Bab 1 Ketemu Teman Sekolah
Joseon dan Leon mengelola rumah produksi yang memiliki pengaruh mengorbitkan artis baru. Namun dia dikenal sebagai pria yang suka bermain banyak wanita yang hendak menjadi artis. Antara Leon dan Joseon berbeda perangai. Keduanya selain mengurus perusahaan juga sebagai produser di rumah produksi film. Hingga mereka bertemu dengan Sidra.
Amira akhirnya melakukan cinta satu malam dengan CEO muda demi mewujudkan cita-cita nya menjadi artis.
Sidra, demi biaya pengobatan ibu nya rela melakukan apa saja.
Setelah kecelakaan itu Joseon mengalami amnesia hingga melupakan Sidra yang pernah ia renggut kesuciannya. Akhirnya Sidra menjalin asmara dengan abangnya, Leon.
Apakah akhirnya Sidra kembali dengan Joseon atau tetap berjodoh dengan Leon? Bagaimana kisah selengkapnya? Ikuti novelnya berjudul MENDADAK ARTIS SETELAH KENCAN
⭐⭐⭐⭐⭐
Demi mewujudkan cita-cita dan harapan nya untuk menjadi artis terkenal, Sidra menerima tawaran itu untuk menjumpai salah satu produser eksekutif di dunia hiburan. Sidra bukanlah tanpa bekal kemampuan ketika hendak terjun di dunia model, akting, dan suara. Tapi dunia hiburan sudah kejam. Berbagai cara akan dilakukan demi ketenaran dan bisa cepat melejitkan namanya.
Di sebuah hotel bintang lima tepatnya di salah satu kamar berkelas. Kamar dengan fasilitas yang serba mewah dan elite. Seorang pria dengan botol anggur, duduk di balkon kamarnya. Menikmati pemandangan dari balkon kamarnya. Wanita muda itu datang diantar oleh asisten pria itu. Kesepakatan telah dibuat oleh mereka. Saat ini tinggal pria dan wanita muda itu di balkon dan masih saling membelakangi.
"Tuan," ucap Sidra ketika dirinya sudah masuk ke sebuah kamar hotel. Sidra langsung mendatangi laki-laki yang duduk di balkon dan membelakangi nya.
"Heem!" Joseon menyahut. Joseon masih menunggu dan duduk di kursinya menikmati anggur minumannya tanpa menengok ke belakang di mana Sidra memanggilnya.
"Saya datang karena memenuhi kesepakatan dengan asisten pribadi Anda waktu lalu," ucap Sidra memberanikan diri untuk berbicara dan mengatakan maksud tujuannya datang ke kamar hotel itu.
Joseon masih cuek tanpa melihat wajah Sidra. Bahkan Joseon merasa jijik dengan kedatangan Sidra. Padahal dia belum melihat wajah Sidra dan hanya menilai kedatangan Sidra hanyalah demi sebuah kesuksesan dengan menjual kehormatan nya.
"Demi menjadi artis terkenal kamu rela mendatangi aku di sini. Huh! Kamu menjual harga dirimu pada ku demi harapan dan cita-cita itu? Sungguh menyedihkan sekali," ucap Joseon seraya menghisap rokok nya.
Sidra terkejut dengan ucapan Joseon. Tiba-tiba saja Sidra menjadi sedih mendengar ucapan Joseon. Dia merasa tertampar dengan ucapan laki-laki di depannya yang masih membelakangi dirinya.
"Aku tidak menyangka, ketika aku sudah menjadi pimpinan dan menggantikan ayahku menjalankan dunia bisnis di dunia hiburan, ternyata seperti ini rupanya. Dan mungkin ini sudah menjadi hal biasa. Ayah aku mungkin saja selalu menawarkan hal ini pada artis- artis pendatang baru untuk dinikmati kemolekan dan kecantikan artis itu dalam satu malam. Ini benar-benar menyedihkan sekali," kata Joseon.
Kali ini dia mulai mengerti kalau selama ini ayahnya suka memanfaatkan situasi ini demi memperoleh kesenangan sementara. Menikmati setiap keindahan wanita yang datang meminta bantuan demi sebuah ketenaran.
"Dan kamu salah satunya. Apakah kamu tidak pernah memikirkan suatu ketika kamu akan menjadi istri dari suami kamu. Dan apa yang akan kamu banggakan terhadap suami kamu sedangkan satu- satunya dari kehormatan kamu sudah kamu jual padaku," ucap Joseon tidak kalah membuat sakit hati bagi Sidra.
Tentu saja Sidra merasakan sesak d**a nya. Ucapan Joseon benar-benar membuat dirinya muak.
"Apakah hal ini sudah sering kamu lakukan? Ketika hendak mendapatkan peran utama atau pemain dalam sebuah film dalam peran itu?" tuduh Joseon.
Sidra melebar bola matanya. Rasanya dari belakang, Sidra ingin memukul kepala laki-laki itu dengan vas bunga didekat nya. Tanpa sadar Sidra menangis. Joseon tetap belum mau melihat wajah Sidra dan menenggak minumannya.
"Apakah kamu tuli?" ucap Joseon dengan suara sedikit keras. Sidra tentu saja menjadi terkejut. Diusapnya air mata yang sempat jatuh di sudut matanya.
"Sa.. sa.. saya belum pernah melakukan hal ini sebelumnya, tuan," sahut Sidra. Joseon tidak percaya dengan ucapan Sidra. Dia masih jijik dengan wanita muda yang berada di belakang nya.
"Siapa nama kamu?" tanya Joseon sambil menyesap minumannya. Joseon masih tetap tidak ingin menengok ke belakang di mana Sidra masih berdiri mematung di belakang punggung Joseon.
"Sidra," jawab Sidra singkat.
"Sidra? Berapa umur kamu?" tanya Joseon lagi.
"21 tahun," jawab Sidra kembali. Dia sekuat tenaga berusaha masih bersabar.
"Apakah dia salah satu petugas sensus penduduk? Menyebalkan sekali," batin Sidra.
"21 tahun, bahkan usia kamu masih terbilang sangat muda. Kamu sudah masuk dalam dunia seperti ini menjual kecantikan dan kemolekan tubuh kamu dan memuaskan pria- pria yang menginginkan kamu. Semua demi uang dan ketenaran serta gaya glamour dan gaya mewah hidup kamu," ucap Joseon tanpa filter. Seketika darah Sidra mulai mendidih.
"Cukup tuan! Aku bukan wanita seperti itu! Jangan menghina saya dengan semua ini.Sudah cukup! Dari tadi tuan menghina saya terus," sahut Sidra. Sidra menangis. Joseon terkejut dan menengok ke belakang.
"Eh? Sidra? Teman SMA aku? Nama aslinya Wedha Sidrania Hariadi. Nama artis Sidra," pikir Joseon. Cukup lama Joseon menatap wajah Sidra. Namun Sidra tidak kalah terkejut ketika melihat tampang laki-laki di depannya.
"Kamu?" ucap Joseon benar-benar dibuat terkejut. Ternyata wanita yang datang ke kamar nya adalah Sidra teman sekolah nya dulu.
"Joseon! Kamu!" Sidra mengerut dahinya. Namun saat menyadari laki-laki itu orang yang pernah ia kenal nya, Sidra ingin cepat-cepat lari dari tempat itu. Sidra bergegas lari dari balkon dan hendak keluar dari kamar hotel itu.
"Tunggu! Tunggu Sidra!" Teriakan Joseon tidak menghentikan langkah Sidra yang semakin berlari cepat keluar dari dalam kamar hotel itu. Sidra tidak perduli dengan panggilan Joseon tetap berlari meninggalkan kamar hotel tersebut sambil menahan tangisan nya.
Joseon yang menyadari kekeliruan nya hanya bisa merutuki dirinya sendiri.
"Sial! Aku telah membuatnya marah. Tapi kenapa Sidra memilih jalan seperti ini?" gumam Joseon seraya mengambil ponselnya dan mencari kontak asisten pribadinya.
"Cepat cari wanita itu! Dia lari sebelum aku menyentuh nya," ucap Joseon pada asisten pribadi nya setelah panggilan keluarnya terhubung dengan kontak sang asisten pribadi.
"Lari?" sahut sang asisten pribadi itu di seberang sana!
"Bahkan kamu tidak mengatakan padaku kalau wanita itu adalah Wedha Sidrania Hariadi. Nama artis Sidra," kata Joseon dengan marah.
"Bukannya kemarin saya sudah menjelaskan bahwa wanita yang akan datang ke kamar tuan muda adalah artis pendatang baru yaitu Sidra," Sang asisten ingin membela dirinya.
"Jangan membantah! Sekarang cepat cari wanita itu! Atau kamu harus menerima pemotongan setengah gaji kamu bulan ini!" ancam Joseon.
"Baik, baik tuan! Saya segera membawa wanita itu datang kembali menemui tuan," sahut sang asisten dengan takut jika benar-benar dirinya hanya menerima separoh gajinya bulan ini gara-gara tidak bisa membawa Sidra pada tuan Joseon.