Sulit Dihubungi

1010 Kata
"Gimana, Dek?" Nana langsung merangkulkan tangannya, begitu Yasmin tiba di rumah. Tepatnya setelah Ghibran pamit untuk pulang. Sementara itu, Yasmin hanya memasang ekspresi murung dan melangkah malas menuju kamar dengan didampingi oleh kakaknya. "Gimana apanya, Mbak?" tanya Yasmin tidak bersemangat, tanpa mengalihkan pandangan ke arah Nana. "Ya ... Ghibran. Menurutmu gimana orangnya? Dia baik, kan?" ucap Nana dengan antusias. "Entahlah," jawab Yasmin seraya memutar knop pintu kamar. Secara tidak sengaja tangan Nana pun terlepas dari lengannya dalam waktu bersamaan. "Lho, kok entah, sih?" Nana mengikuti langkah sang adik, tanpa ingin menyerah sebelum mendapat jawaban yang pasti. Sementara itu, Yasmin sudah mengempaskan tubuhnya di bibir ranjang king size berbalut sprei motif polkadot berwarna ungu, warna kesukaannya. "Dia sesuai dengan yang Ayah bilang, kan? Mbak lihat, dia emang orang yang baik, Dek," ujar Nana setelah dia duduk di samping Yasmin. "Seperti pepatah mengatakan, 'Don't judge books by it's cover'. Penampilan doank yang kelihatan baik, entah hatinya kayak apa," ketus Yasmin dengan tatapan nanar ke sembarang arah. "Kok gitu?" Nana sedikit mencondongkan wajahnya, menatap Yasmin penuh tanya. "Mau gimana lagi. Emang gitu kenyataannya," jawab Yasmin seraya memberengutkan wajah. Wanita itu kemudian melepas tas selempang kecil yang masih melingkar di tubuhnya dan menyimpan benda itu di atas nakas yang berada di sampingnya. "Bilang sama Mbak, apa yang udah dia lakuin sama kamu, biar Mbak bilang sama Ayah," pinta Nana mulai mengkhawatirkan nasib adiknya. Yasmin mendengkus, lalu menoleh ke samping sebelum menanggapi pertanyaan Nana. "Emangnya aku gendut ya, Mbak?" tanyanya seraya menunjukkan bibir mungil yang tampak mengerucut. Alih-alih menjawab, Nana justru tercengang menatap Yasmin. Heran. Kenapa adiknya tiba-tiba bertanya seperti itu. "Bener, kan, kalau aku gendut?" Yasmin memastikan kembali hal yang mengganggu pikirannya sedari tadi. Melihat sang kakak yang hanya diam, dia makin yakin jika ucapan Ghibran memang benar. "Tunggu! Maksud kamu apa, kok tiba-tiba nanya kayak gitu?" Nana bertanya sambil berusaha menahan tawa. "Masa dia ngatain aku gendut. Nyebelin banget, deh! Perasaan, aku engggak gendut. Langsing begini, masa dibilang gendut," ujar Yasmin seraya melirik ke kanan dan kiri, memperhatikan postur tubuhnya. Pertahanan Nana runtuh melihat hal itu. Tawanya pun seketika memecah, meski masih sedikit tertahan. Namun, itu cukup mengalihkan perhatian Yasmin. "Mbak, ih ... nyebelin banget!" gerutu Yasmin, merasa kesal. "Enggak. Mbak aneh aja dengarnya. Masa iya dia ngatain kamu gendut?" balas Nana masih sedikit terkekeh dan hanya ditanggapi anggukkan kepala. "Kok, bisa? Gimana ceritanya? Kalian enggak mungkin, kan, pergi jauh-jauh cuma untuk bahas postur tubuh?" heran Nana seraya menatap Yasmin penuh tanya. Ah, rasanya sulit sekali dipercaya, jika Ghibran berkata tidak sopan seperti itu pada adiknya. Lihat saja, jika sampai itu terjadi. Dia pastikan pria itu akan bertekuk lutut meminta maaf di depan Yasmin. Dengan perasaan malas, Yasmin mulai bercerita tentang kejadian di kafe yang melibatkan dirinya dengan Ghibran, tanpa ada yang dikurangi atau dilebihkan sedikit pun. Mendengar semua penjelasan itu. Nana langsung mengembangkan senyuman, sepertinya dia sadar jika sang adik sedang salah paham atas ucapan Ghibran. Wajar saja, karena keadaan hati Yasmin masih belum stabil, jadi wanita itu terkesan sensitif sekali. "Oh, Mbak pikir, bukan itu yang dia maksud. Dia cuma mau kalau kamu menjaga pola hidup sehat. Mbak rasa dia masih bersikap normal. Enggak ada yang berlebihan." Nana berusaha memberi pengertian kepada Yasmin, berharap sang adik akan memahami hal itu. "Terus, sikap dia yang sok mau ngatur hidup aku, juga masih terbilang normal? Siapa, sih, yang mau hidupnya diatur kayak gitu. Belum apa-apa udah banyak aturan. Enggak boleh inilah, itulah. Lama-lama bisa stres aku, kalau beneran jadi istrinya!" cerocos Yasmin. "Ya wajar, Dek. Namanya juga cowok. Semua juga samalah. Pengennya punya istri yang fokus mengurus rumah tangga, jagain anak-anaknya, bukan yang sibuk bekerja di luar. Kalau soal istri harus patuh sama suami, kan emang seharusnya begitu," jelas Nana masih berusaha memberikan aura positif pada Yasmin. "Ih, Mbak kok jadi belain dia, sih? Ngeselin banget!" kesal Yasmin seraya mencebikkan bibirnya. "Bukan belain, emang gitu kalau menurut pemahaman Mbak," balas Nana mengelak. "Enggak tahu ah. Mbak sama Ayah tuh sama aja! Udah ah, aku mau tidur dulu!" Yasmin tampak mengangkat kakinya ke atas tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di sana dengan posisi miring membelakangi sang kakak, tanpa ingin memperpanjang pembahasan lagi. Percuma saja, itu hanya membuatnya tambah kesal. "Kamu enggak mau ganti baju dulu?" tanya Nana mencoba mengalihkan pembicaraan, melihat sang adik yang kembali emosi karena ulahnya. "Enggak!" ketus Yasmin dengan tegas. Pernyataan itu berhasil membuat Nana melebarkan senyuman sambil menggeleng pelan. Adiknya yang sudah tumbuh dewasa, tetapi tingkah laku masih seperti anak-anak. Manja dan sedikit keras kepala. "Ya udah, kamu istirahat aja," ucap Nana seraya menarik selimut dan membalutkannya ke tubuh sang adik. "Jangan lupa baca doa," imbuhnya mengingatkan tanpa ada respon apa pun dari Yasmin. Setelah itu Nana langsung keluar dari ruangan. Menyadari sang kakak yang sudah pergi, Yasmin langsung mengubah posisi tidurnya menjadi terlentang dengan kedua tangan yang diletakkan di atas perutnya yang rata. Dia terdiam beberapa saat sambil memandang langit-langit kamar berwarna putih cerah. "Mas, kamu ke mana, sih? Kenapa kamu tega banget hancurin perasaanku?" lirih Yasmin dengan mata yang sudah berkaca-kaca, saat sosok Arya kembali mengusik pikirannya. Dia kemudian menoleh ke samping, lalu meraih tas yang masih bisa dijangkau oleh tangannya. Merogoh tas itu dan mengeluarkan ponsel dari dalamnya. Sepertinya dia masih belum ingin menyerah untuk menghubungi nomor kontak Arya yang beberapa hari ini sudah tidak aktif, tepat setelah pertemuan terakhir mereka di kafe itu. Bahkan semua akun sosial media pria itu pun seakan-akan dinonaktifkan juga. Untuk yang ke sekian kalinya Yasmin mencoba menghubungi nomor kontak Arya. Namun, nihil. Hanya suara operator yang menjawab panggilannya. "Mas, kumohon kembalilah, aku enggak mau menikah dengan cowok pilihan Ayah. Gimana nasibku nanti?" Air mata itu pun kembali luruh membasahi pipi Yasmin. Hanya tersisa satu hari untuk dia bisa bernapas lega. Jika Arya tetap tidak datang menemuinya untuk meralat semua keputusan yang nyaris membuatnya gila, tamat sudah riwayatnya dalam kungkungan pria bernama Ghibran yang disebut akan menjadi suaminya dua hari yang akan datang. "Ya Allah, jika hamba boleh meminta, kembalikanlah Mas Arya kepada hamba karena hanya dia pria yang hamba butuhkan dan sangat hamba cintai," ucapnya seraya meletakkan ponselnya di sembarang arah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN