"Saya terima nikah dan kawinnya Yasmin Mahliqa Tarigan binti Bapak Frans Tarigan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"
"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya Pak Penghulu kepada dua orang saksi, setelah ijab kabul itu berhasil dilapalkan oleh Frans dan Ghibran dengan begitu lancar dalam satu kali tarikan napas.
"Sah."
"Sah."
"Alhamdulillahirabbil'aalamiin."
Ucap syukur pun terpanjat dari seluruh keluarga dan beberapa tamu undangan yang menghadiri akad nikah tersebut, setelah kata "Sah" terucap dari kedua saksi. Tidak! Bahkan bukan hanya saksi yang mengucapkan kata itu. Melainkan beberapa penghadir pun ikut menentukan, karena merasa yakin dengan apa yang mereka lihat, bahwa tidak ada satu pun kalimat yang salah dalam ijab kabul yang diucapkan oleh sepasang calon mertua dan menantu itu.
Acara pun dilanjutkan dengan pembacaan doa dan saling bertukar cincin kawin antara kedua mempelai. Yasmin mencium tangan Ghibran sebagai tanda hormat kepada suami. Sementara itu, Ghibran membalas dengan mencium kening Yasmin. Hal yang sangat normal dilakukan oleh sepasang pengantin baru, setelah ijab kabul berlangsung.
Cairan bening yang sedari tadi memenuhi sudut mata Yasmin pun, kini sudah tidak terbendung lagi. Semua itu menumpah ruah, membanjiri wajah wanita itu yang sudah berbalut make up. Terlebih lagi saat para keluarga dan kerabat memberikan selamat untuk mereka. Tangis Yasmin makin tak tertahankan. Hingga adegan mengharu biru pun mendominasi seisi ruangan yang di desain khusus untuk acara tersebut.
Bukan tangis bahagia yang tengah Yasmin rasakan saat ini, melainkan sebaliknya. Hal itu terlihat jelas dari raut wajah dan bagaimana cara Yasmin yang menangis hingga sesenggukan. Semua keluarga dapat merasakan hal tersebut, termasuk Frans. Bahkan Ghibran pun bisa merasakan kesedihan Yasmin saat ini. Namun, apa yang bisa dia lakukan?
"Selamat ya, Dek. Semoga kalian menjadi keluarga yang sakinah mawadah warahmah," ucap Nana dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Tanpa menunggu aba-aba, Yasmin langsung menghambur ke pelukan sang kakak dan menangis sejadi-jadinya. Akhirnya, tangis Nana pun ikut pecah. Dia hanya memberi usapan kuat di punggung Yasmin, tanpa mampu berkata apa pun lagi.
Orang yang paling mengetahui bagaimana perasaan Yasmin sekarang adalah Nana. Dari sejak kecil, mereka memang selalu menjadi sepasang adik dan kakak, juga sahabat yang baik. Di mana mereka sering sekali curhat untuk setiap masalah yang tengah mereka hadapi. Terlebih lagi Yasmin.
Namun, setelah menikah Nana sudah jarang sekali bercerita tentang masalahnya kepada sang adik, terlebih lagi masalah rumah tangga. Bukan apa-apa, hanya sekadar ingin menjaga nama baik keluarga kecilnya.
Pelukan mereka merenggang. Nana tersenyum, lalu menyeka air mata Yasmin sebelum dia berlalu dan memberi kesempatan yang lainnya untuk melakukan hal yang sama.
"Jangan nangis kayak gitu. Kasihan adikmu, nanti malah tambah sedih," bisik Zacky setelah Nana berdiri di sampingnya.
"Aku enggak kuat, Mas. Dia pasti sedih banget," jawab Nana masih terisak sambil mencoba menyeka air matanya dengan tisu.
"Kita doakan yang terbaik buat mereka," jawab Zacky.
Sementara itu, Yasmin dan Ghibran masih sibuk menerima ucapan selamat dari beberapa tamu undangan. Sesekali Ghibran melirik ke arah Yasmin dan Senyum terpaksa pun tampak terbit di wajah wanita itu.
Sesakit apa pun yang tengah Yasmin rasakan saat ini, dia harus tetap berusaha agar terlihat bahagia dan itu adalah hal yang paling menyakitkan dalam hidupnya. Entah sampai kapan dia akan bertahan dalam kepura-puraan.
Acara sakral yang berlangsung dengan khidmat pun akhirnya telah usai. Kini Yasmin telah berada di kamar hotel dengan tipe Presidential Suite Room. Dia duduk di depan meja rias, melepas beberapa aksesoris pengantin yang masih melekat di kepala, sambil menatap pantulan wajahnya sendiri dari cermin yang membentang tinggi di depannya.
Sementara itu, tepat beberapa meter di belakangnya, tampak Ghibran yang sedang berdiri sambil menatap ke arahnya. Yasmin bisa melihat dengan jelas pantulan pria itu dari cermin.
"Mau kubantu?" tanya Ghibran saat menyadari Yasmin yang sedikit kesulitan melepas aksesoris itu.
"Enggak usah. Aku bisa sendiri!" ketus Yasmin tanpa mengalihkan pandangannya dari arah cermin.
Ghibran menghela napas pendek mendapat tanggapan sinis dari wanita yang kini sudah resmi menjadi istrinya, baik secara hukum maupun agama. "Oke. Aku mandi dulu," ucapnya seraya berlalu ke kamar mandi.
Begitu pintu kamar mandi itu ditutup, Yasmin langsung menghentikan kegiatannya. Tangis yang sedari sengaja dia tahan di depan Ghibran pun kembali memecah. Dia membenamkan wajahnya di atas meja rias dengan kedua tangan yang dijadikan sebagai tumpuan.
Isak tangisnya memang sedikit tertahan. Namun, setidaknya itu cukup untuk meringankan beban hatinya saat ini. Dia tidak menyangka jika akan sampai pada titik yang paling menyakitkan seperti ini, menikah dengan pria yang tidak dicintainya sama sekali. Dia anggap itu sebagai musibah besar dalam hidupnya.
Di dalam kamar mandi. Ghibran yang belum melancarkan aksinya, tampak menempelkan daun telinga pada bidang pintu kayu berwarna cokelat. Dia sengaja ingin mempertajam pendengarannya, saat isak tangis seseorang tidak sengaja tertangkap samar-samar oleh indera pendengarannya. Dia kemudian menghela napas pendek, saat sudah bisa memastikan pemilik suara isak tangis itu.
Cukup lama Yasmin dalam posisi itu. Meratapi nasibnya yang entah akan seperti apa. Hingga suara knop pintu menyadarkannya. Dia langsung mengangkat kepala dan menghapus semua jejak air mata di pipinya. Setelah itu, kembali ke posisi semula, melanjutkan kegiatan yang belum terselesaikan.
"Kamu belum beres?" tanya Ghibran saat baru saja keluar dari kamar mandi. Bibirnya tampak melengkung membentuk senyuman. Namun, tetap saja itu tak mampu mengalihkan perhatian Yasmin, bahkan sekadar menjawab pertanyaannya pun sepertinya wanita itu enggan.
"Sini aku bantu." Ghibran langsung menghampiri Yasmin dan meraih aksesoris yang menancap di rambut wanita itu, berniat untuk membantu melepaskannya.
Hal itu sontak membuat Yasmin terkejut dan langsung memejamkan mata saat menyadari Ghibran yang hanya memakai boxer tanpa menutup bagian atas tubuhnya.
"Enggak usah. Aku bisa sendiri!" tolak Yasmin seraya menepis tangan Ghibran.
Namun, dengan sabarnya Ghibran membalas dengan senyuman. Terlebih lagi saat menyadari tingkah wanita itu yang menggemaskan, seperti baru pertama kali menyaksikan penampilan pria seperti dirinya saat ini.
"Enggak apa-apa. Aku tahu kamu kesulitan melepas ini dari tadi," ucap Ghibran tidak peduli dengan penolakan sang istri. Dia kemudian meraih benda itu dan melepasnya satu per satu, setelah menyampirkan handuk berwarna putih di pundaknya.
Kali ini Yasmin hanya diam dan tidak berusaha mencegah. Rasanya percuma saja melawan Ghibran. Sejak pertemuan pertama pun, dia sudah bisa memastikan kalau Ghibran adalah tipikal pria pemaksa dan tidak menerima penolakan.
"Udah. Sekarang kamu mandi, gih!" pinta Ghibran setelah dia berhasil menyelesaikan kegiatannya.
Tanpa berkomentar apa pun, bahkan sekadar mengucapkan terima kasih, Yasmin langsung bangkit dan beranjak dari tempat itu menuju kamar mandi.
Tidak marah sedikit pun. Ghibran justru menanggapi dengan senyuman dan gelengan kepala. Handuk yang tadi sempat dia sampirkan di pundaknya, kini telah beralih ke kepala. Tangannya tak berhenti bergerak, menggosok-gosok rambutnya yang masih basah.
Belum selesai dengan kegiatan itu, tiba-tiba pintu kamar mandi kembali terbuka. Fokusnya pun seketika teralihkan. Tampak Yasmin keluar dari sana dengan busana yang masih sama seperti sebelumnya.
"Lho, kok keluar lagi. Kenapa?" tanya Ghibran sedikit tertegun tanpa menurunkan tangan dan melepas handuk dari kepalanya.
"Lupa bawa baju ganti!" jawab Yasmin masih dengan nada sinis, kemudian dia melangkah menuju wardrobe dengan sedikit tergesa-gesa.
Ghibran hanya menanggapi dengan anggukkan kepala, lalu melanjutkan kembali kegiatan mengeringkan rambut. Tak lama Yasmin kembali masuk ke kamar mandi dengan membawa pakaian ganti.