Bab 1 Ketemu Si Penolong

3023 Kata
Seorang perempuan memasuki ruangan meeting sebuah kantor. Ia menyapa orang-orang yang ada di dalam ruangan tersebut. “Assalamualaikum, pagi semua.” Ia duduk di bangku yang masih kosong. "Pagi Mbak Kal.” Beberapa karyawan menyapa wanita bernama Kaliandra yang baru masuk. Suasana ruangan terlihat ramai dengan obrolan masing-masing karyawan yang ada di ruangan. “Oke, kita mulai aja ya.” Seseorang mulai memimpin rapat. Rapat berjalan dengan lancar membahas semua proyek yang akan dikerjakan oleh timnya. "Jalan yuk habis ini.” Ajak perempuan yang duduk di samping Kal setelah rapat selesai. “Boleh, mau jalan kemana?” tanya Kal balik. “Jalan ke Mall aja yuk, sekalian kita nonton bioskop. Lagian lama kita nggak nontonkan?” Ajak gadis yang bernama Orlin. "Ada film yang seru nggak? Kalau kamu ngajak nonton film uwu-uwu gitu males banget.” Kal memutar bola matanya seakan bosan. Bukannya Kal tidak suka dengan film romantis, tetapi kalau nonton di bioskop lebih greget nonton film action. “Tapi kalau action boleh deh. Eh eh bukannya film Avengers udah mulai tayang ya?” tanya Kal sambil mencek jadwal penayangan film di situs website bioskop. “Waaaaah udah tayang nih, ini aja ya kita nontonnya gimana?” "Boleh, nggak sabar mau nonton babang Evans.” Mata Orlin berbinar. “Babang babang, noooh babangmu hubungin dulu, minta restu dulu sama paduka raja sana. Entar aku yang dibilang nggak tau diri ngajakin pacar orang jalan kesana kemari.” Kal menyodorkan handphone Orlin yang tergeletak di meja ke empunya. Kal suka sebel sendiri kalau mengingat kelakuan pacar sahabatnya ini yang kelewat posesif. Mau jalan dengan Orlin aja harus seizin pacarnya, kalau nggak Kal yang selalu disalahkan pacarnya. Bisa dibilang Kal dan Moris pacar Orlin tidak akur karena bagi Kal sikap posesifnya terhadap Orlin terlihat berlebihan. Baru juga pacaran udah gitu, gimana nanti kalau menikah? Bakalan dikurung terus kayanya Orlin. Bahkan keseringan Orlin tidak diperbolehkan jalan kalau tidak dengan Moris perginya. Terkadang diperbolehkan pun karena Orlin merengek dan ngambek dulu, itu juga harus melalui banyak wejangan dulu. “Hehehe bentar ya aku chat dulu yayang Moris.” Mendengar itu cewek yang dipanggil Kal mendelik sebal ke arah Orlin. Semakin heran kenapa Orlin betah dengan hubungan seperti itu. Kata pepatah cinta itu buta, t*i kucing aja bisa rasa coklat. Itu kali ya yang bisa menggambarkan cinta butanya Orlin kepada Moris. Mau seposesif apapun karna cinta jadi nggak masalah.  Nggak berapa lama terdengar deringan telpon dari handphone Orlin. “Pasti itu si curut.” Batin Kal. Orlin segera mengangkat telpon dengan senyum merekah, seakan-akan si penelpon bisa melihat ekspresinya. “Halo sayang, lagi ngapain?” “….” “Iya aku kangen juga sama kamu.” Terjeda sebentar karna ia fokus mendengarkan si pacar yang lagi berbicara dan raut muka Orlin berubah cemberut. “Pasti nggak dibolehin sama monyetnya.” Ucap Kal dalam hati sambil ikut menguping sambungan telpon pasangan tersebut. “Kenapa nggak boleh? Kan aku jalannya sama Kaliandra doang Yang, masa nggak boleh sih? Nggak ada cowok kok.” Orlin terlihat sebal sambil tetap fokus berbicara dengan Moris ditelpon. “Nahkaaan, apa kubilang? Parah ini cowok dari hari kehari. Kurung aja kalo gitu pacarnya.” Kal mengumpat dalam hati. “Udah kalau nggak bolehin aku pergi sendiri ajalah Lin.” Orlin cepat-cepat mengibas-ngibas tangan kearah Kal menandakan ia tidak setuju dan menyuruh Kal menunggu dulu. “Nggak mau, pokoknya aku mau jalan sama Kal, terserah kamu mau marah atau kesel. Bodo amat.” Orlin menegaskan dan langsung menutup telponnya. “Widiiih tumben berani gitu, nggak takut diputusin sama Yayang Moris?” Ujar Kal yang kaget dengan tingkah laku Orlin yang nggak biasanya. Biasanya ini anak pasti akan nurut apa kata pacar, secara ia sudah menjadi bucin Moris dari dulu. “Lin, sehatkan?” tanya Kal sambil memegang dahi Orlin dan bergantian menempelkan tangannya ke daerah pantatnya. “Asem.” Umpat Orlin sambil melotot. “Gitu dong temen eyke. Bucin boleh tapi kalau yang dibucinin sikapnya kaya Moris ya pikir-pikir dululah. Maaf ya maaf nih, cowok kamu parah sampai jalan aja nggak boleh.” Jelas Kal. “Makanya sekarang aku udah berani ngelawan. Bukannya mau ngelawan juga sih, cuman gimana ya aku mulai nggak betah sama sikapnya kaya gitu. Awal pacaran memang melting sama sikap dia yang perhatian dan selalu kemana-mana sama dia. Tapi kesininya kok malah banyak larangan. Gerah juga digituin.” Ungkap Orlin sambil menerawang perjalanan cintanya bersama Moris. “Aku kira kamu enjoy aja selama menjalani hubungan kaya gini, ternyata didalamnya….” Kal nggak melanjutkan kalimatnya sambil mengangkat bahu. “Ya udah yuk cus berangkat.” Ajak Kal.                                                                                  ͽͽͽ Aku belum mengenalkan diri namaku Kaliandra Altair Wardhani, biasanya orang memanggil Kal. Usiaku sudah menginjak kepala tiga alias 31 tahun. Aku bekerja sebagai dibidang marketing sebuah perusahaan. sudah lima tahun aku bergelut bekerja diperusahaan tersebut, sebelumnya gonta-ganti pekerjaan sampai akhirnya aku menemukan pekerjaan yang membuat aku betah. Bukan hanya masalah gaji tapi juga lingkungan kerjanya yang membuat aku nyaman dan betah. Nah kalau yang sekarang sedang bersamaku namanya Orlin Leandra. Ia merupakan temanku dari zaman kuliah, satu kampus, satu jurusan, dan satu angkatan. Oke sekarang kita kembali ke TKP. Kal dan Orlin berjalan keluar dari ruang teater. Mereka berjalan menuju pintu keluar bioskop sambil asyik bercerita tentang film yang baru di tonton beberapa menit lalu. Saat mendekati pintu keluar bioskop sebuah suara memanggil nama Orlin. Orang tersebut memanggil Orlin cukup keras sampai seluruh orang di lobby bioskop menoleh kearah laki-laki tersebut. Kal dan Orlin seketika menoleh keasal suara dan muka mereka menegang melihat siapa yang memanggil. “Lin mampus. Buto ijomu datang, aish bakalan ada perang dunia entah keberapa.” Bisik Kal ditelinga Orlin saat mengetahui siapa yang memanggil. Siapa lagi kalau bukan si Moris. Kal melirik muka Orlin yang seketika memucat di sampingnya. Ia bahkan tidak mengeluarkan kata-kata apapun, seakan melihat hantu yang datang. “Kamu sekarang berani ngelawan aku.” Moris memarahi Orlin tanpa basa-basi menyapa Kal yang ada di samping Orlin. Terlihat dari raut mukanya yang menyiratkan ketidaksukaan terhadap perilaku ceweknya. “Kalau aku bilang nggak boleh, ya nggak boleh. Paham nggak kamu?” Lanjut Moris. Tatapan marah Moris berpindah kepada Kal. “Dan kau jangan mempengaruhi Orlin macam-macam.” Ucap Moris tajam kepada Kal. “Heh siapa juga yang mempengaruhi Orlin yang nggak-nggak. Asal tau aja ya kami sudah berteman sebelum ada kau dikehidupannya Orlin. Kau yang malah bikin hidup Orlin terkekang karna sikap posesifmu.” Tunjuk Kal yang merasa tidak terima disalahkan. Orlin yang sedari tadi mematung, hanya diam dan menundukkan kepala. “Diam kamu cewek barbar.” Tunjuk Moris kepada Kal.  Seketika Kal naik pitan mendengar perkataan Moris. Ia ingin membalas tetapi perdebatan mereka membuat orang di sekitar memperhatikan. Melihat Orlin hanya bergeming di sampingnya, Kal langsung menggandeng lengan Orlin dan menarik keluar dari bioskop. Melihat itu Moris tidak tinggal diam, ia dengan cepat menahan lengan Orlin yang satunya. “Kamu nggak paham juga ya? Lepas nggak?!” Bentak Moris kepada Kal. Namun, Kal tetap menarik lengan Orlin untuk menjauhi Moris. Akan tetapi, tidak berhasil karena Moris tetap menahan lengan Orlin. Seketika Moris menyentak lengan Orlin ke belakang sehingga tubuhnya tertarik ke arah Moris dan genggaman Kal terlepas. “Jangan pernah ikut campur urusan kami, urus saja urusanmu nona.” Kata Moris sambil menatap tajam ke arah Kal. Setelah mengucapkan itu ia menarik Orlin pergi. Di luar bioskop Moris tetap menarik kasar lengan Orlin. Bahkan saat Orlin menangis kesakitan pun ia tidak peduli. Kal mengejar dibelakang mereka. Ia tidak akan membiarkan Orlin disakiti oleh laki-laki gila seperti Moris. “Moris berhenti nggak? Kalau nggak berhenti aku panggilkan satpam!” Ancam Kal sambil melihat sekelilingnya mencari satpam atau siapapun yang bisa menolongnya menghentikan laki-laki gila itu. Tanpa sengaja ia menabrak seorang laki-laki sampai terjatuh. Melihat Moris sudah menuju eskalator, ia meminta bantuan kepada laki-laki yang ditabraknya. “Mas tolong saya, temen saya diculik.” Kata Kal sambil menunjuk Moris dan Orlin yang berasa tidak jauh di depannya. “Kenapa temannya?” Ucap laki-laki itu sambil memperhatikan orang yang ditunjuk oleh Kal. “Aduh tolong dong mas, itu teman saya diculik cowok gila. Nggak liat dia diseret paksa gitu. Please…” Kal memohon pada cowok tersebut. Terlihat cowok itu menimbang-nimbang mau membantu Kal atau nggak. “Imbalannya apa kalau saya mau bantuin teman kamu?” tanya cowok itu dengan tatapan genit ke arah Kal. Kal menatap cowok di depannya dengan mengerutkan kening heran melihat tatapan genitnya. Pandangan Kal beralih mencari Moris dan Orlin yang sudah menuruni eskalator. “Apa aja saya bakal kabulin asal cepetan bantuin teman saya, itu sudah nggak kelihatan lagi batang hidungnya.” Kal mulai makin panik. “Oke kalau gitu, saya bantu tapi janji ya?” Cowok itu mengedipkan sebelah matanya ke arah Kal. “Iya, makanya cepetan dooong.” Balas Kal. Kal dan cowok itu langsung mengejar Moris dan Orlin yang entah sudah di mana keberadaannya. Setelah menuruni dua lantai mereka berhasil menemukan Moris dan Orlin yang berjalan ke arah pintu keluar. Terlihat Orlin masih berusaha berontak diantara tarikan tangan Moris. Perilaku mereka menjadi perhatian orang-orang yang berada di Mall tersebut. Kal dan cowok itu berhasil mengejar Moris dan Orlin ke basement. “Hey dude!!” Panggil cowok yang bersama Kal. “Wah masa sama cewek main kasar gitu, nggak gentle.” Cowok itu tersenyum miring ke arah Moris seakan-akan mengejek Moris. Mendengar ucapan itu Moris menghentikan langkahnya dan berbalik melihat ke belakangnya. “Siapa anda? Jangan ikut campur urusan kami!” Balas Moris dengan tatapan sinis. “Saya tidak akan ikut campur urusan anda seandainya anda tidak kasar dengan perempuan.” Ia menggerakkan dagunya ke arah Orlin yang masih digenggam Moris. Ekspresi Orlin terlihat meringis karena lengannya memerah akibat cengkeraman tangan Moris. “Lepasin Orlin Ris. Dia nggak salah apa-apa, aku yang ngajak dia jalan.” Ujar Kal berbohong untuk meredakan amarah Moris. Ia tidak tega melihat sahabatnya disakiti seperti itu. “Aku tekankan jangan pernah mendekati Orlin lagi. Aku nggak suka kamu membawa sifat nggak baik buat Orlin sampai dia jadi cewek pembangkang kayak kamu.” Moris menekankan kata pembangkang sambil menunjuk muka Kal. Kal terperangah mendengar ucapan Moris. “Bukannya ini cowok ya yang nggak baik buat Orlin, saraf ini orang.” Batin Kal. “KAMU YANG MEMBAWA DAMPAK BURUK BUAT AKU.” Teriak Orlin membuat Moris yang di sampingnya kaget dan melepas genggaman tangannya pada tangan Orlin. Kal pun yang mendengar ucapan Orlin kaget karena selama ini Orlin selalu mengalah dan tidak pernah melawan dengan sikap posesif Moris. “Kamu sekarang udah berani membentak aku ya?! Makanya aku nggak suka kamu bergaul sama temen kamu satu ini. Dia membawa pengaruh buruk buat kamu!” Moris semakin emosi mendengar Orlin yang selama ini penurut berani membentaknya. “Ayok pulang!” Moris menarik paksa tangan Orlin. Orlin mencoba berontak namun apa daya tenaganya kalah dengan lengan kekar Moris. Kal dengan cepat berjalan ke arah Moris dan menarik lengan Orlin yang berada digenggaman Moris. “Lepasin atau kamu mau ditonjok sama cowok aku?!” Kata Kal mengarahkan kepalanya kepada pria di sampingnya. Cowok yang disebut Kal hanya melirik ke arah Kal kemudian menatap tajam ke arah Moris seakan menantang. “Bro, lepasin deh sebelum masalah makin besar!” Ancam cowok itu “Siapa anda berani ngancam saya? Anda yang akan mendapat masalah kalau berani ikut campur.” Moris tidak gentar dengan ancaman, malah ia mengancam balik. “Ayo pulang!!” Moris kembali menarik lengan Orlin. Orlin mencoba berontak tapi apa daya tenaga cowoknya tidak sebanding dengan kekuatannya. Kal langsung melempar tatapan memelas meminta pertolongan kepada cowok yang namanya pun ia tidak tahu, hanya keselamatan Orlin yang terlintas dipikirannya. Melihat itu cowok tersebut langsung maju mengejar Moris sebelum semakin jauh dan langsung menarik lengan Orlin yang bebas dari genggaman Moris. “Maaf Bro, saya nggak tahan liat cewek dikasarin oleh cowok. Lepas atau anda berhadapan dengan saya?”  Melihat langkahnya dihalangi oleh orang yang sama sekali tidak ia kenal, Moris semakin terbakar emosi dan langsung melayangkan kepalan tangan ke arah cowok tersebut. Cowok itu refleks menghindar sehingga genggamannya terlepas dari lengan Orlin. Sedetik kemudian cowok itu membalas dengan meninju wajah Moris. Tinjuannya berhasil mengenai hidung Moris sehingga membuat Moris tersungkur ke belakang. Melihat lawannya jatuh cowok itu memanfaatkan kelengahan Moris dan langsung menghajar wajah Moris beberapa kali. Orlin menangis melihat pertengkaran tersebut. Ia ingin melerai tetapi rasanya tidak ada tenaga sehingga ia jatuh terduduk ke lantai basement sambil menutup wajah menangis. Kal yang melihat Moris sudah babak belur dibagian wajah, langsung berusaha menahan cowok penolongnya agar menghentikan pukulannya. “Sudah Mas, jangan diterusin. Dia sudah babak belur gitu.” Ada perasaan bersalah dihati Kal melihat Moris yang luka dan sahabatnya menangis. Si penolong menghentikan pukulannya setelah ditahan Kal.  Kal langsung menghampiri Orlin yang masih menangis dan membantunya berdiri. Mereka bertiga segera pergi dari tempat tersebut meninggalkan Moris yang babak belur. “Semoga Moris bisa mengurus dirinya sendiri.” Kal dalam hati. Bagaimana pun ada sebagian hatinya merasa kasian melihat kondisi Moris tetapi ia enggan untuk membantu karna ini disebabkan perilaku Moris sendiri. "Kamu nggak apa-apa?" Kal menatap ke wajah cowok yang sedang mengemudi disampingnya. Setelah meninggalkan Moris mereka bertiga pergi dari Mall dengan mobil Si Penolong demi keselamatan Kal dan Orlin. Kal takut Moris yang emosi akan mengikuti mereka dan mengamuk lagi, mending mereka pepetin sementara Si Penolong dulu. Lagipula kondisi Orlin masih kacau pasca perkelahian itu. Ia sudah tida menangis sekeras tadi, tapi masih terlihat buluran air mata masih jatuh di pipinya. "Kaya yang kamu liat, I'm fine." Sahut Si Penolong sambil melemparkan senyum ke arah Kal. Entah apa yang membuat Kal berani mengikuti cowok ini. Kalau dilihat dari tampilannya seperti orang baik tapi zaman sekarang nggak bisa menilai dari tampilannya aja. Perawakannya bisa dibilang wajahnya masuk kategori good looking. Tinggi badan sekitar 180cm, kulit sawo matang, dan dari bentuk tubuhnya terlihat atletis seperti dijaga dengan olahraga. "Jangan kelamaan dipandang, nanti naksir lagi." Goda cowok itu. Kal langsung mengalihkan pandangannya ke depan karena malu kepergok merhatiin cowok itu. "By the way, tujuan kita kemana nona-nona?" Tanya cowok itu sambil menatap bergantian Kal dan Orlin yang berada di belakang lewat kaca spion tengah. “Minta tolong anterin ke rumah ya. Nanti aku tunjukin alamatnya.” Melihat kondisi Orlin sekarang, nggak mungkin untuk meneruskan acara jalan-jalan mereka. “Oke, siap.” “Makasih ya.” Ucap Kal tulus yang dibalas dengan senyum manis Si Penolong.                                                                                                 ͽͽͽ  "Itu rumahnya yang pagar hijau." Tunjuk Kal ke arah sebuah rumah yang berada di sebelah kanan. "Yuk lin." Ajak Kal kepada Orlin yang diam saja dari tadi di jok belakang. Orlin langsung turun tanpa membalas perkataan Kal. Orlin sengaja nggak mau diantar ke rumahnya karena perasaannya masih kacau. Selain itu, ia tidak mau pulang dengan kondisi mata sembab dan hidung merah seperti habis lomba makan cabe gini. "Teman kamu beneran nggak apa-apa?" Tanya Nandri yang memang sepanjang perjalanan tadi ia sesekali memperhatikan Orlin. Namun, ia nggak berani mengajak cewek itu ngobrol, walaupun sekedar menanyakan kondisi cewek itu. "Dibilang nggak apa-apa ya kenapa-kenapa sih." Sahut Kal sambil garuk.garuk kepalanya yang nggak gatal. Ia juga bingung bagaimana menjelaskannya. "Sebentar ya saya bukain kunci pagar dan rumah dulu." Kal langsung turun dari mobil meninggalkan cowok yang baru dikenalnya itu sendiri dalam mobil. Setelah membukakan kunci pagar dan rumah untuk Orlin, Kal segera ke depan pagar untuk menemui cowok itu. Cowok itu terlihat santai bersandar disisi mobilnya "fix ini cowok ganteng. Dibawah matahari makin kelihatan gantengnya. Kulit sawo matangnya makin membuat ia terlihat makin seksi. Apa lagi ditambah postur tubuhnya yang tinggi dan atletis. Haduh sempet-sempetnya kamu Kal cuci mata." Kal memanjakan mata dengan menatap makhluk Tuhan yang seksi. "Makasih ya sudah diantar. Maaf jadi ngerepotin dua kali." Ucap Kal tidak enak karena sudah merepotkan cowok itu. Memang nggak tahu malu si Kal, nggak enaknya setelah sudah ngerepotin. "Mana tadi seenaknya aku nyuruh-nyuruh dan maksa dia. Aduh malunya baru sekarang." Kal menyesali dalam hati. "Nggak apa-apa kok. Kalau ada apa-apa kabarin aja." Jawab cowok itu sambil mengedipkan mata. Kal menyerngitkan alis melihat kedipan mata cowok di depannya. Orlin sudah duluan masuk ke rumah dan hanya tinggal Kal yang menghadapi cowok itu. "Oh iya kita belum kenalan. Nama saya Nandri." Kata Nandri mengulurkan tangan kepada Kal. "Saya Kal." Jawab Kal pelan. "Kal??" Tanya Nandri heran. "Kaliandra tapi biasanya orang-orang manggil cuman Kal." "Oooh kirain cuman Kal doang. Saya nggak ditawarin mampir nih?" Nandri menampilkan senyumnya. Seketika Kal baru sadar bahwa dari tadi mereka berdiri didepan pagar rumah. "Ya ampun Kal, udah ngerepotin orang, nggak sopan lagi." Rutuk Kal dalam hati. "Oh iya maaf, sampai lupa nawarin mampir. Silahkan masuk mas." Kal mempersilahkan Nandri masuk ke pekarangan rumahnya. "Duduk di luar aja kali ya, adem disini." Nandri menunjuk bangku di teras rumah Kal. "Sebentar ya saya masuk dulu bikinkan minum. Mau minum apa?" "Jus alpukat ada?" tanya Nandri. "Hah?? Eee jus alpukat?? Maaf mas di sini bukan restoran jadi nggak ada. Kalau air putih ada" Jawab Kal. "Hahahaha bercanda kok cantik." Nandri ketawa mendengar jawaban Kal. "Ini cowok kok suka banget dari tadi goda. Baru juga pertama kali ketemu sudah berani manggil cantik. Harus hati-hati nih, jangan-jangan yang dia minta tolong ini buaya darat." Kal mulai pasang mode waspada. "Nggak kok, ada minuman lain. Mau Kopi atau teh atau air putih" Balas Kal sambil tersenyum. "Hahahaha apa aja yang dibuat oleh cantik pasti abang minum." Nandri mengedipkan lagi sebelah matanya. "Ini orang kayaknya ada masalah mata deh. Dari tadi ngedip-ngedip mulu."  Kal lalu permisi masuk ke rumah membuatkan minuman untuk tamunya. Tidak berapa lama Kal keluar sambil membawa secangkir kopi dan beberapa toples cemilan. Kal menyajikan minuman kopi dan camilan untuk Nandri di atas meja. "Makasih cantik." Ucap Nadri.  "Sama-sama, silahkan diminum dan diicip-icip cemilannya mas." "Iya." Nandri langsung meminum seteguk kopinya. "Kok sepi keluarganya pada kemana?" Tanya Nandri sambil mengedarkan pandangannya. "Kebetulan saya tinggal sendiri di sini mas." Jawab Kal sekenanya. "Kal usianya berapa?" Tanya Nandri lagi. "Kenapa mas nanya-nanya usia? Lagi sensus penduduk ya?" Kal heran sama Nandri, tiba-tiba nggak ada angin nggak ada hujan nanya usia. "Hehehe kan biar makin kenal. Kali aja kita jodoh." Nandri tersenyum dengan memamerkan gigi putihnya. "Haduh mas, kalau nanyain umur kecewek itu sensitif, mending nggak usah tanya usia deh." Jelas Kal karena ia risih ketika ditanya tentang usia. "Oo sorry, nggak tahu." Nandri menampilkan cengirannya. Kal memperhatikan Nandri dari atas sampai bawah dengan cermat dan menyimpulkan ternyata bukan cuman ganteng cowok yang dihadapannya ini tetapi memang ganteng pake banget. Ditambah tiap dia senyum manis banget lagi, bisa diabetes kalau keseringan lihat dia senyum, ketampanannya dikategorikan diatas rata-rata. "Kal sudah berkeluarga?" Pertanyaan Nandri menyadarkan Kal dari kegiatan mengobservasi Nandri. "Maaf? Mas nanya apa tadi?" Tanya Kal. Takut indera pendengarannya salah tangkap. Ia heran dari tadi cowok ini bertanya yang aneh-aneh. "Kal sudah menikah?" Ulang Nandri. "Kenapa memangnya mas? Mas mau melamar saya?" Canda Kal. "Iya." Jawab Nandri yakin dan cepat. "Hah??"                                                                                                   ͽͽͽ 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN