Bab 5 Wanitamu

1362 Kata
Hari-hari Kal berjalan seperti biasa. Ketika hari kerja ia akan fokus dengan setumpuk pekerjaannya dan saat hari libur ia gunakan untuk me time-nya. Memanjakan tubuhnya yang lelah setelah diterpa kesibukan yang luar biasa. Hari ini merupakan hari liburnya, ia ingin bersantai di rumah saja karna minggu lalu hari liburnya sudah digunakan untuk jalan-jalan dengan Orlin. Beberapa hari lalu ia menelpon ibunya untuk membicarakan permasalahan adiknya Keke yang ingin menikah. Kal mengemukakan pendapatnya bahwa tidak apa-apa kalau adiknya yang duluan menikah. Namun, sang ibu tetap bersikeras tidak memperbolehkan dengan alasan pamali melangkahi kakak perempuan. Kalau ibunya sudah seperti itu tidak ada yang bisa mengubah keputusan, sekali pun papanya. Bahkan ibunya mengancam apabila ia tidak menikah juga dalam waktu dekat, adiknya pun tidak akan pernah mendapat restu darinya untuk menikah dan membiarkan sang adik patah hati juga karna Raka akan dijodohkan orang tuanya. Kal bingung harus bagaimana untuk membantu adiknya. “Apa aku terima aja tawaran Nandri ya? Not bad juga kok si Galen itu.” Kal berbicara sendiri. Seketika ia menggeleng-gelengkan kepala menyingkirkan pikirannya itu dari kepalanya. “Nggak, nggak, apaan sih kamu Kal. Nggak usah hopeless gitu deh. Pasti nanti ada jalan keluarnya kok.” Ujar Kal sambil mendesah. Kal bersantai di ruang tengah sambil menonton tv. Tiba-tiba ponselnya berdering tanda panggilan masuk. Ia melihat sekilas kelayar ponselnya dan nomor tidak dikenal yang menelponnya. Kal termasuk orang yang malas untuk menanggapi pesan atau telpon dari orang yang tidak dikenalnya. Ia hanya mengabaikan deringan berkali-kali tanpa berniat untuk menjawab telpon tersebut. Bunyi deringan terhenti, sepertinya si penelpon sudah menyerah untuk menghubunginya. Suara dentingan pesan masuk keponsel Kal. Dengan malas Kal membuka ponselnya untuk mengetahui siapa yang mengiriminya pesan.   Angkat telponnya Galen   Kal melotot membaca pesan singkat yang masuk keponselnya. Tertera dipesan bahwa yang mengirim pesan adalah Galen. Kal mencoba mengecek nomor yang pengirimi pesan sama dengan yang menelponnya tadi. Yup, sama. Ponsel yang berada digenggaman Kal berdering lagi dan menunjukkan nomor yang mengaku sebagai Galen yang menelponnya. Kal ragu untuk mengangkatnya. Bukan ragu karna takut orang iseng atau penipu. Ia lebih takut kalau benar itu Galen yang ia pernah temui dua kali. Berada dalam jangkauan Galen saja sudah membuat lidahnya kelu dan ia tidak bisa merespon, apalagi ini langsung berbicara lewat telpon dengan orangnya. Namun, jika ia tidak angkat, ia tidak tau apa benar itu Galen atau hanya orang iseng saja. “Bismillah. Halo?” Jawab Kal setelah menggeser tombol hijau pada layar ponsel. “Halo, Kal?” Jawab orang diseberang singkat. “Iya, maaf ini siapa?” Terdengar suara Kal pelan namun masih mampu didengar oleh orang diseberang sana. “Saya Galen, masih ingat?” Jawab pria itu. “Kakaknya Nandri yang ketemu kamu di Mall dan kalau kamu belum ingat juga yang waktu itu kamu tabrak saya di Kantor.” Lanjut pria itu mengingatkan insiden di kantor. Kal yakin itu Galen karna pria ini bisa merunutkan pertemuan mereka. “Kal?” Panggil Galen karna tidak ada sahutan dari Kal. “Do you hear me?” “Eh, iya mas maaf. Iya saya ingat kok. Ada apa ya mas Galen menelpon saya?” Kal bingung kenapa Galen bisa menelponnya. Ia tidak pernah merasa memberikan nomornya kepada Galen maupun Nandri. “Ada waktu untuk hari ini?” Jawab Galen to the point. “Memangnya kenapa mas?” Kal semakin bingung. “Saya mau ngajak kamu jalan kalau kamu tidak sibuk sekarang.” “Sekarang??” Jawab Kal kaget. “Iya sekarang. Kenapa lagi sibuk?” Galen memastikan. “Nggak sih mas, tapi kalau boleh tau dalam rangka apa ya mas dan mau jalan kemana?” Tanya Kal was-was. “Nanti akan saya beri tahu. Kalau begitu saya jemput jam 10.00 ke rumahmu.” Sambungan telpon diputus tanpa mendengar jawaban Kal. Kal terperangah sambil menatap ponsel yang digenggamannya. Ia tidak menduga seorang Galen akan menelpon dihari yang cerah ini dan mengajaknya jalan tanpa basa-basi. “Jemput ke rumah?? Memang dia tau rumahku?” Kal baru sadar dengan ucapan terakhir Galen. Kal melirik jam yang menunjukkan pukul 09.20. Galen akan menjemputnya jam 10.00. Ia ada waktu sekitar 40 menit lagi untuk bersiap-siap sebelum Galen datang. Ia langsung bangun dari duduknya dan berlari ke kamar untuk bersiap-siap. Kal memilih dress biru muda yang terkesan cerah dan santai karna ia akan jalan-jalan dengan Galen. Namun tetap menampilkan sisi anggun dan dewasanya. Kemudian, ia memoleskan make up natural dan tipis untuk menghiasi wajahnya. Ponsel Kal berdering menampilkan nomor Galen. Kal segera mengangkat telpon dari Galen. “Halo.” Sahut Kal. “Saya sudah di depan.” Jawab Galen. “Oke, tunggu ya mas. Sebentar lagi saya keluar.” Ujar Kal. “Oke.” Galen memutuskan sambungan telpon. ͽͽͽ  Seseorang mengetuk kaca pintu mobil di samping Galen. Galen menurunkan kaca pintu mobilnya. “Ayo masuk.” Suruh Galen. Kal masuk ke mobil Galen. “Maaf lama nunggunya mas.” Galen hanya membalas dengan anggukan. “Ap-pa kabar mas?” Tanya Kal dengan gugup. “Baik, kamu?” Balas Galen. “Baik juga.” Sahut Kal. “Singkat banget.” Batin Kal. “Kita mau jalan kemana mas?” Tanya Kal penasaran. Mereka baru bertemu dua kali dan tiba-tiba jalan berdua rasanya canggung. “Nanti kamu bakalan tau tujuan kita.” Jawab Galen sambil menjalankan mobil pergi dari rumah Kal. Didalam mobil mereka tidak ada yang memulai pembicaraan. Kal bingung mencari obrolan untuk memecah situasi canggung ini. Sepertinya Galen pun tidak ada rencana untuk mengajaknya berbicara. Tanpa sepengetahuan Kal, Galen mengetahui kalau dari tadi Kal mencuri pandang kearahnya. “Gimana kerjaan kamu?” Galen membuka obrolan. “Lancar-lancar aja mas.” Jawab Kal sesopan mungkin. Seingat dia Nandri pernah menyebutkan kalau usia Galen 37 tahun, artinya 6 tahun diatasnya. Jadi nggak salahkan dia harus sopan dengan orang tua?! Suasana hening kembali. Kal merasa dia pun harus berinisiatif mencari bahan obrolan. “Mas Gales tau dari mana rumah saya?” Kal memperhatikan Galen di sampingnya. “Orang terdekat saya.” Kal menganggukkan kepala paham siapa orang terdekat itu. Pastilah adiknya Nandri. Apalagi Nandri memang pernah ke rumahnya untuk mengantar Kal dan orlin waktu itu. “Waktu itu mas Galen ke Kantor ada keperluan ya?” Tanya Kal lagi. “Saya ada meeting dengan pemegang saham di perusahaan.” “Wah berarti betul tebakan Pandu kalau dia salah satu petinggi di perusahaan. Eh tapi bukannya waktu itu Nandri bilang profesinya dokter ya? Apa aku salah denger ya?” batin Kal. “Berarti mas pemegang saham di perusahaan ya?” Kal mencoba meyakinkan posisi Galen. Ia tidak ingin salah dalam bersikap karna bagaimana pun ia adalah karyawan di perusahaan Galen. Maka dari itu ia harus sopan. “Iya, lebih tepatnya saya direktur utama dan sekaligus pemegang saham terbesar di perusahaan.” Jelas Galen sambil melemparkan senyum kearah Kal yang ada di sampingnya. Sedetik kemudian ia fokus kejalan yang ada di depannya. “Hah?? Ma-mas dirut di perusahaan PT. Sagraha Group??” Kal terkejut dengan penjelasan Galen. “Begitulah.” Balas Galen sambil mengangkat bahu.  ͽͽͽ  Mereka sampai ditujuan. Kal mengerutkan keningnya melihat tempat yang menjadi tujuan mereka. Entah apa ini bisa disebut dengan jalan-jalan? “Pemakaman?” Kal bertanya dalam hati. “Ayo turun.” Ajak Galen. Kal yang masih bingung hanya mengikuti perkataan Galen. Galen terlihat membuka pintu belakang mobil dan mengambil setangkai bungai lili yang cantik. Kal tidak menyadari keberadaan bunga lili saat berada di dalam mobil. “Ayo ikut saya.” Ujar Galen setelah menutup pintu mobil. Sebetulnya Kal ragu untuk mengikuti Galen. Ada apa gerangan Galen mengajaknya ke pemakaman. Mau ziarah? Mau ziarah ke makam siapa emangnya? Galen yang sudah berjalan jauh di depan menoleh ke belakang untuk melihat Kal. Namun, melihat Kal terdiam di tempat, ia kembali lagi ke tempat Kal berdiri. “Kok diam di sini? Kenapa?” Tanya Galen sambil menelusuri wajah Kal untuk mengetahui apa yang dipikirkan Kal saat ini. “Kita ngapain ke sini mas?” Tanya Kal yang sejujurnya sudah mulai takut pada Galen. Pikiran Kal sudah mulai berseliweran hal-hal negatif yang bisa terjadi di pemakaman. Tiba-tiba terlintas headline news Koran “Ditemukan sesosok perempuan korban pembunuhan terkubur di pemakaman.” Kal bergidik ngeri sendiri dengan pikirannya, sehingga bulu kuduknya meremang. Melihat gadis di depannya seperti ketakutan Galen tersenyum lembut. Ia pun meraih tangan Kal untuk digenggamnya. Seakan mencoba menenangkan ketakutan Kal. Kal terpaku dengan genggaman tangan Galen pada tangannya. “Tenang, apapun yang ada dipikiran kamu itu tidak akan terjadi. Saya tidak akan bertindak kriminal kepadamu.” Galen seakan bisa membaca isi pikiran Kal. Galen mengajak Kal memasuki komplek pemakaman sambil tetap menggandeng Kal. Kal yang semulanya takut pada Galen seketika hilang entah kemana. Ada perasaan nyaman saat laki-laki di depannya ini menggandeng tangannya. Mereka tiba disalah satu makam. Kal tidak bisa membaca alasan kenapa Galen mengajaknya ke sini. Ia hanya mengamati pergerakan Galen dalam diam. Galen berjongkok di samping makam tersebut dan meletakkan bunga lili di atas makam itu. Pada nisan makam tertulis sebuah nama yang Kal tidak pernah dengar. “Hai, aku datang lagi. Kamu apa kabar?” Galen terdiam sejenak, seperti ada emosi yang ia coba untuk tahan. “Aku datang dengan seseorang. Dulu aku pernah berjanjikan apabila aku menemukan seseorang yang berarti, aku akan membawanya kehadapanmu.” “Perkenalkan namanya Kal…” ͽͽͽ   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN