Kal dirawat selama tiga hari di rumah sakit. Kondisi Kal terbilang tidak ada hal serius yang perlu dikhawatirkan. Namun, tanpa sepengetahuan Kal, Galen meminta kepada dokter yang menangani Kal agar dirawat lebih lama untuk dilakukan pemeriksaan keseluruhan terhadap kesehatan Kal.
Seorang dokter berusia awal 50 tahun dan beberapa orang perawat memasuki ruangan. Dokter Fandi tersenyum kearah Kal.
“Bagaimana kabar kamu hari ini Kal?” Sapa Dokter Fandi ramah. Dokter Fandi merupakan dokter yang menangani Kal selama di rumah sakit. Bahkan Dokter Fandi yang mulai menangani Kal dari dulu sampai sekarang. Jadi ia dan Dokter Fandi bisa dibilang dekat.
“Ya, ya, mohon maaf perkataan saya sama seperti kemaren-kemaren Dok. Saya sangat sehat. Jadi kapan saya boleh keluar dari rumah sakit. Jujur saya mulai bosan.” Kal memasang ekspresi memelas.
Dokter Fandi menanggapi dengan senyuman. Baginya Kal sudah seperti anaknya. Kal sudah menjadi pasiennya selama bertahun-tahun.
“Mana hasil pemeriksaan medisnya?” Ujar Dokter Fandi kepada perawat di belakangnya.
“Ini Dokter.” Ujar perawat itu memberikan hasil pemeriksaan Kal.
“Hmmm..sepertinya kamu masih harus di sini lagi selama seminggu Kal.” Ucap Dokter Fandi tetap fokus dengan hasil pemeriksaan medis Kal yang ada ditangannya.
“Apa Dok?” Ujar Kal tidak bisa menyembunyikan ekspresi terkejutnya. “Ta-tapi saya sudah nggak ngerasa sakit lagi dok. Badan saya juga udah segar lagi. Saya ngerasa sehat-sehat aja.”
“Tapi bohong.” Canda Dokter Fandi. Perawat yang ada di belakang Dokter Fandi menahan tawa karna candaan dokter itu. Seketika Kal menatap kearah Dokter Fandi sambil cemberut.
“Hahahahaha kamu itu ya nggak berubah dari dulu, gampang dikerjain.” Dokter Fandi tergelak. “Baiklah sebelum saya memperbolehkan kamu pulang, saya akan memeriksamu dulu.” Dokter Kal mendekati brankar Kal sambil memasang stetoskop dan memeriksa Kal.
“Selama beberapa hari ini tidak ada muncul nyeri atau sakit lagi?” Tanya Dokter Fandi memastikan. Kal menggelengkan kepalanya. Dokter Fandi melepaskan stetoskopnya.
“Kalau dari hasil pemeriksaan tubuhmu tidak ada gangguan kesehatan Kal. Semua baik-baik saja. Mungkin nyeri yang kamu alami karena banyak pikiran yang mengakibatkan kamu stres. Hal ini jelas akan berdampak pada fisikmu.” Dokter Fandi menjelaskan.
Kal mengangguk-anggukkan kepala. Ia sadari belakangan ini pekerjaannya banyak sekali, sehingga waktu istirahat kurang. Ia juga sering merasa cepat lelah.
“Walaupun kamu sudah sehat, tapi kamu tetap tidak boleh egois Kal. Kamu harus menjaga kesehatanmu.” Dokter Fandi memberikan nasehat kepada Kal.
“Baik Dok, saya akan lebih menjaga kesehatan lagi. Jadi boleh saya pulang?”
“Ya boleh. Semakin cepat kamu pulang, saya pun tidak akan direcokin pacar kamu itu.” Kata Dokter Fandi.
“Pacar? Pacar saya?” Ujar Kal heran.
“Iya, pacar kamu Galen sehari menelpon saya pagi, siang, malam seperti minum obat saja 3 kali sehari.” Jawab Dokter Fandi terkekeh.
“Mas Galen menelpon Dokter?” Kal terkejut dengan perlakuan Galen. Padahal Galen selalu memantaunya hampir tiap jam. Entah itu lewat pesan maupun telpon.
“Padahal usianya sudah tidak muda lagi tapi kelakuan seperti remaja yang sedang kasmaran saja.” Celetuk Dokter Fandi tanpa menjawab pertanyaan Kal.
ͽͽͽ
Kal sampai rumah diantar oleh Nandri, sedangkan Orlin tidak bisa menjemput. Pekerjaan menumpuk karna ketidakhadiran Kal beberapa hari di Kantor. Ketika turun dari mobil Kal melihat Galen sudah berdiri di depan rumahnya. Galen pun menghampiri Kal sambil tersenyum. Saking terkesimanya dengan senyum tampan Galen, Kal rasanya ingin memeluk tapi ia tahan. Ia masih sedikit kesal dengan Galen yang nggak pernah menjenguknya secara langsung selama dirawat. Sedikit lho yaaaa.
“Gimana kabar kamu?” Tanya Galen.
“Sepenglihatan kamu aku gimana?” Balas Kal datar. Lalu ia berlalu melewati Galen begitu saja.
“Ternyata di sini.” Ucap Nandri sambil menenteng tas perlengkapan Kal selama dirawat. “Hedeh tau gitu kamu aja kak yang jemput. Kan cuman jemput doang, nih tasnya bawain.” Lanjut Nandri sambil menyerahkan tas kepada Galen. Ia pun mengikuti Kal masuk ke dalam rumah.
“Kamu butuh sesuatu Kal?” Nandri menatap Kal yang membuka kulkas.
“Aku lapar.” Jawab Kal lesu karna ia baru ingat kalau belum membeli persediaan bahan makanan di rumah.
“Aku pesankan makanan ya Kal.” Sahut Galen.
“Ngapain pesan makanan kalau di sini ada chef handal.” Ujar Nandri menepuk dadanya bangga. “Kamu duduk aja Kal, aku yang bakalan masakin buat kamu.”
“Tapi di rumah nggak ada persediaan bahan makanan.” Ucap Kal.
“Aku sudah bawa kok, sebelum jemput kamu tadi aku mampir ke supermarket beli bahan buat masak. Bentar ya aku ambil di mobil dulu.” Nandri meninggalkan Kal dan Galen berdua di dapur.
“Kamu istirahatlah di kamar. Nanti kalau masakannya sudah matang aku antar ke kamar.” Galen menatap wajah Kal dengan intens. Ia sangat merindukan gadis yang ada dihadapannya ini.
“Nggak mau, aku sudah tiga hari kerjaannya duduk dan baring terus. Masa pulang baring lagi.” Sahut Kal cemberut.
“Tapi nanti kamu sakit lagi kalau nggak banyak istirahat.” Sahut Galen lembut. Kal ingin membalas ucapan Galen namun terpotong kedatangan Nandri.
“Kakak ipar mau makan apa?” Tanya Nandri riang. Ia akan selalu bahagia kalau sudah diminta memasak untuk orang lain.
“Aku makan apa aja yang kamu masak Dri. Mau aku bantu?” Jawab Kal dengan senyum. Entah kenapa sifat riang Nandri membuat mood Kal jadi baik lagi.
“Eitss, nggak usah tuan putri. Biar hamba yang memasakkan khusus untuk tuan putri.” Nandri kemudian mendekati Kal sambil berbisik. “Aku sudah dibayar mahal oleh tuan besar itu untuk melayani kamu.” Ujar Nandri menglirik kearah Galen.
Melihat kedekatan Kal dan Nandri, Galen berdehem sambil menatap ke arah mereka. Kal tersenyum mendengar bisikan Nandri.
“Sampai kapan masa berlaku layanannya?” Bisik Kal.
“Sebenernya sudah habis tapi baru aja diperpanjang sama tuan besar.” Canda Nandri. Kal tertawa mendengar perkataan Nandri. Galen yang tidak tau apa yang dibisikkan Kal dan adiknya, hanya bisa menatap tajam ke arah keduanya.
“Okay, aku mulai masak ya. Silahkan ditunggu tuan putri.” Kata Nandri.
Kal meninggalkan Nandri di dapur dan berjalan ke kamar untuk berganti pakaiannya dengan baju rumahan. Setelah selesai berganti pakaian ia bergabung dengan Galen yang duduk di ruang tengah sambil fokus dengan tablet yang ada ditangannya. Sepertinya sedang mengecek pekerjaannya.
“Kalau Mas sibuk nggak apa-apa pergi aja.” Kata Kal sambil duduk di samping Galen.
“Hmm.” Galen tersenyum dan meletakkan tablet-nya di atas meja. “Nggak sibuk kok, cuman ngecek email aja.” Ia menatap Kal dengan intens. Kal menjadi salah tingkah ditatap oleh Galen.
“Duh ni laki kok suka banget natap aku kayak gitu sih. Kan bikin deg-degan.” Batin Kal.
“Kenapa mukanya merah gitu? Ada yang sakit lagi?” Galen khawatir.
“Sakit sih nggak tapi jantung aku berdebar-debar. Apa kemaren nyeri karna sering berdebar-debar didekat Galen ya? Wah nggak sehat nih kalau gitu.”
”Nggak apa-apa ko.” Jawab Kal berusaha menyembunyikan debarannya.
“Kangen rumah.” Ucap Kal mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Hmm?” Galen mengernyit alis.
“Biasanya kalau sakit ada mama yang ngerawat. Ini susahnya anak rantauan yang jauh dari keluarga. Sakit pun ya sendiri, walaupun nggak sendiri juga sih karna ada kalian. Tapi tetep aja beda kalau ada keluarga disisi.” Kal menghela napas.
Sejujurnya beberapa hari dirawat membuat suasana hatinya mellow habis karna tidak ada kehadiran keluarganya disaat seperti ini. Biasanya ia akan bermanja ria dengan papa dan mamanya. Namun, ia tidak mau membuat keluarganya khawatir dengan memberi kabar tentang sakitnya.
“Mau pulang?” Tanya Galen.
“Nggak mungkinlah. Aku sudah beberapa hari ini nggak masuk kerja. Masa minta cuti lagi, mana mungkin dikasih sama atasan.” Galen hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mendengarkan curhatan Kal.
“Hola semuanya, masakan sudah siap.” Nandri menata piring-piring yang berisi masakannya di meja makan.
“Wow.” Kal takjub dengan masakan Nandri. Melihatnya saja benar-benar menggugah selera. “Ini semua makanan kesukaan aku.” Ujar Kal senang.
“Ini kesukaan kamu?” Tanya Galen.
“Iya. Kok Nandri tau sih kesukaanku?” Ujar Kal riang.
“Tau dong hehehe. Orlin yang ngasih tau.”
“Oh.” Sahut Kal dengan mata yang berbinar-binar menatap makanan dihadapannya
“Yuk kita makan.” Ajak Nandri sambil menarik kursi.
“Mau ngapain kamu?” Galen menatap tajam Nandri.
Nandri yang baru setengah jalan menarik kursi terhenti karna pertanyaan kakaknya. “Makan.” Jawab Nandri singkat, heran dengan pertanyaan kakaknya.
“Pergi sana, bukannya ini jam-jamnya sibuk di restoran?” Usir Galen.
“Lha? Kan aku sudah masakin, ya makan dululah kak baru pergi.”
“Sudah kamu makan siang di restoranmu aja sana.” Galen tetap kukuh mengusir Nandri.
“Jangan gitu Mas, biarin Nandri makan siang dulu baru pergi. Kan dia yang masakin semua ini.” Kal membujuk Galen. “Emang Mas juga nggak sibuk jam segini? Kalau Nandri pergi kerja, berarti mas juga pergi kerja juga.” Tegas Kal
Nandri tersenyum mengejek ke arah sang kakak yang masih menatapnya tajam. Mereka melanjutkan menyantap hidangan yang dimasak oleh chef Nandri.
ͽͽͽ
Kal turun dari mobilnya. Hari ini ia siap untuk kembali bekerja setelah tidak masuk beberapa hari kerja. Saat sampai di ruangannya beberapa rekan kerjanya menatap Kal heran.
“Hai Kal, gimana kondisimu?” Tanya Nadia rekan kerja Kal.
“Alhamdulillah sudah sehat lagi Nad. Siap berjibaku dengan kerjaan lagi hehehe.” Kal mengepalkan telapak tangannya menunjukkan semangatnya.
“Tapi kok udah masuk kerja Kal?” Tanya rekan kerja yang lain.
“Yakan aku sudah sehat, ya kerja lagilah.” Jawab Kal.
“Bukannya kamu mulai hari ini ngambil cuti kerja ya?” Sambung yang lain.
“Hah? Kata siapa aku cuti? Nggak tuh.” Kal menatap heran teman kerjanya.
“Aku yakin kok nggak salah denger, kemaren Pak Tony bilang kalau kamu ngambil cuti.” Sahut yang lain berusaha mengingat kata-kata atasan mereka tersebut.
“Hello everyone.” Sapa Orlin riang saat memasuki ruangan. “Lho Kal? Kok kamu di sini?” Orlin kaget melihat kehadiran Kal di kantor. “Katanya cuti?”
“Iyakan Lin? Kemaren Pak Tony bilang kalau Kal cutikan ya?” Sahut Reina.
“Iya lho Kal, kok sekarang ada di sini?” Orlin menatap Kal heran. Kal yang ditatap oleh rekan kerjanya hanya menggeleng. Ia pun bingung kenapa disebut kalau tengah mengambil cuti, sedangkan ia tidak ada mengajukan cuti sama sekali. Apalagi ia baru saja izin sakit, mana berani dia mengajukan cuti. Bisa dipecat kalau berani cuti dengan pekerjaan yang sudah menumpuk.
ͽͽͽ