16. Kartu Rencana Studi

1279 Kata
Yocelyn kembali melanjutkan membaca novel yang tadi ia beli. Sepeninggalan Kalila dari kamar Yocelyn tiba-tiba Nadine memikirkan sesuatu yang berkaitan dengan keinginan Kalila dan perkataan Yocelyn saat dia bertemu Zidan tadi. “Aha aku udah dapat ide untuk masalahmu!” sorak Nadine sambil tersenyum. “Kamu kenapa sih Dine bikin aku kaget aja deh, memangnya apa idemu?” tanya Yocelyn. “Tunggu dulu, aku akan menelepon tim kita untuk memberi tahu soal ini, aku ke taman belakang dulu ya Lyn,” pamit Nadine. Yocelyn menaikan bahunya karena dia bingung melihat tingkah Nadine. Gadis itu memancarkan aura kebahagian seperti orang habis menang lotre. Namun Yocelyn tak begitu menghiraukan Nadine dan kembali membaca novelnya. Di luar kamar Nadine sedang berbicara serius dengan tim management melalui telepon genggamnya. Dia memberitahu tim bahwa dia mempunyai ide untuk menyelesaikan masalah Yocelyn. Nadine memberitahu pada tim bahwa ide tersebut adalah kesempatan bagus untuk Yocelyn agar dia bisa mendapat simpatik kembali dari masyarakat. Dengan begitu gosip tentang dirinya akan menghilang. Tim menyetujui ide Nadine dan meminta Nadine untuk mengurusnya bersama Yocelyn. Setelah telepon ditutup Nadine sangat senang dan puas. Dia berdoa semoga Yocelyn dapat menerima ide nya ini dan mau mengikutinya. Hati Nadine merasa sedikit lega karena separuh bebannya sedikit menjadi ringan. Nadine pun tak sabar ingin memberitahu Yocelyn. Dia pun segera masuk ke kamar Yocelyn. “Lyn, kamu tahu aku punya kabar baik untukmu!” seru Nadine. “Kabar baik bagaimana maksudmu Dine?” tanya Yocelyn tanpa menoleh dari novelnya. “Iya, kabar baik karena aku sudah mendapatkan ide untuk membuat reputasimu kembali baik,” kata Nadine dengan mata berbinar. “Benarkah? Apa itu Dine?” tanya Yocelyn penasaran. “Jadi aku mempunyai ide bagaimana kalau kamu kembali melanjutkan kuliahmu demi mendapat gelar S1 untuk kembali mendapatkan simpatik dari masyarakat. Dengan begitu reputasimu akan kembali membaik di mata publik. Bagaimana menurutmu?” ujar Nadine. “Bagus juga idemu Dine, aku setuju. Tapi bagaimana dengan tim management kita? Apa mereka bisa menerima idemu ini?” tanya Yocelyn. “Kamu tenang saja Lyn, aku sudah membicarakan masalah ini dengan tim management dan mereka setuju. Mereka justru memintamu untuk segera mengiri Kartu Rencana Study mu agar kamu dapat segera memulai kuliahmu di semester depan,” kata Nadine bersemangat. “Baiklah kalau begitu aku akan segera mengisi KRS supaya semuanya cepat dimulai,” ucap Yocelyn. Nadine merasa lega karena idenya disambut baik oleh tim management dan Yocelyn. Dia tak sabar Yocelyn untuk segera memulai studynya. “Lyn lebih baik sekarang kamu cepat mengisi KRS semester untuk semester enam, aku mau keluar dulu mengambil minum,” pamit Nadine. Nadine pun meninggalkan Yocelyn sendirian di kamar dan dia pergi ke dapur untuk mengambil minum. Nadine berjalan ke dapur masih dengan senyum di wajahnya sampai dia tak menyadari bahwa Kalila memperhatikannya. “Dine, ada apa kamu kok senyum-senyum sendiri seperti itu?” tegur Kalila. “Eh Tante, iya Tan aku lagi senang karena aku sudah mendapatkan jalan keluar untuk masalah Yocelyn,” ucapnya bangga. “Benarkah? Apa itu Dine?” tanya Kalila penasaran. “Jadi aku menyarankan agar Yocelyn melanjutkan kuliahnya untuk mendapatkan gelar S1, karena dengan begitu dia akan mendapatkan kembali simpati dari masyarakat, bukankah begitu Tan?” tanya Nadine. “Oh iya kamu benar juga Dine, Tante rasa itu memang jalan yang terbaik. Yocelyn bukan hanya mendapat simpati masyarakat tapi dia juga pasti mendapatkan lampu hijau dari papanya,” ujar Kalila. Nadine dan Kalila pun tertawa bahagia. Mereka berharap semuanya akan berjalan sesuai rencana. Karena mereka mau yang terbaik untuk Yocelyn. Setelah berbicara dengan Kalila, Nadine pun berpamitan untuk kembali ke kamar Yocelyn. “Ya sudah tante kalau begitu Nadine kembali ke kamar Yocelyn dulu ya Tan, Nadine juga mau bawakan minuman ini untuk Yocelyn,” pamit Nadine. “Iya Dine, silahkan. Kalau kalian butuh apa- apa jangan sungkan ya, langsung saja bilang ke Tante,” kata Kalila. “Iya Tante tenang saja, permisi ya Tan,” kata Nadine. Sesampainya Nadine di kamar Yocelyn dia melihat gadis itu sedang sibuk dengan laptopnya. Yocelyn nampak serius memandang layar laptopnya sampai dia tak menyadari bahwa Nadine sudah berada di kamarnya lagi. “Serius amat Lyn, ini minum dulu,” ucap Nadine sambil menyodorkan segelas jus jeruk. “Terima Kasih ya Dine,” kata Yocelyn. “Bagaimana, apa kamu sudah mengisi lembar KRSnya?” tanya Nadine. “Ini aku lagi buka aplikasi smartcampus untuk mengisinya,” jawan Yocelyn. Yocelynpun sibuk mengisi lembar KRSnya untuk semester enam. Dia belum menyelesaikannya karena waktu itu dia sibuk dengan sinetron stripingnya. Dan sekarang dia mulai mengisinya kembali. Yocelyn sangat serius sedangkan Nadine hanya memperhatikan gadis itu di sampingnya. Dia senang karena Yocelyn sangat bersemangat dalam hal ini. “Aku sedikit menyesal Dine, mengapa dulu aku tak menyelesaikan semester enam dulu ya?” kata Yocelyn. “Ya waktu itu kan kamu lagi sibuk-sibuknya dengan sinetron stripingmu, bagaimana kamu bisa memikirkan soal kuliah, untuk pulang kerumah saja kamu sulit membagi waktumu,” kata Nadine mengingatkan. “Iya, kamu benar Dine, syuting sinetron striping itu bagaikan kerja rodi, kerja seperti di kejar-kejar hantu. Untung saja hasilnya memuaskan jadi semua waktu dan usahaku berbuah manis. Dan yang lebih membuatku menyesal adalah dengan menerima tawaran tidak jelas dari tim gadungan itu,” sungut Yocelyn. “Sudahlah Lyn, yang berlalu tidak usah di bahas lagi, yang terpenting saat ini kita sudah menemukan jalannya. Dan kalau kamu mau semua berjalan lancar lebih baik kamu cepat isi KRSmu,” kata Nadine. Yocelyn menganguk dan kembali fokus pada laptopnya. Nadine tersenyum puas melihat semua ini. Batinnya bberkata bahwa semuanya akan segera berakhir. Karir Yocelyn akan segera bersinar kembali dan masyarakat akan kembali menyukai artis populer ini. “Akhirnya selesai juga KRSku,” gumam Yocelyn sambil meregangkan jari-jari tangannya. Yocelyn merasa lega karena dia sudah mengiri lembar-lembar KRSnya. Sekarang dia bersiap untuk mengeprint lembar-lembar tersebut. Nadine tersenyum lebar karena Yocelyn dengan cepat menyelesaikannya. Tak terasa waktu pun sudah menunjukkan pukul 7 malam. Tandanya makan malam akan segera dilakukan. Kalila yang sedari tadi menunggu Nadine dan Yocelyn keluar dari kamarnya pun khawatir mengapa mereka tak kunjung keluar. Akhirnya Kalila memutuskan untuk menyusul ke kamar Yocelyn. “Celyn, Nadine, sedang apa kalian? Ini sudah waktunya makan malam, mengapa kalian tidak keluar sejak tadi?” tanya Kalila sambil masuk ke kamar Yocelyn. “Celyn baru selesai mengisi lembar KRS Ma, ini juga lagi mauu di print, apa Papa sudah pulang Ma?” tanya Yocelyn. “Papamu masih di jalan, tapi makan malam sudah siap di meja makan. Ayo kita turun kebawah,” perintah Kalila. “Yocelyn mandi dulu ya Ma, nanti kalau sudah selesai Yocelyn dan Nadine langsung ke meja makan,” ucap Yocelyn. “Ya sudah lebih baik sekarang kamu mandi Lyn, biar aku yang urus printan ini, nanti setelah kamu mandi gantian aku yang mandi,” ujar Nadine. Yocelyn pun pergi ke kamar mandi, sedangkan Kalila kembali keluar dari kamar putrinya dan menuju meja makan. Nadine melanjutkan mengeprint lembar KRS Yocelyn sambil menunggu sang artis mandi. “Sekarang giliranmu mandi Dine,” perintah Yocelyn ketika dia keluar dari kamar mandi. “Baik, ini lembar KRSmu sudah selesai ku print semua, dan sudah ku masukkan kedalam map,” kata Nadine. “OK! Terima Kasih ya Dine, kalau begitu besok kita tinggal pergi ke kampus untuk meminta tanda tangan dosen wali. Kamu nanti menginap saja ya disini, biar besok pagi kita minta Pak Jo untuk mengantar kita ke kampus,” kata Yocelyn. Setelah Nadine selesai mandi mereka berdua pergi ke meja makan. Ternyata Kalilan dan Mahardika sudah menunggu disana. Yocelyn dan Nadine menyapa keduanya dengan senyum merekah di wajah mereka. “Kamu kelihatannya senang sekali Lyn, ada apa?” tanya Mahardika. “Memangnya Mama belum cerita Pa?” jawab Yocelyn sambil cengengesan. “Belum,” jawab Mahardika singkat. “Jadi Yocelyn berniat untuk melanjutkan kuliahnya lagi Pa,” kata Kalila sambil menuang nasi kepiring suaminya. “Bagus kalau begitu, dengan begitu kamu akan menjadi pribadi yang lebih baik lagi dan kamu juga dapat mencetak prestasi di dunia pendidikan. Papa sangat bangga dengan keputusanmu,” ucap Mahardika. Semua yang ada di meja makan tersenyum bahagia. Sudah tidak ada lagi pertikaian antara Yocelyn dan papanya. Mereka pun mulai menyantap menu makan malam yang sudah dihidangkan oleh Kalila.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN