13. Pertemuan Kedua

1263 Kata
Yocelyn masih duduk manis di ruang makan. Dia sudah menyelesaikan sarapannya tapi mood nya masih saja jelek akibat gosip tersebut. Kalila yang memperhatikannya hanya tersenyuk dan mencoba menghibur putrinya. “Lyn, setelah masalah kamu selesai bagaimana kalau kita liburan?” ajak mamanya. “Liburan? Celyn belum ada rencana Ma, urus masalah Celyn aja udah buat malas dan ingin pergi ke planet lain,” ujar Celyn asal. Jawaban Celyn itu sukses membuat Kalila tertawa. “Hahaha ... Celyn ... Celyn ... Mama bilang kan nanti Sayang! Bukan sekarang, Mama menawarkan kamu liburan nanti supaya kamu bisa melupakan semua masalah-masalahmu,” ucap Kalila. “Liat nanti deh Ma, Celyn belum bisa kasih Mama keputusan saat ini, Celyn ke kamar dulu ya Ma, mau cek hp siapa tahu ada info dari management,” pamit Celyn. Kalila mengangguk dan tersenyum. Celyn pun bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke kamarnya. Sesampainya di kamar dia langsung membuka ponselnya dan matanya tertuju pada notifikasi paling atas yang tertera di layar ponselnya itu. “Wah ada novel keluaran terbaru! Pokoknya aku harus beli! Daripada aku stress mikirin masalah ini lebih baik baca novel biar lebih tenang. Aku telepon Nadine dan ajak dia ke Gramedia deh,” gumam Celyn dalam hati. Dia pun segera mencari kontak Nadine dan meneleponnya. Yocelyn langsung mengutarakan maksudnya untuk pergi ke Gramedia untuk membeli novel tersebut. “Dine, kamu masih di kantor VRC?” tanya Yocelyn. “Iya masih, kenapa Lyn?” balas Nadine di seberang sana. “Kita ke Gramedia yuk! Ada novel keluaran terbaru dan aku sangat ingin membelinya,” ajak Yocelyn. “Lyn! Tolong jangan macam-macam. Posisi kamu sekarang belum aman, jadi tolong kamu diam dulu di rumah. Di luar sana masih banyak orang yang mengincar kamu, paham!” cecar Nadine. “Tapi Dine, aku bosan!” pekik Yocelyn. “Ya, aku tahu kamu bosan tapi kamu tetap harus bersabar, semua ini demi kebaikan kamu Lyn!” cerocos Nadine. “Sampai kapan? Sampai kapan aku merasakan hidup kaya di penjara gini? Aku kan juga butuh dunia luar Dine,” rayu Yocelyn. “Kamu beri tahuku saja novel apa yang ingin kamu beli, biar nanti aku yang mampir ke Gramedia dan membelikannya untukmu,” ucap Nadine. “Dine, kalau hanya perkara supaya aku bisa baca novel, aku bisa kan beli lewat online!” pekik Yocelyn. “Nah, itu kamu paham!” kata Nadine. “Masalahnya bukan hanya soal novelnya Dine, tapi aku bosan di rumah terus tanpa melakukan apa-apa! Aku ingin keluar!” gerutu Yocelyn. Yocelyn memang selalu punya alasan jika dia menginginkan sesuatu. Tapi Nadine tetap membujuknya untuk menahan Yocelyn supaya dia tidak keluar rumah. “Kamu bisa melakukan hal lain kok. Kamu kan sekarang di rumah orang tuamu jadi kamu bisa masak bersama mamamu, beliau pasti senang,” bujuk Nadine. “Nadine, please ... yang aku mau saat ini pergi ke Gramedia dan membeli novel, aku bukan anak kecil yang bisa dirayu Dine!” teriak Yocelyn. “Celyn, berita tentang kamu semakin memanas, kamu mau tertangkap wartawan tanpa persiapan apa-apa?” tanya Nadine. “Tapi aku benar-benar bosan Dine, tolonglah mengerti!” Nadine yang sudah kehabisan akal membujuk Yocelyn akhirnya hanya bisa pasrah. Dia kasihan juga melihat keadaan Yocelyn, apalagi dia tahu Yocelyn adalah orang yang mudah frustasi. Kalau sampai Yocelyn ngamuk-ngamuk di rumah orang tuanya seperti yang dia lakukan di apartemennya bisa-bisa papanya mencabut kesempatan yang sudah di berikan. “Apa kamu bisa jamin kalau kamu akan baik-baik saja pergi tanpa aku?” tanya Nadine. “Kamu lupa Dine, waktu kamu ninggalin aku di apartemen dan aku kelaparan aku pergi keluar sendiri tanpa kamu tapi tidak ada seorang pun yang mengenalku karena aku menyamar,” cetus Yocelyn. “Oh iya itu semua karena kamu menyamar. Baiklah kalau kamu bersikeras untuk keluar kamu harus menyamar lagi, kebetulan aku sudah bawa beberapa baju di tas mu yang bisa kamu pakai untuk menyamar. Tapi ingat, pilih baju yang benar-benar pas!” cecar Nadine. Yocelyn meloncat kegirangan begitu dia mendapat ijin dari Nadine untuk pergi ke Gramedia sesuai keinginannya. Setelah dia menutup telepon dengan Nadine dia segera membuka tas nya dan memilih pakaian apa yang akan di kenakan sebagai penyamaran untuk pergi ke Gramedia. Yocelyn sangat beruntung memiliki manager sekaligus sahabat baik seperti Nadine. Selain pintar dia sangat perhatian dan teliti soal urusan Yocelyn. Yang penting bagi Nadine adalah makan maka tak heran badannya sedikit tambun. Hubungan Yocelyn dan Nadine memang sudah seperti saudara di tambah Yocelyn adalah anak satu-satunya di keluarga. Dia tidak pernah merasakan kasih sayang seorang kakak atau adik. Tapi dengan adanya Nadine dia merasa punya seorang kakak perempuan yang selalu bisa melindunginya. Yocelyn sudah siap dengan penyamarannya. Kali ini dia memakai kaos gombrong, celana jeans robek ala anak punk, masker dan kacamata hitam. Memang aneh sih dilihatnya. Namun demi keamanan Yocelyn pun tidak masalah dan siap untuk pergi. “Ma, Celyn pergi dulu ya sebentar,” teriak Celyn begitu dia keluar dari kamarnya. Mamanya yang terlihat syok dengan penampilan putrinya hampir saja mengira bahwa ada preman yang masuk ke dalam rumahnya. “Kamu kenapa berpenampilan seperti itu Lyn?” tanya mamanya heran sambil melihat dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Biar enggak ketahuan publik Ma, Celyn mau ke Gramedia mau beli novel,” ucapnya bangga. “Kamu pergi sendiri?” tanya Kalila khawatir. “Tidak dong Ma, Celyn diantar supir,” jawab Celyn. “Ya sudah kamu hati-hati ya,” nasihat mamanya. “Siap, Boss!” jawab Celyn sambil berlalu. Diapun pergi diantar supir keluarganya. Karena asisten pribadi yang biasa mengantar Celyn sedang pergi dengan Nadine. Sesampainya di Gramedia Celyn berjalan pelan sambil memperhatikan apakah ada orang yang menyadari keberadaannya saat ini. Saat Celyn masuk ke dalam Gramedia dia merasa tenang karena tak ada seorang pun yang mengenalnya. Namun dia sedikit risih karena beberapa orang menatap aneh ke arahnya. Ya mungkin karena kacamata gelap yang di pakainya di dalam ruangan seperti Gramedia ini. Namun Celyn tak perduli dan dia malah terkekeh di balik maskernya. Kalau di pikir-pikir memang aneh dandanan Celyn hari ini, tapi ini semua lebih baik dari pada dia disergap oleh wartawan. Celyn berjalan santai menysuri lorong-lorong buku dan memilih-milih novel apa saja yang menurutnya bagus. Yocely telah mendapat beberapa novel di tangannya tapi dia masih belum puas dan masih ingin mencari beberapa novel lagi. Dia pun berjalan ke rak novel bertema cinta dan melihat-lihat novel mana yang menarik perhatiannya. Ketika sedang asyik memilih novel, Nadine menelpon Yocelyn memberitahu bahwa dia sudah di Gramedia tapi dia tidak menemukan Yocelyn. Nadine saja tidak mengenalinya sampai dia harus melambaikan tangan hingga Nadine menghampirinya. “Oke juga dandananmu?” ledek Nadine sambil terkekeh. “Husss! Jangan berisik!” perintah Yocelyn. Mereka berdua pun melanjutkan berjalan meyusuri rak-rak buku yang ada di Gramedia. “Bagaimana, kamu sudah menemukan novel yang kamu maksud tadi?” tanya Nadine. “Belum,” jawabnya singkat. “Hah! Belum! Mau berapa lama kamu ada di tempat ini Celyn?” bisik Nadine. “Santai saja kenapa sih!” hardik Yocelyn. “Kamu lupa kamu ini siapa dan sedang menghadapi apa?” gertak Nadine. “Iya aku tahu, tapi dari tadi aku aman-aman saja ada di sini. Penyamaranku akan terbongkar jika kamu terus berbicara,” bisik Yocelyn. Nadine hanya bisa menghela napas mendengar jawaban Yocelyn tadi. Dia pun kembali membuntuti Yocelyn yang masih asyik memilih-milih buku dan novel. Mata Yocelyn tertuju pada tumpukan buku yang bertuliskan New Release di atasnya. Dia pun segera berjalan menuju rak itu dan yakin bahwa novel yang dia maksud ada di sana. Dia berjalan sambil menggenggam tumpukan buku di tanganya serta matanya tetap tertuju pada rak buku itu dan ingin segera meraihnya hingga tiba-tiba seseorang tanpa aba-aba melangkah maju usai meraih beberapa buku. Bruk! Yocelyn tak sengaja menabrak sesosok lelaki tampan di hadapannya, dan menjatuhkan buku-buku yang ada di tangan lelaki itu. Buku-buku mereka pun berserakan di lantai.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN