“Kamu beneran nggak ada ngajuin cuti Kal?” Orlin mencecar Kal dengan pertanyaan. Mereka berada di taman kantor karna atasan mereka memaksa Kal untuk cuti. Jadi terpaksa mereka mengungsi ke taman kantor untuk berbicara.
Kal heran dengan atasannya. Biasanya kalau ada karyawan yang ingin cuti, atasannya itu akan mempersulit dengan segudang alasan. Sekarang Kal bahkan tidak ada mengajukan cuti, malah diusir untuk cuti. Bukan Kal saja yang heran, seluruh rekan kerjanya didivisi mereka juga heran. Entah ini keberuntungan atau apa.
“Nggak ada Lin, udah aku jelasin dari tadikan kalau nggak ada ngajuin.” Balas Kal kesal. Ia mulai kesal juga selalu ditanya pertanyaan yang sama selama beberapa menit. “Aku memang kepengen cuti tapi masih aku urungkan niatnya.” Sambungnya.
“Terus siapa dong?” Orlin heran.
“Mana aku tau.” Jawab Kal mengangkat bahunya. “Wong yang tau rencana ini aja cuman mas Galen doang kok.”
“Siapa? Mas Galen?” Seketika Orlin terdiam dan sibuk berpikir. “Aaaah!” Teriak Orlin.
“Apa sih Lin teriak-teriak?” Kal yang berada disampingnya kaget mendengar suara teriakan Orlin.
“Aku tau yang ngajuin kamu cuti.” Orlin menyeringai ke arah Kal.
“Apa sih Lin? Jelek banget tau mukamu gitu.” Kata Kal.
“Malahan tanpa perlu capek-capek ngajuin cuti, kamu langsung bisa cuti Kal.” Kal mengernyitkan alisnya.
“Cukup sebut aja dan boom, jin itu akan mewujudkan keinginanmu. Siapa lagi jinnya kalau bukan ayang Galen.” Orlin tersenyum menggoda.
“Mas Galen? Dia emangnya kenapa?” Tanya Kal.
“Haduh ini anak kok nggak mudeng sih?!” Orlin gemas. “Tadi kamu bilang kamu cuman cerita kemas Galen ajakan? Hello Kal wake up, kamu lupa mas Galen posisinya apa di sini?” Orlin mengarahkan telunjuknya ke bawah.
“Kamu langsung curhat kedirektur utamanya, mana dia cem-ceman kamu. Makanya kamu nggak perlu ngajuin cuti langsung diizinin.” Sambung Orlin antusias.
“Ternyata banyak untungnya ya pacaran sama yang punya perusahaan.” Orlin mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari telunjuk.
“Siapa pacaran sama yang punya perusahaan?” Terdengar suara berat khas laki-laki dibelakang mereka. Sontak Kal dan Orlin menoleh ke belakang. Terlihat Galen berdiri sambil menatap mereka bergantian.
“Eh mas Ga, pak Galen.” Ujar Kal terbata-bata. Ia tidak mengira akan kedatangan Galen.
“Kamu kenapa masuk kerja? Bukannya sudah cuti?” Tanya Galen langsung. Galen mendengar dari bawahannya kalau Kal masuk kerja dan langsung mencari Kal. Saat menemukan Kal di taman kantor, ia langsung bergegas menghampirnya.
“Ah itu, anu, gimana ya?” Sahut Kal tergagap sambil melirik ke arah Orlin.
“Kamu ngapain di sini Orlin? Bukannya ini masih jam kerja?” Tanya Galen datar.
“Eh iya pak, saya tadi nemenin Kal di sini sebentar. Kalau begitu saya permisi dulu pak.” Orlin mengangguk ke arah Galen dan berlalu cepat. “Yaelah, giliran pacarnya boleh cuti, giliran aku disuruh kerja. Dasar atasan yang diskriminasi hak karyawan.” Batin Orlin kesal.
“Kenapa pertanyaan aku nggak dijawab?” Tanya Galen setelah mereka berdua saja.
“Hmm mas ini kita di tempat terbuka, nanti dilihat sama karyawan lain.” Kal menoleh kekanan-kekiri. Ia takut menjadi gosip di perusahaan.
“Ayo ikut aku.” Galen menggandeng Kal ke arah parkiran. Mereka masuk ke dalam mobil Galen dan pergi meninggalkan kantor.
ͽͽͽ
“Kita mau ke mana?” Tanya Kal menatap Galen di sampingnya.
“Mengantar kamu pulang.” Jawab Galen singkat.
“Eh nggak usah mas, aku bisa pulang sendiri.” Biasanya Kal ke kantor dengan mengendarai mobilnya, tapi karna ia baru sembuh jadi ia memilih naik taksi.
“Emang benar ya yang ngasih izin aku cuti mas Galen?” Tanya Kal hati-hati. Bagaimana pun Galen adalah direkturnya.
“Hmm.” Galen hanya menjawab dengan gumanan.
“Setelah sampai langsung kemasi barang-barangmu.” Perintah Galen.
“Memang buat apa mas?” Tanya Kal heran.
“Bukannya kamu ingin pulang ke Kalimantan? Tiket sudah aku siapkan, jadi kamu tinggal berangkat saja.” Tanya Galen balik.
“Iya tapi aku nggak enak mas kalau harus ninggalin kantor lagi.”
“Sudah nggak apa-apa. Kamu nikmatin aja liburan di sana.” Ujar Galen sambil merentangkan lengan sebelah kirinya mengusap kepala Kal.
Kal yang menerima perlakuan tersebut tidak bisa melanjutkan protesnya lagi karna jantungnya mulai berdebar-debar.
ͽͽͽ
Galen mengantar Kal sampai pintu masuk keberangkatan domestik. Ia tidak tega membiarkan Kal pergi sendiri. Namun, pekerjaan sudah menumpuk, sehingga ia tidak bisa menemani Kal.
“Nanti kalau sudah masuk waiting room kabarin ya, sebelum take off juga kabarin, dan kalau sudah sampai Kalimantan juga kabarin aku.” Ujar Galen mengingatkan seperti melepas anak yang mau pergi merantau saja. Kal memutar boleh mata malas. Dari tadi hanya itu yang diulang-ulang oleh Galen, seakan ia anak usia belasan tahun yang baru pertama kali bepergian jauh.
“Iya mas, kan dari tadi sudah dibilang.” Sahut Kal malas.
“Nggak ada yang ketinggalankan?” Tanya Galen masih memastikan lagi.
“Ada.” Ujar Kal menatap lekat Galen.
“Apa yang ketinggalan?” Sahut Galen sambil menatap barang bawaan Kal.
“Kamu.” Jawab Kal singkat.
Seketika mata Galen menatap Kal intens. Sekarang ia yang merasakan jantungnya berdebar-debar mendengar ucapan Kal. Ada secercah perasaan bahagia yang menyeruak dari dalam hatinya.
Galen tersenyum ke arah Kal dan berjalan mendekati Kal. Jarak antara Kal dan Galen semakin kecil dan akhirnya sebuah pelukan dirasakan Kal. Galen memeluk Kal dengan lembut.
“Maaf ya, aku belum bisa ikut kamu.” Ujar Galen sambil mengelus kepala Kal. Kemudian Galen mengecup puncak kepala Kal. Entah ini suara detak jantung siapa yang terdengar kencang. Apakah Galen atau Kal? Atau perpaduan detak jantung mereka? Bisa dipastikan wajah Kal memerah karna ia merasakan hawa panas yang tiba-tiba muncul.
Setelah puas memeluk Kal, Galen mundur dan menunduk untuk melihat wajah Kal. Ia membelai pipi Kal dan mengarahkan jari tangannya untuk menyentuk dagu Kal. Kemudian, ia mengangkat dagu Kal pelan agar mata mereka saling bertatapan.
“Nggak apa-apakan pergi sendiri?” Tanya Galen dengan suara lembut.
Kal hanya mampu menganggukkan kepalanya. Ia tidak mampu berkata apa-apa. Mata, pikiran, bahkan hatinya hanya terpaku dengan Galen. Apa ia boleh berharap lebih dengan hubungan ini? Hanya mengharapkan kebahagiaan saja.
ͽͽͽ