Beberapa minggu setelah menjalani kehidupan berumah tangga bersama Ghibran. Sama sekali tidak ada yang berubah. Perasaannya masih tetap sama, hampa, hambar, dan datar tanpa Arya di sisinya. Tidak ada yang istimewa dan membuatnya bersemangat, selain kerjaan mendesain busana yang setiap harinya selalu bertambah. Hanya itulah satu-satunya alasan dia untuk tetap tersenyum dan hidup normal. Meskipun Ghibran kerap kali berusaha membuatnya tersenyum, entah itu dengan candaan atau bahkan dengan perdebatan kecil di antara mereka, nyatanya semua itu tak mampu mengubah perasaan Yasmin. Semua yang dilalaluinya bersama Ghibran, berjalan sebagai sebuah rutinitas, bukan prioritas. Memang tidak mudah melewati masa-masa sulit. Terkadang dia sering uring-uringan sendiri tanpa sebab, setiap kali berada d

