Wanita yang belum diketahui namanya itu seketika mengusap wajahnya kasar dengan mata terpejam. Ternyata, pria kaya berpenampilan rapi dengan tuxedo berwarna hitam lengkap dengan wajahnya yang tampan tidak sebaik yang ia bayangkan. Dirinya melupakan satu hal, pengeran berkuda hanya ada di negeri dongeng. Di dunia nyata, manusia semuanya sama. Tidak ada kebaikan tanpa pamrih, tidak ada yang gratis di dunia ini seperti apa yang baru saja diucapkan oleh pria yang telah menolongnya hari ini.
"Tapi, Anda mau membawaku ke mana, Tuan?" tanya wanita itu dengan gugup, rasa takut mulai memenuhi dadanya, terbebas dari sarang harimau, apa dirinya akan masuk ke kandang macan? Batinnya mulai gelisah.
"Siapa nama kamu?" tanya Aryo dengan dingin.
"Si-Sinar, Tuan."
"Sinar? Hmm ... nama yang bagus."
"Anda belum jawab pertanyaan aku, Tuan. Anda mau membawaku ke mana?" Sinar kembali bertanya, memandang wajah Aryo sejenak sebelum akhirnya menundukkan kepala. "Jujur, aku gak punya apa-apa buat aku berikan sama Anda. Uang aja aku gak punya."
"Kamu masih punya tubuh kamu, Sinar."
"Hah?" Sinar sontak menutup bagian atas tubuhnya, menaikan kain di lengannya yang robek, semakin merasa takut. "Ma-maksud Anda apa, Tuan? Apa Anda menginginkan tubuhku?"
Aryo mendengus kesal. "Udah, jangan banyak nanya. Ikut saya sekarang. Kamu harus membayar karena saya udah nolongin kamu, oke?"
Sinar memperbaiki kaca matanya yang melorot, kembali memandang wajah Aryo. "Ba-baik, Tuan. Tapi, Anda harus janji gak akan apa-apain saya."
Aryo kembali mendengus kasar, semakin merasa kesal. "Banyak omong banget sih. Astaga!" decaknya lalu berbalik dan melangkah menuju mobil.
Hal yang sama pun dilakukan oleh Jefri, tapi tidak dengan Sinar. Wanita itu masih bergeming di tempatnya dengan perasan bingung. Jika dirinya tidak mengikuti Aryo, ia bisa saja ditangkap oleh preman suruhan ibu tirinya, tapi jika dirinya mengikuti pria asing yang telah menolongnya itu, ia tidak tahu apa yang akan dilakukan pria itu kepadanya. Bak buah simalakama, Sinar terjebak dalam situasi yang sulit.
"Kenapa kamu masih disitu?" tanya Aryo dengan suara lantang. "Kamu mau preman itu nangkep kamu, hah?"
Sinar terperanjat, menyudahi lamunan panjangnya. "Hah? Eu ... i-iya, Tuan," jawabnya lalu berlari mendekati mobil kemudian masuk ke dalamnya dengan jantung berdebar.
Aryo melakukan hal yang sama, duduk di jok belakang bersama wanita bernama Sinar. Pria itu menatap kedua kaki Sinar yang tanpa mengenakan alas kaki, bahkan terlihat kotor lengkap dengan luka di beberapa jarinya.
"Sebenarnya, kenapa Sinar sampe dikejar sama preman tadi? Jangan-jangan mereka rentenir? Wanita ini kejebak utang, gitu? Akh, bukan urusan saya. Yang jelas, dia harus menepati janjinya," batin Aryo, mengalihkan pandangan matanya kepada Jefri.
"Jalan, Jef. Kita langsung ke rumah aja," pintanya, lalu memandang keluar kaca jendela mobil dengan wajah dingin.
Sementara Sinar, hatinya masih dihantui ketakutan. Pikiran-pikiran kotor mulai memenuhi otak kecilnya. Kembali mengingat apa yang dikatakan oleh Aryo tadi, apakah dirinya harus membalas budi dengan memberikan tubuhnya sendiri? Sekujur tubuh Sinar seketika merinding, kedua telapak tangannya kembali bergerak naik, menutup bagian dadanya dengan perasaan tidak karuan.
"Ya Tuhan, lindungilah hambamu yang lemah ini," batinnya, memejamkan mata sejenak lalu menoleh dan memandang wajah Aryo dari arah samping.
***
Setelah menempuh perjalan selama kurang lebih 30 menit, mobil yang ditumpangi oleh Aryo dan Sinar akhirnya mulai memasuki gerbang perumahan elit yang terletak di pusat kota Jakarta. Melintasi rumah-rumah mewah yang berjejer rapi di sisi kiri dan kanan jalan. Sinar tertegun, memandang keluar kaca jendela mobil dengan perasaan kagum. Rumah mewah yang selama ini hanya bisa ia lihat di televisi, kini berada di depan mata. Rumah-rumah tersebut bahkan memiliki luas puluhan kali lipat dari rumah yang ia huni bersama ibu tirinya.
"Ya Tuhan, rumahnya mewah-mewah banget. Sekaya apa Tuan ini?" batinnya, membuka mulut lebar-lebar seraya menatap jejeran rumah di luar sana.
Sampai akhirnya, mobil Pajero berwarna hitam itu mulai melipir lalu berhenti di depan gerbang tinggi bercat keemasan, beberapa saat kemudian gerbang pun dibuka dan kendaraan beroda empat itu kembali melaju melintasi halaman sebelum akhirnya berhenti di depan teras, di mana dua pilar raksasa nampak berdiri kokoh menopang lantai satu dan lantai dua.
"Ini rumah saya, keluar!" titah Aryo dengan dingin, membuka pintu mobil lalu keluar dengan diikuti oleh Sinar.
"Waah! Rumah Anda guede banget, Tuan. Eu ... saya mau ko kerja di rumah Anda," ucap Sinar, menatap rumah mewah dua lantai dengan perasaan kagum. Rasa takut yang semula menggelayuti hatinya pun mulai sirna.
Aryo tersenyum kecil, memandang wajah Sinar dengan lekat. Ekspresi wajahnya benar-benar lucu, bak seseorang yang baru pertama kali melihat kemewahan. Anehnya, hatinya seketika bergetar. Penampilan wanita itu nampak acak-acakan, tapi wajah polosnya memancarkan kecantikan alami, meskipun kaca mata minus menutup kelopak matanya yang indah.
"Dasar katro, baru pertama kali liat rumah mewah, ya?" decak Aryo dengan sinis.
"E-emang beneran, Tuan. Ini pertama kalinya aku liat rumah mewah kayak gini," jawab Sinar dengan polos.
Aryo menggelengkan kepala samar seraya melangkah menuju pintu dengan diikuti oleh Sinar yang tanpa mengenakan alas kaki. Wanita itu bahkan agak ragu menapakkan kaki kotornya di lantai marmer yang memantulkan tubuhnya sendiri. Meskipun begitu, ia tetap melangkah dengan sedikit berjinjit kaki.
Aryo membuka pintu rumah lalu masuk ke dalamnya, beberapa asisten rumah tangga dengan pakaian hitam putih segera melangkah menghampiri ketika melihat majikannya. Berdiri tepat di depan Aryo dengan kepala menunduk.
"Selamat siang, Tuan," sapa tiga orang asisten rumah tangga secara serempak.
Sinar tertegun, memandang ketiganya dengan senyum kecil. "Waah! Persis kayak di film-film, pembantunya aja ada tiga. Hmm ... tapi rasanya, tiga pembantu aja gak cukup buat bersihin rumah segede ini. Btw, apa Tuan Aryo mengajakku kemari buat kerja kayak mereka juga ya?" batin Sinar, pikiran kotor yang sempat singgah di otak kecilnya mulai berhamburan.
Aryo memandang ketiga asisten rumah tangga. "Bawa gadis ini kebelakang, mandiin pake air kembang dan ganti bajunya sama yang lebih bagus. Kalau udah siap, anter ke kamar saya. Paham?"
Sinar terkejut, matanya membulat. "Hah? Ma-maksud Anda apa, Tuan?" tanyanya dengan bingung. "Kalau cuma mau dijadiin pelayan kayak mereka, gak perlu dimandiin segala, Tuan. Aku bisa ko mandi dan ganti baju sendiri."
Aryo tersenyum menyeringai, menatap tubuh Sinar dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan tatapan m***m menggoda. "Siapa bilang kamu mau saya jadiin pelayan di rumah ini?" tanyanya dengan santai. "Kamu lupa sama janji kamu sama saya? Kamu akan memberikan apapun yang saya minta kalau saya menolong kamu. Berhubung kamu gak punya apa-apa buat diberikan sama saya, ya udah ... kamu harus memberikan tubuh kamu, buat saya. Paham? Paham dong, masa nggak!"
Bersambung ....