Dengan digandeng tangannya oleh dokter Dewa turut menerobos hujan lebat masuk ke dalam pintu pagar rumah Sonya yang kebetulan tidak dikunci. Fathia mengarahkan dokter Dewa menuju ke sisi jendela kamar Sonya yang terletak di bagian ruangan depan rumah berdampingan dengan ruang tamu. Mereka kemudian mengendap-endap di depan jendela yang kebetulan tidak di naungi teras. Tapi justru dibuat taman kecil dengan di tanam beberapa tanaman bunga di situ. Hal itu jadi cukup menyulitkan dokter Dewa menuntun Fathia. Apalagi hujan tetap deras dan peti terus saja menyambar-nyambar menggelegar.
Di sisi lain, Fathia dan dokter Dewa bersyukur. Hujan ini justru membantu mereka memudahkan tujuan mereka. Karena situasi hujan yang cukup deras, membuat suara langkaha atau pun kesalahan gerakan tidak mudah terdengar oleh Abrar dan Sonya.
Kebetulan kaca jendela rumah Sonya masih model nako seperti zaman beberapa tahu yang lalu dengan kaca riben. Dengan begitu dokter Dewa akan lebih mudah mengintip mereka berdua. Apalagi saat ini sepertinya mereka lupa kalau kaca jendela itu belum ditutup.
“Fathia, kamu berdiri di sini saja, ya. Jangan bergerak kemana-mana,” perintah dokter Dewa dengan lebih mencondongkan bibirnya ke telinga Fathia setalah menghentikannya di sudut tembok samping depan kamar fathia.
“Baik, Dok,” balas Fathia seraya meraba sekita sudut tembok itu. Sekarang setidaknya dia tahu di mana posisinya. “Apa yang akan dokter lakukan?” tanyanya kemudian,
“Sebentar. Aku akan bergeser sedikit dan mencoba jendela itu,” jawab dokter Dewa lalu bergerak sekitar dua langkah ke dekat jendela kaca.
Dengan hati-hati dokter Dewa menyibak sedikit gorden penutup kamar Sonya yang terlihat terang benderang. Namun dia tidak menemukan Abrar atau pun Sonya di sana. Untuk beberapa saat dokter Dewa menyibak kelambu itu lebih lebar. Ya. Kamar itu memang kosong. Untuk beberapa saat dokter Dewa terus melihat ke dalam. Namun, dua orang yang dia ingin lihat ternyata tidak ada. Lalu dokter Dewa kembali mendekati Fathia yang sedang terlihat kedinginan memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangan.
“Kamu kedinginan. Aku antar kamu kembali ke dalam mobil saja,” ucap dokter Dewa setelah menghampiri Fathia.
“Tidak, Dok. Ini tidak terlalu dingin. Aku tetap di sini saja,” ucap Fathia setengah menggigil.
“Kamu ini, sudah pucat dan menggigil begitu bicaramu, masih saja berbohong. Kamu bisa sakit nanti. Ayo, kita kembali saja ke mobil,” ajak dokter Dewa sembari meraih pergelangan tangan Fathia dan menatap wajahnya yang pucat. Sementara bibirnya terlihat gemetar.
“Jangan paksa aku, Dok. Aku tetap menemani Anda di sini,” tegas Fathia, kemudian.
“Mereka tidak ada di dalam kamar itu, Fathia. Sepertinya mereka berada di kamar lain. Jadi percuma saja kita tetap di sini,” ungkap dokter Dewa.
“Oh, jadi dokter sudah melihat ke dalam kamar itu?” tanya Fathia dengan raut terkejut.
“Sudah. Lampunya menyala. Tapi aku tidak melihat seorang pun di dalam kamar itu,” jawab dokter Dewa.
“Apa mungkin Sonya sudah pindah kamar?” tanya Fathia, coba menduga-duga.
“Aku rasa tidak. Sepertinya Sonya masih menempati kamar itu. Karena aku lihat foto-fotonya masih terpajang di sana. Begitu juga meja riasnya dan meja kerjanya. Aku lihat ada foto dia juga,” ungkap dokter Dewa. “Oh ya. Apakah di sini dia punya ART?” tanya dokter Dewa lagi.
“Iya, punya. Tapi, seingatku dia tidak tidur di rumah ini. Dia sudah menikah dan rumahnya tak jauh dari sini. Hanya bersih-bersih dan membantu keperluan Sonya dari pagi sampai sore saja,” jelas Fathia. “Ada apa, Dok?” tanya Fathia kemudian, setelah dokter Dewa terdiam sedang memikirkan sesuatu.
Lalu dokter Dewa meraih pergelangan tangan Fathia. “Ayo, ikut! Kita ke teras itu.”
Fathia ikut saja. Dengan hati-hati mengendap-endap dan melangkah di dekat dinding di antara tanaman bunga depan kamar Sonya.
“Kita mau ke mana, Dok?” tanya Fathia setengah berbisik ketika mereka berhenti sebentar setelah naik ke teras.
“Mungkin saat ini mereka ada di ruang tamu. Kita lihat dulu saja,” ungkap dokter Dewa.
Dengan masih bertanya-tanya dalam hati, Fathia melangkah lagi mengikuti tarikan dan langkah dokter Dewa. Dia tidak tahu apa tujuan dokter itu. Untuk apa mereka harus mengintip ruang tamu. Kalau memang mereka belum masuk ke dalam kamar, seharusnya ditunggu saja sampai mereka masuk ke dalam kamar itu. Memang untuk apa harus jalan ke sana kemari untuk melihat mereka.
“Bagaimana apakah mereka ada di dalam?” tanya Fathia ketika mereka berhenti di depan pintu di dekat jendela.
“Aku baru akan melihatnya,” sahut dokter Dewa setengah berbisik.
Dokter Dewa kemudian sedikit menyibak dengan hati-hati dan perlahan jendela nako itu. Kedua matanya langsung terbelalak ketika mendapati Abrar dan Sonya sedang duduk berpelukan di sofa ruang tamu. Abrar dan Sonya saling berpandangan sambil tersenyum dan menatap. Terkadang saling membelai dan mencium.
“Sejak tadi apakah mereka hanya begitu saja di ruang tamu itu?” Gumam dokter Dewa.
“Apakah mereka benar-benar sedang berada di ruang tamu?” tanya Fathia.
“Iya. Mereka sedang ada di dalam,” jawab dokter Dewa lalu merogoh ponselnya untuk memotret Abrar dan Sonya. Tak perlu video panas apa yang dia lihat tadi sudah cukup menggambarkan hubungan keduanya. “Kamu tenang dulu. Aku akan mengambil gambar. Kalau bisa video juga,” perintah dokter Dewa, setelah dia menyalakan ponselnya.
Fathia kemudian terdiam dan menuruti perintah dokter Dewa. Walau dalam hati sebenarnya dia merasa penasaran. Apa sebenarnya yang telah mereka lakukan di dalam sana.
“Apa yang mereka lakukan dokter?” bisik Fathia tak bisa menahan diri untuk bertanya karena merasa penasaran.
Namun dokter Dewa masih sibuk mengambil video. Fathia pun tidak bertanya lagi. Untuk sementara dia memilih menahan rasa ingin tahunya sampai dokter Dewa selesai. Namun setelah beberapa saat tiba-tiba dokter Dewa menarik tangannya.
“Ayo, Fathia. Ikuti aku,” ucapnya sambil menarik Fathia kuat-kuat menyusuri teras menuju ke samping rumah. Tapi naas. Saat akan berbelok dahi Fathia membentur sudut tembok yang tipis dan tajam. Refleks Fathia menjerit. Dokter Dewa terkejut dan segera menghentikan langkah. Dia lihat Fathia meringis kesakitan sambil memegangi dahinya.
Perlahan, dokter Dewa menyingkir tangan Fathia. Dia lihat tangan dan dahi gadis itu berdarah. Namun saat dia melihat teras depan pintu tiba-tiba perlahan ada cahaya yang keluar dari pintu itu, dokter Dewa segera menariknya ke balik tembok kuat-kuat. Fathia sangat terkejut hingga dia hampir terjatuh. Dokter Dewa dengan sigap menangkap tubuhnya.
“Dokter, ada apa?” tanya Fathia dalam pelukan dokter itu.
Dokter Dewa segera menutup mulut Fathia. Lalu dia berbisik. “Jangan keras-keras! Mereka membuka pintu. Sepertinya tadi mereka mendengar suaramu saat menjerit.”
Hujan memang tidak sederas tadi. Karena itulah Fathia dan dokter Dewa yang masih berdiri di balik tembok samping rumah bisa mendengar percakapan Abrar dan Sonya.
“Mana? Nggak ada orang di sini,” ucap Abrar.
“Tapi tadi kamu dengar juga suara jeritan itu, ‘kan?” ucap Sonya.
“Iya. Aku juga dengar suara jeritan itu,” jawab Abrar.
“Ayo, kita lihat ke samping rumah,” ajak Abrar.