Aku yang kembali masuk ke ruangan Dokter Ratna dibuat sangat terkejut saat melihat kedua mata Tsurayya yang dibasahi air mata. Aku dipenuhi tanda tanya. Pikiranku ke mana-mana. Seingatku, Dokter Ratna mengatakan bahwa keadaan keduanya baik-baik saja, tapi kenapa dia malah menangis? Tsurayya segera berpamitan pada Dokter Ratna dan meninggalkan ruangannya. Dia berjalan setengah cepat. Aku pun berusaha untuk mengejarnya. Sesampainya di parkiran, Tsurayya berdiri terdiam di samping mobil yang terparkir. Dia masih terisak. Dengan langkah ragu, aku memberanikan diri untuk mendekatinya. Kuusap punggungnya pelan. Tsurayya menatap ke arahku dengan kedua matanya yang masih berair. “Mas, kamu ....” Tiba-tiba, dia merangsek masuk ke dalam pelukanku. “Aku kenapa, Ay?” sahutku bingung. Aku yang sama

