10. Profesi Seorang Aktris

1230 Kata
Suasana yang tegang dan penuh emosi membuat Kalila tidak tega begitu dia menatap putri kesayangannya di perlakukan seperti itu oleh ayahnya sendiri. Kalila akhirnya memutuskan untuk membawa Yocelyn ke kamar dan mencari tahu yang sebenarnya. Dia tidak ingin semua di selesaikan dengan emosi. “Sudahlah Pa, hentikan semua ini! Semua masalah tidak akan bisa selesai jika pakai emosi Pa!” ucap Kalila. “Dari awal Papa sudah peringatkan Celyn untuk tidak terjun ke sana tapi Mama selalu membelanya hingga dia jadi seperti sekarang ini. Orang tua mana yang tidak emosi Ma?” hardik Mahardika. Mahardika pun sudah tidak tahan berada disana. Dia pun pergi meninggalkan istrinya, anaknya dan juga Nadine. Kalila hanya menggelengkan kepala melihat sikap suaminya itu. Dia pun mengajak Yocelyn dan Nadine untuk masuk ke kamarnya. “Yocelyn, mari kita ke kamar kamu sayang, kamu ceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada mama. Mama mau dengar langsung dari mulut kamu, Mama yakin kamu tidak akan bohong pada Mama kan?” tanya Kalila menatap Yocelyn dengan dalam. Yocelyn tak menjawab tapi tetap mengikuti langkah Kalila untuk masuk ke kamar yang sangat dia rindukan. Nadine pun membuntutti Kalila dan Yocelyn. Sesampainya di kamar Yocelyn tak kuasa menahan tangisnya. Hatinya begitu sakit dengan apa yang dilakukan oleh papanya pada dirinya. Nadine keluar dari kamar mengambil air untuk Yocelyn. Kalila pun duduk di samping Celyn dan siap untuk mendengarkan semua cerita dari mulut Celyn. Celyn memeluk mamanya erat sambil menangis tersedu. “Ma, Mama percaya pada Celyn kan Ma? Celyn tidak mungkin melakukannya, Celyn hanya dijebak Ma!” ucapnya sambil menangis. “Iya Sayang, Mama percaya padamu, makanya Mama memintamu untuk menceritakan semuanya dengan jujur,” jawab Kalila sambil membelai rambut Celyn yang masih dalam pelukannya. “Mama tahu kan dunia hiburan itu adalah impian Celyn, begitu ada produser yang menawarkan pekerjaan di luar negeri Celyn langsung tergiur Ma, Celyn langsung mengiyakan saja permintaan mereka untuk meeting di club malam itu,” ujarnya. “Sayang, Mama tahu itu adalah impianmu tapi mengapa kamu bisa seceronoh ini?” tanya mamanya. “Celyn berani bersumpah Ma, Celyn tidak melakukan apa-apa! Yang Celyn ingat hanya minum beberapa gelas dan habis itu Celyn sudah tak sadarkan diri,” ucapnya sedih. Yocelyn memeluk erat mamanya dan kembali mengingatkan mamanya bagaimana pengorbanannya untuk menjadi artis seperti sekarang ini. “Mama masih ingat kan bagaimana pengorbanan dan usaha Celyn untuk mecapai titik ini? Celyn tahu yang membuat Papa marah adalah karena Celyn tidak melanjutkan S1. Papa berpikir Celyn tidak akan sukses kalau tidak menjadi penerus Papa. Celyn tahu Ma maksud Papa itu baik tapi tolonglah biarkan Celyn mengejar impian selagi aku masih muda,” ujar Yocelyn. “Iya Sayang, Mama mengerti. Kamu menghabiskan waktu yang lama untuk mencapai semua ini,” ucap Kalila mengiyakan. Perasaan Celyn sedikit lega setelah dia menceritakannya pada mamanya. Mamanya adalah orang yang paling mendukungnya dari awal Yocelyn ingin mulai berkarir. Celyn melalukan semua ini bukan karena dia tidak mementingkan pendidikan, dia hanya tidak ingin kehilangan kesempatan untuk menjadi seorang artis. Tapi kenapa papanya selalu saja menyalahkan dirinya. Menurutnya Papanya terlalu berambisi dan egois untuk memaksakan keinginannya supaya Yocelyn meneruskan bisnisnya suatu hari nanti. “Lalu bagaimana caranya kamu bisa menyelesaikan masalah ini? Apa kamu perlu pengacara untuk membelamu?” tanya Kalila. “Menurut Nadine untuk saat ini kita belum membutuhkan pengacara, Tante. Kita akan coba selesaikan dengan cara baik-baik tidak langsung ke jalur hukum. Lagi pula rating Celyn saat ini sedang ada di puncak kalau kita selalu membawa setiap masalah ke jalur hukum nanti mereka akan menyebut Yocelyn seorang artis yang penuh dengan kontroversi,” jelas Nadine. “Tapi apa ini tidak terlalu berbahaya untuk Celyn, Dine?” tanya Kalila memastikan. “Tante tenang saja, Nadine dan tim management tidak mungkin hanya berdiam diri,” jawab Nadine meyakinkan Kalila. Setelah mendengarkan cerita Yocelyn dan penjelasan dari Nadine perihal pengacara akhirnya Kalila mengerti dan menyerahkan semua pada Yocelyn dan Nadine. “Baiklah Tante percaya kamu bisa menjada Yocelyn dengan baik, harapan Tante semoga masalah ini cepat berlalu supaya Yocelyn tidak terlalu memikirkannya lagi. Urusan Om biar Tante yang tangani,” ucap Kalila. Kalila pun meninggalkan Yocelyn dan Nadine di kamarnya. Dia percaya gadis nya yang sangat dia cintai akan bisa melewati semua masalah nya. “Celyn, Mama tinggal keluar dulu ya, Mama akan berbicara pada papamu,” pamit Kalila. “Iya Ma,” jawab Yocelyn singkat. Setelah keluar dari kamar Yocelyn, Kalila berniat untuk kekamarnya dan berbicara pada suaminya perihal anak semata wayang mereka. Belum sampai dia di kamarnya namun Mahardika sudah berjalan tegak menuju kamar putrinya itu. Kalila yang menangkap aura kemarahan di wajah suaminya pun langsung menghentikan langkah suaminya dan bertanya. “Loh, Papa mau ke mana Pa?” tanya Kalila. “Papa ingin ke kamar Celyn!” jawabnya dengan tatapan datar dan terus melangkah. Belum sempat Kalila kembali bertanya namun Mahardika sudah keburu membuka pintu kamar Yocelyn dengan kasar dan berbicara lantang. Yocelyn dan Nadine yang berada di dalam kamar terkejut. Di tambah ketika Mahardika berbicara dengan lantang bahwa Celyn harus segera tinggal bersama mereka. “Celyn! Papa minta kamu kemasi barang-barang kamu dan kembali tinggal di sini bersama Mama dan Papa!” hardiknya tegas. “Pa, Celyn tidak bisa Pa. Celyn tidak bisa kembali kerumah ini. Biarkan Celyn tetap tinggal di apartemen Celyn,” lirihnya. “Kenapa? Kenapa kamu tidak mau tinggal di sini? Kamu takut kalau pergaulan kamu yang begajulan itu diketahui oleh Papa dan Mama? Begitu maksudmu?” teriak Mahardika. “Bukan Pa, bukan begitu maksud Celyn. Celyn memilih untuk tinggal sendiri supaya Mama dan Papa tidak terganggu dengan kesibukan Celyn,” terangnya. “Papa tidak perduli dengan segala macam alasanmu, Papa sudah tidak percaya lagi pada pergaulanmu yang sudah melewati batas!” cecar Mahardika. “Melewati batas bagaimana yang Papa maksud Pa? Celyn sama sekali tidak melakukan hal-hal yang seharusnya tidak kita lakukan, ini semua hanya salah paham Pa,” ucap Yocelyn penuh haru. Apapun yang Yocelyn katakan sepertinya tidak akan merubah keputusan Mahardika. Papanya adalah orang yang susah di bantah, ketika Celyn ingin memulai karirnya diawal saja dia membutuhkan kerja keras untuk meminta izin papanya itu. Baik Yocelyn ataupun Mahardika sama-sama mempunyai sifat keras kepala. Kalila sebagai ibu dan istri hanya bisa diam dan menangis jika anak dan suaminya sedang bersitegang seperti ini. Namum dia selalu mencoba untuk meluluhkan hati suaminya itu. “Pa, sudah Pa jangan menambah keributan lagi, kasihan Celyn Pa,” kata Kalila. “Ma, mau sampai kapan Mama membela anak yang sudah tidak menghargai kita sebagai orang tuanya lagi, mau sampai kapan Ma?” pekik Mahardika. “Tapi Pa, tindakan Papa ini terlalu keras untuk Celyn,” ucap Kalila lembut. “Justru Papa harus bertindak seperti ini karena Papa sudah tidak percaya lagi pada Celyn. Pergaulan dia di dunianya sudah tidak bisa di tolerir lagi. Dia sudah mencemarkan nama baik keluarga. Apa kata para keluarga besar kita dan rekan-rekan bisnis kita kalau mereka tahu kelakuan anak kita seperti ini Ma? Apa Mama tidak malu harga diri kita di injak-injak olehnya?” geram Mahardika. “Pa! Celyn masih tidak mengerti mengapa Papa begitu benci pada pekerjaan Celyn. Anak kita bekerja halal Pa, tapi mengapa Papa selalu beranggapan bahwa pekerjaan Celyn itu hina?” tanya nya dengan linangan air mata di pipi lembutnya itu. Mahardika tidak menjawab pertanyaan putrinya. Dia berpikir perlakuannya sudah terlalu keras hingga dia berkata terlalu kasar pada Celyn. Dia melakukan ini semuanya benar-benar untuk kebaikan Celyn. Raut wajah Mahardika mulai menunjukkan kelembutan. Kalila berharapa suaminya tidak akan mengeluarkan kata-kata menyakitkan lagi. “Pa, sudahlah jangan terlalu keras menekan Celyn, Mama tidak tega melihatnya seperti itu,” ucap Kalila sambil mengandeng tangan suaminya. Namun usaha Kalila tidak membuahkan hasil. Suaminya tetap pada pendiriannya. Dia tetap menginginkan Yocelyn pindah ke rumah mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN