Kinry berjalan menembus kabut pagi di pinggiran hutan, menjauh dari desa yang baru saja ia kunjungi. Pikirannya masih dipenuhi oleh gambaran penjaga zirah perak yang menendang keranjang dagangan warga. Ia merasa mual, bukan karena racun kimianya, melainkan karena kemunafikan yang ia saksikan.
Namun, langkahnya terhenti ketika ia merasakan kehadiran beberapa orang di balik pepohonan. Refleksnya sebagai penyintas segera bangkit. Kinry merogoh kantongnya, menggenggam botol *Corruption of the Saint* dengan erat.
"Jangan melempar apa pun, Kinry. Kami tidak datang untuk memburumu," sebuah suara lembut namun tegas terdengar dari balik rimbunnya semak.
Tiga sosok muncul. Mereka tidak mengenakan zirah mengkilap. Mereka memakai pakaian praktis yang sudah usang, penuh noda tanah dan bekas jahitan, mirip dengan pakaian Kinry. Di tengah mereka, berdiri seorang wanita yang kehadirannya seolah memberikan warna berbeda pada hutan yang suram itu. Ia tampak anggun meskipun mengenakan jubah perjalanan yang sederhana. Rambutnya yang panjang diikat rapi, dan matanya memancarkan ketenangan yang anehnya membuat Kinry merasa sedikit lebih tenang.
"Siapa kalian?" tanya Kinry, suaranya parau dan penuh kecurigaan.
"Kami adalah mereka yang juga melihat bayangan di balik cahaya Aries," ucap wanita itu. Ia melangkah maju, tanpa senjata di tangannya. "Namaku Terea. Kami sudah mengawasimu sejak insiden di pabrik limbah. Caramu bertarung... sangat menyakitkan untuk dilihat, tapi kami mengerti kenapa kau melakukannya."
### Uluran Tangan di Tengah Lumpur
Terea mendekat hingga jarak mereka hanya terpaut beberapa meter. "Kami adalah kelompok orang-orang yang dibuang oleh sistem. Ada yang kehilangan keluarganya karena ambisi Aries, ada yang kehilangan statusnya karena tidak memiliki bakat yang 'berguna'. Kami berkumpul bukan untuk menjadi pahlawan, tapi untuk memastikan satu sama lain tetap bisa makan besok pagi."
Terea mengulurkan tangannya yang halus namun terlihat memiliki kapalan akibat kerja keras. "Bergabunglah dengan kami, Kinry. Kami tahu rencanamu terhadap kamp logistik Cahaya Suci. Kau tidak perlu melakukannya sendirian. Kami punya informasi, kami punya tempat berlindung yang lebih layak dari gua yang dingin itu."
Kinry menatap tangan yang terulur itu. Inilah momen yang selalu ia impikan dalam mimpinya yang paling sepi. Seseorang yang berdiri di pihaknya. Seseorang yang ingin menariknya keluar dari lumpur pekat yang selama ini menenggelamkannya.
Namun, bukannya meraih tangan itu, Kinry justru mundur satu langkah. Tubuhnya gemetar.
*Kenapa aku ragu?* pikirnya dalam hati. *Bukankah ini yang kuinginkan?*
Ketakutan menyergapnya. Kinry sudah terlalu lama terbiasa dikhianati oleh harapan. Baginya, setiap uluran tangan biasanya memiliki tali tersembunyi yang akan menjerat lehernya. Ia sudah terbiasa sendirian, terbiasa hanya mengandalkan dirinya sendiri dan pipa besinya. Baginya, kepercayaan adalah barang mewah yang harganya jauh lebih mahal daripada nyawanya.
"Aku... aku tidak bisa," gumam Kinry pelan. "Aku hanya pembawa sial. Kalian akan mati jika bersamaku. Aku adalah 'Tanpa Bakat'. Aku sampah."
Terea tidak menarik tangannya. Ia tetap di sana, menatap Kinry dengan tatapan yang penuh empati, bukan belas kasihan yang merendahkan.
"Sampah bagi mereka, tapi bagi kami, kau adalah seseorang yang berhasil bertahan di tempat yang paling gelap," suara Terea begitu lembut. "Kau tidak perlu langsung memercayai kami, Kinry. Kami juga butuh waktu untuk memercayaimu. Tapi setidaknya, jangan lari dari rasa lapar dan dingin sendirian malam ini."
### Ruang di Balik Kegelapan
Kinry masih terpaku. Ia menunduk, menatap sepatu botnya yang robek. "Kenapa kalian berbuat baik padaku? Apa yang kalian inginkan? Koin hitamku? Racunku?"
"Kami menginginkan seorang teman," jawab salah satu pria di belakang Terea. "Kami juga butuh seorang Healer, meski caramu menyembuhkan sedikit... tidak lazim. Kami menghargai nyawa lebih dari apa pun, karena kami tahu betapa sulitnya mempertahankannya."
Mendengar kata "Healer", Kinry tertawa pahit, namun kali ini tawanya tidak histeris. Ia merasa lelah untuk terus menolak. Perutnya melilit karena lapar, dan luka di punggungnya mulai berdenyut lagi.
"Aku tidak janji akan membantu kalian," gumam Kinry akhirnya. Ia tidak meraih tangan Terea, tapi ia juga tidak melarikan diri. "Aku hanya ingin tempat untuk duduk sebentar."
Terea tersenyum tipis, sebuah senyuman yang benar-benar tulus. "Itu sudah lebih dari cukup. Mari, kamp kami tidak jauh dari sini."
Mereka berjalan menuju sebuah lembah tersembunyi yang terlindungi oleh tebing-tebing tinggi. Tempat itu sangat sederhana—hanya beberapa tenda darurat dan api unggun yang terjaga. Namun, ada suasana yang tidak pernah dirasakan Kinry di tempat mana pun: kenyamanan.
Di sana, tidak ada orang yang membicarakan tentang *leaderboard* global atau pencapaian epik. Mereka membicarakan tentang cara menambal tenda yang bocor, cara mengolah akar hutan agar tidak pahit, dan tertawa tentang hal-hal kecil.
Terea membimbing Kinry ke sebuah sudut dekat api unggun. Ia memberikan Kinry semangkuk sup hangat yang terbuat dari bahan-bahan sederhana namun aromanya begitu menggugah selera.
"Makanlah. Kau butuh tenaga jika ingin terus memikirkan bagaimana cara menghancurkan kamp Aries," ucap Terea sambil duduk di sampingnya, menjaga jarak agar Kinry tidak merasa terintimidasi.
### Kehangatan yang Asing
Kinry menyesap sup itu. Rasanya hangat, mengalir ke kerongkongannya dan memberikan sedikit kehidupan pada tubuhnya yang layu. Ia merasa aneh mendapatkan ruang di antara orang-orang ini.
"Kalian tahu tentang Aries... yang sebenarnya?" tanya Kinry setelah beberapa suap.
"Tentu," Terea menatap api unggun. "Aries adalah simbol yang diciptakan untuk memberikan harapan palsu. Dia menghancurkan dungeon, tapi dia juga membiarkan kota-kota kecil hancur jika mereka tidak bisa membayar 'pajak perlindungan'. Dia adalah pahlawan bagi mereka yang kaya, dan bencana bagi mereka yang miskin. Kami semua di sini adalah korban dari kebijakannya."
Kinry menatap Terea. Wanita ini tampak begitu anggun, seolah ia berasal dari keluarga bangsawan sebelum dunia berubah. Namun cara ia menangani sendok kayu dan cara ia menatap api menunjukkan bahwa ia telah melalui penderitaan yang sama hebatnya dengan Kinry.
"Kenapa kau tidak membencinya dengan cara yang sama seperti aku membencinya?" tanya Kinry. "Kau terlihat... tenang."
"Kebencian yang meluap-luap hanya akan membakar dirimu sendiri, Kinry," Terea menoleh padanya. "Aku membencinya, tapi aku lebih mencintai orang-orang yang ada di sekitarku sekarang. Berjuang untuk hidup jauh lebih berharga daripada berjuang hanya untuk membalas dendam. Tapi jika dendammu adalah jalanmu untuk bertahan hidup, kami tidak akan melarangmu."
Kinry terdiam. Kata-kata Terea menyentuh bagian sensitif dalam dirinya. Selama ini, satu-satunya bahan bakarnya adalah amarah dan keputusasaan. Mendengar ada cara lain untuk berjuang membuatnya merasa bingung.
Malam itu, Kinry tidak tidur di dalam tenda. Ia tetap duduk di dekat api unggun, memeluk pipa besinya. Namun, ia tidak merasa harus waspada seperti biasanya. Ia melihat Terea berkeliling, menyelimuti anak-anak yang tertidur dan membisikkan kata-kata penyemangat pada mereka yang terluka.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Kinry merasa bahwa mungkin, hanya mungkin, ia tidak perlu memikul beban dunia ini sendirian. Meskipun ia masih ragu untuk sepenuhnya bergabung dalam aliansi itu, kehadiran Terea dan kelompoknya memberinya sesuatu yang lebih kuat dari racun mana pun: **Harapan bahwa ia masih bisa menjadi manusia.**
"Terima kasih," gumam Kinry sangat pelan, hampir tak terdengar, saat Terea meletakkan selimut tambahan di bahunya.
Terea hanya mengangguk pelan dan berlalu, membiarkan Kinry memiliki ruangnya sendiri. Di bawah langit ungu yang masih menyimpan misteri, Kinry menatap api yang menari. Ia masih seorang karakter sampah, ia masih seorang penyintas tanpa bakat, tapi malam ini, ia bukan lagi seorang pengungsi yang terlupakan.
Ia adalah seorang manusia yang baru saja mendapatkan ruang untuk bernapas.