Zidan masih diam tidak bergerak apalagi bersuara. Yocelyn semakin kesal karena dia melihat Zidan tidak ikut menekan tombol lift yang akan dia tuju ketika Yocelyn menekan tombol angka sembilan. Yocelyn pun berpikir bahwa Zidan memang sengaja mengikutinya dan ingin membuntuti dirinya. “Dasar laki-laki sok jual mahal,” lirihnya sangat pelan. Bunyi lift tanda mereka sudah sampai di tempat yang mereka tuju. Pintu lift pun terbuka, dengan acuh Zidan jalan keluar dari lift. Yocelyn semakin kesal atas perbuatan Zidan. “Dasar angkuh!” umpatnya. “Kamu kenapa Lyn?” tanya Nadine sambil memperhatikan Zidan. Zidan terus melangkah tanpa menoleh sedikitpun. Sedangkan Yocelyn dan kedua rekannya masih terpaku di depan lift. “Ada apa sih Cyin? Kok kalian diam saja?” tanya Rafa. “Tidak tahu nih Yocely

