Bab 4 Ketertarikan Dengannya

1703 Kata
Sinar matahari yang terang berganti dengan bulan dan bintang. Kegelapan dan keheningan seketika membelenggu jiwa-jiwa yang lelah setelah beraktifitas seharian. Begitu pun Kal yang merasa sekujur tubuhnya lelah. Padahal hari ini libur namun tubuhnya lelah seperti sudah bekerja seharian. Hal ini dikarenakan ia mengikuti ajakan Orlin yang setelah keluar dari Mall untuk mampir mencari barang pesanan ibunya. Kal bersiap-siap untuk tidur dengan ritual biasanya melakukan perawatan wajah sebelum tidur. Menatap dirinya dicermin mengingatkan Kal dengan tatapan Galen yang sulit diartikannya. Ia ingat pertanyaan Galen yang tidak ia jawab. “By the way, kenapa kamu nggak mau dijodohin sama saya? Apa karna belum melihat wujud saya? Kalau sekarang setelah melihat saya langsung, apa masih mau nolak?” Kal masih mengingat jelas pertanyaan tersebut. Ia bingung dengan respon Galen yang mengetahui ia menolak tawaran perjodohan dari Nandri. “Wajarkan aku nolak? Kan aku baru kenal Nandri terus pas disodorin tawaran gitu, siapa yang nggak merasa aneh yakan?” Ujar Kal berbicara didepan cermin. “Apa dia merasa harga dirinya jatuh karna ditolak cewek? Biasa cowok sok kegantengan kan gitu. Pasti nggak terima penolakan.” Kal tersenyum mengejek. “Tapi nggak salah sih, emang ganteng orangnya. Tapi yo aneh to cowok seguanteng koyo ngene kok cari istri dari perjodohan? Moso nda laku sih?” Pikir Kal heran. “Tau ah sebodo amat. Kakak sama adek aneh dua-duanya.” Kal menyelesaikan perawatannya dan bersiap-siap tidur. Baru saja Kal terlelap ponselnya yang berada di atas nakas samping tempat tidurnya berbunyi. Kal yang sudah berada dialam mimpi pun tidak mendengar deringan. Pada deringan keempat baru Kal bangun dengan mata masih menutup ia mengambil ponsel. “Halo.” Jawab Kal dengan suara mengantuk. Terdengar suara orang menangis diseberang sana. Seketika Kal heran saat mendengar tangisan. Ia pun menjauhkan ponsel dari telinganya untuk melihat nama si penelpon. Ia terkejut saat membaca nama si penelpon yang tidak lain adalah Keke adiknya. “Halo dek, kamu kenapa nangis?” Kal yang tadinya masih dalam posisi tidur langsung duduk. Ia melihat jam sudah menunjukkan jam 11 malam. Perasaannya langsung tidak nyaman. “Mbak Kal..huhuhuhu..mbak.” Panggil Keke tergugu. “Dek kamu kenapa? Tenang dulu dek, kamu tenangin diri dulu baru ngomong pelan kembak ada apa?” Kal sebenarnya ingin ikut panik mendengar tangisan adik semata wayangnya itu. Namun ia harus tenang agar mengetahui sebab kenapa adiknya itu menangis. Semoga ini tidak berhubungan dengan kesehatan ibunya yang memang akhir-akhir ini naik turun. “Adek kesel mbak sama mama. Masa adek nggak dibolehin nikah duluan. Katanya harus nunggu mbak nikah dulu baru boleh nikah huhuhuhu.” Jawab Keke setelah itu ia menangis lagi. “Hah?” Kal hanya bengong mendengar penjelasan Keke. Entah harus lega atau kesal mendengar jawaban adiknya. Lega karna pikiran negatifnya tentang kesehatan mamanya tidak terjadi, kesal karna adiknya mengganggu istirahatnya. Keke menelpon disaat orang tengah istirahat dan mengagetkannya dengan menelpon sambil menangis. Namun, ia menahan agar tidak memarahi Keke. Mendengar tangisan Keke sepertinya sesuatu telah terjadi di rumahnya. Keke juga bukan tipe anak yang akan mengadu sambil menangis seperti ini, kalau sudah begini artinya ini masalah yang berat untuknya. “Ke, coba kamu tenang dulu dek. Biar mbak paham masalahnya.” Kal mencoba menghentikan tangisan adiknya. Terdengar suara tangisan yang mulai pelan diseberang sana. Adiknya mencoba mengendalikan tangisannya. “Jadi tadi mas Raka ke rumah mbak.” Keke terdiam mengatur napasnya lalu bercerita lagi. “Dia ke rumah mau ngomongin niatannya kepapa dan mama untuk ngelamar Keke. Tap-tapi…” Keke mulai sesenggukan lagi. “Mama jawab boleh nikah setelah mbak Kal nikah, sedangkan mas Raka sudah didesak sama orang tuanya untuk menikah. Kalau nggak nikah juga tahun ini, dia mau dijodohin sama orang tuanya huhuhuhuhuhu..” Cerita Keke diakhiri dengan tangisan kencang diseberang sana. Mendengar itu Kal hanya menghela napas. Seakan topik ini tidak ada habisnya dikeluarganya. “Kenapa orang tua suka mendesak anaknya menikah sih? Bukannya jodoh sudah ada yang mengatur? Siapa juga yang nggak mau menikah disaat usia sudah matang? Tapi apa perlu didesak seperti ini? Yang ada malah jadi beban pikiran buat anak dan orang tuanya. Yang belum siap menikah didesak dan yang siap menikah malah ditahan. Huff mama…” Pikir Kal kesal. Inilah beban anak pertama. Padahal ia tidak melarang adiknya untuk menikah duluan. Ia sama sekali tidak keberatan. Apalagi luka dari pengalaman percintaan yang ia alami sebelumnya belum juga sembuh. Demi menenangkan sang adik Kal menjanjikan akan berbicara dengan sang ibu agar Keke diperbolehkan untuk menikah tanpa menunggu ia menikah dulu. Setelah adiknya tenang ia mengakhiri sambungan telpon dan berusaha melanjutkan tidurnya. Namun, matanya tak kunjung terpejam dan hanya menatap langit-langit. Bayangan kisah yang dulu menyakitkan seakan berputar lagi. Menghadirkan bayangan itu membuat hatinya merasakan sakitnya lagi. Kal berusaha memanggil kantuknya dengan harapan perasaan sakit ini juga hilang seiring datangnya kantuk itu. ͽͽͽ Kal memijit keningnya berulang kali berharap sakit kepalanya berkurang. Pagi ini tiba-tiba kepalanya berdenyut sakit karna kurang tidur malam tadi. Ia baru bisa tidur selepas jam 2 dini hari. Ditambah dengan kerjaannya yang menumpuk membuatnya memporsir otak. Jadilah kepalanya serasa mau pecah. “Kenapa Kal? Lagi sakit kepala?” Tanya Orlin yang mejanya tidak jauh dari meja kerja Kal. “Iya nih, nggak nyenyak tidur malam tadi.” Kal mencoba memfokuskan perhatiannya ke monitor yang ada dihadapannya. “Wah nggak bisa tidur karna mikirin tawaran perjodohan dengan mas Galen ya? Nyesel ya sudah nolak cowok mateng seger kayak mas Galen?” Orlin terkekeh menggoda Kal. “Kamu sih Kal, coba jangan tolak dulu. Cari tau dululah cowok yang mau dijodohin. Kali ajakan memang bisa berjodoh. Apalagi tipe-tipe cowok mateng seger kayak mas Galen siapa yang bisa nolak Kal. Duuh nyesel tujuh turunan nolak bibit unggul gitu.” Ujar Orlin panjang lebar menjelaskan kesalahan Kal. “Apa sih Lin, siapa juga yang mikirin dia. Kurang kerjaan banget mikirin tu cowok. Mau dia mateng seger, mateng benyek sebodo amat.” Bohong Kal tidak sempat memikirkan cowok itu. Bahkan sebelum tidur pun ia sempat memikirkan cowok itu, walaupun hanya sebentar. “Siapa yang mateng benyek?” Tanya cowok bernama Pandu yang baru memasuki ruangan. “Kamu yang mateng benyek.” Semprot Orlin. “Apa sih maksudnya mateng benyek? Kalian ngomongin orang tapi kok kayak ngomongin buah sih?” Pandu bingung arah obrolan kedua cewek yang ada di depannya itu. Ia sempat mendengar sedikit obrolan Kal dan Orlin tentang seseorang saat masuk ke ruangan. “Sini Pan aku jelasin.” Orlin melambaikan tangannya meminta Pandu mendekat ke mejanya. Pandu yang penasaran berjalan mendekati dan duduk dipinggir meja Orlin. “Jadi aku sama Kal mengkategorikan tipe-tipe cowok berdasarkan usia.” Orlin menjelaskan dengan seksama. “Gimana tipe-tipenya?” Pandu semakin penasaran. Baru ini dia mendengar tipe-tipe kaumnya berdasarkan usia. Kal yang mendengar pembicaraan kedua rekan kerjanya itu hanya tersenyum geli. “Pertama cowok usia 20 sampai 30 tahun dikategorikan laki-laki mateng ranum, terus usia 31-40 tahun itu mateng seger, nah 40 keatas itu masuk mateng benyek.” Jelas Orlin ngakak. “Hah? Ada kategori gitu? Siapa yang buat kategori gitu?” Pandu menggeleng-gelengkan kepala karna tidak masuk akal yang disebutkan Orlin. “Aku dong yang buat.” Balas Orlin dengan bangga. “Terus kalau dibawah umur 20 tahun masuk kategori apa dong?” Tanya Pandu lagi. “Oh kalau itu masing mangkel Pan, apalagi kalau dibawah umur masih mentah itu.” Orlin dan Kal tertawa. “Edan ni cewek.” Pandu kembali ke mejanya. “Eh udah waktunya istirahat. Yuk ke kantin makan, aku mau minum obat sakit kepala setelah makan nanti.” Ajak Kal kepada Pandu dan Orlin. Hanya mereka yang berada diruangan itu karna karyawan yang lain sedang melakukan training pada karyawan baru. Mereka berjalan beriringan kearah kantin sambil berbicara. Tanpa sengaja Kal menabrak seseorang sampai ponsel yang dipegang orang itu terjatuh ke lantai. Menyadari itu Kal langsung meminta maaf dan mengambil ponsel tersebut. “Maaf, maaf saya nggak senga….ja.” Tiba-tiba Kal membeku saat melihat orang yang ditabraknya tadi. “Mas Galen?” Panggil seseorang. Itu bukan suara Kal melainkan suara Orlin. Kal hanya terpaku menatap Galen yang saat ini ketampanannya 2 kali lipat dengan pertama kali mereka bertemu. Galen memakai setelan jas berwarna abu-abu. Mendengar Orlin memanggil Galen dengan sebutan nama, seketika orang-orang yang berada dibelakang Galen melotot kearah Orlin seakan ingin menelan Orlin hidup-hidup. “Pak Galen, anda tidak apa-apa?” Tanya seseorang yang Kal tau jabatannya sebagai salah satu petinggi di perusahaan ini. “Hati-hati kalau jalan, kalian dari divisi mana?” Hardik orang tersebut. Kal menundukkan kepalanya. “Tidak apa-apa pak, saya baik-baik saja.” Jawab Galen sambil menatap Kal yang sepertinya masih terkejut melihat Galen. “Boleh saya meminta handphone saya?” Pinta Galen kepada Kal. Kal baru menyadari dari tadi ia tidak juga menyerahkan ponsel yang diambilnya dari lantai kepada Galen. “Eh, iya maaf, ini handphone-nya. Maaf saya nggak sengaja.” Kal meminta maaf sambil menunduk. Bukan hanya malu, ia juga tidak berani menatap Galen lebih lama lagi. “Tidak apa-apa. Mari.” Galen beserta petinggi yang lainnya berlalu dari hadapan Kal menuju lift. Tatapan Kal mengikuti kearah kepergian Galen. Bahkan saat Galen sudah didalam lift, ia masih menatap Galen dalam diam. Begitu pun Galen juga tetap menatap Kal sampai pintu lift menutup. “Kal, Kal, Kal.” Panggil Pandu yang berada disebelahnya. “Eh iya Pan, kenapa?” Tanya Kal tersadar. “Kal tadi beneran mas Galen kan?” Tanya Orlin meyakinkan. “Iya bener kok.” Jawab Kal. Orlin pun kaget saat melihat Galen ada di kantornya. “Kok dia ada di sini ya? Apa dia kerja disini juga?” Orlin masih menerka-nerka. “Kalian kenal orang tadi?” Tanya Pandu. “Iya dia kenalan kita, pernah ketemu sekali. Kamu tau nggak dia karyawan disini atau bukan?” “Nggak pernah liat sih, tapi kalau liat orang-orang yang bersamanya sepertinya mereka petinggi di perusahaan ini.” Pandu yakin karna ia mengenal beberapa petinggi yang ada bersama kenalan Kal dan Orlin tadi. “APA?? PETINGGI DISINI?” Pekik Orlin. Beberapa orang yang lalu lalang melihat kearah Orlin. “Kal kamu tau?” “Nggak tau, ketemu aja baru kemaren itu. Sudah yuk kita ke kantin.” Ajak Kal. Dalam hati Kal masih mempertanyakan kehadiran laki-laki yang bernama Galen itu. Kalau ia tidak salah ingat Nandri menceritakan profesi kakaknya adalah seorang dokter. Lalu apa yang dilakukan laki-laki itu di sini? Memikirkannya membuat Kal menguras otak dan semakin menambah sakit kepalanya. ͽͽͽ “Ginta, keruangan saya.” Panggil Galen pada sambungan telpon di ruangan itu. Suara ketukan terdengar disusul pintu dibuka seseorang. “Iya pak, ada yang bisa saya bantu?” Tanya asisten pribadi Galen. “Tolong carikan informasi lengkap salah satu karyawan atas nama Kal.” Perintah Galen. “Kal? Kalau boleh tau nama panjangnya siapa pak?” “Saya tidak tau nama lengkapnya, saya cuman tau panggilannya Kal. Oh dan dia dari divisi HRD. Kalau sudah ketemu langsung berikan kesaya. “Baik pak, akan saya lakukan. Ada lagi yang bisa saya bantu pak?” “Tidak ada, kamu boleh keluar.” “Baik pak, saya permisi.” Pamit Ginta. Sepeninggal Ginta pikiran Galen terisi oleh rasa penasarannya kepada Kal. Pertemuannya pertama dengan Kal membawa sedikit rasa penasaran. Sepulang dari makan siang di Mall bersama Kal, Galen berusaha mengintrogasi Nandri. Mendengar cerita Nandri entah kenapa hatinya tergelitik. Ia pun bingung dengan respon dirinya terhadap Kal. Apa karna ia hanya penasaran saja dengan perempuan yang berusaha menolak dijodohkan dengannya. “Kal.” Galen menggumamkan nama Kal. “Menarik.” Galen tersenyum. ͽͽͽ   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN