu sama Athaya.” “Mas Thaya suamiku, Mas!” “Suami atas dasar kesepakatan?” “Mas, dengerin aku dulu. Aku sama Mas Thaya ....” “Cukup, Ay! Kamu nggak perlu banyak omong. Apa yang udah aku putusin hari ini nggak bisa diganggu gugat. Aku rasa Papa dan Mama juga pasti setuju sama keputusan

