Bab 8 Sesuatu Yang Baru

1763 Kata
Kal membuka pelan matanya. Ia melihat dikelilingi ruangan putih, bukan warna dinding kamarnya seperti biasa. “Kal.” Panggil seseorang terdengar pelan dipendengarannya. Kal mencoba menoleh kearah sumber suara. Ia melihat Orlin dan Nandri berdiri disampingnya. “Lin, aku dimana?” Tanya Kal dengan suara serak. “Kamu di rumah sakit Kal. Semalam kamu dilarikan ke rumah sakit.” Sahut Nandri. Kal mencoba mengingat apa yang terjadi sampai ia dilarikan ke rumah sakit. Ia mengingat bahwa malam tadi ia dinner dengan Galen dan Nandri. Ketika pulang ia menemukan Mada ada di rumahnya dan terjadi perdebatan. Ia ingat hanya sampai ia merasakan nyeri pada dadanya dan tiba-tiba ia tidak tau lagi apa yang terjadi. “Nyeri d**a?” pikir Kal. Seketika ia menyentuh d**a kirinya. “Jantungku nggak apa-apakan?” Kal mulai khawatir. “Kami belum tau mengenai kondisi kesehatan kamu Kal. Katanya nanti kamu akan diperiksa lebih lanjut. Kamu jangan panik, kita berdoa saja semoga baik-baik saja.” Orlin menenangkan. “Apa mau kami kabarkan keorang tuamu Kal?” Tanya Nandri. Berdasarkan cerita Orlin, Kal tidak memiliki sanak saudara di sini. Semua keluarganya berada di Kalimantan. “Jangan Dri.” Cegah Kal. “Saya nggak pengen membuat keluarga saya khawatir, apalagi mereka jauh dari sini.” “Ya sudah kalau itu mau kamu. Kamu masih ada aku dan keluarga aku di sini kok Kal. Tadi waktu kamu masih tidur ayah dan ibu sempat jenguk sebentar sebelum ke tempat kerja. Mungkin nanti bakalan ke sini lagi.” Orlin mengelus lengan Kal. “Iya, makasih ya.” “Kan ada aku sama Kak Galen juga.” Ujar Nandri menimpali. “Mas Galen?” batin Kal. “Bukannya saat berdebat dengan Mada ada Mas Galen di sana? Iya betul, aku ingat. Dimana sekarang Mas Galen?” “Mas Galen dimana?” Tanya Kal. “Oh e itu kak Galen ada kerjaan mendadak yang nggak bisa ditinggalkan.” “Oh…” Jawab Kal. Ia merasa kecewa tidak ada kehadiran Galen di sini. Bukannya kalau orang yang disayang lagi sakit, setidaknya ia ada disisiku. “Orang yang disayang?” Kal menggeleng-gelengkan kepala. “Kenapa Kal, ada yang sakit? Aku panggilkan dokter atau perawat dulu ya.” Orlin khawatir. “Nggak kok Lin, cuman pegel aja leherku makanya geleng-geleng kepala.” Jawab kal sekenanya. ͽͽͽ Setelah melalui pemeriksaan Kal kembali ke ruangannya diantar perawat. Orlin dan Nandri izin kembali bekerja. Mereka berjanji setelah kerja akan kembali menemani Kal di rumah sakit. Ketika memasuki ruangan Kal melihat ada dua orang seperti sepasang suami istri sedang duduk di sofa ruangan Kal di rawat. Kal mengira ia salah masuk ruangan. Namun, saat seorang ibu tersebut memanggilnya namanya, ia yakin ini ruangannya. Tapi siapa kedua orang di depannya ini. Perawat membantu Kal untuk naik kebrankarnya. Setelah memastikan Kal baik-baik saja perawat itu pergi dari ruangan. “Kamu Kal ya?” Tanya ibu itu. “Iya bu, mohon maaf sebelumnya bapak dan ibu siapa ya?” Kal penasaran karna sepertinya ia tidak pernah bertemu sebelumnya dengan kedua orang ini. “Kami orang tua Galen.” Sahut bapak itu. “Oh o-orang tua mas Galen?” Seketika Kal gugup. Ada apa gerangan orang tua mas Galen menemuinya. Bahkan anaknya satu itu saja belum menemui Kal, membuat Kal kesal dari tadi. “Iya betul, saya mamanya Galen dan ini papa Galen.” Ibu tersebut tersenyum ramah. Kal bingung dengan kedatangan orang tua Galen. Tau dari mana dan untuk apa menjenguknya. Bukannya mau berpikiran negatif, tapi selama ini dia tidak pernah dikenalkan dengan orang tua Galen. “Apa mas Galen yang mengasih tau? Apa orang tuanya tau hubungan kami?” pikir Kal. “Bagaimana kondisimu Kal?” Tanya papa Galen. “Baik om, sudah agak mendingan.” “Tadi om sudah meminta agar kamu langsung ditangani oleh dokter yang handal di rumah sakit ini.” Jelas papa Galen. “Oh iya om, makasih.” Kal tidak tau harus membalas bagaimana dengan perhatian kedua orang tua Galen. “Orang tua kamu dimana Kal?” Tanya mama Galen yang sekarang sudah duduk di sisi brankar Kal. “Orang tua saya tidak tinggal di sini tante. Mereka tinggal di Kalimantan.” “Lho yang jaga kamu siapa dari malam tadi?” Mama Galen terkejut. “Ada teman saya tante yang jaga, Nandri juga ada di sini tadi.” “Oh syukurlah. Nanti biar tante suruh Nandri yang jaga dan ngurus keperluan kamu selama di rumah sakit.” “Kok Nandri? Anak tante yang satunya mana? Yang katanya aku adalah orang istimewa dihatinya? Kenapa sampai sekarang nggak muncul batang hidungnya.” “Galen nggak bisa jaga kamu di sini karna mendadak ada urusan perusahaan yang harus ia tangani.” Ujar mama Galen seakan bisa membaca pikiran Kal. “Iya tante nggak apa-apa. Kal paham pasti banyak kerjaan mas Galen yang nggak bisa ditinggalkan.” Kal tersenyum. “Sekali pun untuk aku mas?” Seperti lain dimulut lain dihati. Mulut bisa berucap begitu tapi hatinya menginginkan kehadiran Galen. “Apa aku sudah bisa menerima kehadiran seorang Galen?” Kal mendesah. ͽͽͽ Sepeninggal orang tua Galen, Kal sendirian di ruangan. Ia mencoba menelaah hatinya. Apakah rasa sakit terhadap Mada sudah berkurang? Sepertinya belum mengingat responnya saat bertemu Mada kemaren. Apa kehadiran Galen yang pada awalnya biasa saja tidak memunculkan respon dihatinya, sekarang sudah bisa menerima kehadirannya? Itu dia tidak tau. Walaupun ia ingin kehadiran Galen di sini, belum tentu ia mulai ada rasa kepada Galen kan? Terdengar suara ketukan pada pintu ruang rawat Kal. Pintu terbuka dan menampilkan pria dengan berpakaian setelan jas masuk ke ruangan. “Permisi nona. Perkenalkan saya Ginta asisten Bapak Galen.” Mendengar nama Galen disebut Kal langsung bangun dari posisi tidurnya. “Iya, ada apa ya?” Kal berharap ada kabar dari Galen. Dari pagi tadi sampai sekarang Galen pun tidak ada menelpon menanyakan kondisinya. “Saya mengantarkan makan siang untuk nona dari Bapak Galen.” Ujar Ginta. “Beliau memesan ini agar nona tidak bosan dengan makanan yang ada di rumah sakit.” Lanjut Ginta sambil menaruh bungkusan di meja sebelah brankar. “Oh iya, terima kasih.” Balas Kal. “Kalau begitu saya permisi dulu nona.” Pamit Ginta. “Sebentar.” Cegat Kal. Ginta yang akan berbalik mengurungkan niatnya. “iya nona, ada yang bisa saya bantu?” Tanya Ginta. “Tolong sampaikan pesan saya ke atasan kamu tanpa ada merubah kata sedikit pun, ‘kalau memang saya orang yang istimewa dihatinya tolong setidaknya berikan perhatian dengan menanyakan kondisi saya lewat telpon’.” Ucap Kal dengan lugas. “Ba-baik nona. Saya akan sampaikan kepada Pak Galen.” Jawab Ginta. ͽͽͽ Suara pintu ruangan kerja Galen di ketuk. “Masuk.” Perintah Galen tetap fokus dengan dokumen yang sedang ia periksa. Ginta memasuki ruangan kerja Galen. Melihat yang datang adalah Ginta, Galen meletakkan dokumen dan menatap asistennya itu. “Bagaimana kondisinya?” Tanya Galen. “Kondisi nona Kal baik-baik saja pak.” Jawab Galen. “Hmm ya saya sudah mendengar laporan dari dokter yang menangani Kal. Tapi apa wajahnya pucat atau bagaimana?” Galen menanyakan detail. “Tidak pak, sepenglihatan saya nona Kal terlihat segar bugar, tapi mungkin sepertinya ia sedang kesal.” “Kesal? Kesal kenapa?” Galen mengangkat sebelah alisnya. “Saya kurang tau pak, tapi ada pesan dari nona Kal untuk bapak.” “Oh ya, apa katanya?” Galen tersenyum semakin fokus dengan cerita Ginta. Ginta terlihat menghirup udara dan menghembuskannya pelan sebelum berbicara. “Nona Kal bilang ‘kalau memang saya orang yang istimewa dihatinya tolong setidaknya berikan perhatian dengan menanyakan kondisi saya lewat telpon’.” “Hah?” Galen melongo mendengar penuturan Ginta. “Begitu pesan nona Kal pak tanpa mengurangi dan mengubah kata-kata dari nona Kal.” Ginta berbicara sambil menunduk. Ia takut kalau atasannya ini akan marah. “Oh oke, terima kasih Ginta. Kamu boleh keluar.” Perintah Galen. “Tunggu Ginta.” Ujar Galen menahan Ginta. “Tidak ada pesan yang lain lagi dari dia?” Galen menunggu jawaban Ginta. “Ah iya ada pak, kata nona Kal ‘terima kasih’ untuk makan siangnya.” “Ya sudah kamu boleh keluar.” “Baik pak, saya permisi.” Galen tersenyum mengingat pesan dari Kal. Ia merasa tidak nyaman karna tidak menjenguk langsung. Namun apa boleh buat. Ia tidak bisa berada di rumah sakit, sehingga ia harus berbohong kepada Kal. Ia mengambil ponselnya dan menekan kontak seseorang yang tadi memintanya untuk menelpon. Terdengar beberapa kali dering sampai seseorang yang ia rindukan menjawab telponnya. “Halo.” “Halo.” Sahut Galen sambil tersenyum. Ia sangat merindukan pemilik suara itu. “Ada apa?” Terdengar ketus dari suara Kal. “Bukannya kamu yang meminta saya untuk menghubungimu?” Senyum Galen semakin lebar. Ia tau wanita diseberang sana sedang melancarkan aksi ngambeknya. “Kata siapa?” Jawab Kal berkilah. “Kata asisten saya tadi menyampaikan pesan seperti ini, ‘kalau memang saya orang yang dicintainya tolong telpon saya’.” Galen mengulang kata-kata dari pesan Kal namun ia ubah. “Aku nggak ada ngomong gitu.” Sanggah Kal dengan nada suara manja. Galen tersenyum mendengar suara manja dari Kal. Selama sebulan ini ia merasa sulit mendekati Kal. Walaupun ia tidak menolak ajakan atau perhatian darinya, namun Galen tau hati itu belum sepenuhnya terbuka untuknya. Mendengar nada suara manja yang belum pernah Galen dengar seketika membuatnya senang. “Jadi sekarang kita pakai aku-kamu?” Goda Galen. “Kenapa sekarang aku seperti Nandri yang suka menggoda Kal?”. Sepertinya ia sudah mulai ketularan sikap adiknya. “Memang saya bilang gitu?” Terdengar nada canggung diseberang sana. “Ah kembali lagi, padahal lebih imut mendengar nada manjanya.” Batin Galen. “Mau coba sesuatu yang berbeda?” Tawar Galen. “Terserah.” Jawab Kal singkat. Galen yakin wajah wanita itu sedang merona sekarang. “Bagaimana kondisi kamu sekarang? Sudah enakan?” Tanya Galen. “Kenapa nggak liat sendiri?” Tanya Kal datar. “Segitu kangennya ya sama aku?” Galen tersenyum. Sedetik kemudian Galen masuk ke ruangan istirahatnya yang berada di dalam ruangan kerjanya. “Kita berpindah ke video call.” Galen mematikan sambungan dan menekan ikon kamera pada aplikasi dilayar ponselnya. Tidak berapa lama wajah wanita yang dirindukannya muncul. “Ngapain sih pakai video call segala?” Ujar Kal menampilkan ekspresi malu-malu. “Katanya kangen, kalau kangen mending video call. Paling nggak bisa mengobati sedikit kangennya.” Galen tersenyum. Kal terlihat membalas senyumnya. “Kamu lagi dimana?” Tanya Kal. “Aku….lagi di kamar hotel.” Ujar Galen berbohong. “Kamu lagi di luar kota?” Tanya Kal dengan wajah sedih. “Iya. Maaf ya saat kamu bangun aku nggak ada disisi kamu.” Galen menampilkan wajah sendunya. Ia tidak berbohong bahwa ia sangat menyesal tidak bisa berada disisi Kal disaat wanita itu membutuhkannya seperti sekarang. Bahkan ia harus berbohong dengan menyebutkan kalau ia sedang di luar kota. Terlihat Kal menganggukan kepala. “Apa masih sakit?” Tanya Galen. “Sudah nggak lagi.” Kal menggelengkan kepala. “Entahlah tapi dari bangun tadi sampai sekarang aku nggak ngerasa sakit. Malah ngerasa sehat-sehat aja. Anehkan??” “Mungkin kamu cuman butuh istirahat aja.” Galen tidak mau menyinggung kejadian yang menyebabkan Kal sakit, walaupun ia penasaran siapa laki-laki yang bertamu malam itu. “Sudah dimakan makan siangnya? Enak?” “Heeh, enak. Makasih ya.” Kal tersenyum malu-malu. “Kamu nggak kerja?” Ia heran siang seperti ini Galen malah di kamar hotel. Bukannya ia keluar kota karna ada pekerjaan. “Sebentar lagi pergi ketemu dengan klien. Ya sudah kamu istirahat aja. Cepat sembuh ya sayang.” Ini pertama kalinya Galen memanggil Kal dengan panggilan romantis seperti itu. “Iya, kamu juga selamat bekerja…” Kal seperti ingin menyebutkan sesuatu namun ia tahan. “Iya?” Galen menaikkan kedua alisnya tanpa sadar menunggu kelanjutan kata-kata Kal. “Bye.” Lanjut Kal sambil melambaikan tangan kearah kamera. Galen tersenyum dan ikut melambaikan tangan. ”Bye.” ͽͽͽ   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN