“Pak, tolong buka gerbangnya! Saya mau ketemu istri saya!” “Maaf, Mas. Kami tidak bisa. Mas Gibran melarang kami untuk membiarkan Pak Athaya masuk.” “Tolong, Mas! Saya mohon. Saya mau ketemu istri saya.” “Maaf, Mas. Silakan Mas Athaya pergi dari sini.” Aku mendengar keributan di luar sana. Gegas aku bangun dan mengintipnya dari celah jendela. Itu Athaya! Ya Tuhan! Aku benar-benar sangat merindukannya. “Ayya! Sayang! Ini aku!” teriak Athaya. Athaya memandang ke arah jendela kamarku. Aku sangat ingin menghampiri dan memeluknya. “Mas Thaya!” Aku berusaha berteriak sekuat tenaga agar Athaya bisa mendengarku. “Mas, aku di sini. Mas!” “Ayya, kamu dengerin aku. Aku akan bawa kamu dan anak kita pulang ke rumah. Aku janji.” “Mas ....” Suara Mas Gibran membuat teriakkan Athaya yang memanggi

