TSURAYYA -54-

1802 Kata

Sinar matahari sudah menembus tirai kamar. Aku masih membenamkan diri di dalam selimut. Aku tak mampu melihat Athaya yang tidur di sebelahku. Semalam, adalah momen penentuan masa depan pernikahan ini. Aku mengintip dari celah terkecil, memastikan Athaya memang masih terlelap di sampingku. Kulihat Athaya memang masih terlelap. Kedua matanya masih tertutup dengan deru napas yang sangat teratur. Melihatnya dengan posisi seperti ini sungguh membuat jantungku ingin melompat keluar. Padahal, semalaman suntuk kami menghabiskan waktu dengan desahan, lenguhan dan erangan hingga lupa waktu. Meskipun dalam keadaan tertidur, itu sama sekali tak mengurangi betapa sempurna garis wajah tampannya. Aku tak percaya aku sangat mencintai laki-laki ini. Aku mengembuskan napas lega mengingat apa yang terjad

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN