15. Menghormati Keputusan Anak

1320 Kata
Selesai makan, Zidan segera merapikan piring dan gelasnya dan meletakkannya di tempat cuci piring. Dia pun berjalan menuju kamarnya. Sesampainya di kamar dia memilih buku yang akan dia baca. Tapi sebelum membacanya dia ingin bersantai sejenak. Dia memilih menonton tv, diraihnya sebuah remot di atas meja kemudian menyalakan televisi. Baru saja televisi itu menyala berita mengenai Yocelyn sedang tayang, digantinya channel yang lain tapi ternyata acara yang wara wiri di televisi masih saja tentang Yocelyn. Diliriknya jam di dinding dia tersadar bahwa di akhir pekan dan jam ini adalah memang jadwal acara gosip semua. Semula Zidan mengira dengan menonton tv ia akan terhibur tapi dia malah merasa tambah stress dengan gosip yang di tayangkan itu. “Hhh! Seperti tidak ada acara lain saja yang bisa di tampilkan oleh stasiun-stasiun televisi itu, mereka rela memutar acara yang sama secara terus menerus demi kenaikan rating mereka,” gerutu Zidan dalam hati. Bagaimana bisa hidup tenang kalau kehidupannya selalu diliput seperti itu. Kehidupan seorang artis memang selalu rumit dan penuh masalah. Jika tidak mau diliput makan kepopularitas yang akan jadi taruhannya. Seperti tidak ada privasi sama sekali jika hidup menjadi artis. 'Semoga saja aku tidak mendapat pacar ataupun istri seorang artis, karena tak bisa ku bayangkan bagaimana hidupku nanti jika harus berdampingan dengan seorang artis. Ke mana-mana harus selalu di ikuti media, senang, sedih semua harus di ekspos ke publik. Betapa rumit dan lelahnya hidup seperti itu.' Zidan pun memutuskan untuk mematikan televisi dan pergi dapur untuk mengambil kopi yang tadi dia beli. Dia lebih baik minum kopi sambil membaca-baca buku daripada harus menonton acara gosip seperti tadi. Di tempat lain di dalam sebuah kamar yang cukup luas Yocelyn duduk di atas kasur empuknya dengan satu toples cookies dan sebuah novel di kamarnya. Yocelyn sangat senang menghabiskan waktu dengan membaca buku seperti ini. Sementara Nadine, dia masih sibuk dengan ponselnya. Dia masih membahas solusi apa yang akan dia dapat untuk menyelesaikan masalah Yocelyn. “Dine, kamu dari tadi ngapain sih? Repot banget kayanya?” tanya Yocelyn penasaran saat managernya sibuk dengan benda pipih yang tengah dia pegang. “Ya cari cara supaya kita lebih tepatnya kamu dapat keluar dari masalah ini lah, menurutmu aku sibuk ngapain lagi?” jawab Nadine sewot. “Oh! Terima kasih ya Dine, aku sangat beruntung punya manager sekaligus sahabat seperti kamu ini,” rayu Yocelyn. “Sudahlah jangan terlalu memuji, kamu tenang saja biar aku dan tim yang akan cari jalan keluar. Sudah kamu lanjutkan saja baca novelmu itu. Tapi ingat jangan terlalu banyak nyemil atau badanmu akan jadi sepertiku,” ledek Nadine. “Enak saja kamu!” Yocelyn melempar sebuah bantal ke arah Nadine namun di tepis dengan cepat oleh Nadine. Kalila ibu Yocelyn yang sedang berada di ruang keluarga dan sedang menonton tv merasa sedih melihat berita tentang putrinya makin beredar luas. Dia khawatir bagaimana perasaan Yocelyn jika dia melihat berita ini. Dia pun segera ke kamar Yocelyn untuk memastikan bahwa putrinya baik-baik saja. Suara pintu kamar diketuk, membuat mereka menghentikan segala ocehan. “Masuk,” suara Yocelyn dari dalam kamarnya. Kalila pun masuk ke dalam kamar dan merasa puas karena Yocelyn terlihat baik-baik saja karena dia sedang sibuk membaca buku dan tidak menonton televisi. “Eh Mama, ada apa Ma? Mari masuk,” pinta Yocelyn. “Tidak ada apa-apa Sayang, Mama hanya ingin menengok kamu saja,” ucap Kalila. Yoceln tersenyum ke arah Kalila karena Kalila begitu perhatian padanya. Nadine memberi tahu Kalila tentang kejadian di Gramedia tadi. Kalila pun tertawa mendengar cerita Nadine. Kalila berharap Yocelyn segera menyelesaikan masalahnya dan bisa kembali ke kehidupan normal layaknya manusia biasa. Kalila sedikit berharap jika Yocelyn dapat meneruskan S1-nya suatu hari nanti. Dia pun mengutarakan harapannya pada putrinya namun tak begitu di tanggapi. Berbeda dengan Nadine yang sempat memikirkan omongan Kalila. Setelah puas melihat bahwa Yocelyn baik-baik saja maka Kalila kembali keruang tamu. Zidan mendengar suara mobil papanya memasuki halaman rumah. Dia pun menunggu orang tuanya di ruang tamu. “Ma, Pa, sudah pulang?” sapa Zidan. “Eh Zidan kebetulan ada kamu Nak,” ucap mamanya. Zidan yang menangkap ada sesuatu yang ingin disampaikan oleh mamanya maka dia pun bertanya. “Memangnya ada apa Ma? Mama ada perlu dengan Zidan?” tanya Zidan penasaran. “Iya, ada satu hal yang ingin mama sampaikan, kamu gak lagi sibuk kan?” tanya Sarah. “Hmm ... Enggak sih Ma, Zidan lagi ngopi santai aja.” Mereka pun duduk di ruang tamu. Sarah meminta asisten rumah tangga mereka membuat minum untuk dirinya dan suaminya. Juga meminta asistennya tersebut untuk memotong kue lapis yang baru saja dia bawa dan disuguhkan untuk menemani mereka mengobrol. “Memangnya Mama dan Papa habis dari mana? Kata asisten rumah tangga, Mama dan Papa habis diundang makan siang sama kerabat Mama, siapa sih Ma?” tanya Zidan penasaran. “Iya tadi Mama habis dari rumahnya Gisya, kebetulan Papanya Gisya baru pulang dari Singapore jadi beliau mengundang kita untuk makan siang bersama, Mama sengaja tidak mengajakmu karena Gisya pun tidak ikut,” ucap Sarah. “Oh, lagipula Zidan juga tidak minta di ajak Ma, Zidan hanya bertanya karena biasanya Mama selalu beri tahu Zidan,” ujar Zidan. “Tadi ketika kami pergi kamu tidak ada di rumah, makanya kami langsun pergi saja. Kemana kamu tadi?” tanya Abimanyu. “Zidan tadi pergi ke Gramedia Pa, ada beberapa buku yang harus Zidan beli,” jelas Zidan. Asisten rumah tangga datang membawa minuman dan kue yang tadi di minta Sarah. Abimanyu pun segera menyeruput teh hangat suguhan asistennya tadi. “Jadi begini Nak, tadi Papa dan Mama serta orang tua Gisya setuju kalau kamu dan Gisya lebih baik menikah, karena kami merasa Gisya adalah wanita yang pas untuk kamu,” kata Sarah. Zidan terkejut tapi segera dia tutupi dengan meneguk kopi yang ada di genggamannya. “Ya, Gisya adalah anak yang soleha, pintar, sopan dan berpendidikan. Papa rasa dia sebanding dengan kamu yang seorang dosen,” ucap Abimanyu. Zidan menatap Mama dan Papanya secara bergantian tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. “Zidan, Mama sudah sangat ingin melihatmu menikah dan hidup bahagia, kamu mau kan menikah dengan Gisya?” tanya Sarah. “Ma, menikah itu bukan suatu hal yang main-main. Kita tidak bisa hanya menilai seseorang dari luarnya saja. Mama benar Gisya itu nyaris sempurna. Dia cantik, soleha, sopan, dan berpendidikan. Tapi semua itu tidak cukup di jadikan patokan untuk seseorang menikah. Menikah itu sekali seumur hidup jadi Zidan tidak mau asal memilih seseorang untuk menjadi pendamping Zidan,” ucap Zidan. “Tapi Mama lihat kalian cocok sekali loh,” ujar Sarah. “Mama pasti akan bicara seperti itu karena Mama sudah tidak sabar melihat Zidan memilik pasangan bahkan menikah kan Ma? Memangnya Zidan ini jelek sekali ya Ma sampai Mama harus selalu mencari jodoh untuk Zidan,” ucap Zidan kecewa akan paksaan mamanya itu. “Bukan begitu Nak, Mama hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Justru karena kamu tampan, pintar dan mapan makanya Mama takut jika banyak gadis di luar sana yang hanya mencintaimu karena harta ataupun profesimu itu, makanya Mama coba dengan orang-orang yang Mama kenal terlebih dahulu,” kata Sara membujuk Zidan. “Tapi usaha Mama itu selalu gagal kan Ma? Tak ada satu gadis pun yang cocok di hati Zidan, Mama masih ingat kan janji Mama saat gadis terakhir yang mama kenalkan ke Zidan itu pergi begitu saja? Mama bilang setelah ini Mama tidak akan memaksa Zidan untuk mempunyai pasangan apalagi menikah dengan wanita pilihan Mama, tolong beri Zidan kesempatan untuk memilih pasangan hidup Zidan Ma,” ucap Zidan kemudian bangkit dari duduknya dan kembali ke kamarnya. “Zidan, mau kemana kamu? Mama belum selesai bicara, Zidan!” teriak Sarah. “Maaf Ma kita lanjutkan pembicaraan kita lain kali saja, ada suatu hal yang harus Zidan urus,” kata Zidan sambil meneruskan langkahnya. Sarah ingin mengejar Zidan karena dia belum puas akan hasil pembicaraannya ini. Namun Abimanyu menahan Sarah dan memintanya kembali duduk. “Ma, apa yang dikatakan Zidan benar, kita tidk boleh egois dengan keputusan kita. Semua inii kan Zidan yang akan menjalani nya maka kita juga harus menghormati apapun keputusannya Ma. Kita sebagai orang tua hanya perlu merestui, mendukung dan menghormati apapun keputusannya,” ucap Abimanyu. Sarah memasang wajah kecewa dan tidak membantah perkataan suaminya itu. Dia kembali duduk dan mengabiskan minumannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN