Bab 1. Tidak Ada yang Gratis di Dunia Ini
"Argh! Apa-apaan kamu, hah?" bentak seorang pria, saat mobil yang ia tumpangi tiba-tiba berhenti di secara mendadak membuatnya hampir terjungkal.
"Maaf, Tuan. Itu, anu ..." jawab sang supir, memandang ke arah depan di mana seorang wanita dengan penampilan berantakan tiba-tiba merentangkan kedua tangannya.
Wanita tersebut berlari ke arah pintu mobil lalu mengetuknya dengan kasar. "Tolong aku, Tuan. Izinkan aku masuk, tolong!" pintanya seraya terisak.
Aryo Widiatmoko membuka kaca jendela mobil seraya mendengus kesal. "Apa kau mau mati, hah? Kalau kau sampe ketabrak, gimana? Udah bosan hidup kau, ya? Kalau mau bundir jangan di sini, pergi sana ke sungai dan lompat, jangan lompat ke mobil saya. Dasar gembel!" umpatnya dengan kasar dan tanpa perasaan.
Wanita berkaca mata dan berambut panjang acak-acakan itu kembali merengek dengan mata berair. "Aku mohon selametin aku dari mereka, Tuan. Aku janji akan memberikan apapun yang Anda minta, asalkan Anda mau nolongin aku. Aku mohon! Aku masih pengen hidup, aku mohon selametin aku!"
"Selametin kamu?" tanya Aryo seraya tersenyum menyeringai. "Kau pikir saya malaikat penolong, hah?" bentaknya sebelum akhirnya kembali menutup kaca jendela mobil Pajero yang ia tumpangi.
Mobil mewah itu pun kembali melaju, mengabaikan wanita malang yang sedang dikejar oleh beberapa orang preman. Aryo tidak peduli, bahkan ketika melihat wanita itu ditangkap oleh preman yang mengejarnya pun, hatinya sama sekali tidak tersentuh. Ia hanya diam menyaksikan dari pantulan kaca spion mobil miliknya.
"Apa tak sebaiknya kita tolong wanita tadi, Tuan? Kasihan, kayaknya dia butuh pertolongan kita," pinta Jefri, supir pribadi Aryo, memandang kaca spion dengan perasaan iba.
Aryo mendengus kesal, memejamkan mata sejenak sebelum akhirnya berujar, "Buat apa ngelakuin hal yang gak penting, Jefri? Jangan suka ikut campur sama urusan orang. Urus aja urusan kamu sendiri, kamu mau jadi pahlawan kesiangan?"
Jefri menghela napas dalam-dalam. "Baik, Tuan," jawabnya lalu menginjak pedal gas, guna mempercepat laju mobil, meninggalkan wanita malang yang sebenarnya sedang membutuhkan pertolongan.
Aryo memejamkan mata seraya mendengus kesal. "Akh, sial!" umpatnya seraya menoleh dan memandang kaca jendela belakang. "Putar balik, Jerfi. Cepat!"
Jefri terkejut. "Hah? A-Anda yakin, Pak?"
"Udah, buruan!"
Jefri tersenyum ringan. "Baik, Pak," jawabnya, memutar stir mobil dan berbalik arah, kembali menghampiri wanita asing berkaca mata yang tengah di paksa untuk memasuki mobil berwarna merah oleh para preman.
"Saya kira hati nurani Anda udah mati, Tuan. Ternyata saya salah, hati Anda belum benar-benar mati," batin Jefri, menginjak pedal gas guna mempercepat laju mobil, sebelum akhirnya berhenti tepat di depan mobil para preman.
Aryo segera membuka pintu mobil, berdiri seraya berkancah pinggang, menatap wanita malang tersebut lalu memandang satu-persatu preman yang berjumlah lima orang.
"Hey, lepasin dia, b*****t!" pintanya dengan mata membulat.
Wanita asing yang tengah dipegangi dua orang preman seketika memandang wajah Aryo dengan perasaan lega. "Syukurlah Anda kembali, Tuan. Aku kira Anda gak bakalan nolong aku," batinnya.
Buliran bening tampak memenuhi kedua matanya. Wajahnya memerah, rambutnya nampak berantakan. Pakaian yang dikenakan oleh wanita itu pun robek di beberapa bagian karena dipaksa dan diperlakukan dengan kasar.
Preman dengan tubuh besar, tersenyum menyeringai seraya meludah ke arah samping. "Jangan ikut campur. Silahkan lanjutkan perjalanan Anda, Tuan Besar," ucapnya dengan santai.
"Mana bisa saya diem aja ngelihat ketidak adilan di dunia ini, hah?" teriak Aryo, geram.
"Cuih, emangnya Anda Super Man, Spider Man, Iron Man atau apalah namanya itu!" decak sang preman dengan senyum lebar. "Lebih baik Anda pulang, selagi nyawa masih di kandung badan, dari pada Anda pulang tinggal nama!"
"Nggak, jangan pergi, Tuan. Aku mohon tolong aku," teriak wanita itu, matanya nampak sayu, buliran bening kembali luruh dari kedua matanya.
Preman bertubuh besar itu seketika berbalik lalu melayangkan telapak tangannya dan mendarat di wajah wanita tersebut keras hingga wajahnya terlempar ke arah samping. "Diam, kau. p*****r!" bentaknya penuh emosi.
Wanita tersebut hanya meringis sakit, entah berapa tamparan yang ia terima dari preman suruhan ibu tirinya itu. Rasa sakit membaur, bukan hanya di wajahnya saja, tapi di seluruh tubuhnya.
"b*****t!" umpat Aryo, tanpa berpikir panjang melayangkan kakinya, berputar lalu mendarat tepat di wajah sang preman keras, hingga pria bertubuh besar itu terjungkal. "Rasain itu, dasar banci. Beraninya main keroyokan, sama cewek lagi!"
"b******k!" umpat sang preman, menyeka darah segar yang keluar dari ujung bibirnya, kembali bangkit lalu menatap rekannya dengan tajam. "Kenapa kalian diem aja? Cepat habisi cecunguk ini!"
Para preman menganggukkan kepala, tiga di antaranya siap melawan Aryo dan Jefri, sementara satu orang nampak memegangi wanita yang masih berusaha berontak dan menggerakkan tubuhnya sedemikan rupa agar bisa terbebas darinya. Namun, hasilnya sia-sia. Tenaga yang ia punya tidak sebanding dengan kekuatan preman tersebut.
Aryo menoleh dan memandang wajah Jefri sang supir, lalu mengangguk sebagai isyarat sebelum akhirnya memulai perkelahian. Pertarungan yang tidak seimbang pun dimulai, dilakukan di tepi jalan di tengah hiruk-pikuk jalanan ibu kota yang tidak terlalu padat pengendara. Meskipun begitu, Aryo dan Jefri bisa dengan mudah menumbangkan satu-persatu pria bertubuh besar itu. Ya, meskipun Aryo sendiri tidak luput dari pukulan, kepalan tangan sang preman sempat menghantam wajahnya, tapi hal tersebut tidak membuatnya menyerah. Ia dan Jefri mengerahkan kemampuan bela diri yang mereka kuasai hingga satu-persatu dari mereka benar-benar tumbang dan menyerah.
Tinggal satu orang preman yang tersisa, pria berkulit hitam itu nampak panik. Menatap rekannya yang sudah tergeletak di atas aspal. Kedua tangan wanita itu pun masih ia pegang kuat dengan ketakutan.
Aryo dengan napas tersengal-sengal seraya menyeka ujung bibirnya yang mengeluarkan darah segar, melangkah mendekati preman tersebut. Mengacungkan kedua kepalan tangannya. "Mau pilih mana, kiri Rumah Sakit, kanan kuburan?" tanyanya dengan senyum sinis.
Preman tersebut mendorong wanita itu keras hingga mendarat di tubuh Aryo lalu lari terbirit-b***t meninggalkan rekannya yang lain. Aryo sontak memeluk wanita asing itu, sang wanita itu seketika melingkarkan kedua tangannya di punggung Aryo dengan mata membulat. Beberapa detik kemudian, Aryo segera mendorong wanita asing berkaca mata itu dengan jantung berdetak kencang.
"Terima kasih, Tuan. Makasih karena Anda udah nolongin aku. Aku gak tau gimana nasibku kalau Anda gak kembali," ucap wanita itu, membungkuk dalam-dalam memberi hormat.
"Makasih? Setelah saya berkelahi habis-habisan, kamu cuma bisa berterima kasih?" tanya Aryo dengan senyum lebar.
Wanita itu kembali membungkukkan tubuhnya. "Sekali lagi aku ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, Tuan. Aku tak akan melupakan kebaikan Anda."
"Tepati janji kamu?"
"Hah?"
"Tadi kamu bilang kalau kamu akan melakukan apapun asalkan saya nolongin kamu, 'kan?"
Wanita itu nampak terdiam seraya menggerakkan matanya ke kiri dan ke kanan dengan perasaan bingung. Jujur, ia tidak punya apapun untuk diberikan sebagai tanda terima kasih. Dirinya bahkan tidak memiliki uang sepeserpun, hanya tubuhnya saja yang ia punya. Lantas, apa yang harus ia berikan sebagai ucapan terima kasih?
"Kenapa kamu diem aja? Ikut saya sekarang juga, kamu harus membayar saya dengan layak. Tak hanya sekedar terima kasih aja," pinta Aryo dengan dingin. "Asal kamu tau aja, ya. Tak ada yang gratis di dunia ini, paham?"
Bersambung ....