Yocelyn melompat dari kasurnya demi mengejar papanya yang berlalu dari kamarnya. Kalila danNadine pun menyusul Yocelyn. Langkah Mahardika semakin cepat dan dia membanting pintu kamarnya menghentikan langkah Yocelyn yang saat ini tepat berada di depan kamar Mahardika.
“Pa! Buka pintunya Pa! Kita harus bicara. Papa enggak bisa langsung memutuskan kemauan Papa secara sepihak seperti ini!” teriak Yocelyn dari balik pintu.
“Percuma kamu menangis dan berteriak seperti itu, semua tidak akan mengubah keputusan Papa. Daripada kamu buang-buang waktu, lebih baik kamu kembali ke apartemenmu. Kemasi semua barang-barangmu dan kembalilah ke rumah ini,” ucap Mahardika.
Kalila yang sudah berada di belakang Yocelyn segera menenangkan Yocelyn. Nadine pun mengelus-elus bahu Yocelyn agar dia bisa sedikit lebih tenang.
“Celyn, cukup Nak cukup! Kamu tenang dulu ya biar Mama yang bujuk Papa agar Papa mau keluar dan kita bisa bicarakan ini semua secara baik-baik,” ucap Kalila menenangkan putrinya.
“Iya Lyn, Tante Lila benar. Kamu tenang dulu ya,” hibur Nadine.
“Nadine, sebaiknya kamu ajak Celyn keruang keluarga terlebih dahulu, Tante akan membujuk Om untuk membuka pintu dan membicarakan ini lagi,” perintah Kalila.
“Baik Tante,” Nadine pun berlalu sambil menggandeng Yocelyn yang masih menangis.
Setelah Yocelyn dan Nadine menjauh Kalila pun mengetuk pintu kamarnya dan meminta suaminya untuk membukanya. Terkadang sikap suaminya juga sama seperti Yocelyn yang selalu mengunci pintu jika sedang marah.
Tapi Kalila selalu bisa meluluhkan hati suaminya itu dan pintu kamarpun terbuka. Kalila segera masuk dan membicarakan hal ini dengan suaminya di dalam kamar tanpa terdengar oleh siapapun.
Entah apa yang Kalila bicarakan pada suaminya di dalam tadi, yang jelas saat ini Kalila dan Mahardika sudah berjalan menuju ruang keluarga menyusul Yocelyn dan Nadine. Sesampainya mereka di ruang keluarga membuat Yoeclyn sadar dan segera bangkit dari sofa. Namun tangan Nadine dengan cepat menghalangnya dan meminta Yocelyn untuk duduk kembali.
“Pa, tolong beri Celyn satu kesempatan lagi. Celyn benar-benar belum sanggup jika harus melepaskan karir Celyn Pa! Celyn memulai semua ini dari nol Pa, banyak waktu dan pengorbanan yang Celyn habiskan untuk mencapai ini semua. Dan sekarang Celyn sudah ada di puncak kejayaan Celyn, jadi tidak mungkin Celyn lepas begitu saja Pa. Dalam setiap pekerjaan pasti ada tantangannya kan Pa? Papa juga pernah kan mengalami hal yang saat ini Celyn alami? Perusahaan rival Papa pernah memfitnah Papa demi menjatuhkan usaha Papa, tapi pada saat itu Papa tetap bangkit dan berjuang memperbaiki segalanya kan Pa?” ucap Celyn memohon agar papanya bisa memberikan kesempatan satu kali lagi.
“Apa maksud kamu menyinggung masa lalu perusahaan Papa?” cetus Mahardika.
“Celyn bukan menyinggung Pa, tapi justru dari situ lah Celyn belajar, di saat kita goyah kita harus bangkit lagi bukan malah menyerah begitu saja. Bukankah Papa sendiri yang mengajarkan Celyn untuk tidak mudah putus asa?” ujar Celyn.
Mahardika termenung mendengar ocehan putrinya yang memang benar apa adanya. Dia yang mengajarkan Celyn untuk tidak mudah menyerah namun saat ini dia pula yang memintanya utuk menyerah pada keadaan. Kalila bangga sekali mendengar pernyataan Celyn, dia pun menggenggam lengan suami nya dan mengiyakan apa yang di katakan Celyn.
“Semua yang Celyn katakan itu ada benarnya Pa, semakin kita sukses semakin banyak pula kerikil-kerikil yang hadir. Papa dan Celyn memang mempunyai bidang berbeda dalam mencapai keberhasilan dan Celyn pun sekarang bukan anak kecil lagi yang bisa kita atur sesuai kemauan kita kan Pa? Kita berdua sama-sama tahu bagaimana Celyn bisa sampai di titik ini. Jadi menurut Mama tidak ada salahnya jika kita memberikan Celyn kesempatan satu kali lagi dengan catatan Celyn harus menyelesaikan ini semua dan tidak akan pernah mengulanginya lagi, bagaimana Pa?” imbuh Kalila.
Mahardika sepertinya sedang mempertimbangkan apa yang dikatakan oleh istri dan anaknya. Karena semua yang dikatakan oleh mereka memang ada benarnya ditambah Celyn memang sekarang sudah dewasa yang tidak bisa dipaksa melakukan ini itu akhirnya Mahardika pun luluh.
“Baik, kalau begitu Papa akan memberikanmu kesempatan padamu satu kali lagi. Kamu harus berjanji bahwa kamu bisa menyelesaikan semua dengan baik. Karena kamu juga sudah dewasa Papa harap kamu tahu mana yang baik dan mana yang buruk untuk masa depanmu. Dan yang terpenting adalah jangan mengulanginya lagi, mengerti!” ucap Mahardika.
Yocelyn, Nadine dan Kalila menghela napas panjang. Mereka merasa lega akhirnya masalah Yocelyn dan papanya bisa mendapatkan jalan keluar. Yocelyn yang sangat bahagia segera menghapus air matanyanya dan berlari ke arah papanya kemudian memeluk laki-laki tegas itu.
“Terima Kasih Pa terima kasih, Celyn janji kali ini akan menggunakan kesempatan ini dengan sebaik-baiknya. Papa cukup doakan Celyn dari jauh ya Pa supaya masalah ini cepat selesai,” ujarnya sambil bergelayutan di pundak papanya itu.
“Ya, sama-sama! Papa percaya gadis Papa ini bisa melewati semuanya dengan baik,” ucap Mahardika mengelus rambut Celyn dengan lembut.
Kalila tersenyum puas melihat pemandangan di depannya. Nadine pun tersenyum bangga akan kehangatan keluarga Yocelyn. Dia akan tambah semangat membantu Yocelyn agar cepat keluar dari masalah ini.
Tak terasa matahari di luar sana sudah hampir meninggalkan langit. Menyadari akan hal itu Kalila bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan malam. Dia akan menyiapkan makanan special untuk makan malam ini.
“Sudah-sudah sekarang lebih baik Nadine dan Yocelyn kembali ke kamar, istirahat. Dan Papa juga lebih baik istirahat," perintah Kalila.
“Loh, Mama gak istirahat juga?” tanya yocelyn.
“Hmm ... Mama akan membantu bibik di dapur untuk menyiapkan makan malam kita, Mama akan masak makanan special untuk kesayangan-kesayangan Mama,” ucap Kalila dengan mata berbinar.
Mendengar kata-kata Kalila wajah Yocelyn dan Mahardika langsung sumringah. Membayangkan makanan kesukaan mereka tersaji di meja makan membuat mereka ingin segera menyantapnya.
“Wah! Asyiknya malam ini kita makan enak Dine,” cerocos Yocelyn sambil menyenggol siku Nadine. Nadine pun tertawa melihat tingkah Yocelyn.
“Kalau begitu Papa mandi dlu biar nanti segar pas makan malam,” imbuh Mahardika.
Mereka pun kembali ke kamar mereka masing-masing. Kalila yang sibuk di dapur tak henti-hentinya mengucap syukur karena perdebatan suami dan anaknya berakhir damai. Sebagai hadiah dia akan memberikan masakan yang penuh cinta untuk keduanya dan untuk Nadine juga pastinya.
Hampir satu jam Kalila berkutit di dapur dan akhirnya selesai semua. Sirloin steak lengkap dengan sayuan dan kentang goreng sudah tertata rapi di meja makan. Itu adalah makanan kesukaannya Celyn dan selalu direquest jika ia pulang kerumah orang tuanya. Tak lupa juga sup Iga kesukaan Mahardika pun sudah terhidang di sana lengkap dengan tungku kecil ala resto yang membuat sup itu akan terus hangat dan menambah kenikmatan bagi yang menyantapnya. Selesai Kalila menata rapi meja makan dia pun memanggil Mahardika, Yocelyn dan Nadine untuk merapat ke meja makan.
“Wah aroma steak nya sudah memanggil Celyn nih Ma,” gumam Celyn sambil berlari.
“Papa juga sepertinya akan nambah karena sup iga buatan Mama ini,” goda Mahardika.
“Kalian ini memang paling jago jika di minta menggoda Mama. Nadine, kamu bisa kan makan ini semuanya?” tanya Kalila.
“Enggak usah ditanya Ma, lihat aja badannya sebesar itu, itu tandanya dia pemakan segalanya Ma,” ledek Yocelyn.
“Apan sih kamu Lyn, jangan buat aku malu di depan Om dan Tante dong!” sungut Nadine.
Mereka pun tertawa dan mulai melahap makanan makanan-makanan lezat ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00 setelah mereka semua selesai makan malam. Yocelyn, Nadine dan kedua orang tuanya berkumpul di ruang keluarga sambil ngobrol-ngobrol ringan. Karena waktu sudah hampir larut malam makan Nadine meminta Yocelyn untuk menginap di rumah keluarganya malam ini.
Awalnya Yocelyn menolak dan tetap ingin pulang ke apartemennya dengan alasan dia tidak membawa semua perlengkapannya. Lalu apa tugas Nadine jika dia melupakan semua itu. Semua sudah dipersiapkan oleh Nadine maka Celyn pun akhirnya menginap di rumah orang tuanya.