Lembah tersembunyi itu menjadi saksi bisu transformasi seorang pria yang selama ini hanya mengenal pelarian. Kinry tidak langsung berubah menjadi sosok yang ramah, namun ia mulai memberikan kontribusi dengan cara yang hanya ia yang bisa melakukannya. Di bawah bimbingan lembut Terea, Kinry perlahan membuka tas rongsokannya, bukan untuk mengambil senjata, melainkan untuk mengeluarkan pengetahuan tentang bertahan hidup yang selama ini ia anggap sebagai kutukan.
Kesempatan itu datang ketika seorang pemuda bernama Jiro kembali dari perburuan dengan kaki yang membiru akibat gigitan *Noxious Spider* Level 18. Racun laba-laba itu terkenal cepat menyebar dan sulit disembuhkan oleh mantra suci biasa jika tidak dibarengi dengan penawar yang tepat.
"Bawa dia ke sini," perintah Terea tenang, namun matanya menunjukkan kekhawatiran.
Penyembuh standar di kelompok itu, seorang wanita tua dengan mana yang hampir habis, tampak kebingungan. Namun Kinry melangkah maju. Ia tidak membawa tongkat cahaya. Ia membawa botol berisi cairan bening hasil penyulingan limbah rawa dan sebilah pisau berkarat yang sudah ia sterilkan dengan api kimia.
"Mundur," ucap Kinry pendek.
Ia tidak merapalkan doa. Ia membedah sedikit luka gigitan itu, membiarkan darah hitam mengucur keluar. Kemudian, ia mengeluarkan rahasia kecilnya: sejenis jamur parasit yang biasanya ia anggap sampah. Kinry menghancurkan jamur itu, mencampurnya dengan *Basic Heal* miliknya yang redup, dan menempelkannya langsung ke luka terbuka Jiro.
"Argh! Panas!" teriak Jiro.
"Tahan," desis Kinry. "Jamur ini memakan racunnya. *Basic Heal*-ku akan memastikan sel-selmu tidak ikut dimakan oleh jamur ini."
Terea memperhatikan dengan saksama. Ia melihat bagaimana cahaya hijau pucat yang biasanya terlihat menyedihkan di tangan Kinry kini bekerja dengan presisi yang menakutkan. Kinry tidak mencoba menyembuhkan seluruh tubuh Jiro secara ajaib; ia hanya memfokuskan energinya untuk mengontrol reaksi kimia antara jamur dan racun. Lima menit kemudian, warna biru di kaki Jiro memudar.
"Dia akan selamat," ucap Kinry sambil mengusap keringat di dahinya. "Tapi beri dia banyak air. Jamur itu membuatnya dehidrasi."
Sejak hari itu, posisi Kinry di kelompok Terea berubah. Ia bukan lagi sekadar "tamu yang menumpang lewat". Ia menjadi "apoteker bayangan" mereka.
---
### Inovasi dari Limbah
Kinry menyadari bahwa kelompok Terea berjuang dengan peralatan yang sangat minim. Mereka sering kali harus berhadapan dengan monster yang levelnya jauh di atas mereka hanya untuk mendapatkan sedikit daging atau material.
"Kalian bertarung terlalu jujur," kata Kinry suatu sore saat melihat mereka mengasah pedang tumpul. "Dunia ini tidak jujur pada kita, jadi kenapa kita harus jujur padanya?"
Kinry mulai membuka bengkel kecil di sudut kamp. Ia meminta anggota kelompok untuk mengumpulkan apa pun yang mereka temukan: taring monster yang patah, kantong empedu yang pahit, hingga cairan dari tanaman beracun.
Dengan bonus efisiensi alat lingkungan sebesar 250%, Kinry menciptakan "Paket Perburuan Penyintas". Ia membuat anak panah yang ujungnya dilapisi dengan racun pelumpuh syaraf ringan—bukan untuk membunuh instan, tapi untuk membuat monster melambat sehingga mudah diburu. Ia juga menciptakan granat asap dari kotoran monster kering yang dicampur belerang rawa, sangat efektif untuk melarikan diri dari kepungan.
"Ini luar biasa, Kinry," ucap Terea suatu hari sambil memegang botol racun berwarna ungu tua. "Dengan ini, tim pengumpul makanan kami bisa menjatuhkan *Great Boar* tanpa harus kehilangan nyawa."
Kinry hanya mendengus, mencoba menyembunyikan rasa bangganya. "Itu hanya sampah yang diolah kembali. Jangan berharap terlalu banyak."
Namun, di dalam hatinya, Kinry merasa berguna. Untuk pertama kalinya, ia tidak menggunakan pengetahuannya hanya untuk membunuh demi kemarahan, tapi untuk memastikan orang lain—orang-orang yang menerimanya—tetap bisa bernapas.
---
### Misi: Penjarahan di Reruntuhan Farmasi
Suatu malam, Terea mengumpulkan anggota inti di sekitar peta usang. Wajahnya tampak serius di bawah cahaya obor.
"Persediaan obat-obatan kita menipis, dan musim dingin sistem akan segera tiba," ucap Terea. Musim dingin sistem adalah fenomena di mana suhu turun drastis dan monster menjadi lebih agresif. "Satu-satunya tempat yang memiliki stok antibiotik dan katalis kimia yang cukup adalah Reruntuhan Farmasi *Old-World* di perbatasan Zona Dalam."
"Itu wilayah patroli Cahaya Suci," salah satu anggota memperingatkan.
"Benar," Terea menatap Kinry. "Tapi patroli mereka jarang masuk ke bagian terdalam karena daerah itu dipenuhi oleh gas beracun dan *Undead* Level 30. Kinry, hanya kau yang tahu cara menavigasi tempat seperti itu tanpa mati dalam sepuluh detik."
Kinry menatap peta itu. Ia tahu tempat itu. Itu adalah neraka bagi pemain normal, tapi baginya, itu adalah taman bermain yang penuh dengan material langka.
"Aku akan pergi," ucap Kinry. "Tapi aku butuh dua orang yang bisa berlari cepat dan tidak banyak tanya."
Misi pun dimulai. Kinry, Terea, dan Jiro berangkat saat bulan mencapai puncaknya. Mereka bergerak seperti bayangan, menghindari pos-pos penjagaan faksi Aries yang bercahaya terang di kejauhan.
---
### Menembus Kabut Kematian
Saat mereka sampai di Reruntuhan Farmasi, bau kematian begitu menyengat. Kabut hijau yang bersifat korosif menyelimuti bangunan beton yang hancur.
"Pakai ini," Kinry memberikan masker kain yang telah direndam dalam cairan penetral ciptaannya. "Tetap di belakangku. Jangan menyentuh dinding yang berlumut."
Di dalam reruntuhan, mereka dihadang oleh *Ghoul* Level 28—makhluk lambat namun memiliki daya tahan yang luar biasa.
"Jangan buang Mana kalian!" teriak Kinry saat Jiro hendak menarik pedangnya yang mulai bersinar.
Kinry melemparkan sebuah botol kecil berisi cairan "Penyembuhan Terlarang" yang sudah ia modifikasi. Saat botol itu pecah di d**a sang *Ghoul*, sel-sel busuk pada makhluk tersebut tiba-tiba tumbuh secara liar dan tidak terkendali. Daging mayat hidup itu membengkak secara aneh, menghimpit organ dalamnya sendiri hingga makhluk itu meledak dalam tumpukan daging yang tak berbentuk.
Terea menatap pemandangan itu dengan ngeri sekaligus kagum. "Kau benar-benar memutarbalikkan konsep penyembuhan, Kinry."
"Penyembuhan hanyalah manipulasi pertumbuhan sel," jawab Kinry datar. "Jika kau mempercepatnya tanpa batas, ia menjadi senjata."
Mereka berhasil mencapai gudang penyimpanan bawah tanah. Di sana, Kinry menemukan apa yang ia cari: peti-peti berisi bahan kimia murni dan botol-botol serum yang sangat langka. Namun, saat mereka hendak berkemas, sebuah suara langkah kaki yang berat terdengar dari lantai atas.
"Siapa di sana? Keluar, kau tikus-tikus kotor!"
Suara itu milik seorang ksatria dari faksi Cahaya Suci. Tampaknya mereka juga memiliki ketertarikan pada stok medis di tempat ini.
"Sial," gerutu Kinry. "Terea, Jiro, ambil peti-peti itu dan pergi lewat lubang ventilasi di belakang. Aku akan menahan mereka."
"Kinry, jangan gila! Mereka setidaknya Level 35!" Terea memegang lengan Kinry.
Kinry menatap mata Terea. Untuk pertama kalinya, ia memberikan tatapan yang lembut namun penuh keyakinan. "Kalian punya orang-orang yang menunggu di kamp. Aku? Aku adalah orang yang sudah biasa hidup di lumpur ini. Lagipula, aku punya kejutan kecil untuk mereka."
Terea ragu sejenak, namun ia melihat ketegasan di mata Kinry. "Jangan mati, Kinry. Itu perintah."
---
### Tarian Sampah dan Cahaya
Setelah Terea dan Jiro menghilang, Kinry berdiri di tengah ruangan yang dipenuhi tabung reaksi pecah. Tiga ksatria Cahaya Suci masuk, pedang mereka bersinar terang, mengusir kabut beracun di sekitar mereka.
"Hanya seorang pemulung?" salah satu ksatria meludah. "Di mana yang lainnya?"
Kinry tidak menjawab. Ia hanya duduk di atas meja laboratorium sambil memutar-mutar sebuah botol hitam—racun *Corruption of the Saint* yang sudah ia sempurnakan.
"Dunia ini memang tidak adil," Kinry mulai menggerutu, suaranya menggema di ruangan sunyi itu. "Kalian punya segalanya, tapi kalian tetap serakah. Kalian menyebut tempat ini terlarang bagi rakyat kecil, tapi kalian sendiri datang ke sini untuk mencuri apa yang tersisa."
"Diam kau, sampah!" sang ksatria menerjang.
Kinry menjatuhkan botol hitam itu ke lantai. Bukan ke arah ksatria, tapi ke arah genangan bahan kimia yang meluap. Seketika, reaksi berantai terjadi. Gas ungu yang keluar dari botol itu bercampur dengan limbah farmasi, menciptakan kabut tebal yang tidak bisa ditembus oleh sihir cahaya mereka.
"Apa ini?! Mataku!"
Dalam kegelapan dan kabut, Kinry bergerak. Ia bukan pahlawan, ia adalah penyintas. Ia tidak menyerang dengan kekuatan, tapi dengan kelemahan. Ia menusukkan jarum-jarum yang sudah dicelupkan ke racun pelumpuh ke celah-celah zirah mereka.
Ia tidak membunuh mereka. Ia hanya membuat mereka tidak bisa bergerak, membiarkan mereka merasakan ketakutan yang sama dengan yang dirasakan warga desa saat diintimidasi.
"Beri tahu Aries," bisik Kinry di telinga pemimpin ksatria yang sudah lumpuh di lantai. "Bahwa sampah yang kalian buang mulai belajar cara mendaur ulang nyawa kalian."
---
### Kepulangan sang Apoteker
Beberapa jam kemudian, Kinry kembali ke kamp dengan tubuh yang penuh luka memar dan napas yang tersengal. Terea segera berlari menyambutnya, langsung memeluk pria itu tanpa peduli pada bau limbah yang menempel di tubuhnya.
"Kau kembali," bisik Terea lega.
Kinry tertegun sejenak, tangannya yang kaku perlahan membalas pelukan itu sebentar sebelum ia melepaskan diri karena canggung. "Peti-petinya aman?"
"Aman. Berkat kau, kita punya cukup obat untuk melewati musim dingin," Terea tersenyum.
Malam itu, kamp merayakan keberhasilan misi mereka. Kinry duduk sedikit menjauh, namun kali ini ia tidak sendirian. Jiro dan beberapa anggota lainnya duduk di sekitarnya, mendengarkan cerita Kinry tentang bagaimana ia memanipulasi bahan kimia di reruntuhan tadi.
Kinry melihat ke arah api unggun. Ia merasa pusing, dunianya masih rumit, Aries masih menjadi ancaman, dan menara misterius itu masih berdiri tegak di cakrawala. Namun, saat ia melihat wajah-wajah hangat di sekelilingnya, Kinry menyadari sesuatu.
Ia tidak lagi harus memikirkan apakah ia akan bertahan hidup sendirian besok pagi. Karena sekarang, ia memiliki alasan untuk bertahan hidup bersama orang lain.
"Mungkin," gumam Kinry sambil menyesap air hangatnya, "menjadi bagian dari kelompok 'orang-orang baik' ini tidak seburuk yang aku kira."
Ia adalah Kinry. Sang Penyintas Tanpa Bakat. Healer yang menggunakan racun. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa bahwa meskipun dunia ini adalah sebuah game yang kejam, ia akhirnya menemukan tempat di mana ia tidak harus kalah sendirian.