17. Asisten Cyin

1352 Kata
Bunyi alarm dari ponsel Yocelyn mengusik tidur indahnya pagi ini. Diraihnya benda pipih di sampingnya dan dengan berat mata Yocelyn terbuka perlahan. Waktu menunjukkan pukul enam pagi. Dia pun membuka matanya lebar-lebar dan membangunkan Nadine. Baru kali ini Yocelyn dengar bunyi alarm yang dipasangnya dan bangun lebih dulu daripada Nadine. Nampaknya dia sangat bersemangat untuk memulai kembali kuliahnya. “Dine, bangun sudah pagi. Kita ada janji dengan dosen wali jam setengah sembilan kan?” tanyanya sambil mengucek matanya. “Iya benar, tumben kamu bangun lebih dulu. Aku jadi merasa tak enak,” ucap Nadine. Di samping Yocelyn, Nadine tidur satu ranjang dengan sang aktris untuk sementara waktu. Bukan karena Nadine tidak memiliki tempat tinggal sendiri. Hanya saja Nadine merasa tidak tenang jika melepaskan Yocelyn yang mempunyai emosi suka meledak-ledak dalam kondisi seperti sekarang. “Enggak usah lebay bisa kan?” gerutu Yocelyn. Nadine terkekeh. “Ya sudah kamu mandi duluan sana biar aku yg akan menyiapkan bajumu. Aku juga akan menghubungi Pak Jo untuk menjemput kita jam setengah delapan,” kata Nadine. “Hah! Jam setengah delapan? Apa gak kepagian Dine?” tanya Yoclyn kaget. “Ya kita harus menghindari macet kan, yang terpenting Pak Jo harus sampai di sini sebelum kita berangkat,” tukas Nadine. “Ya sudah kamu atur saja aku mandi dulu,” ujar Yocelyn. Nadine sibuk menyiapkan baju yang akan di pakai Yocelyn dan segala keperluan lainnya. Dia juga sudah menelepon Pak Jo untuk menjemputnya di rumah Yocelyn seperti yang tadi dia bilang pada Yocelyn. Nadine merasa dia perlu mengajak satu orang asisten pribadi lagi untuk menemaninya mengantar Yocelyn ke kampus. Karena takutnya, banyak orang yang mengenal Yocelyn dan akan menyerbunya seperti biasa, dan kalau itu terjadi tentu Nadine akan merasa kerepotan. Segera dia menghubungi satu asistennya lagi untuk ikut bersamanya. "Oke, jadi nanti lu langsung aja ke rumah Yocelyn ya, jalan sekarang juga biar gak telat, gue maunya ketika Pak Jo sampai Lu juga harus udah ada disini, pokoknya gak pake lama!” cetus Yocelyn pada seseorang di telepon. “Siap beb, jangan khawatir! Akika pasti on time deh!” kata seseorang di sana. Nadine tertawa geli mendengar percakapannya dengan si asisten yang gemulai itu. Ya fisiknya memang laki-laki namanya Rafa tapi tingkahnya memang sangat aduhai dan menghibur. Walaupun lenje Rafa bisa menjadi penjaga Yocelyn yang sangat ampuh jika Yocelyn sedang di serbu para wartawan. “Hey! Kenapa senyam-senyum seperti itu?” kata Yocelyn ketika dia keluar dari kamar mandi dengan handuk di kepalanya. “Oh tidak! Aku baru saja menelepon Rafa dan mengajaknya untuk ikut bersama kita, karena aku rasa aku butuh bantuannya,” ucap Nadine. “Ya itu bagus, dia juga bisa membuat suasana menjadi lebih asik kan! Sudah sana mandi,” kata Yocelyn. Setelah Nadine dan Yocelyn keluar dari kamarnya, orang tua Yocelyn sudah menunggu mereka di meja makan untuk sarapan. “Pagi Ma, Pa,” sapa Yocelyn. “Pagi Sayang,” balas Kalila. “Papa suka semangatmu Lyn, Papa akan dukung apapun demi kebaikanmu,” ucap Mahardika sambil menatap bangga putrinya. “Terima kasih Pa, sesuai janji Celyn ke Papa dan Mama, Celyn akan kembalikan nama baik keluarga kita. Papa dan Mama tenang saja, mulai sekarang Celyn akan lebih berhati-hati sebelum Celyn melakukan sesuatu,” ucap Yocelyn. “Ya bagus. Memang seperti itu seharusnya,” kata Papa nya sambil menyeruput teh dari cangkirnya. “Kalau bukan dari kesalahan mau dari mana lagi kita belajar kan Pa,” ujar Kalila yang sedang mengoleskan di atas rotinya. Yocelyn dan Nadine tersenyum bahagia. Dan ketika mereka sedang asik menikmati sarapan sambil menunggu Pak Jo tiba-tiba saja si cacing kepanasan itu muncul dengan hebohnya. “Good morning Cyin ... Selamat pagi Aunty dan Uncle,” sapa si asisten lenje itu pada semua orang yang ada di situ. Mahardika terkejut dan hampir saja tersedak karena mendengan suara cempreng yang seperti mercon itu. Nadine menepuk jidat melihat tingkah si lenje itu. Kalila terkekeh melihat suaminya terkejut dan buru-buru menyodorkan minuman untuk suaminya itu. Yocelyn menatap Rafa dengan bola mata yang hampir keluar. “Bisa gak sih lu datang tanpa membuat onar? Paling enggak jangan pake teriak gitu!” semprot Yocelyn. “Sorry deh Cyin, abis tadi akika lihat rumah ini sepi-sepi aja sih jadi akika langsung cuss masuk ke dalam deh,” jawan Rafa sambil cengar cengir. “Kamu sudah sarapan Fa?” tanya Kalila ramah. “Sudah dong Aunty, akika kan harus mengisi tenaga untuk menjaga si artis ini,” balas Rafa sambil melirik Yocelyn. “Om minta kamu harus bisa menjaga putri Om satu-satunya ini, kalau sampai Yocelyn kenapa-kenapa Om tidak segan-segan mengirimmu ke Thailand,” seru Mahardika. “Ih .... Uncle kok serem banget ancamannya,” sungut Rafa dengan raut wajah ngambek. Mahardika tidak serius dengan ancamannya tadi. Dia memang senang sekali meledek asisten putrinya yang satu ini. Yang lain tertawa terbahak-bahak melihat kejadian ini. Suara klakson mobil terdengar dari luar rumah Yocelyn. Bisa di tebak itu pasti Pak Jo sudah tiba. Nadine pun bangkit dari kursinya dan berjalan keluar untuk menemui Pak Jo. Diliriknya jam tangan di pergelangan tangannya dan waktu menunjukkan pukul 7.15 WIB. Pak Jo datang lima belas menit lebih awal ternyata. “Pagi Pak! Sudah sarapan?” sapa Nadine. “Pagi Non! Saya sudah sarapan Non!” ucap Pak Jo. “Baiklah kalau begitu tunggu sebentar ya Pak, saya mau ambil barang-barang dulu,” kata Nadine. “Ada yang perlu saya bantu Non?” ucap Pak Jo. “Oh tidak perlu Pak, cuma sedikit kok, lagi pula sudah ada Rafa di dalam,” ujar Nadine. Nadine pun memberitahu Yocelyn dan Rafa bahwa Pak Jo sudah datang dan mereka harus siap-siap berangkat. Yocelyn pun bangkir dari kursinya dan berpamitan pada orang tuanya. Sebelum mereka keluar dari rumah Kalila mengingatkan mereka apa ada barang yang tertinggal. Tapi karena Nadine adalah orang yang sangar perfeksionis maka semua barang sudah ada di mobil dan mereka siap untuk berangkat. Mobil pun melaju menuju kampus yang di tuju. Di dalam mobil Yocelyn mengecek sekali lagi apa lembar-lembar KRSnya sudah lengkap atau belum. Dia menghela nafas ketika dirasa semuanya lengkap. Semoga saja dosen walinya tidak mempersulit urusannya. Nadine yang duduk di samping Yocelyn mengeluarka sebuah kamera dan menekan tombol On. Dia akan merekam aktifitas Yocelyn untuk di unggah ke sosial media. Dia memulai dengan membuat story di akun i********: milik Yocelyn. Yocelyn yang tak tahu sama sekali dengan rencana Nadine kali ini hanya bisa tersenyum tanpa banyak bicara. “Bismillahirohmanirrohim, semoga semua lancar,” tulis Nadine di storynya itu. Selesai Nadine mengeklik tombol send, banyak orang yang langsung melihat story itu dan tak lama kemudian banyak pesan yang masuk ke inbox akun i********: itu. Suara dering ponsel pun begitu ramai. Berbagai balasan dari banyak orang masuk ke pemberitahuan ponsel merah berlogo buah apel tidak penuh itu. “Rame banget Cyin. Padahal baru upload satu story loh,” cetus Rafa. “Ya kan yang punya stroy artis papan atas jadi wajar lah langsung diserbu oleh para netizen,” ucap Nadine. Yocelyn dan Rafa tertawa terbahak-bahak. Tak terasa mobil telah memasuki halaman parkir kampus tersebut. Nadine meminta Pak Jo berhenti di parkiran fakultas yang Yocelyn tuju. Nadine pun meminta Pak Jo untuk menunggu mereka sampai selesai tapi Pak Jo juga bisa keluar dari parkiran kalau merasa jenuh. Nadine, Yocelyn, dan Rafa segera keluar dari mobil. Nadine masih asyik dengan kameranya. Kali ini dia merekam segala kegiatan Nadine untuk di unggah ke akun youtube Yocelyn. Begitu mereka turun dari mobil banyak orang yang terpukau melihat kecantikan Yocelyn. Sebagian besar dari mereka adalah para mahasiswa yang berada disana. Para mahasiswa itu berbondong-bondong mengkuti Yocelyn. Wajar saja mereka bersikap seperti itu pada Yocelyn karena saat ini Yocelyn menampakkan wajah cantiknya tanpa penyamaran sedikit pun. Yocelyn, Nadine dan Rafa terus berjalan menuju lantai dua dimana ruang Badan Akademik Kemahasiswaan berada. Yocelyn menuju keruangan itu karena dia akan meminta cap dan stempel sebelum dia menemui dosen walinya. Rombongan mahasiswa yang mengikuti Yocelyn semakin ramai karena sebagian dari mereka ada yang bersiul, memanggil-manggil Yocelyn, serta ada yang berteriak meminta Yocelyn berhenti sejenak agar bisa berfoto bersama dan mendapatkan tanda tangannya. “Aduh Cyin kayanya lu akan mendapat banyak fans deh di sindang,” ucap Rafa. “Bagus dong, biar popularitas gue makin naik,” balas Yocelyn bangga. Mereka bertiga tertawa sambil berjalan dan masih tetap dibuntuti oleh segerombolan mahasiswa itu. Jauh di belakang mereka ada seorang laki-laki tampan yang hendak menuju ke arah yang sama oleh Yocelyn. Laki-laki itu terlihat bingung akan keadaan ramai di depannya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN