12. Mencari Solusi Terbaik

1266 Kata
Dering jam beker di kamar apartemen Yocelyn memekik nyaring membangunkan tidur Nadine. Pukul 05.00 begitu dia melirik jam di ponselnya. Segera dia duduk di tempat tidur dan hendak melepaskan diri dari selimut tebal. Dia yakin saat ini Yocelyn masih tertidur pulas di rumah orang tuanya. Nadine yang sengaja menyetel alarm sepagi ini karena dia memang ada urusan dengan pihak management yang membawahi mereka. Nadine membuat janji jam 8 pagi untuk bertemu tim management di perusahaan entertaimet tersebut. Hari ini dia akan di temani oleh salah satu asisten pribadi untuk pergi ke perusahaan entertainment. Asisten pribadi akan menjemput Nadine pukul 07.00 di apartement. “Halo, Mba Nadine, apa Mba Nadine sudah bisa saya jemput?” tanya seseorang di sebrang sana. “Iya Pak Jo, sepuluh menit lagi saya ke bawah. Bapak sudah di jalan kan?” tanya Nadine. “Iya Mbak saya sudah di jalan 5 menit lagi saya sampai lobby,” ucap Pak Jo. “Baik Pak, nanti hubungi saya kembali ya Pak begitu Bapak sudah sampai lobby, biar saya segera turun,” kata Nadine. Lima menit kemudian ponsel Nadine berdering dan ternyata dari Pak Jo yang memberitahu bahwa dia sudah di loby. Pak Jo memang orang yang selalu tepat waktu. Nadine pun meraih tas di atas bangku dan keluar dari kamar kemudian berjalan ke lobby. “Kita berangkat sekarang ya Pak!” perintah Nadine begitu dia sudah berada di dalam mobil. “Baik Mbak,” ucap Pak Jo singkat. Lalu lalang kendaraan begitu ramai pagi ini. Walaupun ramai tapi tidak macet itulah situasi di jalan saat ini. Nadine penasaran dengan berita hari ini. Apa berita soal Yocelyn memecahkan kamera salah satu wartawan sudah mencuat ke publik? Dia pun menyalakan televisi yang ada di dalam mobil. “Pemirsa artis cantik Yocelyn sampai saat ini belum memberikan keterangan apa-apa perihal kejadian di pesta malam yang diadakan di salah satu club malam belum lama ini. Belum selesai kasus tersebut, tadi malam Yocelyn sudah membuat skandal baru dengan memecahkan kamera dari salah satu wartawan yang hendak mewawancarainya. Sampai berita ini di turunkan kita belum bisa menemuinya ataupun managernya guna mendapatkan keterangan lebih lanjut. Terima Kasih.” Begitulah yang Nadine dengar dan lihat saat dia menyalakan televisi. “Huh! Dasar akun gosip, jelas-jelas Yocelyn tidak sengaja menjatuhkan kamera itu tapi berita yang di sebar berbeda,” gerutu Nadine masih sambil mengganti-ganti channel televisi. “Kalau tidak begitu, mereka tidak akan mendapatkan uang toh Mbak,” ucap Pak Jo. “Iya Bapak benar juga,” jawab Nadine sambil terkekeh. Perjalanan masih berlanjut dan Nadine pun masih sibuk dengan ponselnya. Tak lama kemudian mobil yang di tumpangi Nadine pun tiba di perusahaan itu. Tulisan VRC Entertainment terpampang nyata di depan lobby perusahaan tersebut. “Selamat pagi Mba Nadine,” sapa seorang resepsionis cantik begitu Nadine melangkahkan kakinya memasuki lobby tersebut. “Selamat pagi. Oh ya, apa tim saya yang lain sudah datang?” tanya Nadine. “Belum ada Mbak, Mbak Nadine adalah orang pertama yang datang, tapi ruangan untuk meetingnya sudah di siapkan Mbak,” ucap resepsionis itu. “Oh baiklah kalau begitu, saya akan tunggu di ruang meeting ya, jika yang lain sudah datang silahkan minta mereka untuk langsung ke ruang meeting. Terima kasih!” ujar Nadine. “Baik Mba,” jawabnya berlalu. Tak lama semua tim sudah berkumpul di ruang meeting untuk membahas masalah Yocelyn. Di jam ini semua stasiun televisi sedang menayangkan acara gosip. Dan di semua saluran yang menanyangkan acara gosip membahas soal masalah Yocelyn di pesta malam tersebut dan skandal memecahkan kamera. “Bagaimana bisa Yocelyn seceroboh itu,” gerutu salah seorang tim. “Bukan! Itu bukan salah Yocelyn. Kejadiannya tidak seperti yang diberitakan, Yocelyn tidak sengaja menyenggol kamera tersebut saat dia menerobos para wartawan yang memburunya ketika kami hendak keluar dari apartemen,” ucap Nadine menjelaskan. Mendengar ucapan Nadine para anggota tim pun mengerti. Mereka kembali berpikir bagaimana cara untuk menyelesaikan masalah ini. Dari semua anggota tim hanya Nadine yang terlihat tidak tenang. Dia memikirkan Yocelyn. Walau dia berada di rumah orang tuanya dia pasti akan rapuh jika berita tentang dirinya semakin buruk. Di rumah megah keluarga Yocelyn pun hanya ada Yocelyn, Kalila dan asisten rumah tangga mereka. Sedangkan Mahardika sudah berangkat ke kantor. Yocelyn memang tidak bisa bangun siang jika dia ada dirumah keluarganya. Yocelyn melangkan keluar dari kamarnya dan menemui mamanya yang sedang duduk di ruang tamu. “Pagi Ma, Papa sudah berangkat ya?” sapa Yocelyn. “Hey! Selamat Pagi Sayang. Iya Papa sudah berangkat tadi, bagaimana tidurmu? Nyenyak?” tanya Kalila. “Iya Ma, nyenyak. Mama sedang apa Ma?” tanya Yocelyn lagi. “Ini, Mama sedang duduk-duduk saja sambil melihat televisi,” ujarnya dengan senyum yang dipaksakan. Kalila yang sedari tadi melihat acara gosip di televisi merasa sedih mengapa berita soal anaknya semakin panas dan belum mendapatkan solusi sampai saat ini. Asisten rumah tangga mereka datang dan memberikan segelas s**u hangat untuk Yocelyn. Gadis itu pun menerimanya dan ikut bergabung dengan mamanya. “Nonton apa sih Ma? Gosip ya? Pasti acara-acara gosip itu masih memberitakan soal Celyn, ya kan Ma?” tanyanya cemberut. “Ya namanya gosip Nak, mereka pasti menanyangkan sesuatu yang sedang viral. Oh ya memangnya kemarin kamu memecahkan kamera salah satu wartawan?” tanya Kalila takut. “Jadi berita itu juga di up ke media Ma?” pekik Yocelyn. Kalila yang paham bahwa anaknya mudah sekali berpikiran sudah menangkap wajah frustasi putrinya. Dia pun segera menenangkan Yocelyn agar dia tidak melakukan apa-apa. “Kamu tenang dulu Sayang, ayo minum dulu susumu supaya lebih rilex,” perintah Kalila. Yocelyn pun menuruti perintah Kalila. Dia menghabiskan segelas s**u itu sekaligus tanpa jeda. Kalila sedih melihat raut wajah dan tingkah putrinya. Begitu berat masalah yang dia hadapi saat ini. Berita-berita buruk tentang dirinya bukan mereda tapi malah semakin ramai dan membuatnya menjadi sangat frustasi. Yocelyn masih duduk terpaku di samping mamanya. Mamanya yang menyadari dan seolah mengerti beban hidup anaknya mulai mendekat dan merangkul putrinya itu. Sebisa mungkin Kalila terlihat tegar walau sebenarnya dia sedang menahan air mata yang mendesak untuk keluar. Dia tidak mau terlihat lemah di depan putrinya. “Celyn, lebih baik sekarang kamu kembali ke kamar, mandi habis itu sarapan. Mama sudah meminta Mbak Mentil untuk menyiapkan sarapan,” bujuk Kalila. Yocelyn tidak menjawab dan matanya masih tertuju pada layar televisi. “Yocelyn, ayo Mama antar kamu ke kamar. Mama akan temani kamu mandi, ayo Celyn,” paksa Kalila. Kalila pun mematikan televisi dan menarik tangan Yocelyn dan menuntunnya kembali ke kamar. “Ma, apa yang harus aku lakukan?” tanya Yocelyn. “Tenang saja Sayang, Nadine dan tim management kalian akan segera mendapatkan solusinya,” ujar Kalila. “Tapi semakin hari berita Yocelyn semakin panas, Ma! Bagaimana bisa Yocelyn tenang seperti yang mama minta!” pekik Yocelyn yang sudah mulai tidak bisa mengontrol emosinya. “Sudah ya Celyn, lebih baik sekarang kamu mandi habis itu kita makan bersama. Kamu tidak usah membuka sosial media ataupun menonton televisi sampai berita tentang kamu ini hilang,” kata Kalila. Akhirnya Yocely menuruti perintah Kalila untuk mandi. Selama Yocelyn mandi, diam-diam Kalila menelepon Nadine menanyakan apapkah sudah ada solusi untuk masalah Yocelyn. Kalila memberitahu Nadine bahwa Yocelyn frustasi begitu dia mengetahui berita dirinya yang semakin memanas. Kekhawatiran Nadine akhirnya kerjadian. Yocelyn memang mudah sekali frustasi dan tidak seharusnya dia menonton atau membuka-buka sosial media. Tapi Nadine tidak bisa menyalahkan siapa-siapa apalagi menyalakan Kalila. Dia mengerti bahwa Yocelyn sangat penasaran dengan perkembangan kasusnya. Nadine meminta Kalila bicara pada Yocelyn bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dia dan tim sampai saat ini masih memikirnya solusi untuk masalah Yocelyn. “Tante tenang saja, aku dan tim sedang mencari solusi terbaik untuk kasus ini. Tante tolong bantu untuk selalu menghibur Celyn dan berada dekat dengan Celyn,” ucap Nadine. Kalila pun memutuskan sambungan teleponnya karena Yocelyn sudah keluar dari kamar mandi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN