"Oke, langsung aja!" Ghibran memulai perbincangan setelah seorang pelayan kafe meletakkan dua menu makanan dan minuman yang dia pesan.
Mereka tampak duduk satu meja yang berada di pojok kanan ruangan. Saling berhadapan, mencari suasana tenang karena tidak terlalu ramai pengunjung kafe yang berdekatan dengan tempat duduk mereka.
"Aku enggak tahu apa misi orang tua kita, yang jelas kamu terima atau enggak, kita harus tetap menikah!" tegas Ghibran yang berhasil menaikkan tatapan Yasmin. Namun, tidak berkomentar apa pun.
"Dan satu hal yang harus kamu ketahui. Aku enggak mau punya istri yang enggak patuh dan terlalu sibuk bekerja, sering hang out enggak jelas bareng teman-temannya, apa lagi teman lawan jenis. Pokoknya, jangan pernah melakukan apa pun yang enggak kusuka!"
Pernyataan Ghibran seketika membuat Yasmin mengerutkan dahi. Menatap nanar ke arahnya.
Baik apanya? Cowok kayak gini dibilang baik. Lihat! Belum jadi suami aja, udah berlagak kayak diktator. Fixed, pilihan Ayah enggak tepat. Dia bukan cowok yang pantas untuk jadi suamiku. Bisa mati berdiri aku, kalau nikah sama dia. Belum apa-apa udah banyak aturan, gimana kalau udah menikah? gerutu Yasmin dalam hati.
"Emm ... kurasa kamu tahu, kan, bagaimana tugas seorang istri?"
Ghibran kembali mendongak setelah sebelumnya dia fokus ke arah steak di piringnya. Kegiatan memotong daging pun seketika terhenti. Tampak Yasmin yang masih menatap sinis ke arahnya.
Melihat sikap Ghibran yang terkesan semena-mena, berhasil membuat Yasmin naik pitam. Dia kemudian menegakkan posisi duduknya, mengangkat punggung dari sandaran sofa. Namun, masih berusaha untuk tetap bersikap tenang.
"Aku belum pernah punya pengalaman dalam hal itu. Jadi, maaf aku enggak begitu paham tentang bagaimana tugas seorang istri!" balas Yasmin dengan nada sedikit ketus.
Ghibran terdiam sejenak, sebelum menanggapi. "Baiklah, nanti akan aku belikan buku-buku tentang bagaimana cara memperlakukan suami, setidaknya kamu bisa belajar dari sana," ucapnya santai lalu menunduk kembali dan melanjutkan kegiatan memotong steak.
Hal itu sontak membuat Yasmin mengernyitkan dahi, merasa heran. Apa-apaan ini? Kenapa dia kelihatan santai banget? Harusnya, kan, dia kesel sama aku. Sial! Begitu pikirnya.
"Aku enggak suka baca!" tukas Yasmin sekenanya, berharap Ghibran akan menyerah untuk kali ini.
"Berarti mulai hari ini kamu harus suka baca, karena kamu akan menjadi istriku!"
Yasmin makin terbelalak. Lagi-lagi jawaban dari Ghibran membuatnya geram.
"Apa hubungannya?" Yasmin menyandarkan kembali punggungnya pada sandaran sofa, sementara tatapannya masih tertuju ke arah yang sama. Nanar dan penuh tanya.
"Karena aku suka baca. Kayaknya akan menyenangkan kalau punya partner yang memiliki hobi yang sama," balas Ghibran seraya memasukkan potongan steak ke rongga mulutnya. Tanpa menyadari bahwa Yasmin tidak menemaninya makan malam.
"Kalau aku enggak mau?" tanya Yasmin datar.
"Ya, tetap harus mau. Kan, aku sudah bilang kalau aku enggak suka istri yang enggak patuh sama suaminya. Belum lima menit, lho, aku ngomong gitu. Kamu lupa?"
Yasmin berdecak dan mencebikkan bibir, merasa kesal. Sulit dipercaya jika sang ayah justru memilihkan jodoh model begitu untuknya.
Tampan. Ya, Ghibran memang tampan, mapan pula. Namun, jika sikapnya seperti itu, mana mungkin hidupnya akan bahagia. Bahkan sepertinya Ghibran tidak mengerti apa arti cinta yang sesungguhnya. Begitukah cara dia memperlakukan wanita?
"Kamu enggak makan?" tanya Ghibran saat menyadari Yasmin yang hanya diam memandangnya, tanpa menyentuh sedikit pun makanan yang sudah dia pesankan.
"Aku enggak suka salmon," jawab Yasmin dengan nada sinis.
Ya, makanan itu memang dipesan oleh Ghibran. Dia tidak banyak berkomentar, karena dia pikir steak yang dipesan itu untuknya, ternyata dugaanya salah. Bahkan perihal makanan saja, dia harus bergantung pada pria itu. Sungguh malang sekali nasibnya. Inikah yang disebut dengan hikmah di balik musibah?
"Lho, kenapa? Salmon itu, kan, bagus untuk kesehatan. Rendah kalori dan mengandung protein tinggi. Jadi, cocok banget buat yang lagi diet," jelas Ghibran tanpa menghentikan kegiatan memotong steak sambil sesekali melirik ke arah Yasmin.
"Maksud kamu, aku gemuk?" Yasmin mencondongkan kembali badan ke depan. Tatapan sarkastis yang dia lemparkan, seketika membuat Ghibran menghentikan kembali kegiatannya.
Ghibran tertegun beberapa saat, sebelum menanggapi pertanyaan Yasmin. "Aku enggak ngomong gitu, lho," bantahnya sambil sedikit mengangkat bahu.
"Terus, itu maksudnya apa ngomong kayak gitu?" hardik Yasmin memasang ekspresi curiga.
"Aku hanya coba jelasin apa yang aku tahu. Apa aku salah?"
Lagi-lagi Yasmin berdecak, lalu melengos ke sembarang arah. Namun, tidak berlangsung lama. Dia kemudian memfokuskan kembali pandangannya ke depan.
"Jujur aja, aku terpaksa menerima perjodohan ini!" Yasmin sengaja mengalihkan pembicaraan. nada bicaranya pun penuh penekanan. Tanpa ingin berbasa-basi lagi, terlebih hanya untuk membahas hal yang tidak penting.
"Kamu pikir aku enggak terpaksa?" tanya Ghibran seraya melipatkan kedua tangannya di atas meja. "Kalau bukan karena Om Frans yang ngundang aku untuk datang ke rumahmu, aku juga enggak akan mau semua ini terjadi," jelasnya.
"Terus, kenapa kamu setuju?"
Kali ini, giliran Yasmin yang melipatkan tangannya di atas meja dengan tatapan serius dan sedikit antusias, meski masih terlihat jelas tanda-tanda kekacauan yang terpancar dari kedua sorot mata itu.
"Eeem ... apa, ya?" Ghibran berpikir sejenak sambil menaikan tatapannya. "Mungkin karena ini wasiat dari almarhum Papa kali, ya. Lagian, tiba-tiba Om Frans juga membahas lagi soal ini," imbuhnya mencoba memberi pengertian.
"Tadinya, kupikir perjodohan ini enggak akan berlanjut, tapi kayaknya Om Frans enggak tega lihat putrinya yang terlalu larut dalam keterpurukan," sindirnya sebelum Yasmin berhasil menanggapi ucapannya.
Yasmin makin membulatkan mata sempurna. Sungguh menyebalkan pria yang berada di depannya ini. Kenapa Ghibran santai sekali menyindir orang yang sedang dalam keadaan terluka?
"Kenapa?" Ghibran pura-pura memasang ekspresi heran, meski sebenarnya dia sudah tahu makna di balik tatapan wanita di depannya. "Apa aku salah lagi?" sambungnya kemudian.
Akan tetapi, Yasmin tidak menanggapi. Sepertinya percuma saja membalas ucapan pria itu. Ingin membantah pun rasanya tidak mungkin, karena memang seperti itu kenyataannya.
"Eeem ... bukannya kamu baru aja putus dari pacarmu?—Oh, sorry. Maksudku calon suamimu," kata Ghibran tak henti-hentinya menyindir Yasmin.
"Bukan urusanmu!" ketus Yasmin geram.
"Tapi karena masalah itu, aku jadi terlibat dalam urusanmu ...." Ghibran menghela napas sejenak, seraya nemberi jeda ucapannya. "Tapi enggak apa-apa. Aku ikhlas bantuin kamu dan keluargamu," imbuhnya kemudian.
"Cih!" Yasmin membuang muka ke sembarang arah. Rasanya muak sekali mendengar pernyataan pria itu.
Menyadari hal itu, Ghibran tampak mengulum senyumnya, lalu melanjutkan kembali kegiatan makan malam yang belum terselesaikan. Berbeda dengan Yasmin yang masih tidak ingin menyentuh sedikit pun makanan miliknya.
Bersambung
Follow Ig Author @pena.batik03