“Makasih karena kamu udah dateng ya, Mas,” ucap Tsurayya. Kami berdua masih di atas kasur di kamar lantai dua tokonya. Aku sama sekali tak bisa melepaskan pelukan kami. Aku begitu merindukannya. Dua minggu ini aku memang tak pernah lagi datang ke rumahnya sesuai dengan permintaannya, tapi aku selalu memantau keadaan rumahnya dari jauh dengan ditemani oleh Andhika. “Tapi, kayaknya kita nggak akan bisa sering-sering ketemu dengan cara ini di sini, Mas. Toko kan nggak setiap hari belanja keperluan kue. Kalo aku kangen sama kamu gimana dong, Mas?” “Kamu tenang aja. Nanti kita cari cara lain.” Kukeluarkan satu ponsel lengkap dengan pengisi daya yang sudah kusiapkan untuknya. Aku juga sudah memasukkan chip nomor di dalamnya. “Simpan ini baik-baik, ya. Di dalamnya ada nomorku, nomor Runi, nomor

