Bab 7 Kehadiranmu Kembali

1225 Kata
“Jadi fix nih jadi kakak ipar?” Goda Nandri yang duduk berseberangan dengan Galen dan Kal. “Hah? Kakak ipar?” Kal melongo mendengar sebutan Nandri untuk dirinya. “Kayaknya berjalan mulus nih hubungannya?” Gantian Nandri mengerlingkan matanya kearah Galen. Galen hanya diam tak menanggapi sang adik. “Kakak ipar apaan?!” Sahut Kal. “Yakan sebentar lagi bakalan jadi kakak ipar saya.” Nandri menekankan kata-katanya. “Belum ya, mana ada. Wong kakakmu aja nggak ada ngelamar saya.” Kilah Kal. “Oh minta dilamar nih kak.” Nandri tergelak. Seketika wajah Kal merona karna perkataannya seakan-akan minta dilamar oleh Galen. “Eh nggak gitu maksudnya.” Sanggah Kal. “Gitu juga nggak apa-apa kok.” Goda Nandri. Kal melotot kearah Nandri. Manusia didepannya ini dari awal ketemu sampai sekarang suka sekali menggodanya bahkan mengejeknya. Kadang suka membuat Kal jengkel. Melihat ekspresi Kal yang melotot kearahnya semakin membuat Nandri tertawa. “Sudah, sudah, ayo makan.” Galen akhirnya melerai sebelum menjadi semakin panas. Bukan Nandrinya yang panas tapi Kal karna kesal. “Cobain yang ini kakak ipar. Spesial lho saya buatinnya buat kakak ipar.” Kalau ia tetap meladeni candaan Nandri pasti tidak ada habisnya. Jadi ia biar saja Nandri menyebutnya seperti itu. “Kamu yang buat?” Kal menatap Nandri dengan ekspresi heran. “Iya dong, masa orang lain sih. Keren-keren gini saya chef handal lhooo.” Ujar Nandri sambil menepuk dadanya. “Chef?” Kal semakin bingung. Seketika Kal ingat kabar burung yang ia dengar. Jangan-jangan chef terkenal jago masak dan tampan itu Nandri?? Kal menutup mulutnya. “Kamu chef yang terkenal itu?” Dibalas Nandri dengan anggukan. “Chef yang punya restoran ini?” Nandri menjawab dengan anggukan berulang-ulang sambil tersenyum bangga. “Dan chef yang terkenal karna kegantengannya.” Tambah Nandri narsis. “Wah keren.” Puji Kal tanpa sadar. Kalau dikondisi normal ia akan berpikir berulang kali untuk memberikan pujian kepada Nandri. “Jelas, Nandri.” Nandri semakin membanggakan diri dihadapan Kal. Kal dengan wajah bloonnya memberikan tepuk tangan. Galen hanya bisa geleng-geleng kepala melihat interaksi sang pujaan hati dan adiknya. Mereka menyantap hidangan yang disajikan Nandri sembari mengobrol. “Kapan kak Galen mau ngajak Kal ketemu papa dan mama?” Tanya Nandri. Kal menoleh kearah Galen. Dalam hati ia berdoa bahwa itu tidak terjadi dalam waktu dekat ini. Ia belum siap, tidak sekarang. “Nanti tunggu waktu yang tepat.” Jawab Galen sambil melirik Kal di sampingnya. Kal terdiam mendengar ucapan Galen. Ia berharap ‘waktu yang tepat’ yang diucapkan Galen tidak dalam waktu dekat ini.   ͽͽͽ   Galen memberhentikan mobilnya di depan rumah Kal. Terlihat ada sebuah mobil terparkir tepat di depan rumah Kal juga. Seketika wajah Kal berubah penuh emosi. Ia mengenali mobil yang terparkir rapi itu. Napasnya memburu seakan ia sedang menahan sesuatu didalam dirinya. Galen melihat perubahan ekspresi Kal. Ia mencoba menajamkan pandangannya dikegelapan ke arah teras rumah Kal. Ada seorang pria yang sepertinya menunggu sang tuan rumah pulang. “Siapa yang bertamu malam-malam?” Tanya Galen pelan. “Bukan siapa-siapa. Makasih sudah nganterin pulang. Maaf aku nggak nawarin untuk masuk ke rumah karna sudah malam. Hati-hati dijalan.” Tanpa menunggu balasan dari Galen Kal langsung keluar dari mobil. Galen melihat Kal seperti menahan amarah tidak langsung pergi meninggalkan rumah Kal. Ia ingin memastikan bahwa tidak ada hal yang buruk menimpa sang pujaan hati. Kal sudah berada dihadapan pria yang sudah menunggunya itu. “Ngapain kamu ke sini? Sepertinya kita nggak punya urusan lagi.” Ujar Kal datar sambil menatap tajam kearah pria itu. “Hai Kal. Ya ampun galak banget. Sapa dulu kek baru tanya tujuanku ke sini.” Ujar pria itu santai. “Kalau nggak ada urusan penting, silahkan pergi dari rumah saya.” Usir Kal ketus. Kal mengalihkan pandangannya kearah lain berusaha meredakan amarah yang semakin ingin keluar saat menatap wajah pria di hadapannya ini. “Ada urusan penting diantara kita Kal yang belum selesai.” Kata pria itu lembut sambil berusaha memegang tangan Kal. Melihat pergerakan pria itu Kal mendelik dan mundur selangkah ke belakang menghindari sentuhan pria itu. Galen yang memperhatikan dari dalam mobil langsung turun untuk memastikan siapa tamu Kal yang membuatnya emosi. “Kal.” Panggil Galen di belakang Kal. Mendengar suara Galen Kal berbalik dan tatapannya bertemu dengan mata Galen yang sepertinya terlihat khawatir. “Lho mas Galen belum pulang? Ada yang ketinggalan?” Sahut Kal pelan sambil berusaha meredam emosinya didepan Galen. “Seharusnya saya yang tanya, kamu baik-baik saja?” Tanya balik Galen dan menatap tamu pria Kal. Sepertinya tamu ini tidak diharapkan kedatangannya oleh Kal. “Saya nggak apa-apa mas.” Kal menunduk. Ia tidak mau Galen melihat kondisinya seperti ini. Bahkan mengetahui siapa pria yang bertamu ini. “Maaf anda siapa? Ada kepeluan apa di sini?” Tanya Galen kepada pria itu. “Anda yang siapa tiba-tiba datang mengganggu kami. Saya Mada tunangan Kal” Balas pria itu tidak suka kearah Galen. “Heh tutup mulutmu! Diantara kita sudah nggak ada hubungan lagi.” Bentak Kal yang dari tadi menahan amarah akhirnya ia keluarkan. “Saya ingin mengingatkan, kamu yang menyebabkan kita berakhir dan jangan pernah menganggap kita masih ada hubungan. Kita sudah selesai saat kamu berkhianat.” Tekan Kal dengan napas memburu. “Oke aku salah. Aku minta maaf sayang. Tolong beri aku kesempatan lagi.” Mada memelas. “Nggak ada kesempatan kedua untuk pengkhianatan. Silahkan pergi dari sini.” Perintah Kal. “Kal ayolah, aku tau kamu nggak bisa lupain aku.” Mada berusaha menyentuh lengan Kal. “Pergiiiii!!!” Bentak Kal histeris. Seketika Kal merasanya nyeri didada kirinya. Kal bersimpuh di lantai sambil memegang d**a kirinya. “Kal.” Ucap Galen dan Mada bersamaan. Galen dan Mada berjongkok di lantai memeriksa keadaan Kal. Galen memegang kedua bahu Kal untuk menompang agar tubuh lemas Kal tidak jatuh ke lantai. Kal yang menahan nyeri didadanya berusaha menatap Mada. “Per-gi.” Ucap Kal dengan napas tersengal sambil menahan nyeri. “Lebih baik anda pergi sekarang sebelum saya panggilkan polisi.” Ujar Galen menatap tajam Mada. Melihat kondisi Kal seperti kesakitan. Ia langsung mengangkat Kal menuju mobil. Ia akan membawa Kal ke rumah sakit. Setelah mendudukan Kal di kursi penumpang depan, Galen masuk ke mobil dan membawa Kal pergi.   ͽͽͽ   Kal tengah diperiksa oleh dokter di IGD rumah sakit. Selagi menunggu Galen berusaha mengatur napasnya. Ia bukan kelelahan karna membawa Kal, namun ia mulai tidak nyaman dengan situasi rumah sakit. Badan Galen mengeluarkan keringat dingin. Tubuhnya basah seperti baru saja lari marathon. Seorang dokter yang ia kenal keluar dari ruang periksa. Galen mendekati dokter tersebut. “Bagaimana kondisinya dok?” Tanya Galen khawatir kepada dokter yang memeriksa Kal. “Apa ini sering terjadi?” Tanya dokter tersebut. “Saya tidak tau pasti apa kondisi ini sering terjadi atau bagaimana. Apa kondisinya memburuk?” Tanya Galen khawatir. “Tidak ada hal yang serius. Seharusnya gejala seperti ini jarang terjadi setelah operasi berhasil. Saya akan melakukan serangkaian pemeriksaan untuk memastikan kondisinya dulu.” Kata dokter tersebut. “Baik, terima kasih dokter. Tolong kabari saya kalau hasilnya sudah keluar, saya berharap tidak terjadi apa-apa dengannya.” “Tenang saja Galen. Akan saya infokan nanti hasilnya.” “Terima kasih dokter. Maaf saya malam-malam menghubungi diluar jam praktek.” “Tidak apa-apa. Saya paham kekhawatiranmu.” Dokter tersebut menepuk-nepuk pundak Galen untuk mengurangi kekhawatirannya. “Ngomong-ngomong sepertinya kamu lebih berisi dari terakhir kita bertemu dua bulan lalu.” Dokter itu tertawa. “Benarkah dokter?” Sahut Galen tersenyum. “Sepertinya perempuan itu membuat kamu lebih bahagia sekarang.” “Bertemu dengannya seperti mengembalikan cinta saya yang hilang 10 tahun lalu.” Galen tersenyum. “Ya, ya, saya paham apa yang kamu rasakan Galen. Tapi yang harus kamu ingat, mereka tetap orang yang berbeda.” Nasehat dokter itu. “Iya, saya tau dokter.” Sahut Galen lemah. “Kalau begitu saya permisi dulu ya Galen.” “Baik dokter, sekali lagi terima kasih.” Dokter itu membalas dengan senyuman dan tepukan sekali pada pundak Galen. Kal dibawa menuju ke ruang rawat inap. Setelah memeriksa cairan infus perawat meninggalkan ruangan. Hanya ada Galen dan Kal di ruangan. Galen mendekati brankar Kal. Ia memperhatikan dan membelai wajah Kal yang tengah nyenyak tertidur. “Tolong jangan tinggalkan aku lagi sayang. Akhirnya aku bisa merasa hidup kembali karna kehadiranmu dihidupku lagi, walaupun tidak utuh. Ini saja sudah cukup untukku.” Galen semakin merasa tidak nyaman berada di rumah sakit. Akhirnya ia mencoba menghubungi Nandri. “Nandri kamu bisa menjaga Kal sementara di rumah sakit?” Ujar Galen berlalu keluar ruangan. ͽͽͽ   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN