14. Buku Penolong

1277 Kata
Beberapa orang di sekitar yang mendengar suara tersebut mencar-cari dari mana asal suara itu. Tak terkecuali Nadine. Mereka melihat ada sepasang laki-laki yang sedang berdiri dan ada banyak buku di tengah-tengah mereka. Dari situ lah asal suara tersebut. Dan beberapa mata ada yang memandang Yocelyn sama seperti Zidan. Jantung Celyn berdebar mengetahui banyak orang memandangnya aneh, yang dia takutkan adalah orang-orang akan mengenali Celyn sebagai artis yang sedang tersandung kasus. Jika soal penampilannya yang memang aneh Yocelyn sama sekali tidak perduli. Dia lebih baik terlihat aneh daripada ketahuan sebagai artis yang sedang di incar oleh para wartawan. Kedua pelaku pembuat suara tersebut hanya saling bertatap mata. Ya, mereka adalah Yocelyn dan Zidan. Yocelyn tertegun melihat sosok lelaki di hadapannya. Dia menatap wajah tampan Zidan tanpe berkedip. Sedangkan Zidan menatap Yocelyn risih. Dia mengernyitkan dahinya melihat sosok di depannya ini. Dia menatap Yocelyn dari ujung kepala hingga ujung kaki. Dia merasa aneh mengapa ada orang seperti ini. Gadis yang harusnya terlihat cantik dan menawan tertutup segala atribut aneh yang menempel pada tubuhya. Mereka berdua masih diam dan saling menatap layaknya adegan di sinetron-sinetron di televisi. Dari kejauahan di tempat Nadine berdiri dia menyadari bahwa Yocelyn sedang bersama seseorang, Nadine segera menyusul Yocelyn karena dia takut orang itu mengenali Yocelyn dan hancur semua penyamarannya. Nadine dengan sigap merapikan buku-buku yang terjatuh di lantai yang di beli Yocelyn kemudian menarik tangannya dan menggiring Celyn ke sebuah rak di mana novel pilihan Yocelyn berada. “Sini cepat!” paksa Nadine. Yocelyn yang masih menatap Zidan pasrah mengikuti arahan Nadine dengan mata yang masih tertuju pada Zidan. Sedangkan Zidan sudah tak menatap Celyn ketika Nadine menarik tangan gadis itu. Zidan berlutut dan membereskan buku-bukunya yang jatuh sambil memastikan bahwa buku yang dia beli tidak tertukar oleh buku yang di beli Yocelyn. “Lyn, cepat ambil novel pilihanmu dan kita keluar dari sini segera!” perintah Nadine. “Kenapa harus buru-buruh sih? Aku masih betah di sini,” ucap Yocelyn. “Kamu sadar tidak kalau sekarang sedang genting, apa kamu mau keberadaan mu saat ini terciduk oleh publik? Ayo cepat!” hardik Nadine. “Iya,” jawabnya dengan berat hati. Yocelyn pun sibuk memilih novel yang dia mau sambil sesekali melirik ke arah Zidan. Nadine yang menyadari tingkah laku Yocelyn pun menegurnya. “Ini bukan saat nya kamu tebar pesona seperti itu Lyn,” tegas Nadine. “Apa maksudmu?” tanya Yocelyn yang segera mengalihkan pandangannya. “Aku tahu kamu sedang memperhatikan laki-laki tampan yang tadi kamu tabrak,” tebak Nadine. “Hey! Jangan sembarangan kamu bicara, aku tidak menabraknya tapi aku tidak sengaja menabraknya,” elak Yocelyn. “Ya terserah apa katamu. Yang jelas lelaki itu tampan dan kamu mulai penasaran dengannya, ya kan?” sergah Nadine lagi. “Apa-apaan sih kamu Dine. Ya kamu benar dia memang tampan tapi bukan berarti aku lansung jatuh cinta padanya. Aku melihatnya berkali-kali karena menurutku dia seperti tidak asing buatku. Sepertinya aku penah bertemu dengannya sebelumnya tapi di mana ya?” ucap Yocelyn memalingkan wajahnya yang kini terasa panas. “Kamu yakin? Kalau kamu pernah bertemu dengannya aku pasti tahu laki-laki itu. Tapi aku baru melihatnya kali ini,” ucap Nadine. “Entahlah! Yang jelas dia tampan!” ucap Yocelyn sambil tersenyum. Nadine menggelengkan kepalanya melihat tingkah Yocelyn. Lelaki itu memang tampan tapi tadi dia begitu risih melihat penampilan Yocelyn. Bagaimana tidak risih, Nadine saja tidak tahan melihat penampilan Yocelyn saat ini jadi mana mungkin laki-laki seperti Zidan tertarik dengan gadis yang berpenampilan seperti Yocelyn sekarang. Kecuali dia bertemu Yocelyn ketika dirinya menjadi artis, ada kemungkinan Zidan akan jatuh hati. Zidan yang masih memilih-milih buku pun tetap serius pada rak-rak buku itu. Tidak sekalipun dia menoleh ke arah Yocelyn karena menurutnya Yocelyn adalah seorang anak punk yang salah tempat. Setelah Yocelyn mendapatkan novel terbaru itu dia pun menyudahi acara belanja buku dan mengajak Nadine untuk ke kasir membayar semua buku-buku dan novel-novel yang dibelinya. “Aku sudah selesai. Ke kasir yuk Dine!” ajak Yocelyn sambil berlalu menuju kasir. “Sudah? Sini aku bawakan buku-bukunya sebagian, nanti jatuh lagi,” ucap Nadine. Yocelyn pun membagi beberapa buku untuk di bawakan oleh Nadine dan berjalan menuju kasir. “Memangnya buat apa sih buku sebanyak ini?” tanya Nadine penasaran. “Ya untuk dibaca lah Dine, masa untuk cemilan!” cetus Yocelyn. “Apa kamu bisa baca semuanya?” tanya Nadine heran. “Paling tidak buku-buku ini akan menolongku saat aku merasa jenuh dengan masalah-masalah ku. Kan sambil menunggu solusi untuk menyelesaikan masalahku aku bisa baca buku-buku ini Dine,” ucap Yocelyn. Puluhan novel kini sudah menuju kasir untuk di bayar oleh Yocelyn dan secara bersamaan Zidan pun berjalan menuju kasir. Zidan dan Yocelyn saat ini berdiri sejajar menuju kasir berbeda di hadapan mereka. Ketika keduanya sampai di depan kasir mereka memberikan buku-buku tersebut ke kasir untuk di barcode. Yocelyn yang mencuri-curi pandang melirik ke arah Zidan. Dia ingin tahu buku apa saja yang Zidan beli. Mata Yocely menangkap satu judul buku yang di pilih Zidan yaitu buku Ilmu Management. Yocelyn kembali menatap Zidan apa jangan-jangan dia seorang dosen? Yocelyn melamun dan bergumam seandainya saja sosok Zidan ada di kampusnya mungkin dia tidak akan berhenti kulaih. Hati Yocelyn bergelitik ingin mencari tahu tentang Zidan. Tak terasa gadis itu tersenyum lebar, untungnya dia memakai masker dan tak seorang pun yang mengetahui jika dia sedang tersenyum lebar. “Maaf Mbak apakah ada buku yang lainnya?” tanya seorang kasir yang membuuat Yocelyn terkejut. “Oh tidak ada Mbak,” jawab Yocelyn sambil pura-pura mengambil dompetnya. Zidan sempat melirik ke arah Yocelyn namun kemudian melangkah pergi keluar. Yocelyn pun sudah selesai melakukan transaksi dan mengajak Nadine untuk kembali ke rumah. Yocelyn segera melepas masker dan kacamata gelapnya begitu dia masuk ke dalam mobil. Di perjalanan Yocelyn sempat membahas soal Zidan. “Dine, kamu lihat kan sosok lelaki tampan yang tadi tidak sengaja ku tabrak?” tanya Yocelyn. “Iya tahu. Kamu menyukainya?” cetus Nadine. “Belum sih, aku hanya terpesona akan ketampanannya, seandainya saja dia dosen atau mahasiswa di kampusku pasti aku betah dan tidak akan berhenti kuliah,” ujar Yocelyn. “Apa kamu yakin dengan ucapanmu?” tanya Nadine. “Ya! Sangat Yakin!” ucap Yocelyn mantap. Mereka pun kembali menikmati perjalanannya. Sedangkan Zidan yang sendiri berada di dalam mobilnya hanya bisa berucap dalam hati tentang pertemuannya dengan Yocelyn tadi. “Huft! Mengapa di jaman modern seperti sekarang ini semakin banyak orang-orang yang berpenampilan aneh. Apa maksudnya pergi ke toko buku dengan penampilan seperti tadi. Jika aku seorang petugas keamanan pasti sudah ku interogasi gadis tadi, meresahkan masyarakat saja. Jangan-jangan dia copet!” gumam Zidan. Dia pun segera mengecek kantong celananya karena dia menuduh Yocelyn adalah seorang copet yang menabrak dirinya dengan sengaja. Namum dugaan Zidan salah besar karena tak satupun barang-barang Zidan hilang. Dia pun tertawa sendiri. Zidan terus melajukan mobilnya dengan santai karena dia merasa tidak ada hal yang harus dia kerjakan secepatnya maka Zidan mampir ke sebuah kedai kopi untuk membeli segelas kopi sebagai teman perjalanannya. Andai saja dia punya pasangan mungkin dia tidak akan merasa kesepian seperti sekarang ini. Sesampainya Zidan di rumah, dia meletakkan kopi yang tadi dibelinya ke dalam lemari es. Zidan pun pergi ke kamarnya untuk menyimpan buku-buku yang tadi dia beli. Setelah Zidan meletakkan buku-bukunya dengan rapi Zidan keluar mencari orang tuanya namun Zidan tak menemukan mereka. Asisten rumah tangganya memberitahu bahwa orang tua Zidan pergi menghadiri undangan makan siang di rumah kerabat mereka. Dan asisten nya memberitahu bahwa makan siang sudah siap di meja makan. Zidan makan dengan lahap walaupun dia makan sendirian. Betapa sepi dan bosan yang dia rasakan saat ini. Untung saja dia sudah membeli beberapa buku yang akan dia baca nanti, jadi akhir pekannya kali ini tidak terlalu membosankan baginya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN