Bab 2 Tawaran Si Penolong

2318 Kata
“Hah?? Gimana maksudnya mas?” “Jawab dulu pertanyaan saya, Kal sudah berkeluarga belum?” Nandri ingin memastikan status Kal. Kal bingung harus menjawab apa. Kalau ditanya sudah berkeluarga atau belum, gampang aja mau jawab “belum” tapi Kal merasa cowok ini aneh. “Mas Nandri bisa aja bercandanya.” Kal tertawa garing karena memang nggak ada hal lucu untuk ditertawakan. “Beneran, saya serius mau ngelamar kamu.” Terlihat dari ekspresi wajah Nandri kalau ia tidak main-main. “Waduh mas, kalau mau bercanda boleh tapi jangan masalah lamar-melamar dong mas.” Sahut Kal. “Saya nggak bercanda. Tadi saya sudah nolong kamu sama teman kamu lho, sekarang saya menagih janji kamu.” Seketika Kal teringat janjinya yang akan mengabulkan permintaan cowok ini sebagai imbalan karena sudah membantunya dan Orlin lepas dari Moris di Mall tadi. “Emang mas ada permintaan apa yang harus saya kabulkan?” Tanya Kal hati-hati karena agak waswas kalau permintaannya yang aneh-aneh. “Saya mau kamu jadi kakak ipar saya.” Jawan Nandri cepat. Kal terkejut dengan permintaan yang tidak masuk akal. Tadi ia berpikir bahwa cowok ini mungkin hanya bercanda dengan niatnya melamar. Namun, melihat keseriusan dimuka tampannya, oke mungkin cowok ini beneran tertarik dengan dirinya. Kalau kata orang-orang love at the first sight gitu. Akan tetapi, semua dugaan Kal melenceng berbeda jauh dari yang diucapkan Nandri. “Jadi kakak iparnya? Wah makin ngelantur aja omongan ini cowok.” batin Kal. “Kakak ipar? Kakak ipar mas? Jadi maksudnya saya mau dijodohkan sama kakaknya mas gitu?” Kal memastikan maksudnya Nandri. “Iya betul, Kal mau nggak?” Tanya Nandri lagi. “Saya aja nggak kenal kakak mas, kok bisa-bisanya mau jodohin saya sama kakak mas? Dan lagi kita baru pertama ketemu lho.” Kal mengerutkan alisnya sambil menatap Nandri aneh. “Okay..okay, mungkin Kal bingung dan aneh dengan niat saya. Tapi saya disini nggak ada maksud jahat atau niatan menipu sama sekali.” Nandri meyakinkan Kal. Nandri melanjutkan, “Saya punya seorang kakak laki-laki, usianya sekitar 37 tahun. Ia bekerja sebagai dokter spesialis bedah di salah satu Rumah Sakit ternama di kota ini. Nah kebetulan dia lagi cari pendamping hidup. Kalau saya lihat Kal masuk kategori kriteria cewek kakak saya.” "Ih ini orang sok tau, kenal aja baru tadi. Sok-sokan bilang aku kriteria kakaknya lagi. Aaaah pasti mau nipu nih. Ganteng-ganteng penipu, ckck.” Kal mulai jengah meladeni Nandri. “Maaf mas, kebetulan saya sudah punya tunangan. Sebentar lagi kami mau nikah.” Kal berbohong. “Mas boleh minta imbalan apa saja tapi maaf saya nggak bisa kalau memenuhi permintaan mas yang satu ini.” Kal tersenyun sopan. “Waaah sayang banget kamu sudah ada yang punya. Bener nih nggak nyesel?” Goda Nandri. “Kakak saya kaya raya lho, hartanya banyak.” Nandri mencoba meyakinkan sambil tersenyum jahil. “Iya maaf ya mas. Saya sudah cinta mati sama tunangan saya.” Jawab Kal yakin. “Kamu cinta mati sama tunangan siapa Kal? Hedeeeh yang ada kamu mau mati saking bosannya dikejar-kejar suruh nikah. Gini deh nasib jomblo, kita yang jomblo enjoy tapi orang lain yang kayak cacing kepanasan ngelihat status kita.” “Ya sudah kalau gitu. Sayang banget Kal sudah ada yang punya.” Nandri menghela napas. “Kalau gitu saya pamit dulu ya Kal. Makasih jamuannya.” Nandri pamit pulang kepada Kal. “Eh terus imbalannya gimana? Mas nggak kepengen ngajuin permintaan yang lain gitu? Atau mau dibayar pakai uang?” Tanya Kal. “Hahahahahaha nggak usah. Anggap aja tadi saya beramal bantuin sesama manusia.” Jawab Nandri dengan senyum tampannya. “Saya pulang dulu ya Kal, salam buat temanmu yang tadi.” Pamit Nandri dan dijawab Kal dengan anggukan kepala. Kal mengantarkan Nandri sampai depan pagar rumahnya. “Makasih banyak ya atas bantuannya hari ini.” Ucap Kal tulus. “Iya sama-sama.” Dibalas Nandri sambil memamerkan senyum tampannya. “Oh iya Kal, ini kartu nama saya. Kalau Kal berubah pikiran bisa hubungin saya ya.” Ucap Nandri sambil mengedipkan sebelah matanya ke arah Kal. Kal menerima kartu nama tersebut sambil menganggukkan kepala. “Masih aja nawarin.” Ucap batin Kal. Nandri langsung masuk ke mobilnya dan berlalu minggalkan rumah Kal. Kal memperhatikan mobil Nandri sampai hilang dari pandangannya.                                                                                          ͽͽͽ   “Sudah balik cowok itu Kal?” Tanya Orlin ketika melihat Kal memasuki rumah. “Iya sudah, baru aja balik.” Jawab Kal. “Maaf ya nggak bisa nemenin kamu duduk di depan sama cowok itu. Aku juga belum sempat bilang makasih sama dia.” Sesal Orlin. “Udah nggak apa-apa, paling dia paham kondisi kamu.” Kal menenangkan Orlin. “Kenapa mukanya gitu?” Tanya Orlin heran melihat ekspresi kebingungan diwajah Kal selepas berbicara dengan cowok tadi. “Aneh nggak sih Lin kalau kita baru pertama kali ketemu terus langsung ditawarin nikah?” Tanya Kal. “Siapa yang ngajakin nikah? Cowok tadi ngajakin kamu nikah?” Orlin balik bertanya. “Ah nggak kok. Cuman iseng aja nanya.” Kilah Kal. “Eh gimana perasaan kamu? Sudah tenang?” Kal mengalihkan pembicaraan. Ia memperhatikan mata Orlin yang masih sembab. Terlihat dari wajahnya Orlin masih sedih tentang kejadian di Mall tadi. “Tenang nggak tenang Kal. Dibilang tenang ya hati masih kalut karena kejadian tadi, tapi dibilang nggak tenang ya alhamdulillah nggak sekalut tadi. Agak mendinganlah sekarang.” Jelas Orlin sambil menghela napas. Orlin tidak menyangka Moris akan bertindak sejauh itu. Selama mereka menjalin hubungan, Moris hanya pernah sampai marah biasa. Namun, kejadian hari ini membuat Orlin sadar bahwa hubungan mereka berkembang makin tidak sehat tanpa ia sadari. Awalnya Moris hanya melarang hal-hal wajar saja seperti melarang Orlin keluar atau jalan malam, pergi melewati tempat yang sepi, dan hal-hal lain yang memang bagi Orlin masih wajar untuk seorang kekasih khawatir. Akan tetapi, sekarang Moris sudah berani mengatur jadwal dan kegiatan Orlin. Bahkan mengekang kebebasannya dalam bergaul. Puncaknya kejadian hari ini yang betul-betul membuatnya sadar. “Terus gimana kelanjutan hubungan kamu sama Moris?” Tanya Kal hati-hati. “Nggak tau Kal, jujur aku masih bingung dengan ending hubungan kami.” Jawab Orlin bingung. Sorot mata Orlin terlihat bahwa sang empunya merasa sedih sekaligus bimbang. Bohong kalau sekarang ia sudah tidak cinta dengan Moris. Bagi Orlin tidak semudah itu menghilangkan rasa cintanya kepada Moris. Kenangan bertahun-tahun yang mereka lalui hingga saat ini terlalu sulit untuk dilupakan begitu saja, tetapi memaafkan perilaku Moris pun ia tidak bisa karena sudah keterlaluan. “Ya sudah Lin, kamu tenangin diri aja dulu. Nanti kalau sudah tenang baru pikirkan tindakan apa yang mau kamu ambil.” Kal mencoba menenangkan Orlin. “Kalau mau nenangin diri, nggak apa-apa nginep di sini aja dulu.” Kal menepuk-nepuk pundak Orlin. “Iya, makasih ya Kal.” Balas Orlin dengan tersenyum lemah. Ia bersyukur masih ada Kal yang mau menemaninya. Ia tidak mungkin pulang dengan kondisi begini, bisa-bisa diinterogasi oleh orang tuanya.                                                                                       ͽͽͽ   Menjelang malam ponsel Kal berbunyi menandakan ada telpon masuk. Kal buru-buru mengambil ponselnya yang ada di nakas samping tempat tidurnya. Terlihat nama mama di layar handphone-nya. Sebelum mengangkat telpon dari ibunya, ia terlebih dahulu memunajatkan doa agar sang ibu menelpon bukan mau membahas tentang nikah lagi. “Assalamualaikum mama sayang. Apa kabar ratuku yang sudah mau melahirkan Kal ke dunia?” Seperti biasa sambutan pertama Kal selalu nyeleneh kalau sudah berbicara dengan ibunya. “Walaikumsalam, oh masih inget siapa yang susah-susah melahirkan kamu? Kirain sudah nggak inget lagi, soalnya nggak pernah telpon mamanya lagi sekarang.” Sindir sang ibu. “Bukan nggak mau lho ma, tapi Kal beberapa minggu ini memang banyak kerjaan di kantor.” Sahut Kal. “Alaaah alasan klise kamu. Bilang aja sudah nggak inget sama mama lagi.” Terdengar suara ngambek ibunya ditelpon. “Iiih ibunda ratu janganlah gitu. Mana mungkin adinda melupakan ibunda ratuku.” Kal berusaha merayu ibunya yang sedang ngambek. “Mama sehatkan di sana?” “Alhamdulillah sehat, kamu gimana di sana?” Tanya ibu Kal balik. “Alhamdulillah Kal sehat wal’afiat di sini mah.” Jawab Kal. Kal memang tinggal terpisah dengan orang tuanya. Kal memilih merantau di Jogja setelah menyelesaikan studi S2-nya sedangkan keluarganya di Kalimantan. “Kamu itu, mbok ya sering-sering kasih kabar kemama. Mama tau kamu sibuk, tapi paling nggak sempetin minimal buat chat mama.” Masih terdengar suara merajuk ibunya ditelpon. “Iya, maaf ya mamaku sayang. Kal janji bakalan sering ngabarin kondisi Kal di sini.” Balas Kal sambil tersenyum. “Awas ya kalau nggak.” Ancam ibu Kal. “Terus gimana perkembangan progres calon mantu mama?” Tanya ibu Kal tiba-tiba. “Tuhkan mulai lagi, ini yang bikin aku memilih jarang berkomunikasi dengan mama. Calon mantu lagi, calon mantu terus yang dibahas tiap telpon.” Tanpa sadar Kal mendesah pasrah. “Belum ada progres signifikan mah. Ditilik dari teropong masih belum kelihatan tanda-tanda hilal jodohnya. Nggak tau kemana pergi si hilal.” Jawab Kal sembarang. “Hilal ramadhan sama lebaran aja tiap tahun kelihatan Kal. Masa hilal jodoh kamu nggak kelihatan juga sih sampai sekarang. Kamunya aja kali yang nggak usaha cari jodohnya.” Omel ibu Kal. “Ya Allah mama, gimana coba carinya?! Masalah jodoh sudah ada yang ngatur ma, kita cuman nunggu kapan tiba.” Sahut Kal mulai kesal. “Rezeki aja diusahain buat didapat Kal. Kamu juga gitu, usaha cari jodoh dong. Kamu kira jodoh kayak durian runtuh, tinggal nunggu jatuhnya aja. Dapetin durian pun nggak cuman harus nunggu Kal, tapi bisa dipetik juga.” Lanjut ibu Kal. “Gimana usahanya ma? Coba kasih tau Kal, gimana carinya?” Tantang Kal. Dia nggak mau terkesan melawan ibunya yang telah melahirkannya, tetapi kalau situasinya seperti ini mau nggak mau ia akan mendebat ibunya. “Buka hati kamu Kal. Mama yakin banyak yang deketin kamu tapi kamunya yang menutup diri.” Jawab ibu Kal. “Mama tau kamu masih trauma dengan kejadian dulu, tapi itu sudah lama berlalu Kal. Kamu harus bisa…” Ucapan ibunya Kal terhenti. “Ma, sudah dulu ya Kal ngantuk. Besok harus pagi-pagi ke kantor. Bye mama, assalamualaikum.” Kal memutuskan sambungan telpon secara sepihak. Ia tidak suka kalau ibunya mengungkit peristiwa itu. Tiba-tiba rasa sakit menyusup kehatinya tanpa permisi. Ia sudah tidak mau mengingat tragedi itu lagi. Cepat-cepat Kal mengenyahkan kenangan itu sebelum mood-nya hancur. Ia memilih menunaikan sholat isya dan tidur lebih awal.                                                                                          ͽͽͽ   Terangnya cahaya mentari mulai memasuki celah-celah jendela kamar membangunkan Kal dari tidurnya. Selepas sholat subuh Kal memilih kembali bergelung di ranjangnya karena hari minggu pagi ini ingin ia digunakannya untuk bermalas-malasan. Sudah seminggu setelah peristiwa yang melibatkan Moris. Semua berjalan dengan lancar seperti biasa. Walaupun terkadang masih terlihat kalau Orlin bersedih dan hubungan mereka pun bisa dibilang gantung tanpa kejelasan. Tidak ada inisiatif antara Orlin atau Moris untuk menghubungi duluan. Kal pun tidak berani menanyakan atau ikut campur masalah sahabatnya itu. Ia cukup tahu batasan dalam hubungan pertemanan. Kal menggeliat-geliat di kasur dengan malas. Ia tidak ada rencana mau kemana-mana. Kal akan menghabiskan waktu liburnya di rumah saja. Tiba-tiba handphone Kal berbunyi tanda ada panggilan telpon masuk. Dengan malas Kal berguling ke sisi tempat tidurnya mengambil handphone-nya di atas nakas. “Assalamualaikum Lin, tumben pagi-pagi telpon. Ada apa nih?” Tanya Kal. “Walaikumsalam mblo, ngapain aja mblo libur gini?” Orlin bertanya balik. “Nggak ada, eyke mau guling-guling aja di kasur seharian.” “Diiih ini anak. Tetap produktif dong walaupun libur.” Sahut Orlin diseberang telpon. “Nggak ah males, aku udah produktif dari senin sampai sabtu. Minggu waktunya leyeh-leyeh dong.” Balas Kal tidak mau kalah. “Dasar kang malas. Sekarang cepetan mandi dan siap-siap. Sejam lagi aku jemput ke rumahmu.” Perintah Orlin “Duh males ah. Emang mau kemana sih?” Tanya Kal malas. “Udah ikut aja, biar hari liburmu produktif. Bye.” Orlin memutuskan hubungan telpon. “Apaan sih ini anak, main suruh-suruh aja.” Ucap Kal kesal sambil menatap smartphone-nya. “Ya sudahlah ikut aja sekalian jalan-jalan.” Kal bangun dari tempat tidurnya dan bersiap-siap untuk mandi.                                                                                               ͽͽͽ   “Ini yang dibilang liburan produktif?” Lirik Kal sebal ke arah cewek di sebelahnya yang tak lain tak bukan Orlin. “Iya dari pada kamu di rumah nggak jelas, mending di sinikan.” Sahut Orlin sambil memilih baju. Sekarang mereka ada di salah satu toko di Mall menemani Orlin shopping. “Udah tau kalau aku nggak suka shopping baju.” Balas Kal malas. “Ini bagus nggak dibadan aku?” Tanya Orlin tanpa menghiraukan komentar Kal. “Eeemmm baguuuus.” Jawab Kal dengan lirikan singkat kea rah Orlin. “Kal serius dong. Perhatiin bener-bener baru komentar.” Orlin sebal mendengar komentar Kal yang asal-asalan. “Iya bagus kok. Cucok meonglah dibadanmu.” Ucap Kal sambil mengacungkan jempol ke arah Orlin. Kal bukan tipe cewek yang suka shopping baju atau tas. Kalau disuruh milih dia akan lebih memilih shopping makanan atau novel. “Okay, tunggu di sini ya, aku ke kasir dulu bayar.” Sepeninggal Orlin Kal mengedarkan pandangannya sambil melihat-lihat baju yang dipajang. Tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. “Hei Kal.” Kal langsung membalikkan badannya. Kal terkejut di depannya sudah berdiri Nandri dengan menampilkan senyum tampannya. “Oh hai mas Nandri.” Balas Kal dengan senyum canggung. “Nggak nyangka kita ketemu di Mall lagi ya. Sama siapa ke sini?” Tanya Nandri sambil mengedarkan pandangan di sekitar Kal. “Sama temen, kebetulan dia lagi ke kasir.” Jawab Kal. “Oh gitu, lagi shopping ya?” Tanya Nandri basa-basi. Di belakang Nandri terlihat laki-laki yang sedang menatap Kal tajam dari kepala sampai kaki seperti sedang menilai Kal. Laki-laki itu nggak kalah tampan dari Nandri, malah ketampanannya bisa dibilang diatas Nandri. Matanya terlihat tajam dibalik kacamatanya, hidungnya mancung, dan alisnya tebal. Perawakannya tinggi, badannya tegap, dan kulitnya agak gelap tapi eksotis. Tingginya hanya beberapa senti diatas Nandri. “I iya, eh nggak.” Jawab Kal gugup. Ia tiba-tiba merasa gugup diperhatikan oleh laki-laki yang berada di belakang Nandri. “Iya atau nggak? Malu ya ketauan suka shopping.” Goda Nandri dengan senyum jahilnya. Nandri memperhatikan mata Kal yang terlihat salah tingkah ke arah belakangnya. Nandri pun menengok ke belakangnya, seketika ia paham apa yang membuat Kal salah tingkah. Senyum Nandri langsung mengembang semakin lebar. “Nggak, aku nggak shopping. Cuman nemenin teman ke sini.” Balas Kal sambil mengusap tengguknya. Entah kenapa ditatap oleh laki-laki yang berada di belakang Nandri membuatnya salah tingkah. “Mungkin karna ditatap cowok ganteng Kal. Nandri aja udah ganteng, ini bukan ganteng lagi tapi mateng seger euy.” Batin Kal. “Oh iya Kal kenalin ini kakak aku yang waktu itu pernah aku ceritain.” Ucap Nandri sambil mengedipkan matanya ke arah Kal. Seketika Kal hanya terdiam sambil menatap makhluk Tuhan yang tampan di sebelah Nandri. “Kak, kenalin ini teman aku yang kemaren aku ceritain kekakak.” Kal masih tidak bereaksi apa pun sampai laki-laki itu mengulurkan tangannya ke arah Kal. “Galen.” Ucap laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya. Kal hanya terdiam beberapa saat sambil menatap tangan yang terulur di depannya. “Kal…” Panggil Nandri. Seketika Kal seperti tersadar dan menjabat tangan laki-laki itu. “Kal.”                                                                                                   ͽͽͽ
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN