Bab 3 Bertemu Dengannya

1795 Kata
“Kal, kamu baik-baik ajakan?” Tanya Nandri sambil tersenyum jahil melihat reaksi Kal yang sepertinya terpesona dengan Galen. “Eh i-iya.” Seketika Kal tersadar dari tadi tangannya masih menjabat tangan Galen dan buru-buru melepas jabatan tangannya. “Kal ini kakak saya yang pernah diceritain waktu itu, gantengkan?” Goda Nandri sambil mengedipkan matanya ke arah Kal. Kal hanya membalas dengan senyuman. “Kal udah nih, yuk pergi.” Orlin muncul dari belakang Kal. “Halo.” Sapa Nandri kepada Orlin yang baru datang. Orlin hanya terpaku menatap Nandri, seakan terbius akan ketampanan Nandri. “Masih ingat sama saya kan?” Lanjut Nandri. Seketika Orlin mengerutkan keningnya, seakan mencoba mengingat siapa cowok ganteng yang ada dihadapannya ini. Ia merasa tidak mengenal cowok yang masih menatapnya menunggu jawaban dari orlin sambil tersenyum manis. “Teman kamu ya Kal?” Bisik Orlin kepada Kal yang ada di sampingnya. “Oh iya Orlin, masih inget nggak sama mas Nandri?” Kal bertanya kepada Orlin. “Mas Nandri? Eeee siapa ya? Kayaknya nggak kenal deh?!” Jawab Orlin ragu. Orlin mencoba mengingat-ingat apakah ia pernah bertemu dengan cowok ini. Namun, ia merasa tidak pernah kenal atau pun bertemu dengan cowok yang bernama Nandri ini. “Gila ganteng banget ini cowok. Duh matanya, hidungnya, bibirnya juga seksi. Kalau pernah ketemu masa aku bisa lupain sih pernah jumpa sama cowok setampan ini? Nggak mungkin aku lupa kalau pernah ketemu cowok ganteng tapi kapan ya pernah ketemu?” batin Orlin. “Itu lho Lin yang minggu lalu bantuin kita waktu kejadian dengan Moris.” Kal melotot kepada Orlin seakan memberikan kode bahwa cowok ini yang membantu mereka saat itu. “Oh iya iya, inget inget ko. Oh jadi mas ini ya bantu kami waktu itu? Maaf ya mas saya nggak terlalu memperhatikan waku itu, maklum…” Orlin tidak melanjutkan perkataannya karena tidak nyaman membahas kejadian tersebut. “Iya nggak apa-apa mba.” Tiba-tiba muncul ide dipikiran Nandri. “Setelah ini pada mau ke mana?” Tanya Nandri. “Mau ke mana lagi Lin?” Kata Kal sambil melirik Orlin. “Nggak ada yang mau dicari lagi sih, enaknya ke mana ya?” Tanya Orlin balik. Kal menjawab dengan mengangkat bahunya tanda juga bingung. “Kalau nggak ada kegiatan lagi, gabung sama kita yuk. Kebetulan kami mau makan siang di sini.” Ajak Nandri. Orlin baru menyadari di belakang Nandri ada laki-laki yang dari tadi menatap kami. Wajahnya nggak kalah ganteng dari Nandri tapi penampilannya terlihat lebih matang dan dewasa dibanding Nandri. “Boleh deh, gimana Kal?” Dijawab Kal dengan anggukan. “Oke.” Ajak Nandri. “Cowok yang sama mas Nandri siapa Kal? Gila ganteng banget.” Bisik Orlin sambil menggerakkan alisnya naik turun. “Nggak tau.” Jawab Kal mengangkat bahu dan mengikuti langkah Nandri dan Galen di belakang. Sebenernya Kal bisa menerka siapa Galen, kalau sesuai dengan cerita Nandri tempo hari berarti Galen ini kakak yang sedang mencari calon istri seperti kisah Nandri. ͽͽͽ Mereka memasuki salah satu restoran yang ada di Mall tersebut. Kal duduk berhadapan dengan Galen, sedangkan Orlin duduk di sebelahnya yang berhadapan dengan Nandri. Duduk berhadapan dengan Galen membuat ia bisa lebih leluasa mencuri pandang ke arah Galen dari dekat. “Nggak nyangka ya kita ketemu di Mall lagi.” Ucap Nandri setelah pelayan yang mencatat pesanan kami pergi. “Iya betul. Mas Nandri sedang apa di sini?” Tanya Orlin sambil melirik Galen. Pandangan Orlin tidak lepas dari Galen yang duduk di sebelah Nandri. “Hei, kalau ngomong sama saya lihatnya ke saya dong, jangan ke samping.” Ujar Nandri tertawa sambil mengibaskan tangannya di depan muka Orlin. “Hehehe maaf mas.” Cengir Orlin. “Kenapa ganteng ya kakak saya?” Goda Nandri. “Oh jadi ini kakak mas Nandri toh.” Ujar Orlin takjub. “Pantes ganteng, ternyata dari induk dan gen yang sama. Wah ternyata cowok di depan ini termasuk para bibit unggul nih.” Batin Orlin. “Iya, ganteng kaya saya kan?” Balas Nandri. “Hehehe iya mirip dan sama-sama ganteng lagi.” Puji Orlin. Orlin memang tipe cewek yang blak-blakan. “Kalau Orlin di jodohin sama kakak saya mau nggak?” "Mulai lagi dia promosi. Kayanya bukan cuman aku deh yang ditawarin buat dijodohin kekakaknya.” Tanpa sadar Kal memutar bola matanya. Kal memperhatikan Galen dengan intens, dilihat dari tampang dan penampilannya bisa dibilang diatas rata-rata. Bohong kalau tidak ada wanita yang kepicut dengan ketampanan laki-laki di depannya ini. Apalagi tempo hari Nandri juga memberikan informasi bahwa profesi Galen adalah seorang dokter spesialis. Ia tidak mungkin susah untuk menemukan jodoh. Bahkan tanpa disodorin, cewek-cewek akan bersedia ikhlas menawarkan diri untuk menjadi istrinya. “Wah lagi cari jodoh ya Mas Galen? Kalau jodohnya kaya Mas Galen saya nggak nolak.” Orlin tersenyum manis kearah Galen. Galen yang merasa dari tadi ditatap Kal balik menatap Kal juga. Seketika Kal salah tingkah karna ketahuan menatap Galen. “Kenapa menatap saya seperti itu? Ada sesuatu diwajah saya?” Tanya Galen. Kal dan Orlin yang baru mendengar Galen berbicara satu kalimat panjang terkesima mendengar suara berat Galen yang terkesan seksi diindera pendengaran mereka. “Eh, ah nggak, nggak apa-apa ko.” Jawab Kal gugup. “Namamu tadi Kal ya?” Tanya Galen memastikan. “Iya.” Kal tidak berani menatap mata Galen. Bukan karna sangar atau menyeramkan, ia berdebar-debar tiap ditatap oleh mata tajam Galen. Efek ditatap sama orang ganteng. Kal tidak pernah segugup ini ketika bertatapan dengan lawan jenis. Dengan mantan sebelumnya pun tidak pernah seperti ini. “Kal kerja dimana?” Galen mulai aktif bertanya setelah ia diam dari mereka pertama bertemu. “Di PT. Sagraha Group.” Jawab Kal singkat sesekali menatap singkat Galen lalu menunduk lagi. Mendengar jawab Kal, Galen menaikkan sebelah alisnya dan menatap Nandri yang di sebelahnya. Nandri hanya mengangkat bahu dan menggelengkan kepala saat melihat tatapan kakaknya. “Sudah berapa lama kerja di sana?” Nandri juga bertanya. “Baru tiga tahunan ini kok.” “Kerjanya dibagian apa?” Galen terlihat semakin tertarik. “Bagian HRD.” Orlin yang mendengar percakapan mereka bertiga bingung kenapa ia tidak ditanya atau diajak bicara dan dua laki-laki dihadapannya ini sepertinya hanyar tertarik pada Kal. “Cuman Kal nih yang ditanya?” Sindir Orlin. “Oh iya Orlin juga satu kerjaan sama Kal?” Nandri menyadari bahwa di seberangnya ada juga Orlin. “Iya kita satu divisi.” Jawab Orlin. “Oh, by the way kok cincin tunangannya nggak dipakai Kal? Nanti tunangannya marah lho.” Tiba-tiba Nandri mengubah topik pembicaraan. Nandri merasa heran dari awal ia mendengar kata-kata Kal bahwa ia sudah memiliki tunangan, tetapi tidak ada menunjukkan bahwa cewek di depannya ini sudah bertunangan. Dua kali bertemu dengan Kal terlihat dijarinya tidak ada cincin sama sekali. “Hah?? Maksudnya?” Kal bingung dengan pertanyaan yang diungkapkan Nandri kepadanya. Seketika ia mengingat kebohongannya kepada Nandri. Orlin yang terkejut mendengar pertanyaan Nandri seketika menatap bingung pada sahabat di sampingnya. “Sejak kapan Kal tunangan?” pikir Orlin heran. ”Bukannya tempo hari kamu cerita sudah tunangan ya?” Nandri memperjelas status Kal. “Hah? Kamu sudah tunangan Kal? Kok aku nggak tau?” Tanya Orlin semakin bingung. Nandri yang memang sedari tadi mempertanyakan status Kal hanya melihat interaksi dua cewek di depannya dan menunggu jawaban dari Kal. Kal menatap Orlin meminta bantuan. Namun, sahabatnya itu juga tidak membantu dan malah ikut bertanya. “Eh itu eeeee…” Kal bingung bagaimana menjelaskan. Jelas ia sudah ketahuan berbohong, apalagi ditambah Orlin yang sebagai orang terdekatnya juga ikut bertanya. Nggak ada peluang lagi untuknya berkilah. Mau tidak mau ia harus mengaku. Kal menghela napas pasrah. “Sebenarnya saya belum bertunangan mas.” Kal menjawab dengan malu-malu menatap Nandri. “Lho jadi kata-kata kamu waktu itu?” Nandri meminta kejelasan pada Kal. “Maaf mas saya bohong.” Kal menunjukkan ekspresi bersalah kepada Nandri. “Memangnya kenapa sampai kamu harus bohong Kal? Apa ada sesuatu dari saya yang membuat kamu nggak nyaman?” Nandri memasang ekspresi datar sambil menatap Kal. Namun, dalam hati ia bersorak mendengar pengakuan kalau cewek itu berbohong yang artinya ia belum memiliki tunangan. Akan tetapi, ia tidak memperlihatkannya di depan Kal karna ia harus memastikan dulu status Kal. “Waktu itu saya agak sedikit takut dengan tawaran mas Nandri. Apalagi mas bilang seperti itu disaat kita baru pertama kali bertemu. Saya pikir mas orang aneh, makanya saya berbohong. Maaf ya mas.” Jelas Kal panjang lebar sambil tersenyum canggung. “Tawaran apa memang yang diajukan kamu dri?” Galen sedari tadi diam memperhatikan obrolan mereka ikut menimpali. Kal melotot kearah Nandri saat mendengar pertanyaan Galen. Seakan memberi sinyal kepada Nandri untuk tidak memberitahu Galen tentang tawarannya tempo hari. Nandri yang tidak menangkap sinyal dari Kal, dengan lempengnya menceritakan kepada Galen. “Hahahaha aku nawarin Kal jadi istri kakak waktu pertama kali ketemu dia.” Jawab Nandri sambil tertawa seakan itu hal lucu. Kal pasrah dan meruntuki Nandri dalam hati. “Nah waktu itu Kal langsung nolak dan bilang kalau sudah punya tunangan. Ternyata bohong yaaaa.” Goda Nandri kearah Kal. Galen yang mendengar cerita Nandri hanya menunjukkan ekspresi yang sulit terbaca sambil menatap kearah Kal. Kal yang merasa ditatap oleh Galen, hanya menunduk dan tidak berani menatap Nandri apalagi Galen. “OMG! Jadi mas Nandri mau jodohin mas Galen sama Kal?” Tanya Orlin terkejut. “Terus kamu bilang kalau punya tunangan Kal?” Lalu ia beralih bertanya kepada Kal tanpa menunggu jawaban dari Nandri. “Oh jadi ini alasannya kamu ada nanya waktu itu tentang ‘diajakin nikah sama cowok’?” Tiba-tiba Orlin ingat dengan pertanyaan aneh Kal tentang ‘ajakan nikah’ dihari naasnya. Kal tidak merespon pertanyaan Orlin. Ia sudah keburu merasa malu banget. Apalagi orang yang jadi tokoh utama obrolan ada di depannya, semakin malulah Kal. Galen yang berada dihadapan Kal juga menatap wajah Kal tanpa bisa dibaca ekspresinya. Marahkah karna Kal menolak perjodohan dengan Galen? Atau bersyukur? Sepertinya Galen pun tidak mengetahui perihal tawaran Nandri kepada Kal. “By the way, kenapa kamu nggak mau dijodohin sama saya?” Tanya Galen tiba-tiba yang membuat ketiga orang yang ada di meja tersebut menoleh kearah Galen dengan ekspresi kaget. “Apa karna belum melihat wujud saya? Kalau sekarang setelah melihat saya langsung apa masih mau nolak?” Lanjut Galen. Kal yang mendengar pertanyaan yang tidak terduga dari Galen hanya bisa menatap kaget dan bingung harus merespon seperti apa. “Apa dia marah?” Batin Kal. Obrolan mereka diputus saat pelayan datang mengantarkan pesanan mereka. Kal langsung bersyukur dengan kedatangan pelayan karna ia bisa mengalihkan obrolan yang semakin tidak nyaman untuknya, terutama pertanyaan Galen yang tidak bisa ia jawab. Mereka menyantap hidangan sambil mengobrol tentang banyak hal dan seakan melupakan topik tentang perjodohan Kal dan Galen. Namun yang lebih aktif melontarkan obrolan hanya Nandri dan Orlin. Galen dan Kal hanya menjawab apabila ditanya saja. Sisanya mereka hanyar melirik satu sama lain. Lebih tepatnya Kal yang melirik, sedangkan Galen benar-benar langsung menatap Kal intens. Kal semakin gugup tak menentu, seakan-akan tatapan Galen bisa mengulitinya. “Kalian pulang naik apa?” Tanya Nandri. “Pakai mobilku. Kenapa mau nganterin kami lagi ya?” Orlin mengedipkan mata kearah Nandri. Orlin memang tipe cewek yang humble dan mudah akrab dengan orang baru. Saking humble-nya ia berani genit mengedipkan mata kepada Nandri. Entah itu humble atau nggak tahu malu. “Yah sayang, padahal pengen nganterin kalian berdua.” Nandri menampakkan wajah kecewanya kearah Kal. Nandri pun melirik kearah kakaknya untuk melihat ekspresi kakaknya. Kal hanya membalas tatapan Nandri dengan senyuman kecil. Kalau pun tidak bawa mobil, ia akan pasti menolak diantar karna masih tidak nyaman dengan obrolan sebelumnya. Ia tidak mau makin canggung kalau berlama-lama bersama kakak-adik di depannya ini. “Mba.” Panggil Orlin kepada salah satu pelayan di restoran itu. “Boleh minta bill-nya?” Tanya Orlin. “Biar saya saja yang membayar.” Potong Galen sebelum dijawab pelayan tersebut. “Eh nggak usah mas Galen, biar makanan kami bayar sendiri.” Jawab Orlin cepat. “Nggak apa-apa, kalian bisa ganti traktir saya next time kalau kita bertemu lagi.” Ujar Galen sambil menatap tajam kearah Kal. Kal yang mendapat tatapan dari Galen berusaha mengalihkan pandangan kearah lain. Mereka pun berpisah saat sudah mencapai basement.  ͽͽͽ
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN