“Perkenalkan namanya Kal. Dia seseorang yang akan mengisi hari-hariku mulai saat ini.”
Kal melotot menatap Galen. Terkejut dengan ucapan Galen. “Sejak kapan ada hubungan istimewa antara aku dan Galen?” Kal semakin tidak mengerti kemana arah obrolan Galen.
“Duduklah di sampingku.” Pinta Galen sambil menarik lembut tangan Kal agar ia ikut berjongkok di samping pria itu.
“Ma-maksudnya kata-kata mas tadi apa ya?” Kal tidak mampu menyembunyikan rasa penasaran.
“Mulai sekarang kamu adalah seseorang yang istimewa untuk saya.” Ucap Galen sambil menatap lembut Galen.
“Tapi…” Ucapan Kal terpotong.
“Saya tau kamu mungkin terkejut dengan pernyataan saya. Kamu nggak harus menjawab sekarang. Kita bisa mulai dari perkenalan dulu. Oke?” Perkataan Galen menyiratkan bukan ajakan tetapi perintah.
“Saya belum memperkenalkan dia kekamukan?” Tanya Galen. Galen mengalihkan tatapannya kebatu nisan dan menyapukan tangannya disana berulang kali.
“Dia juga seseorang dimasa lalu yang sangat berarti untuk saya sampai sekarang. Dia tunangan saya Alea. Dia meninggal 10 tahun yang lalu karna kecelakaan seminggu sebelum hari bahagia kami.” Lanjut Galen bercerita. Walaupun tatapan Galen mengamati batu nisan dihadapannya, namun Kal tahu pikiran pria itu terlempar kemasa lalu mengenang kejadian sedih yang pernah dialaminya.
“Seharusnya hari-hari itu dihiasi dengan persiapan pernikahan kami. Namun naas pada seminggu sebelum hari bahagia itu terjadi, saya mendapat telpon bahwa Alea mengalami kecelakaan. Entah bagaimana saya bisa sampai rumah sakit dan menemukan bahwa ia sudah dinyatakan meninggal. Mendengar itu membuat dunia saya terhenti. Sedetik kemudian gambaran kehidupan bahagia yang akan kami nikmati bersama hancur berkeping-keping. Hanya menyisakan puing-puing yang tidak akan bisa disatukan lagi.”
Galen menatap mata Kal dengan intens. Kal bisa melihat ada kesedihan mendalam yang dirasakan oleh Galen. Kesedihan itu berasal dari rasa kehilangan yang tidak mampu diterima oleh diri Galen. Pandangan Galen beralih ke tangan Kal dan meraihnya. Ia menggenggam erat tangan Kal diantara jemari tangannya. Saat tatapan mereka bertemu kembali dan Kal bisa melihat bahwa ada kerinduan mendalam. Galen semakin mempererat genggamannya pada jemari Kal, seakan mencoba menyalurkan rasa rindu itu kepada Kal.
Kal mempertanyakan tatapan itu. Namun, ia tidak sanggup untuk berucap apa-apa selain hanya membalas tatapan Galen dan menerima kehangatan pria itu pada genggamannya.
ͽͽͽ
Semenjak kejadian ’jalan-jalan’, hubungan Kal dan Galen menjadi intens. Mereka lebih sering meluangkan bertemu setiap minggunya. Komunikasi via telpon dan teks pun juga hadir diantara mereka berdua. Tak jarang perhatian-perhatian tertuang dengan kiriman bunga atau sekedar makanan yang dikirimkan Galen kepada Kal, apabila mereka tidak sempat bertemu karna kesibukan masing-masing.
Ponsel Kal berdenting, menandakan ada pesan masuk. Kal yang masih fokus dengan layar monitor di depannya mengambil ponsel disampingnya.
Galen:
Malam ini sibuk?
Saya mau ngajak kamu dinner
Kal:
Nggak sih
Boleh…
Galen:
Kita ketemu di basement setelah pulang kerja
Kal:
Oke
Sudah sebulan berjalan hubungan ‘saling kenal’ antara Galen dan Kal. Kal berusaha menikmati saja hubungannya dengan galen. Walaupun ia tidak tau hubungan mereka bisa dibilang teman dekat, pacar, atau apa. Galen tidak pernah menyatakan cintanya pada Kal ataupun mengajaknya menjalin hubungan pacaran.
Kal mengingat kejadian saat di makam, Galen hanya mengungkapkan bahwa Kal adalah seseorang yang istimewa untuknya dan memintanya untuk mengenalnya lebih jauh. Jadi bisa dipastikan hubungan mereka tidak jelas. Kal tidak ambil pusing dengan status diantaranya dan Galen karna ia juga belum siap untuk memulai suatu hubungan dengan lawan jenis.
“Kal, pulang kerja nanti nonton yuk. Suntuk nih.” Ajak Orlin.
“Yah nggak bisa Lin, udah keburu janji sama mas Galen.” Tolak Kal.
“Kalian itu pacaran atau apa sih?” Tanya Orlin heran. Orlin heran dengan perkembangan hubungan Kal dan Galen yang membuatnya terkejut. Dari yang dua kali bertemu dan tiba-tiba menjadi seperti pasangan pacaran.
Entah sudah beberapa kali Galen mengirim Kal bunga dan makanan ke kantor yang berakhir mendapat sorakan dan kedipan dari rekan-rekan kerja mereka. Bahkan Galen pernah mengirimkan paket makan siang mewah untuk orang-orang didivisi mereka. Rekan kerja yang lain sampai bertanya Kal sedang berkencan dengan bos dari mana. Namun, hanya dibalas Kal dengan senyuman tanpa ada lanjutannya.
Akhirnya rekan kerja mereka memberikan nama gelar “kekasih bayangan”. Hanya Orlin yang mengetahui identitas kekasih bayangan itu yang adalah bos mereka di perusahaan. Jelas Orlin tidak akan membiarkan ia ketinggalan satu pun informasi tentang sahabatnya itu.
Kal tidak mau menyebutkan nama kekasih bayangannya, karna kalau karyawan lain tau bisa-bisa gempar satu perusahaan.
“Nggak ada Lin. Sudah berapa kali aku bilang nggak ada hubungan apa-apa.” Jelas Kal yang mulai bosan ditanya dengan pertanyaan yang sama hampir tiap hari.
“Terus kok dia baik banget ngirim bunga, makanan, ngajak jalan, ngasih perhatian kekamu.”
“Mana aku tau.” Kal yang semula menatap layar computer, mengalihkan pandangannya pada Orlin. “Dia hanya bilang ingin aku mengenal dia. Just it.”
“Kenapa kamu nggak minta dia negasin aja hubungan kalian itu mau dibawa kemana?” Orlin tetap ngotot.
Kal bingung dengan Orlin. Kal yang menjalin hubungan dengan Galen santai-santai aja, yang minta kejelasan malah Orlin. Kal geleng-geleng kepala.
“Males ah Lin. Aku masih nyaman hubungan tanpa terikat kayak gini. You know me.” Orlin bisa paham arti kata ‘you know me’ yang diucapkan Kal. Orlin hanya mendesah.
“Coba sekali aja buka hati kamu buat laki-laki lain Kal. Nggak semua mereka sama bejatnya. Sama seperti aku yang sedang mencari seseorang yang tidak akan menoreh luka dihatiku lagi” Ujar Orlin sambil meninggalkan meja Kal.
Kal tau apa yang harus dia lakukan. Namun hatinya tidak mampu untuk membuka. Bukan tidak mampu, lebih tepatnya belum siap.
ͽͽͽ
Kal tergesa-gesa menuju ke parkiran basement. Setelah sampai ia mengetuk kaca sebuah mobil dan masuk ke kursi penumpang. Galen duduk sambil memainkan ponsel di kursi kemudi.
“Maaf mas, nunggu lama ya? Tadi aku sholat mahgrib bentar.” Ucap Kal sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan karna lari-lari kecil.
“Nggak kok.” Balas Galen masih fokus pada ponselnya.
“Mas sudah sholat?”
“Sudah tadi sebelum turun.”
Begitulah hubungan mereka saat ini. Ketika di kantor mereka akan main kucing-kucingan apabila ingin bertemu seperti sekarang. Bahkan saat berpapasan pun mereka hanya melemparkan senyuman dan anggukan layaknya bos dan karyawan. Mereka tidak ingin menjadi bahan gosipan. Apalagi dengan status Galen direktur utama di perusahaan siap-siap saja digosipkan satu perusahaan.
Belum lagi Galen menjadi “most wanted man” dikalangan karyawati-karyawati di perusahaan. Siapa yang nggak mau kalau didekati cowok setampan dan sekaya Galen. Kalau kata Orlin yang nolak rugi tujuh turunan hahaha.
Apa Kal menolak? Bukan menolak, tapi sedang mencoba membuka hati. Kapan siap hatinya menerima orang? Ia pun tidak bisa menjawab. Bagi Kal menemukan pasangan bukan hanya masalah fisik dan materi. Namun, banyak hal yang perlu dipertimbangkan agar tidak terluka lagi. Jadi sekarang dia mencoba mempertimbangkan Galen dengan menjalani hubungan perkenalan ini.
“Kita mau makan dimana?” Tanya Kal.
“Nanti kamu bakaln tau.” Jawab Galen singkat sambil menyalakan mesin mobil.
Kal sudah mulai terbiasa dengan sikap Galen yang irit bicara dan penuh misteri. Kal hanya mendesah dan pasrah diajak Galen kemana pun. Asal jangan ke pemakaman lagi. Sudah malam pula, kan serem.
ͽͽͽ
Kal dan Galen bergandengan tangan memasuki sebuah restoran mewah. Restoran ini terkenal dengan hidangan khas makanan western. Menurut kabar burung yang sampai ketelinga Kal, restoran ini milik seorang koki yang sudah terkenal dan diacungi jempol untuk kemampuan memasaknya. Bahkan koki ini punya nilai plus dimata para wanita yaitu wajah gantengnya yang membuat kaum hawa semakin kagum dan menggilai.
Hanya segelintir itu info yang didapat Kal. Ia memang tidak terlalu update dengan seputar masak. Kal hanya tau tempat mana yang makanannya enak dan tidak. Ini pertama kalinya Kal mengunjungi restoran ini.
Mereka memasuki sebuah ruangan private. Hanya ada mereka berdua di dalam ruangan itu.
“Kamu mau pesan apa?” Tanya Galen
“Samain aja sama pilihan mas.” Kal menutup buku menu yang ada dihadapannya. Ia tidak terlalu tau makanan western. Lidah Kal lebih cocok dengan masakan Indonesia seperti pecel lele, rendang, gulai, dan makanan khas Indonesia lainnya.
Galen menyebutkan memesan beberapa menu yang Kal tidak tau makanan jenis apa saja itu. Pelayan pergi setelah mencatat pesanan mereka.
“Kamu suka tempat ini?” Tanya Galen sambil mengelus punggung tangan Kal.
“Bagus dan terkesan mewah.” Ujar Kal sekenanya. Jujur Kal tidak terlalu nyaman dengan tempat seperti ini. Bukan tidak suka tapi hanya tidak nyaman saja. Apalagi setelah melihat harga-harga dimenu yang cukup fantastis untuk seorang Kal. Makan di sini bisa menghabiskan setengah gaji Kal untuk sekali makan. Kalau tidak pergi dengan Galen, mungkin ia akan mencari tempat resto yang lebih bersahabat dengan kantong dan lidahnya.
“Kamu nanti pasti akan suka dengan menu-menu masakan di sini.” Galen tersenyum lembut. Kal mengakui pria yang duduk di sampingnya ini sangat manis dalam memperlakukan wanitanya. Wanitanya? Apa Kal bisa menyebut dirinya sebagai wanita Galen? Entahlah. Dapat dipastikan wanita mana pun akan meleleh apabila diperlakukan manis seperti ini. Namun, sisi hati Kal seakan memperingatkannya untuk hati-hati. Jangan sampai terbuai dengan sikap Galen. Entah yang salah dia atau memang Galen patut disebut ancaman dengan predikat perayu ulung.
Mereka asik mengobrol tentang kegiatan masing-masing sampai seseorang masuk membawa pesanan mereka. Kal yang asik memperhatikan Galen, tidak menyadari siapa yang mengantar makanan. Sampai suara pria menyapanya.
“Silahkan dinikmati masakannya calon kakak ipar.” Ujar pria itu.
Kal yang heran dengan panggilan itu mendongakkan kepalanya menatap pelayan itu. Kal terkejut orang yang mengantarkan pesanan mereka adalah Nandri.
“Lho Nandri?” Kal mengedipkan kedua matanya beberapa kali. Memastikan penglihatannya tidak salah menangkap kehadiran Nandri di ruangan itu.
“Kok kamu ada di sini?” Kal masih tidak percaya.
“Saya di sini untuk melayani calon kakak ipar.” Ujar Nandri sambil mengedipkan sebelah matanya kearah Kal.
Kal baru ingat kalau Nandri adik Galen. Bisa saja Galen yang meminta Nandri untuk bergabung bersama mereka malam ini. “Tapi kenapa Nandri yang membawa pesanan mereka? Apa dia kerja disini?” Batin Kal.
Nandri yang dari tadi melihat perubahan ekspresi Kal tertawa lucu. Ia selalu gemas setiap melihat ekspresi Kal. Hal ini memicu ia ingin menggoda Kal terus.
“Jadi fix nih jadi kakak ipar?”
ͽͽͽ