Skenario Tuhan

1001 Kata
Setelah mendapat bujukan dari ibu dan sang kakak cukup lama, Yasmin akhirnya bersedia keluar dari kamar untuk menemui pria yang dimaksud sang ayah. Penampilannya pun sudah berubah lebih rapi, meski wajahnya masih memancarkan kekacauan. Sederhana. Dia hanya memakai gaun santai berwarna hitam yang panjangnya melewati lutut kaki. Dari warna pakaian yang dikenakan, seolah-olah sengaja ingin menunjukan bahwa dia sedang berkabung. Ya, berkabung atas perginya sang mantan kekasih yang entah ke mana, juga berkabung untuk luka yang tengah menghujam jantungnya cukup dalam. Yasmin melangkah perlahan dengan lunglai, menapaki keramik berwarna abu-abu cerah. Dia berjalan diapit oleh kedua wanita hebat dalam hidupnya. Di samping kanan tampak sang ibu yang mendampingi sambil merangkul lengannya. Sementara itu, di samping kiri terdapat Nana yang juga melakukan hal yang sama seperti ibunya. Langkah mereka terhenti di ambang pintu yang menghubungkan antara ruang tengah dan ruang tamu. Yasmin mendongak, setelah sedari tadi yang tertunduk lesu tanpa semangat. Tampak dua orang pria yang tengah duduk di sofa berwarna biru langit. Salah seorang di antara mereka adalah Frans, ayahnya, sementara pria lainnya tampak asing bagi Yasmin. Diduga pria itu adalah Ghibran, orang yang akan dijodohkan dengannya. Kemunculan ketiga wanita itu tak ayal membuat kedua pria di sana mengalihkan perhatian ke arah mereka. Frans tersenyum senang, manakala mendapati putri bungsunya berdiri di sana. ampan dan gagah dengan kemeja berwarna maroon yang membalut tubuh atletisnya. Ditambah lagi dengan lengan kemeja yang disingsingkan hingga siku. Sekilas Yasmin dapat menangkap penampilan fisik yang nyaris sempurna itu. Namun, dia tidak peduli. Meski pria itu lebih tampan dari Arya. Nyatanya hanya Arya yang diinginkan kehadirannya. Dia kemudian menatap kosong ke sembarang arah, menghindari kontak mata antara mereka. "Nah, ini putri Om, Nak Ghibran," serunya seraya menoleh ke arah Ghibran sejenak, lalu menoleh kembali ke arah tiga wanita yang masih berdiri di tempat yang sama. Sementara Ghibran masih menatap lekat Yasmin sejauh mata memandang. Kacau. Tampak raut memelas yang seketika terpancar di wajahnya, seolah-olah langsung bisa merasakan betapa hancurnya Yasmin saat ini. "Yasmin. Kemari, Nak!" Panggilan sang ayah seketika membuat Yasmin tersentak, lalu menoleh ke arah ibunya yang hanya ditanggapi dengan anggukkan kepala, sebagai dorongan agar bersedia menuruti perintah sang ayah. Ghibran langsung berdiri saat ketiga wanita itu sudah berdiri di sana. Tatapannya masih tertuju ke arah Yasmin yang senantiasa membuang muka ke sembarang arah. "Perkenalkan Nak Ghibran, ini Yasmin, putri bungsu Om," ucap Frans meperkenalkan sepasang insan yang belum saling mengenal itu. Ghibran langsung tersenyum dan mengulurkan tangan kansn ke arah Yasmin. "Hai, perkenalkan saya Ghibran," lirihnya tanpa ragu disertai senyuman yang mengembang. Namun, sayang sekali tidak ada tanggapan hingga membuatnya sedikit salah tingkah. "Yasmin," panggil Frans yang menyadari sang putri yang masih bergeming. Yasmin kembali tersentak dan langsung menoleh ke arah Ghibran. "Yasmin," ucapnya singkat dan langsung melepaskan kembali uluran tangan itu. Kesal. Tentu Frans sangat kesal melihat sikap Yasmin yang kecut di depan Ghibran. Namun, dia tidak ingin banyak berkomentar, berusaha memahami kondisi putrinya saat ini. "Jadi, inilah Yasmin yang Om ceritakan padamu, Nak. Semoga kamu bersedia memenuhi permintaan Om dan almarhum ayahmu untuk menikah dengan putri bungsu Om dan Tante," ujar Frans setelah ketiga wanita itu duduk di sofa panjang. "Cantik, Om. Putri Om sangat cantik. Saya tidak mungkin mengabaikan wasiat terakhir almarhum Ayah," jawab Ghibran terlihat santai, tanpa rasa ragu sedikit pun. Entah apa yang membuatnya seolah-olah yakin kepada Yasmin. "Alhamdulillah ... o*******g sekali mendengarnya." Seringai senang terbit di wajah Frans, pun dengan Sri yang juga turut menanggapi dengan ekspresi semringah, tidak seperti Nana dan Yasmin yang terlihat biasa saja. "Tapi, bagaimana dengan Yasmin, Om?" Ghibran menatap Frans penuh tanya, berusaha ingin memastikan. Hal itu sontak membuat Frans bungkam sesaat. "Yasmin bersedia, kok, Nak Ghibran. Betul 'kan, Nak?" Frans melirik ke arah Yasmin yang masih menunduk. Wanita itu kemudian hanya mengangguk, sebagai tanggapan. Tentunya dengan sangat terpaksa. "Alhamdulillah," lirih Ghibran seraya melengkungkan bibirnya membentuk senyuman. Suasan pun mulai mencair dan mereka berbincang cukup lama. Namun, tidak dengan Yasmin yang masih bergeming dan tidak peduli dengan keberadaan pria yang disebut akan menjadi calon suaminya. "Baiklah, Om tinggal dulu ya, Nak Ghibran. Kalian ngobrol saja dulu, untuk saling mengenal." Frans bangkit, sengaja ingin memberi kesempatan untuk Yasmin dan Ghibran bercengkerama. Berharap mereka bisa saling mengenal satu sama lain. "Emm ... Om, boleh saya meminta ijin untuk mengajak Yasmin keluar?" Ghibran menahan Frans yang baru saja hendak pergi dari ruangan itu. "Oh, tentu saja, Nak Ghibran. Hanya Om mohon, jaga putri Om baik-baik," balas Frans cukup antusias. Berbeda dengan Frans, Yasmin justru menatap sinis ke arah Ghibran yang tengah lancang akan membawa dirinya pergi, tanpa konfirmasi terlebih dahulu kepadanya. Sial. Dia tidak bisa menolak itu, mengingat sang ayah pasti akan naik darah karena sikapnya yang tidak menghormati niat baik sang calon suami. "Siap, Om. Om tenang saja. Saya pasti bawa pulang putri Om seperti sedia kala," balas Ghibran sebelum akhirnya meninggalkan rumah itu bersama Yasmin. Hening tampak mendominasi suasana. Tak ada satu pun di antara Yasmin dan Ghibran yang membuka suara selama perjalanan. Hanya bising kendaraan yang menjadi suara pengiring perjalanan mereka. Yasmin menatap kosong ke luar jendela. Tampak beberapa kendaraan yang berlalu lalang meramaikan jalan utama pusat kota. Entah Ghibran akan membawanya ke mana. Dia tidak ingin bertanya, meski itu sedikit membuatnya penasaran. Sebagaimana Yasmin, Ghibran pun tampak fokus dengan kegiatan menyetir. Sepertinya dia cukup memahami kondisi Yasmin saat ini sehingga dia tidak terlalu banyak berkomentar, meski sikap Yasmin terhadapnya tidak cukup menyenangkan. Aku enggak tahu akan seperti apa kehidupan kita nanti setelah menikah. Yang aku tahu, ini adalah skenario terbaik dari Tuhah dan aku tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan itu, karena aku yakin pasti akan ada hikmah di balik semua peristiwa, sekali pun peristiwa menyakitkan bagimu, gumam Ghibran dalam hati. Hingga mobil itu pun terhenti di tempat parkir sebuah kafe sederhana yang berada di pusat kota. Ghibran langsung melepas seatbelt yang melekat di tubuhnya, lalu menoleh ke samping sesaat, tatkala menyadari Yasmin yang hanya bergeming, menatap keluar jendela. Entah apa yang menjadi objek penglihatan wanita itu. "Ehem!" Ghibran berdeham dan berhasil membuat Yasmin menoleh. "Ayo, turun! Tunggu apa lagi?" pintanya dengan nada tegas.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN