Setelah kepergian Tsurayya yang dipaksa oleh kedua orang tuanya dan juga Mas Gibran, aku segera disidang kedua orang tuaku di ruang tengah. Keduanya tampak sangat marah. Ayah masih menggenggam map yang berisi surat perjanjian milikku dan juga Tsurayya. “g****k kamu, Athaya! Kamu tau apa yang sudah kamu lakukan? Dungu! Kamu mencoreng muka Ayah dan Bunda dengan kotoran!” “Ayah, aku bisa jelasin semuanya. Ayah ... Bunda, aku mohon. Aku bisa jelasin semuanya.” “Nggak perlu! Atas dasar apa kamu melakukan ini semuanya? Apa demi perempuan gila itu? Apa semua yang kamu lakukan demi Natasha? Kamu berencana untuk kembali sama perempuan nggak waras itu? Kamu gila? Istri kamu lagi hamil besar! Apa kalian nggak mikir sebelum melakukan ini semuanya? Konyol! g****k!” “Udah, Yah. Udah. Pikirkan keseh

